SUAMIKU CACAT MENTAL

SUAMIKU CACAT MENTAL
Bab.47. Menghindar


__ADS_3

"Apa kamu sudah bertemu dengan temanmu itu?" tanya Abian.


"Belum. Sejak har pertunangan kita, nomor ponselnya tidak bida di hubungi. Aku belum sempat menemuinya di ruang Neonatus. Kenapa?" tanya Geisha.


"Tidak apa-apa. Aku merasa heran saja. Kamu biasanya suka sekali membicarakan tentang dia." Jawab Abian.


"Aku tidak tahu mengapa, aku merasa Anisa seperti menghindar," ujar Geisha.


"Tiap individu pasti punya masalahnya sendiri. Mungkin dia sedang ada masalah. Kita sudah sampai," ujar Abian.


"Makasih ya sayang. Kamu sudah mengantarku bekerja," ucap Geisha.


"Sama-Sama. Semangat kerjanya ya!" ucap Abian.


Geisha mengacungkan jempol, dan kemudian masuk dari gerbang rumah sakit. Melihat Geisha sudah masuk, Abian tidak langsung pulang. Pria it menunggu Anisa keluar, karena dia tahu gadis itu seharusnya pulang bekerja pagi ini.


"Itu dia. Meski dia memakai masker, aku bisa mengenali kalau itu pasti dia. Ternyata dugaan Geisha benar, dia memang berusaha menghindari kami semua," gumam Abian.


Abian memutuskan mengikuti Anisa. Dia ingin tahu tempat tinggal Anisa yang baru. Namun saat dipertengahan jalan, Anisa dicegat oleh beberapa orang preman, yang ingin mengambil motor Anisa. Anisa sekuat tenaga mempertahankan motor itu, dan berakhir dirinya terkena pukulan keras, sebelum sempat Abian menolongnya.


"Hiks....akkkhhhhh...hiks....aaakkkkhh,"


Anisa menjerit sekerasnya karena kesal motornya berhasil diambil para begal. Anisa kemudian menangis terisak.


Drap


Drap


Drap


Anisa yang semula menunduk, mendongakkan kepala karena merasa ada seseorang yang mendekatinya.


"Ckk...."


Anisa berdecak kesal, saat tahu orang yang ada dihadapannya itu adalah Abian. Dia bergegas bangkit dari trotoar dan berjalan kaki


"Nisa tunggu!" Abian mencekal tangan Anisa.


"Lepasin nggak!" Anisa berontak.


"Nisa. Aku mohon! kita perlu bicara," ujar Abian.

__ADS_1


"Aku sudah bilang sama kamu. Nggak ada lagi yang perlu dibicarakan. Berpura-puralah tidak kenal, aku nggak mau Geisha salah paham sam a aku. Ngerti nggak sih kamu?" nafas Anisa terlihat naik turun.


Tap


Abian menarik tangan Anisa dan memaksanya masuk kedalam mobil.


"Apa maumu brengsek!" hardik Anisa.


Abian tidak memperdulikan umpatan Anisa padanya. Dia terus fokus menyetir, hingga sampailah mereka pada sebuah taman dan berhenti disana.


"Turunlah!" ujar Abian.


"Aku akan turun, tapi kamu harus berjanji satu hal padaku," ujar Anisa.


"Apa?" tanya Abian.


"Ini obrolan kita yang terakhir. Setelah hari ini, jangan pernah mengajakku berbicara lagi. Anggap saja kita tidak pernah kenal," ujar Anisa.


Abian menatap mata Anisa, namun wanita itu malah memalingkan wajahnya.


"Baiklah aku setuju," ujar Abian.


Anisa bergegas turun dari mobil, dan berjalan lebih dulu memasuki area taman. Saat melihat tempat duduk, dia segera menjatuhkan bokongnya disana.


"Nisa. Sekali lagi aku ingin meminta maaf padamu atas kejadian dimasa lalu. Aku sadar aku sudah melakukan kesalahan besar, dan seolah menganggap pernikahan kita seperti permainan. Aku tahu ini sudah sangat terlambat, tapi aku hanya ingin kita berteman," ujar Abian.


"Aku akan memaafkanmu, tapi aku tidak mau jadi temanmu. Temanku sudah banyak, jadi aku tidak perlu menambah satu atau dua teman sepertimu. Sekarang kamu sudah mendapat maafku, jadi aku mohon jauhi aku dan hidup berbahagialah bersama pujaan hatimu itu," ujar Anisa.


"Aku rasa obrolan kita cukup sampai disini saja Aku pulang dulu," ujar Anisa sembari berdiri dari tempat duduknya.


"Biar aku antar," ujar Abian.


"Tidak perlu, karena kita tidak punya hubungan apapun," ujar Anisa sembari berjalan dengan cepat.


"Tunggu Nisa. Aku tidak akan mengganggumu lagi, tapi kamu juga harus nerima syarat dariku juga," ucap Abian yang membuat langkah kaki wanita itu terhenti.


"Ada apa?" tanya Anisa.


"Biarkan aku membelikanmu motor. Kamu pasti butuh motor untuk bekerja kan?" tanya Abian.


"Tidak perlu." Jawab Anisa.

__ADS_1


"Kalau kamu menolak, aku akan mengganggumu dan menemuimu setiap hari," ujar Abian.


Anisa menghela nafas panjang. Berharap hidup tenang setelah pindah, tapi tetap saja dirinya merasa terganggu.


"Terserah kamu saja," ujar Anisa.


"Ayo kita pergi ke dealer. Atau kirim alamatmu saja, biar aku yang antar barangnya," ujar Abias.


Anisa seolah terjebak oleh ucapannya sendiri. Diapun terpaksa mengikiti Abian pergi ke dealer dan memilih motor yang dia inginkan.


"Kalau begitu aku pilih yang paling mahal saja. Atau aku minta duit, harta yang banyak. setelah aku pikir-pikir hidup naif tidak akan enak sampai akhir. Sedangkan dia bersenang-senang diatas penderitaanku selama ini. Sudah kepalang basah, aku habiskan saja duitnya," batin Anisa.


"Menyedihkan!" gumam Anisa.


"Kenapa?" tanya Abian saat mendengar gumaman Anisa.


"Aku dibuat menderita selama berbulan-bulan. Diperlakukan seperti orang bodoh. Sementara suamiku diluar dia hidup enak, dan menjalin cinta dengan wanita lain."


"Setelah diceraikan secara sepihak, aku tetap saja disiksa secara batin. Tiba-Tiba mantan suamiku bertunangan dengan wanita lain yang statusnya luar biasa dariku. Yang paling menyedihkan adalah, mentang-mentang aku dinikahi secara siri, aku hanya diberikan motor seharga 20 juta. Padahal biaya pertunangan mantan suamiku menelan biaya ratusan juta. Aku dibiarkan hidup ngontrak dan kekurangan, sementara mantan suamiku bergelimang harta."


"Itulah sebabnya aku menjadi orang yang paling menyedihkan di dunia ini," sambuang Anisa.


"Eh? katakan Anisa, apa yang kamu inginkan? apa kamu ingin rumah, mobil, perhiasan? kamu katakan saja. Aku ingin memberikanmu, tapi takut kamu tersinggung," tanya Abian.


"Kalau begitu aku terima niat tulusmu. Anggao saja sebagai harta gono gini. Aku menginginkan semuanya. Mobil, rumah, perhiasan." Jawab Anisa.


"Baiklah. Aku akan mengabulkan semuanya. Katakan kamu mau rumah seperti apa? mobil seperti apa? berapa jumlah perhiasan yang kamu inginkan?" tanya Abian.


Abian sangat antusias, karena Anisa mulai membuka diri. Dia sama sekali tidak merasa Anisa memoroti uangnya. Malah dia merasa senang, karena Anisa sudah berani menyuarakan keinginannya.


Anisa tampak diam. Dia tidak menyangka kalau Abian akan menuruti semua keinginnya.


"Aku ingin rumah dan kebun peninggalan bapak kembali atas namaku. Masalah mobil dan perhiasan terserah saja." Jawab Anisa


"Mungkin ini jalan satu-satunya agar rumah dan kebun itu bisa kembali. Aku tidak tahu kapan suksesnya, aku takut uangku tidak terkumpul sampai aku mati. Lagipula ini tidak salahkan? dia sendiri yang mau mengeluarkan uang," batin Anisa.


"Baiklah. Aku akan memberitahumu setelah orangnya setuju menjualnya kembali padamu. Setelah harga sudah padan, kamu tinggal beritahu aku berapa total semuanya," ujar Abian.


"Sudah aku bilang, aku tidak mau terus menerus berurusan denganmu. Berikan saja uang 500 juta, aku akan menebusnya sendiri," ujar Anisa.


"Baiklah. Aku minta nomor rekeningmu, biar nanti aku kirim," ujar Abian.

__ADS_1


Anisa segera memberikan nomor rekening untuk Abian. Setelah sudah selesai, Anisa segera pulang ke kontrakkan.


__ADS_2