SUAMIKU CACAT MENTAL

SUAMIKU CACAT MENTAL
Bab.19. Pulang Ke Rumah


__ADS_3

"Apa itu tidak berbahaya dok? maksudku, bagaimana kalau dia mencelakai orang lain?" tanya Suban.


"Kenapa dia harus mencelakai orang lain? kalau orang dalam rumahnya saja tidak dia celakai. Terlebih pemicunya saja selama ini tidak pernah dia celakai kan?" tanya dokter Yasmar, yang membuat Suban jadi terdiam.


Sementara Anisa berteka teki sendiri mendengar ucapan dokter Yasmar.


"Yang penting kalian jangan melarang apapun yang dia sukai, ataupun jangan melakukan hal yang tidak dia sukai. Pak Suban tahu sendiri penyebab kenapa dirinya jadi seperti itu. Jadi dia ingin kebebasan, tanpa di kekang," sambung dokter Yasmar.


Suban masih saja terdiam. Sejujurnya dia sangat takut membawa Abian pulang. Tapi dia tidak mungkin memisahkan Anisa dari suaminya.


"Saya mengerti apa yang bapak pikirkan. Kalau bapak merasa takut dia akan membuat masalah, bagaimana kalau Anisa dan Abian tinggal berdua di rumahku?"


"Maksud saya. Saya memiliki sebuah rumah pribadi yang tidak di huni, karena saya baru pindah dari rumah itu. Bahkan perabotannya masih lengkap. Rumahnya juga tidak terlalu bermasyarakat. Sayang kalau rumah itu tidak di huni," sambung dokter Yasmar.


"Eh? terima kasih atas tawarannya dokter. Tapi itu terlalu merepotkan anda. Biar suami saya, kami bawa pulang dulu. Kami belum mencobanya bukan? semoga saja kekhawatiran kami tidak terjadi. Iya kan pak?" tanya Anisa pada Suban.


"Betul dokter. Kami tidak enak kalau terlalu merepotkan anda. Selama ini dokter sudah banyak membantu. Kami sangat berterima kasih," ucap Suban.


"Kami akan mencoba membawanya pulang, sembari melihat perkembangannya. Sekarang sudah ada Anisa, jadi aku tidak khawatir lagi," sambung Suban.


"Ya sudah kalau begitu. Tapi kalau kalian berubah pikiran, hubungi saya saja," ujar dokter Yasmar.


"Sekarang mari kita temui Abian. Aku sudah menyuruh perawat untuk membantunya berganti pakaian," sambung dokter Yasmar.


Dokter Yasmar, Suban, dan Anisa pergi ke ruangan Abian. Anisa cukup takjub, saat melihat penampilan Abian saat mengenakan pakaian santai. Hanya saja Abian membiarkan rambutnya terurai.


"Abian. Keluargamu sudah datang ingin menjemputmu," ujar dokter Yasmar.


Anisa mendekati Abian secara perlahan, dan pandangan mata merekapun bertemu. Anisa kemudian meraih tangan suaminya untuk dia cium.


"Maafin Nisa ya mas. Seharusnya Nisa merawatmu, tapi baru semalam tahlillan bapak selesai. Jadi baru hari ini kita ketemu lagi," ucap Anisa sembari memberikan senyum terbaiknya.

__ADS_1


Tapi Anisa dan yang lainnya terkejut, saat tiba-tiba Abian memalingkan wajahnya.


"Ada apa dengan mas Abian? apa dia marah padaku? apa orang kena gangguan mental memiliki perasaan juga?" batin Anisa.


"Bian. Ayahmu dan istrimu datang menjemputmu. Katamu, kamu sudah sembuh dan ingin bergaul seperti orang normal lainnya. Apa kamu berubah pikiran?" tanya dokter Yasmar.


"Tidak." Jawab Abian singkat.


Anisa menggenggam tangan Abian, dan membantu suaminya itu turun dari tempat tidur.


"Ayo kita pulang mas!" ujar Anisa.


Abian menuruti perkataan Anisa, agar semua orang yang tidak tahu kepura-puraannya curiga.


"Oh ya. Kalian juga bisa memberikan Abian ponsel android, agar dia bisa mengalihkan pikiranya melalui game. Karena Abian sudah keluar dari sini, kami memberikan hadiah untuk Abian satu buah ponsel android yang sudah kami masukkan beberapa aplikasi, sim card, dan beberapa kontak yang bisa dia hubungi. Tapi baru kontak saya dan asisten Ryan saja yang ada di sana," ujar dokter Yasmar.


"Kami ucapkan terima kasih dok. Anda baik sekali pada Abian," ucap Suban.


"Tentu dok. Aku tidak akan mengecewakan kerja keras anda," ujar Suban.


"Bagus sekali dokter Yasmar. Perkataanmu memang sempurna. Padahal ponsel itu memang ponsel pribadiku. Ponsel yang sangat penting, dan sangat aku butuhkan," batin Abian.


"Bian. Terimalah ponsel ini ya!" ujar dokter Yasmar, yang kemudian dengan cepat diraih oleh Abian.


"Lihatlah! dia sangat tertarik dengan ponselnya," ujar dokter Yasmar sembari terkekeh.


"Mas menyukainya? aku cukup jago bermain game. Nanti aku akan mengajarimu, apa kamu senang?" tanya Anisa sembari tersenyum, dan Abian hanya menganggukkan kepalanya.


Abian, Anisa dan Suban akhirnya pulang ke rumah. Rumah yang banyak menyimpan kenangan antara Abian dan Ardan. Rumah yang tidak Abian datangi selama 12 tahun. Dan hal itu membuat jantung Abian berdebar, dengan degup yang meletup-letup.


"Kita sudah sampai. Ayo kita turun!" ujar Suban.

__ADS_1


Abian menatap rumah itu dari kejauhan. Tangannya bergetar dan dingin, Anisa bisa melihat hal itu.


"Mas. Kamu kenapa?" tanya Anisa sembari menggenggam tangan Abian.


Abian tidak menjawab pertanyaan Anisa dan kemudian menbuka pintu mobil. Anisa mengikuti Abian, turun dari mobil dan menatap rumah itu seperti yang Abian lakukan. Perlahan tapi pasti, Abian melangkah selangkah demi selangkah hingga berdiri tepat didepan pintu yang terbuka lebar.


"Oh ya ampun. Apa yang akan terjadi kedepannya. Kalau orang gila ini tinggal di rumah ini selamanya. Ditambah istrinya yang bodoh itu. Bagaimana aku tidak mengatakan dia bodoh? sudah tahu orang gila, tapi malah dinikahi. Apalagi kalau bukan mata duitan," batin Neneng.


"Kak Bian. Kak Bian sudah pulang?" tanya Alda dengan senyum semringah.


Abian yang semula sedih, jadi tersenyum saat Alda menyapanya.


"Ya Tuhan...dia sangat tampan saat tersenyum," batin Anisa.


Abian melangkah masuk, tanpa memperdulikan neneng. Dan hal pertama yang dia tuju, tentu saja kamar kenangannya bersama Ardan. Kamar itu memang Suban gembok, dan jarang dibuka Suban kecuali saat akan membersihkannya.


"Ayah sudah membersihkan kamarnya. Kalian berdua akan menempati kamar ini. Ayah juga sudah membelikan tempat tidur baru, dan tempat tidur lama Ayah simpan di gudang bersama barang-barang yang lain," ujar Suban.


Suban kemudian membuka gembok kamar itu, dan Abian segera masuk kedalam sana. Air mata Abian langsung mengucur, saat masuk ke kamar itu. Abian melihat ke atas plafon, tempat terakhir kali dia melihat Ardan tergantung disana. Anisa yang bingung melihat Abian menangis, hanya bisa diam. Sementara Suban jadi ikut menangis saat melihat Abian menangis. Rasa bersalah itu kembali muncul, dan dia tahu betul rasa sakit yang Abian rasakan saat ini.


Abian melangkah dengan kaki bergetar, dua piala besar masih berjejer di meja belajar dan pria itu sentuh dengan jarinya. Kali ini tangis Abian sudah berubah jadi isak tangis. pria itu meraih figura kecil diatas meja, foto saat dirinya masih mengenakan seragam putih biru, sementara Ardan mengenakan seragam putih abu-abu.


"Nisa. Kamu bantu Ibu masak buat makan siang ya! ayah mau bicara dengan suamimu sebentar," ujar Suban.


"Iya pak." Jawab Anisa.


"Sekarang kamu jangan panggil saya pak. Tapi panggil dengan sebutan ayah. Karena semua anak-anak Ayah memanggil dengan sebutan itu," ujar Suban.


"Baik Yah." Jawab Anisa.


Anisa kemudian pergi ke dapur membantu neneng. Sementara Suban mendekati Abian dengan menutup pintu kamar terlebih dahulu

__ADS_1


__ADS_2