SUAMIKU CACAT MENTAL

SUAMIKU CACAT MENTAL
Bab.57. Pergi Jauh


__ADS_3

Anisa bergegas mengemasi pakaiannya, dengan air mata yang sudah memenuhi wajahnya.


"Sepertinya aku sama kamu memang nggak jodoh mas. Kalau memang perpisahan kita bisa menyelamatkan semua orang, aku rela melepaskanmu. Aku bisa saja mengabaikan perasaan Geisha, mengabaikan semua kesalahanmu dimasa lalu, tapi aku nggak bisa melukai hati seorang anak. Aku sudah merasakan, betapa tidak enaknya tidak memiliki orang tua."


"Mungkin malam ini adalah malam terakhir aku melihatmu mas. Aku akan puas-puas melihat wajahmu,"


Anisa menyeka air matanya. Dia juga sudah mengiklankan mobilnya untuk dia jual. Sementara rumah, dia juga sudah berencana menyewakannya.


Anisa juga sudah sudah berencana mengundurkan diri dari rumah sakit dengan menulis surat pengundurdirian dirinya.


"Hah. Rasanya berat sekali bekerja hari ini. Tapi mau bagaimana lagi. Lagipula aku harus menyerahkan surat ini untuk rumah sakit. Dan...aku juga ingin melihat mas Abian untuk terakhir kalinya," gumam Anisa.


Anisa kemudian turun dari motor, dimana saat ini dirinya sudah tiba dihalaman parkir rumah sakit. Seperti biasanya dia menyapa teman-temannya, dia berencana akan pamit saat pulang dari bekerja.


Dari kejauhan dia bisa melihat Geisha baru akan pulang dari rumah sakit.


"Geisha sudah pulang, itu artinya Abian sudah datang. Kenapa aku begitu berat meninggalkan Abian? rasanya langit sedang runtuh menimpaku. Aku tidak tahu kenapa, meski Geisha berkata buruk tentang Abian. Dan meski Abian lagi-lagi membohongiku, tapi aku sama sekali tidak merasa benci dan sakit hati padanya," batin Anisa.


Anisa kemudian bersembunyi, dan membiarkan Geisha benar-benar pulang. Setelah yakin Geisha sudah pergi, Anisa keluar dari persembunyiannya dan pergi ke ruangan Abian.


"Sayang," Seperti biasa, Abian mengunci pintu dan memeluk Anisa. Diam-Diam Anisa menyeka air matanya yang tumpah dibalik punggung pria itu.


Anisa tiba-tiba mengeratkan pelukkannya pada Abian, hal yang tidak pernah dia lakukan selama ini.


"Kenapa? kangen ya?" tanya Abian sembari terkekeh.


"Ya. Entah kenapa aku kangen banget sama kamu hari ini mas." Jawab Anisa.


"Kamu sabar ya sayang. Sebentar lagi kita akan menikah, dan aku rencananya akan keluar dari rumah sakit ini," ujar Abian.


"Kenapa keluar dari rumah sakit?" tanya Anisa sembari melerai pelukkan mereka.


"Rencananya aku mau buka praktek mandiri saja, biar aku punya banyak waktu dengan keluarga. Lagipula aku juga capek harus bekerja di dua tempat begini. Dan setelah menikah malah bekerja jadi 3 tempat." Jawab Abian.


"Kok tiga tempat? tempat satunya dimana?" tanya Anisa.


"Di Kasur, ngerjain istriku." Jawab Abian sembari tertawa keras.


Anisa tersenyum hambar saat melihat tawa Abian.


"Mas,"


"Hem?"


"Apa mas sangat menginginkan anak?" tanya Anisa.


"Tentu saja sangat ingin. Tapi wanitanya harus kamu, aku nggak mau wanita lain."Jawab Anisa.


"Apa yang dikatakan Geisha benar ya? Abian tidak akan mau menerima anak dalam kandungannya karena Abian sedang tergila-gila denganku? kasihan Geisha," batin Anisa.


"Hey...kok malah ngelamun sih?" tanya Abian.


"Apa disini sudah ada anak kita?" sambung Abian sembari mengelus perut rata Anisa.


"Ckk...mas jangan bercanda deh. Sekarang aku keluar dulu ya? nggak enak sama teman-teman yang lain," ujar Anisa.


"Tapi nanti malam kalau nggak ada jadwal operasi kamu kesini ya?" tanya Abian.


"Ya." Anisa langsung setuju dengan ucapan Abian, karena memang dia ingin bersama Abian sepuasnya sebelum dirinya pergi.


Anisa kemudian melangkah pergi keluar dari ruangan itu. Dan keadaan seolah berpihak pada mereka, karena malam ini pasien operasi dan pasien melahirkan sama sekali tidak ada. Ditengah malam Anisa menyelinap ke ruang dokter, saat semua orang tengah beristirahat.


Ceklek


Anisa mendapati Abian tengah tertidur diatas bad. Tidur pria itu terlihat damai, hingga Anisa tidak tega membangunkannya.


"Biarkan aku memandang wajah kamu sepuasnya malam ini mas. Mungkin ini pertemuan terakhir kita. Sungguh rasanya aku berat meninggalkanmu, tapi ini demi kebaikan kita semua. Aku sangat mencintai kamu mas, sangat. Hiks...." Anisa terisak, hingga Abian jadi terbangun.


Anisa bergegas menghapus air matanya, karena dia tidak ingin Abian Mengetahui kesedihannya.


"Sayang? kamu sudah lama disini? kenapa nggak bangunin aku. Hem?" tanya Abisan sembari menggenggam tangan Anisa.


"Mas tidur sangat nyenyak. Sementara aku sangat kesulitan tidur malam ini. Aku pengen ngobrol banyak sama kamu mas." Jawab Anisa.


"Baiklah. Kamu mau ngobrol apa sih. Hem?" tanya Abian sembari pindah duduk jadi di atas sofa.

__ADS_1


"Kemarilah!" Abian menepuk-nepuk pahanya, agar Anisa duduk dipangkuannya. Anisa tidak protes ataupun menolak, dia hanya ingin egois untuk malam ini saja. Namun bagi Abian, dia sangat senang karena Anisa tidak lagi canggung dengannya.


Anisa kemudian bercerita tentang banyak hal pada Abian. Abian menanggapi cerita Anisa dengan sesekali mencium mantan istrinya itu.


"Ih...mas denger aku cerita nggak sih? kok malah cium-cium sembarangan?" tanya Anisa.


"Sayang. Kita main yuk?" bisik Abian.


"Mas. Ini rumah sakit, nanti kalau tiba-tiba ada pasien bagaimana?" tanya Anisa.


Abian seolah tuli, dan segera menyeret Anisa ke kamar mandi. Pria itu tahu mereka akan menimbulkan kegaduhan, dan bisa saja ada yang mendengar kegiatan mereka itu. Itulah sebabnya Abian memutuskan untuk melakukannya di dalam toilet.


"Mas," Anisa melengguh, karena Abian sudah berhasil membenamkan miliknya setelah melakukan pemanasan.


Kini antara mulut dan tubuhnya tidak lagi sejalan. Meski di mulut dirinya menolak, tapi tubuhnya malah menginginkan lebih. Dan kegiatan yang cukup membakar kalori itu berlangsung cukup lama dan cukup membuat kaki keduanya menjadi pegal.


Abian terpejam saat dirinya sudah menyelesaikan hajatnya, begitu juga dengan Anisa.


"Ah....ini benar-benar luar biasa sayang. Terima kasih," ucap Abian sembari menempelkan kening mereka.


Anisa bergegas merapikan pakaiannya kembali yang berantakan akibat ulah Abian. Dia sudah bertekad kalau malam ini dia tidak akan menolak Abian, apapun yang pria itu minta.


"Sayang. Kenapa aku merasa kamu malam ini sangat nurut sama aku? aku merasa ada sesuatu yang salah malam ini," tanya Abian.


"Ya Tuhan...apa mas Bian sudah punya firasat kalau besok aku akan pergi? maafkan aku mas. Aku nggak akan marah karena kamu sudah berbohong padaku, aku juga tidak marah karena kamu sudah merenggut kehormatanku. Aku akan anggap itu sebagai hadiah dan sebagai hakmu yang dulu belum sempat aku berikan. Karena mau dulu atau sekarang, statusku juga sudah janda," batin Anisa.


"Kamu kenapa lagi sih? kok malam ini sering melamun? kamu sakit?" tanya Abian.


"Nggak mas. Mas, aku pengen kamu peluk aku." Jawab Anisa yang membuat Abian jadi tersenyum.


Abian kemudian memeluk Anisa dengan erat, begitu juga sebaliknya.


"Kenapa perasaanku jadi tidak enak seperti ini? tingkah Anisa malam ini membuatku jadi gelisah. Apa ini hanya perasaanku saja?" batin Abian.


Abian dan Anisa kembali mengobrol banyak hal, hingga tanpa sadar fajarpun hampir menyingsing. Anisa memutuskan kembali ke ruangan perawat. Beruntung teman-temannya masih tertidur, hingga dirinya merasa aman.


Dan pagi itu saat jam pulang kerja, Anisa menghilang tanpa berpamitan. Wanita itu menyerahkan surat Resign pada pihak rumah sakit. Setelah selesai Anisa bergegas pergi dan pulang ke rumah. Namun saat dia pulang ke rumah, dia melihat ada mobil Abian terparkir di halaman rumahnya. Sementara pria itu begitu sibuk membuat panggilan untuknya, karena ponselnya tidak aktif.


Hampir satu jam Anisa bersembunyi, dan akhirnya Abian pergi juga dari rumahnya.


Abian kemudian pergi dari rumah Anisa untuk beristirahat di rumahnya. Setelah Abian pergi, Anisa bergegas membersihkan diri dan segera pergi dari rumahnya.


"Sekarang aku harus kemana?" gumam Anisa.


Saat ini Anisa memang tengah berada di bandara. Dia sama sekali belum membeli tiket, karena dia bingung harus kemana. Anisa menoleh ke kanan dan ke kiri, untuk melihat orang-orang yang berada di sekitarnya. Tanpa sengaja dia melihat orang yang baru tiba di bandara soekarno hatta tengah menenteng kardus bertuliskan pempek.


"Sepertinya takdir akan menuntunku kesana. Aku putuskan akan pergi ke pulau sumatera," gumam Anisa.


Anisa segera membeli tiket. Saat ini kota Palembang menjadi tujuan hidupnya. Namun dia mendapatkan masalah setelah sampai di bandara sultan mahmud badarudin. Dia sama sekali tidak tahu harus kemana, karena dia sama sekali tidak tahu nama jalan disana.


Anisa memutuskan naik taksi sembari berpikir.


"Kita mau kemana bu?" tanya sang supir taksi.


"Antar aku ke rumah sakit umum." Jawab Anisa.


"Rumah sakit moehammad hoesin ya bu?" tanya supir.


"I-Iya." Anisa terpaksa mengiyakan saja ucapan supir, karena dia sama sekali tidak tahu rumah sakit di kota itu.


Setelah tiba di depan rumah sakit, Anisa kembali kebingungan. Dia berjalan memasuki lorong yang tidak jauh dari rumah sakit. Setelah berjalan lumayan jauh, Anisa akhirnya menemukan kontrakkan yang bisa dia sewa.


"Syukurlah. Akhirnya aku menemukan kontrakkan ini. Meskipun sederhana, tapi cukup nyaman untuk aku tinggali," gumam Anisa.


"Aku hanya perlu membeli peralatan dapur. Setelah itu aku hanya perlu fokus mencari pekerjaan. Mas Bian...sedang apa dia sekarang? apa dia sangat kehilanganku setelah aku pergi?" batin Anisa.


"Hah...aku yang pergi, tapi aku sendiri yang merindukannya. Dia pasti terkejut dengan kepergianku. Tapi itu tidak masalah, lambat laun dia pasti bisa menerima Geisha. Terutama dia bisa menerima anak yang di kandung Geisha," gumam Anisa.


Sementara itu di tempat berbeda, Abian kembali ke rumah Anisa. Dia bermaksud menjemput Anisa dan pergi bekerja bersama-sama.


"Kemana dia? kenapa rumah ini di gembok? nomor ponselnya juga tidak aktif," gumam Abian.


"Emmm...sepertinya momen yang ku tunggu-tunggu datang juga. Akhirnya aku bisa menebar banyak bawang kali ini," gumam Stevi.


Stevi mendekat kearah Abian. Gadis itu memang hendak pergi ke rumah sakit, karena dia mendapat giliran magang pada malam hari.

__ADS_1


Dokter Bian mencari Anisa?" tanya Stevi.


Abian menatap Stevi dari ujung rambut, hingga ujung kaki gadis itu.


"Kamu sepupunya Anisa kan?" tanya Abian.


"Iya dok. Aku Stevi. Dokter pernah datang ke rumahku, untuk membeli rumah dan kebun Anisa." Jawab Stevi.


"Anisanya kemana ya? ponselnya juga tidak bisa di hubungi," tanya Abian.


"Sepertinya mbak Nisa sudah pergi jauh dok." Jawab Stevi.


"Pe-Pergi jauh? apa maksudmu?" tanya Abian.


"Boleh aku nebeng mobil dokter? sepertinya lebih enak kalau kita bicara sambil jalan ke rumah sakit dok," Stevi mulai melancarkan aksinya.


Abian masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Stevi. Abian perlahan mulai menjalankan mobilnya.


"Ceritakan apa yang kamu ketahui tentang Anisa?" tanya Abian.


"Maaf dok. Kemarin tanpa sengaja, aku melihat kedatangan dokter Geisha ke rumah mbak Nisa. Dia...."


Mendengar nama Geisha disebut, Abian langsung memberhentikan mobil secara mendadak.


"Apa yang dia lakukan di rumah Anisa?" tanya Abian sembari menatap Stevi.


"A-Aku merasa tidak sanggup mengatakannya dok. Tapi sebaiknya dokter lihat saja video ini. Aku sempat mengabadikannya dengan ponselku. Sepertinya kepergian mbak Nisa ada hubungannya dengan video ini," unar Stevi.


Abian meraih ponsel Stevi dan melihat isi video itu. Mata Abian terbelalak, saat Geisha menampar dan menjambak Anisa. Pria itu sangat terkejut, saat Geisha mengatakan tengah mengandung anaknya.


"Geisha...omong kosong apa yang kamu katakan. Anisa, kenapa kamu begitu bodoh hingga langsung mempercayai semua kata-katanya. Harusnya kamu tanya dulu padaku. Pantas saja semalam sikapmu sangat aneh, ternyata kamu sudah berencana ingin meninggalkan aku," batin Abian.


"Aku merasa kasihan dengan mbak Nisa. Dia orang baik. Jadi dok, apa semua yang dokter Geisha katakan itu benar?" tanya Stevi.


"Tentu saja tidak benar. Kirim Video itu padaku!" ujar Abian.


"Tapi dok, dokter Geisha pasti tahu kalau yang memberitahumu itu adalah aku. Soalmya saat dokter Geisha pulang, dia melihat aku yang berada tidak jauh dari rumah mbak Nisa," ujar Stevi.


"Kamu tenang saja. Aku jamin posisimu aman," ujar Abian.


Stevi tersenyum tipis nyaris tak terlihat. Abian bergegas pergi ke rumah sakit, karena ingin menemui Geisha. Sesuai dugaannya, Geisha baru saja bersiap pulang.


"Ikut aku!" ujar Abian sembari menyeret tangan Geisha.


"Kamu mau apa? bukankah kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa?" tanya Geisha.


"Sudah tahu kita tidak memiliki hubungan apapun, tapi kenapa kamu mengganggu hubunganku dengan Anisa ha?" hardik Abian.


Plakkkk


Geisha menampar Abian dengan keras di pipinya.


"Kamu tahu Anisa sahabatku, tapi kenapa kamu tega mengkhianatiku. Kalian mengkhianatiku Abian. Kenapa harus dia? kenapa?" hardik Geisha.


Abian tiba-tiba tertawa keras saat mendengar ucapan Geisha.


"Mungkin kamu akan terkejut saat mendengar ucapanku ini Geisha. Tapi pada kenyataannya, aku sudah mengenal Anisa sebelum kamu mengenal dia. Bahkan kami sudah pernah menikah secara siri sewaktu kamu berada di luar negeri."


"Ap-Apa?" Geisha terkejut.


"Yah... itulah kenyataannya Geisha. Anisa tidak salah dalam hal ini. Kami tidak bersalah, karena kami saling mencintai. Tapi kenapa kamu harus mengatakan hal bohong? kamu bilang padanya, kalau kamu sedang mengandung? dan kamu tahu dengan pasti kalau kita tidak pernah melakukan hal itu," ujar Abian.


"Oh...jadi sejak aku di luar negeri, kamu sudah berselingkuh dengannya? tega sekali kamu Abian, tega kamu! yah...aku akui aku berbohong. Aku memang tidak hamil, tapi aku sama sekali tidak menyesal sudah berbohong. Kalian pantas mendapatkan atas pengkhianatan yang kalian lakukan," ucap Geisha.


"Kamu sudah gila ha?" hardik Abian.


"Kamu akan tahu, aku bisa berbuat lebih gila lebih dari itu Abian. Dan aku yakin, kamu pasti tahu resikonya," ujar Geisha.


Geisha tiba-tiba berteriak, hingga mengundang banyak orang berdatangan.


"Ini anak kamu Abian. Kenapa kamu tega minta putus, dan malah ingin menikahi wanita lain. Kenapa kamu tega, padahal aku sedang mengandung anak kamu," Geisha mulai mengeluarkan air mata.


Semua orang berbisik-bisik menyudutkan Abian. Tapi bukannya malu, Abian malah tertawa keras.


"Waw...ternyata keputusanku untuk minta putus sama kamu, itu adalah keputusan yang maha benar Geisha. Aku baru tahu, kalau kamu punya sisi seperti ini. Apa kamu pikir dengan memfitnahku, aku akan takut lalu akan menikahimu? jangan mimpi kamu! aku malah semakin benci dan jijik sama kamu. Dan mulai hari ini, aku resign dari rumah sakit ini," ujar Abian.

__ADS_1


Abian kemudian langsung pergi dari hadapan Geisha, yang membuat gadis itu jadi histeris.


__ADS_2