SUAMIKU CACAT MENTAL

SUAMIKU CACAT MENTAL
Bab.12. Tawaran Menikah


__ADS_3

"Bagaimana operasinya dok?" tanya Anisa.


"Semua kaca yang menancap dikepala bapak Sumarno sudah berhasil kami keluarkan. Dan kami juga sudah mengobati lukanya. Berdo'a saja bapakmu segera sadar." Jawab dokter.


"Terima kasih dok. Tapi apa masa kritis bapak sudah lewat?" tanya Ansisa.


"Belum. Bapak harus dirawat secara intensif. Kamu juga jangan pergi kemana-mana, takutnya beliau membutuhkan donor darah atau membutuhkan hal lain. Apa tidak ada keluarga lain yang bisa menggantikanmu?" tanya dokter.


"Ada. Tapi mereka semua orang sibuk." Jawab Anisa tersenyum kecut.


"Baiklah. Kalau begitu saya tinggal dulu ya! masih ada pasien lain yang harus saya kunjungi," ujar dokter.


"Silahkan dok! terima kasih," ucap Anisa.


Anisa juga keluar dari ruang dokter. Air matanya mengalir sebanyak yang tersisa.


"Buk'e. Nisa kangen buk'e. Nisa harus bagaimana sekarang? semuanya sudah terjual. Nisa takut buk'e. Nisa ndak mau tinggal sendirian. Hiks...." Anisa terisak dengan tubuh merosot di tembok.


"Nisa," sapa Surani.


"Paklek?" Anisa bergegas berdiri sembari menghapus air matanya.


"Nisa. Paklek mau bicara sama kamu. Ini soal penjualan rumah dan kebun milik bapak kamu. Ternyata memang sangat sulit menjual tanah dan rumah dimusim pandemi seperti ini. Orang-Orang lebih mendahulukan membeli beras ketimbang properti," ujar Surani.


"Ada seorang juragan yang nawar rumah sama kebun kamu, tapi dia ndak bisa beli dengan harga tinggi. Dia cuma sanggup bayar 100 juta untuk kebun dan rumahmu itu," sambung Surani.


"Apa ndak bisa lebih lagi paklek? harusnya nilai tanah dan kebun itu bisa lebih dari itu," tanya Anisa.


"Ya mau bagaimana lagi. Dia sanggupnya segitu. Paklek juga sudah bilang, memang ndak mudah jual properti sekarang ini. Kalaupun mau harga tinggi, itu pasti memakan waktu yang lama. Sedangkan kita kan butuh uang cepat untuk pengobatan bapak kamu." Jawab Surani.


"Nisa cuma takut kurang uangnya. Belum lagi Nisa harus cari kontrakkan kan?" tanya Anisa.


"Harusnya kalau paklek kasihan sama aku, dia pasti mau mengajakku ke rumahnya. Karena walau bagaimanapun, aku ini kan masih darah dagingnya," batin Anisa.


"Kamu bisa cari kontrakkan yang murah," ucapan Surani membuat Anisa tersenyum kecut.


"Baiklah paklek. Atur saja akta jual belinya, nanti biar aku yang minta tanda tangan bapak setelah bapak siuman," ujar Anisa.

__ADS_1


"Baiklah." Jawab Surani yang bersorak senang dalam hati.


Surani kemudian pergi dari rumah sakit dengan hati yang senang. Sementara Anisa wajahnya sangat murung dan sedih, karena dia harus kehilangan rumah kenangan dan kebun tempat mata pencaharian kedua orang tuanya.


"Maafkan Nisa pak. Maafkan Nisa yang ndak bisa menjaga harta kalian. Nisa terpaksa melakukannya. Tapi Nisa janji, suatu saat nanti kebun dan rumah itu akan aku beli kembali," batin Anisa.


Suban yang tidak sengaja melihat Anisa menangis, menghentikan langkahnya.


"Kenapa kamu menangis. Hem?" tanya Suban.


"Ah...nggak apa-apa pak." Jawab Anisa sembari menyeka air matanya.


"Maaf nona Anisa. Anda harus melunasi sisa administrasi yang belum anda bayarkan," ujar seorang perawat yang menghampiri Anisa.


"Tapi Sus. Saya belum ada uangnya. Rumah dan kebun saya sudah laku, tapi uangnya belum cair. Bisakah saya minta tempo beberapa hari?" tanya Anisa.


"Tidak bisa. Soalnya uang pembayarannya sudah ditambahkan dengan biaya operasi kemarin. Maaf mbak, saya cuma bekerja dan mematuhi prosedur rumah sakit." Jawab Suster.


"Jadi berapa total semuanya Sus?" tanya Anisa.


"30 juta." Jawab Suster.


Anisa segera menghubungi Surani. Namun dengan sengaja Surani mengulur-ulur waktu pembayaran.


"Juragan itu bisa melakukan pembayaran seminggu lagi Nis. Kamu tahu sendiri 100 juta juga uang yang banyak. Juragannya baru dapat uang minggu depan." Jawab Surani.


"Terus Nisa Harus bagaimana paklek? Nisa takut pengobatan bapak dihentikan," tanya Anisa.


"Maaf Anisa. Paklek juga ndak punya uang buat bantuin kamu. Emm...tapi sepertinya ada solusi buat masalah kamu." Jawab Surani.


"Bagaimana solusinya paklek?" tanya Anisa.


"Kamu pinjam saja dengan rentenir. Nanti paklek bantu pinjamkan. Tapi kamu tahu sendirikan? bunga pinjam uang dari rentenir sangat besar. Bisa mencapai 30 persen atau bahkan 50%." Jawab Surani.


"Oke aku ndak perduli paklek. Pinjam saja uang dari rentenirnya. Paklek cepat bawa uangnya kesini ya? nanti setelah uang dari Juragan itu cair, kita bisa membayarnya," ujar Anisa.


"Baiklah." Surani mengakhiri panggilan itu dengan bersorak gembira.

__ADS_1


"Yes. Untung besar aku dari gadis tolol itu," ujar Surani.


Sementara itu ditempat berbeda Anisa bertambah sedih, karena dia merasa cobaan yang dia terima bertubi-tubi saat ini.


"Sepertinya gadis ini sedang mengalami kesukitan uang. Apa ini jawaban dari do'a-do'aku selama ini?" batin Suban.


Suban yang hendak melakukan kontrol di rumah sakit, kemudian menundanya sejenak. Suban menghubungi dokter rumah sakit jiwa karena ingin meminta bantuan. Setelah selesai menelpon, Suban kemudian menghampiri Anisa karena ingin menyampaikan maksudnya.


"Maaf. Apa bapak boleh bicara sebentar?" tanya Suban.


"Ada apa pak?" tanya Anisa.


"Maaf. Tadi bapak tidak sengaja mendengar, kalau kamu sedang membutuhkan uang banyak. Bapak bisa membantumu kalau kamu mau." Jawab Suban.


"Bapak ini mau membantuku? tapi dia siapa? bukankah ini terdengar lucu? saudara kandung bapak saja ndak ada yang perduli, ini orang asing mau membantu cuma-cuma. Itu sangat tidak mungkin," batin Anisa.


"Apa yang bapak inginkan?" Anisa bertanya to the point.


Suban tersenyum mendengar pertanyaan Anisa, yang ternyata sudah tahu dirinya memiliki maksud tertentu.


"Bapak punya seorang putra berusia 27 tahun. Tapi dia belum menikah. Kalau kamu mau menjadi menantuku, bapak akan membayar semua biaya rumah sakit dari awal sampai bapakmu sembuh." Jawab Suban.


"Sudah kuduga dia tidak mungkin meminjamkan dengan cuma-cuma. Dan apa ini? tiba-tiba dia melamarku untuk anaknya yang aku sendiri tidak tahu seperti apa rupanya," batin Anisa.


"Waduh...maaf ya pak. Tapi saya belum ada niat untuk menikah. Saya masih muda, baru 22 tahun. Saya masih mau kerja, dan menikmati masa muda," ujar Anisa.


"Kamu tenang saja. Kamu boleh bekerja setelah menikah. Bapak cuma ingin anak bapak menikah sebelum bapak tiada. Cuma itu yang bapak inginkan. Bapak cuma khawatir, saat bapak tiada anak bapak itu tidak ada yang menjaganya," ucap Suban dengan wajah murung.


"Bapak ini terlihat sangat sayang dengan anaknya. Tapi aku belum mau menikah. Aku masih mau bekerja, dan membeli kembali harta kekuargaku," batin Anisa.


"Sekali lagi saya minta maaf ya pak! saya belum tertarik buat menikah." Jawab Anisa yang menolak dengan tegas.


Suban menulis nomor ponselnya disecarik kertas, dan menyelipkannya ditangan Anisa.


"Hubungi bapak kalau kamu berubah pikiran. Tolong jangan dibuang kertasnya. Cepat masukkan kedalam tasmu, agar tidak hilang," ujar Suban.


"Eh? ba-baiklah," Anisa kemudian memasukan kertas itu kedalam tas selempangnya.

__ADS_1


Suban kemudian pergi, sementara Anisa hanya bisa menggelengkan kepalanya.


__ADS_2