
"Nisa," seru Suban dari arah luar kamar.
Ceklek
"Ada apa Yah?" tanya Anisa setelah pintu terbuka.
"Ayah ada kejutan buat kamu. Coba kamu lihat di luar!" ujar Suban.
"Mas Suban ngasih kejutan? aku aja yang istrinya nggak pernah dikasih kejutan. Maksudnya apa nih? aku ingin lihat, kejutan apa yang dia maksud," batin Neneng.
"Kejutan apa Yah?" tanya Anisa semringah.
"Abian mana?" tanya Suban.
"Ada di dalam. Sebentar, biar Nisa panggilkan mas Bian dulu," Anisa kembali masuk kedalam dan memanggil Abian yang tengah bermain ponsel.
"Mas sini. Ayah mau kasih kejutan sama aku. Ayo kita lihat mas! aku penasaran nih," ujar Anisa sembari menarik-narik tangan Abian.
Abian mengerutkan dahinya, namun akhirnya dia tetap mengikuti keinginan Anisa.
"Ayah. Mana kejutannya?" tanya Anisa.
"Ayo kita lihat di luar." Jawab Suban.
Anisa sangat terkejut saat melihat ada sebuah motor matic baru di depan teras. Terlebih warnanya kebetulan warna kuning yang merupakan warna kesukaan dari Anisa.
"Motor? ayah beliin Nisa motor?" tanya Anisa antusias.
Suban melirik kearah Abian yang berekspresi datar, padahal didalam hati pria itu sangat yakin motor itu adalah hadiah yang dia berikan melalui Ryan.
"Jadi Ryan minta bantuan Suban? dasar Ryan sontoloyo. Kenapa nggak dengan cara lain sih? kenapa harus melalui Suban?" batin Abian.
"Apa-Apaan mas Suban? ngapain dia kasih motor sama Nisa? apa karena dia bekerja, sementara aku ibu rumah tangga biasa? dari dulu aku mau minta motor, selalu banyak alasan. Sekarang Nisa nggak minta, malah dibelikan. Kelihatan sekali pilih kasihnya. Aku benar-benar nggak bisa terima ini," batin Neneng.
"Apa kamu suka?" tanya Suban.
"Suka Yah. Sangat suka. Apalagi ini warnanya warna kesukaan Nisa." Jawab Anisa.
__ADS_1
"Oh ya? sempurna jadi hadiahnya. Motor ini sebenarnya bukan murni dari ayah. Toko ayah memenangkan undian, karena produk yang ayah stok di toko," ujar Suban.
"Motor ini bisa kamu gunakan buat kerja. Nggak aman kalau kamu naik angkot terus. Sekarang kamu coba gih," ujar Suban.
"Bang. Ayo kita cobain muter komplek!" ujar Anisa yang seolah tahu kalau Abian bisa mengendarai motor.
Suban tampak bingung, saat melihat Abian yang tidak membantah ucapan Anisa. Padahal dia sangat meragukan kemampuan putranya itu dalam mengendarai motor.
Anisa menaiki motor itu dengan mode mengangkang. Kedua tangannya memeluk pinggang Abian tanpa diperintah. Dia tidak perduli dengan apa yang akan dipikirkan oleh suaminya itu.
"Mas. Aku happy banget deh hari ini. Kalau rejeki memang nggak kemana rupanya. Kemarin hampir dapat undian, dan hari ini mimpiku pengen punya motor jadi kenyataan. Tapi masalah besarnya adalah, aku belum bisa mengendarai motor mas. Mas mau kan ngajarin aku? aku nggak mungkin minta ajarin ayah, kan canggung mas," ujar Anisa yang hanya ditanggapi diam oleh Abian.
"Ckk...aku jadi kena lagi kan? gara-gara Ryan sialan yang memberikan ide buat beliin nih cewek motor segala. Aku nggak mungkin nolak nih, kalau bukan aku siapa lagi? lagian aku jg nggak sudi Suban yang ngajarin Anisa," batin Abian.
Setelah sampai disebuah tikungan, Abian memperlambat laju motornya. Dia mengingat-ingat disekitar sana yang memiliki lapangan sedikit luas. Setelah teringat, diapun membawa Anisa pergi kesana.
Abian menghentikan motornya disebuah lapangan bola yang biasa digunakan anak-anak untuk bermain bola disana.
"Kita ngapain kesini mas?" tanya Anisa yang tengah kebingungan, saat melihat Abian turun dari motor.
Anisa mengambil alih tempat duduk Abian.
"Mas. Mas kudu dibelakang aku ya! aku nggak mau dilepas sendiri, aku takut jatuh mas," ujar Anisa.
"Terus ini gimana cara nyalainnya?" tanya Anisa yang membuat Abian jadi menghela nafas berat.
"Kamu tarik salah satu rem motornya, terus kamu starter ini," Abian kemudian menjelaskan dengan detail.
"Asyik...aku nggak nyangka bakal dengar suara dia sebanyak ini. Rasanya aku bahagia sekali hari ini. Tunggu! tapi dia tahu darimana cara mengendarai motor? apa di rumah sakit jiwa juga diajari mengendarai motor?" batin Anisa.
"Mas Bian. Ada berapa banyak lagi misteri yang kamu sembunyikan mas. Aku akan menunggu kejutan-kejutan lain dari kamu," batin Anisa.
"Kok malah bengong. Mau belajar apa tidak? kalau nggak, aku mau pulang. Merepotkan!" ujar Abian.
"Aku takut mas. Meski mas sudah menjelaskan, tapi aku masih ngeri. Mas duduk dibelakangku ya!" ujar Anisa.
"Apa-Apaan dia? kalau posisi seperti itu bisa-bisa....ckk...menyebalkan!" batin Abian.
__ADS_1
"Tapi seharusnya itu tidak terjadi. Sudah ratusan punya pasien yang aku lihat dan kutangani, tapi nggak pernah si Joni bangun. Harusnya dia cuma bangun saat sang pemilik hati menyentuhnya bukan? dan itu hanya milik Geisha," Abian mengulum senyumnya.
Anisa berbunga-bunga, saat Abian menuruti apa yang dia katakan. Anisa duduk di depan, sementara Abian duduk di belakang untuk membantu sekaligus menenangkan dirinya yang tengah ketakutan.
Tangan Anisa saat ini terasa dingin, karena dia sangat gugup. Anisa mulai mempraktekkan apa yang Abian ajarkan sebelumnya. Perlahan dia mulai menarik gas ditangannya, namun dia masih belum bisa menyeimbangkan tubuhnya dan masih takut membuat kedua kakinya naik ke atas tempat kaki yang seharusnya berpijak.
"Naikkan saja kedua kakimu! jangan ragu-ragu begitu," ujar Abian yang sudah merasa sedikit kehilangan kesabaran.
"A-Aku takut mas," ucap Anisa terbata.
Abian memegang kedua stang motor dari arah belakang, yang membuat jarak mereka semakin mengikis. Bahkan Anisa bisa merasakan hembusan nafas Abian ditengkuknya.
"Cepat naikkan kedua kakimu!" ujar Abian yang langsung dituruti oleh Anisa.
Setelah cukup stabil, Abian melepaskan kedua tangannya. Bisa Abian rasakan kalau saat ini tangan Anisa masih kaku dan tegang.
"Lemaskan saja tanganmu itu. Kayak orang kena strum listrik aja," ujar Abian.
"Aku nggak perduli meski kamu marahin aku mas. Asal aku bisa membuatmu banyak bicara, aku rela kamu marahin," batin Anisa.
"Sekarang kamu bisa belajar sendiri," ujar Abian setelah motor itu berada dititik awal.
"Aku takut mas." Jawab Anisa.
"Ini terakhir kalinya aku ngajarin kamu. Kalau kamu masih nggak berani juga, aku nggak perduli," sarkas Abian.
Anisa akhirnya memberanikan diri mengelilingi lapangan itu. Namun naas bagi Anisa, motor itu meniti sebuah batu, hingga motor itu tergelincir dan dia terpaksa merelakan tubuhnya terguling bersama motornya.
Brukkkkk
"Mas. Hiks...."
Abian yang tatdinya fokus dengan ponselnya, langsung menghampiri Anisa saat melihat istrinya itu terjatuh.
"Matamu itu kemana? apa nggak bisa lihat jalan lain? batu kok di titi?" hardik Abian.
Anisa tidak menjawab ucapan Abian, karena lengannya lumayan terasa sakit akibat luka lecet. Melihat Anisa terisak, Abian jadi menurunkan nada suaranya dan membujuk Anisa pulang ke rumah.
__ADS_1