
"Sudah waktunya bertukar cincin. Silahkan cincinya dibawa kemari," ujar MC.
Dengan langkah bergetar Anisa perlahan maju kedepan. Semakin langkah Anisa maju, semakin jantung Abian berdegup dengan kencang. Sekuat hati Anisa menahan air matanya agar tidak tumpah ruah di depan semua orang. Mungkin bukan semua orang, mungkin hanya di depan Abian saja.
"Makasih ya Nis," ucap Geisha setengah berbisik.
Dari ekor matanya Anisa bisa melihat, kalau saat ini Abian tengah menatap kearahnya. Namun Anisa berpura-pura seolah tidak melihat.
"Mari kita saksikan sejarah pemasangan cincin yang akan dilakukan dua sejoli kita yang tengah berbahagia. Silahkan untuk bro Abian, agar memasangkan cincin tunangan terlebih dahulu dijari manis pujaan hatinya," ujar MC sembari terkekeh.
Anisa dengan tangan gemetar menyodorkan kotak cincin dihadapan Abian.
"Ya ampun Nis. Santai dong say, kok gemetar begitu? grogi banget ya?" tanya Geisha sembari terkekeh.
"Ya." Suara Anisa hampir tercekat ditenggorokkannya, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Sayang. Buruan! jari manisku sudah gatal ini," ujar Geisha.
Abian menelan sesuatu yang terasa nyangkut ditenggorokkannya. Dengan tangan bergetar, Abian meraih cincin itu. Perlahan tapi pasti, cincin itu mendarat cantik dijari manis Geisha. Sementara Anisa memejamkan matanya, menikmati rasa sakit ditiap waktu yang terasa lama berakhir saat ini. Air mata wanita itu menetes tanpa diperintah, dan Abian melihat hal itu.
"Kenapa aku marasa sesak melihat air matanya? aku tahu aku salah. Anisa pasti sangat terluka saat ini. Maafkan aku Anisa, setelah acara ini aku akan menjelaskan semuanya," batin Abian.
Anisa bergegas menghapus air matanya. Dia tidak ingin Abian melihat air matanya yang sudah terlanjur sudah dilihat oleh pria itu. Sementara Geisha dengan gerakkan lincah memasang cincin tunangan dijari manis Abian. Gemuruh tepuk tangan memenuhi aula itu.
Anisa melirik kearah bawah. Matanya bersitatap dengan dokter Yasmar. Dokter kejiwaan itu langsung menunduk, karena tatapan Anisa begitu menghunus padanya. Anisa kemudian melirik kearah Ryan, yang juga tertunduk malu.
Anisa perlahan turun, karena selanjutnya ruangan itu dihibur kembali oleh suara emas artis yang di sewa di acara itu. Mata Abian mencari-cari keberadaan Anisa, sementara Geisha sibuk bersama keluarga besarnya sembari menikmati aneka hidangan.
"Hiks...pembohong! semuanya pembohong!" Anisa terisak disalah satu sudut ruangan yang sedikit gelap.
"Kenapa semua orang tega membohongiku? kenapa melakukan ini padaku? apa salahku? hiks....".
"Nisa," suara seseorang yang menyapa dari arah punggungnya, cukup ampuh membuat Anisa terdiam seketika.
Anisa berbalik badan, dan mendapati sosok Ryan dihadapannya.
"Mau apa lagi? pasti kamu juga sudah puas membohongiku kan?" tanya Anisa dengan sinis .
"Nisa. Aku tidak bermaksud begitu. Aku...."
"Heh. Tidak bermaksud? kenapa? apa karena aku orang rendahan, hingga bisa seenaknya kalian rendahkan? pergilah! apapun yang berhubungan dengannya, aku tidak ingin melihatnya lagi. Termasuk kamu!" ujar Anisa.
__ADS_1
Anisa ingin beranjak dari situ, namun ditahan oleh Ryan.
"Jangan coba-coba menghalangi jalanku. Orang miskin juga bisa menggila kalau sedang emosi," ucap Anisa.
"Nisa!" teriak Ryan.
Anisa tetap berjalan menjauh, tanpa menoleh lagi. Dengan langkah besar Anisa pergi ke tempat parkir. Dia ingin segera pergi dari tempat itu.
"Anisa kemana sih? kok dia menghilang begitu saja? nomornya juga tidak aktif," ujar Geisha.
"Mungkin dia ada pekerjaan lain," ujar Abian.
"Tapi diluar sedang hujan deras. Dia bisa sakit kalau menerobos hujan," ujar Geisha.
"Di luar se-sedang hujan?" tanya Abian.
"Ya. tadi aku mendengar ada orang yang bilang, kalau diluar sedang hujan lebat saat ini." Jawab Geisha.
"Coba kamu hubungin lagi. Coba bagi nomor ponselnya di WA ku ya? takutnya ada apa-apa sama teman kamu," ujar Abian.
Geisha tanpa curiga sedikitpun langsung mengirim nomor ponsel Anisa. Sesuai dugaan Abian, saat ini Anisa memang tengah menerobos hujan. Dia tidak perduli meski hujan sudah membasahi seluruh tubuhnya. Bahkan air hujan dan air matanya saling berlomba saat ini.
"Akkkhh...Aakkkhhh...aku benci kamu Abian! aku benci kamu! hiks...."
Bruukkk
Motor Anisa tergelincir, karena dia kurang konsentrasi saat berkendara. Sejenak Anisa membiarkan air hujan membasahi wajahnya yang kini terguling telentang. Dia membiarkan tubuhnya tergeletak ditepi jalan yang sedikit lumayan sepi.
"Aduh...kepalaku tiba-tiba sakit," ujar Abian.
"Kamu sakit? ya sudah kita pulang sekarang," tanya Geisha.
"Jangan! nggak enak kalau kita pulang semua, padahal kitalah tuan rumahnya. Mungkin ini efek kurang tidur, aku bisa minta antar Ryan buat pulang ke rumah " Jawab Abian.
"Baiklah. Hati-Hati ya sayang! jangan lupa minum obat sampai rumah," icap Geisha
"Ya." Jawab Abian.
Abian segera menghubungi Ryan, yang ternyata masih berada di tempat dimana dia menemukan Anisa menangis.
"Ya?"
__ADS_1
"Kamu ada dimana?" tanya Abian.
"Di samping gedung. Ada apa?" tanya Ryan.
"Tunggu aku di parkiran sekarang!" ujar Abian.
"Oke." Jawab Ryan.
Ryan bergegas meletakkan minuman yang ada di tangannya, dan bergegas pergi ke tempat parkir.
"Ryan. Apa kamu berhasil nemuin Anisa? bagaimana keadaannya? apa dia sangat marah?" tanya Abian panik.
"Tidak cuma itu, dia bahkan sedikitpun tidak mau mendengar penjelasanku. Aku bisa melihat, ada kebencian yang besar dimatanya." Jawab Ryan.
"Sekarang dia ada dimana?" tanya Abian.
"Aku nggak tahu. Dia pergi gitu aja dalam keadaan marah." Jawab Ryan.
"Ryan. Aku khawatir sekali. Diluar sedang hujan deras. Dia pasti pergi dengan motornya. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?" tanya Abian.
"Loh. Anisa nggak ada di dalam?" tanya Ryan.
"Tidak ada. Geisha sudah menghubunginya, tapi nomornya sama sekali tidak aktif." Jawab Abian.
"Kalau begitu ayo kita cari Anisa. Siapa tahu dia belum jauh," ujar Ryan.
Ryan mengangguk. Merekapun bergegas masuk kedalam mobil. Sementara itu Anisa saat ini baru saja tiba di kontrakkan. Dia segera masuk kamar mandi dan membersihkan diri.
"Sstttt" Anisa mendesis, saat luka akibat tergerus jalan asal terasa perih akibat terkena air dan sabun.
Anisa memejamkan matanya, bayangan saat Abian menyematkan cincin tunangan dijari Geisha kembali menjadi slide satu persatu. Bayangan kebersamaannya dengan Abian saat berada di rumah mertuanya, saat mengajarinya pakai motor, saat tidur bersama dan tanpa sadar berpelukkan satu sama lain.
"Hiks...sakit sekali rasanya. Hiks...." tubuh Anisa merosot dilantai.
Abian adalah cinta pertamanya, tentu saja dia sukar untuk melupakannya. Terlebih hubungan itu masih terasa baru baginya.
"Sekarang aku harus bagaimana? aku tidak akan kuat melihat dia bersama wanita lain," Anisa tergugu.
"Kenapa kamu tidak berterus terang dari awal? mungkin kalau kamu bicara dari awal, aku tidak akan sesakit ini mas. Hiks...."
Hacimmm
__ADS_1
Hacimmm
Anisa beberapa kali bersin. Dia bergegas menyudahi mandi, karena dia sudah bisa merasakan kalau saat ini dirinya sedang masuk angin.