SUAMIKU CACAT MENTAL

SUAMIKU CACAT MENTAL
20. Sindiran Mertua


__ADS_3

Brukkkk


Suban menjatuhkan diri di depan Abian. Pria parubaya itu menangis tersedu-sedu sebelum dia mengucapkan maksudnya.


"Bian. Ayah tahu kamu sangat membenci Ayah atas kepergian kakak kamu. Tapi percayalah, Ayah juga sangat kehilangan. Ayah sayang kamu dan Ardan, meskipun cara mendidikku memang salah."


"Ayah mohon maafin Ayah. Ayah nggak bisa meninggal dengan tenang, sebelum mendapat maaf dari kamu Abian. Hiks...." Suban terisak namun hati Abian yang diliputi oleh amarah dan kebencian, sama sekali tidak merasa iba dengan ucapan Ayahnya itu.


"Sekarang kamu sudah menikah. Ayah mohon sayangi Anisa. Dia gadis yang baik, juga anak yatim piyatu. Ayah yakin dia bisa menjaga kamu dengan baik, setelah ayah pergi,"


"Semoga dengan adanya kamu disini, adanya Anisa disini, bisa mengisi kekosongan hati kamu selama ini. Ayah ingin melihat kamu sembuh dan ceria kembali," Suban tidak perduli meski dirinya seolah bicara sendiri, tapi dia ingin meluapkan perasaannya selama 12 tahun ini.


"Mungkin kamu mengira Ayah hidup dengan tenang dan bahagia selama ini. Tapi Ayah nggak merasa seperti itu sama sekali. Bayang-Bayang dihantui rasa bersalah, membuat Ayah mengalihkan dengan cara lain yaitu dengan menikahi ibu neneng. Setelah lahir Alda, barulah Ayah sedikit merasa terhibur,"


"Ayah akan menunggu seberapa lamapun itu, agar Ayah bisa mendapat maaf dari kamu Abian. Bahkan meski harus menunggu sampai nafas yang terakhir sekalipun. Sekarang kamu istirahat dulu ya! istri dan ibumu sedang masak buat makan siang kita," ujar Suban yang kemudian keluar dari kamar itu.


"Heh. Apa kamu pikir aku akan memaafkanmu dengan mudah? nggak akan! karena maafmu itu, nggak bisa membuat kak Ardan hidup kembali," gumam Abian dengan gigi bergemeratuk.


Sementara itu di dapur Anisa tengah membantu Neneng memasak buat menu makan siang.


"Apa pendidikkan terakhirmu?" tanya Neneng sembari merajang sayur kacang panjang.

__ADS_1


"Kebetulan saya baru lulus kuliah perawat sekitar 2 minggu yang lalu bu." Jawab Anisa membari mengiris bawang merah tipis-tipis.


"Situ waras? kalau menurut aku yang nggak waras itu bukan Abian, tapi kamu," tanya Neneng.


"Maksudnya bu?" tanya Anisa yang merasa sedikit terkejut saat mendengar pertanyaan sekaligus sindiran frontal dari ibu sambung suaminya itu.


"Ya sudah tahu Abian gila, tapi kamu masih mau sama dia. Apalagi kamu lulusan sarjana, nggak bisa cari laki-lagi lain?" tanya Neneng.


"Kamu jangan harap bisa nguasain toko, meskipun Abian anak kandung Ayah mertuamu. Ingat! ada Alda yang otaknya masih waras, yang bisa menggantikan Ayah kamu buat ngelolah toko. Jadi kamu fokus aja dengan title yang kamu peroleh itu," sambung Neneng.


Ucapan neneng cukup mengejutkan Anisa. Anisa fikir dia bisa diterima dengan baik dihari pertama dirinya berada di rumah sang mertua, tapi ternyata dia harus mendengar ucapan seganas itu.


"Tunjukkan kalau kamu itu layak jadi istriku. Jambak rambutnya," batin Abian yang tidak sengaja mendengar pembicaraan Anisa dan Neneng.


"Ibu tenang aja ya bu. Saya nggak pernah punya niat buat ngerebut atau menguasai harta Ayah, meskipun suami Nisa sedang sakit mentalnya. Lagipula rencananya minggu depan aku mulai bekerja di rumah sakit internasional. ijazahku akan keluar tiga hari lagi. Jadi aku sudah punya penghasilan sendiri nanti,' ujar Anisa.


"Kalau soal mas Abian. Kami memang belum saling mencintai. Tapi meskipun mas Bian mentalnya sedang sakit, tapi Nisa hormat sama dia. Nisa sangat menghargai hubungan pernikahan ini, dan berharap menikah cuma sekali dalam seumur hidup," sambung Anisa.


"Ya...ya...ya. Memang ada wanita bodoh sepertimu, tapi aku nggak nyangka bakal bertemu secara langsung," ucap Neneng.


Anisa hanya menjawab ucapan Neneng dengan senyuman. Dia tidak ingin meladeni mertuanya itu, karena dia fikir bakal lama berada di rumah itu.

__ADS_1


"Mengalah bukan berarti kalah. Kalau suatu saat nanti uangku sudah terkumpul, aku akan beli rumah sendiri dan pindah dari rumah ini," batin Anisa.


"Benar kata wanita itu. Perempuan ini memang bodoh. Ditindas orang tapi nggak ngelawan. Sama sekali nggak layak jadi ibu dari anak-anakku. Bagaimana dia bisa melindungi keluarganya kalau begitu?" batin Abian.


Abian nyelonong pergi, namun siluetnya tertangkap oleh Anisa.


"Mas Bian? mas Bian mau kemana?" tanya Aniasa.


Abian tidak menjawab pertanyaan Anisa, sebagai gantinya dia mentaap istrinya itu. Ditatap seperti itu, Anisa jadi takut dan gugup.


"Emm. Boleh pinjam ponselnya mas? aku mau nyalin nomor kontak kamu, agar bisa aku hubungi," tanya Anisa.


Abian menyodorkan ponselnya tanpa banyak bicara. Anisa bergegas menyalin nomor kontak itu, dan kembali menyerahkan ponsel Abian.


"Mas mau kemana? sebentar lagi waktunya makan siang. Nanti Ayah nyariin," tanya Anisa.


Abian tidak menjawab ucapan Anisa. Pria itu langsung pergi begitu saja dari hadapan Anisa.


"Ya itu resiko punya suami nggak waras. Kamu bakal dicuekin sama dia. Nggak tahu deh, dia mau nyentuh kamu atau tidak. Atau jangan-jangan dia sama sekali nggak ngerti cara melakukannya," ucap Neneng.


Anisa cuma diam. Lagi-Lagi dia tidak ingin meladeni sindiran mertuanya itu.

__ADS_1


__ADS_2