
"Setelah makan aku langsung pulang ya yank," ujar Abian.
Saat ini Abian dan Anisa memang tengah menikmati makan siang bersama.
"Ya. Kamu juga butuh tidur," ujar Anisa.
"Ya pinggangku lumayan pegal," ujar Abian sembari terkekeh.
"Salah sendiri mesum," timpal Anisa.
"Nanti malam kita ketemu lagi. Tengah malam nanti datang lagi ke ruanganku ya?" ujar Abian.
"Ngapain? jangan aneh-aneh. Aku tidak suka kalau kamu bersikap berlebihan ditempat kerja," ujar Anisa.
"Iya baiklah sayangku," ucap Abian.
Setelah selesai makan siang, Abian kemudian pulang ke rumahnya. Sementara itu di tempat berbeda, Geisha tampak murung di ruang dokter. Gairah hidupnya seakan padam, dia benar-benar tidak rela berpisah dari Abian.
Tok
Tok
Tok
Ceklek
"Permisi dok,"
Geisha mengerutkan dahinya saat melihat seorang gadis berseragam dokter masuk ke ruangannya.
"Ada apa?" tanya Geisha dengan nada datar.
"Kenalkan nama saya Stevi dok," ujar Stevi sembari mengulurkan tangan, dan kemudian dijabat oleh Geisha.
"Kelihatannya dokter sedih sekali ya putus dari dokter Abian?" tanya Stevi.
Geisha mengerutkan dahinya, karena dia merasa sama sekali tidak akrab dengan Stevi. Terlebih berita tentang putusnya hubungannya dengan Abian tidak pernah dia sebarkan pada orang lain.
"Dokter Geisha pasti bertanya-tanya, kenapa aku bisa tahu tentang putusnya hubungan kalian. Tapi itu sama sekali tidak penting, yang paling penting adalah informasi yang aku bawa untukmu," ujar Stevi.
"Sebenarnya sangat disayangkan. Selama ini anda salah dalam memilih teman. Orang yang anda anggap sahabat, orang yang anda anggap saudara, tapi ternyata menikammu diam-diam," sambung Stevi.
"Apa maksudmu?" tanya Geisha.
"Anisa. Sahabatmu itu, diam-diam menjalin hubungan dengan dokter Abian. Dialah penyebab hubungan kalian putus." Jawab Stevi.
"Omong kosong! Anisa tidak mungkin seperti itu. Lagipula mana mungkin Abian memutuskanku demi wanita yang levelnya dibawahku," ujar Geisha.
"Itu kan menurut anda, tapi pada kenyataannya tidak seperti itu. Anisa itu wajahnya saja yang polos, tapi dia itu sebenarnya lebih ganas dari ular," ujar Stevi.
"Pergilah! aku sama sekali tidak percaya dengan ucapanmu itu," Geisha mengusir Stevi
Mendengar Geisha mengusirnya, Stevi jadi tertawa keras. Gadis itu kemudian mengeluarkan ponselnya dan menyodorkannya pada Geisha.
"Mungkin dengan bukti nyata, kamu akan percaya dengan apa yang aku katakan. Aku tidak mungkin berani menemuimu, kalau tidak membawa buktinya. Bahkan aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri," ujar Stevi.
Geisha meraih ponsel Stevi, dan menekan tombol play untuk memutar video itu. Mata Geisha terbelalak, saat melihat kemesraan Abian dan Anisa. Terlebih saat Anisa berada di pangkuan Abian sembari berciuman. Air mata Geisha jatuh seketika.
Tangan Geisha bergetar, saat melihat kenyataan itu. Hati nuraninya menolak, bahwa Anisa yang dia anggap sahabatnya sudah tega mengkhianatinya.
"Sepertinya dokter butuh sendiri. Aku akan pergi," ujar Stevi sembari beranjak dari tempat duduk.
"Tunggu!" ujar Geisha sembari menyeka air matanya.
"Ada apa?" tanya Stevi.
"Tolong kirim video itu di ponselku!" ujar Geisha.
"Baiklah," ujar Stevi.
Stevi dan Geisha berbagi nomor ponsel. Gadis itu kemudian mengirimkan video lewat chat.
"Duduklah! aku ingin tahu, kenapa kamu bisa mengenal Anisa," ujar Geisha.
__ADS_1
Stevi kembali duduk. Dirinya merasa diatas angin saat ini.
"Siapa yang tidak kenal dengan Anisa. Dia itu kakak kelasku saat dibangku sekolah. Dia itu memang salah satu siswi tercantik dan populer disekolah, karena selain pintar secara akademis, dia juga pintar menggaet pria dengan kecantikannya."
"Tidak hanya yang muda, dia juga menggaet om-om yang sudah tua demi uang. Anisa itu orang susah, jadi dia melakukan berbagai cara agar bisa mendapatkan uang termasuk dokter Abian," sambung Stevi.
"Aku sarankan jangan menyerah dengan hubungan kalian. Jangan mau kalah dengan gadis murahan seperti itu. Dia itu sama sekali tidak layak mendapatkan hal baik dalam hidupnya. Dokter Abian terlalu sempurna untuk wanita bekas seperti dia,"
"Itu hanya penggalan video, karena aku merasa tidak sanggup meneruskan rekaman itu. Tapi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau adegan setelahnya lebih parah dari itu. Mereka benar-benar melakukan hubungan badan dok. Maaf, aku tidak bermaksud menyakiti hati anda. Tapi aku hanya mengatakan kebenarannya," sambung Stevi.
"Sulit dipercaya kalau Abian bisa tergoda dengan Anisa. Dan lebih sulit lagi, karena selama ini dia selalu menolakku saat mengajaknya berciuman. Tapi melihat Video ini, Abian terlihat sangat nyaman melakukannya dengan Anisa. Bahkan dia terlihat sangat bernafsu," ujar Geisha dengan lelehan air mata.
"Kalau melihat video ini, tentu saja aku percaya dengan semua kata-katamu. Bahkan aku percaya kalau dulu dia pernah menjadi sugar baby para om-om hidung belang," sambung Geisha.
"Sekarang Anisa ada di rumah. Dia mendapat shif malam. Bukankah dia akan berada satu shif yang sama dengan dokter Abian? coba dokter bayangkan apa yang akan mereka lakukan saat tengah malam disaat semua orang sedang istirahat. Anisa pasti diam-diam menyelinap kedalam ruangan ini, dan mereka mengotori rumah sakit ini dengan berbuat tidak senonoh. Rumah sakit ini jadi tercemar, terlebih ini rumah sakit yang papa anda pimpin," Stevi kembali menebarkan hasutan yang mematikan.
"Anisa harus diberikan pelajaran dok. Singkirkan dia! baik itu dari rumah sakit, ataupun dari kehidupan dokter Abian. Dengan begitu, dokter Abian pasti akan kembali pada anda," ujar Stevi.
Geisha tampak berpikir keras, dan sesaat kemudian dia meraih tasnya.
"Aku tidak akan membiarkan Anisa berhasil dengan rencananya. Aku akan membuatnya menghilang dari kota ini. Stev, tolong antar aku ke rumah Anisa," ujar Geisha.
"Dengan senang hati dok. Aku akan selalu berada dipihak yang benar," ujar Stevi.
Geisha dan Stevi kemudian pergi ke rumah Anisa. Setelah mereka sampai disana, Geisha terlihat tidak sabar ingin segera turun dari mobil dan menghampiri Anisa.
"Dokter duluan saja. Saya terima telpon dulu," ujar Stevi.
"Sebaiknya kamu memang tunggu di dalam mobil saja. Aku butuh ngobrol berdua dengan Anisa," ujar Geisha.
"Baik dok," ujar Stevi.
Tok
Tok
Tok
Ceklek
Plakkkkk
Plakkkkk
Geisha memberikan tamparan keras untuk Anisa.
Grepppp
Geisha mencengkram sangat keras rambut Anisa, hingga wanita itu meringis kesakitan.
"Awww...sakit dok," ucap Anisa.
"Sakit? sakit mana dengan hatiku yang sudah kamu khianati Anisa. Aku sudah menganggapmu sahabat, sudah menganggapmu seperti saudara. Tapi kenapa kamu tega menusukku dari belakang. Kenapa ha?" hardik Geisha.
"Apa maksudmu? aku tidak mengkhianatimu. Tolong lepaskan tanganmu," ujar Anisa.
"Baiklah. Sepertinya kamu akan terus mengelak, sampai aku memberikan bukti nyata padamu wanita murahan," hardik Geisah.
Geisha meraih ponselnya dan memperlihatkan sebuah rekaman video saat dirinya bermesraan dengan Abian tadi malam.
"Kenapa kamu tega sekali sama aku Anisa, kenapa? kamu tahu kan kalau aku sangat mencintai Abian. Hiks...."
Geisha melepaskan cengkraman tangannya dan kemudian terisak. Namun kali ini dia tidak terisak sendirian, Anisa juga terisak bersamanya. Geisha kemudian terduduk disalah satu kursi dengan wajah tertunduk sembari menangis.
"Aku tidak menyangka akan diperlakukan seperti ini oleh sahabatku sendiri. Aku benar-benar tidak menyangka kamu setega itu sama aku. Hiks...."
"Kamu harus dengarkan dulu penjelasanku. Ini semua di luar kuasaku. Hubunganku dan Abian tidak sesederhana yang kamu perkirakan," ujar Anisa.
"Tentu saja tidak sederhana, karena kamu sudah puas ditiduri olehnya," ujar Geisha yang membuat Anisa jadi tertohok.
"Tapi satu hal yang kamu tidak tahu Anisa. Laki-Laki tetaplah laki-laki. Kamu termakan oleh bujuk rayunya, hingga mau ditiduri olehnya. Tapi asal kamu tahu, kamu itu bukan satu-satunya orang yang termakan oleh bujuk rayunya hingga berakhir diatas ranjang," ujar Geisha.
"Apa maksudmu?" tanya Anisa.
__ADS_1
"Aku berpacaran dengannya sudah 5 tahun. Kamu pikir dengan rentang waktu selama itu, antar pria dan wanita dewasa, apa yang akan kami lakukan? apa hanya cukup dengan berpegangan tangan dan berciuman saja? itu tidak akan cukup bagi seorang laki-laki normal Anisa. Kami selalu melakukannya dimanapun ada kesempatan. Karena Abian nafsunya sangat besar."
"Aku pikir denganku dia akan merasa cukup. Tapi apa kenyataannya? dia bahkan tergoda dengan perawat biasa sepertimu. Kamu tahu kenapa aku selalu mendesaknya menikahiku cepat-cepat? itu karena aku sedang mengandung anaknya Anisa," sambung Geisha.
Langkah Anisa beberapa kali mundur. Dia sangat syok mendengar ucapan Geisha. Ingatannya seolah menjadi slide satu persatu, ketika pertama kali Abian menodainya. Dia percaya dengan ucapan Geisha saat gadis itu mengatakan, bahwa Abian memilikki nafsu yang besar. Itu terbukti karena Abian meminta hal itu berkali-kali dan tanpa rasa bosan.
Geisha melirik kearah tanda merah yang hampir memenuhi leher Anisa. Tanda yang terlihat masih sangat baru, tanda yang tidak pernah Abian berikan untuknya. Dan itu membuat hatinya sangat sakit.
Brukkkk
Geisha tiba-tiba berlutut di kaki Anisa. Gadis itu sudah bertekad akan menyingkirkan Anisa bagaimanapun caranya.
"Anisa. Sebagai sesama perempuan, aku memohon padamu. Tinggalkan Abian Anisa. Bukan hanya karena aku sangat mencintainya saja, tapi ini demi bayi yang sedang aku kandung. Aku dan keluargaku tidak bisa menanggung malu, karena aku melahirkan tanpa seorang suami. Kamu tahu sendiri betapa ramainya acara pertunanganku waktu itu. Papa pasti sangat malu, dan jadi bahan olok-olokkan teman-temannya,"
"Dokter berdirilah! kamu tidak pantas merendahkan dirimu seperti ini. Dokter tidak bersalah, kita sama-sama korban disini. Tentu saja sebagai sesama wanita aku mengerti perasaanmu. Maafkan aku dokter, maafkan aku. Hiks...." Anisa terisak.
Geisha langsung bangkit dari lantai dan memegang kedua pundak Anisa.
"Apa itu artinya kamu akan meninggalkan Abian demi bayi ini?" tanya Geisha.
"Ya. Maafkan aku yang sudah melukai hatimu dok. Aku keliru memahami satu hal selama ini," ucap Anisa sembari menangkupkan tangan.
Greppp Geisha memeluk Anisa dengan erat.
"Terima kasih Anisa. Aku yakin suatu saat nanti, kamu akan menemukan orang yang jauh lebih segalanya dari Abian. Seandainya aku tidak hamil, tentu aku tidak akan memisahkanmu dengan Abian. Aku akan mengalah meskipun sakit," ujar Geisha.
"Aku tahu, karena dokter memang berhati baik. Akulah yang salah disini, karena sudah hadir diantara kalian," ucap Anisa.
"Maaf Nisa. Aku akan melakukan apapun demi tujuanku tercapai. Tidak ada yang salah perang dalam cinta. Salahmu yang terlalu percaya denganku. Sama sepertiku dulu, yang salah menilaimu," batin Geisha.
Geisha kemudian melerai pelukkan mereka.
"Tapi Nis. Abian pasti akan terus mengejarmu," ujar Geisha.
"Aku akan resign dari pekerjaanku agar tidak lagi bertemu dengannya," ujar Anisa.
"Tapi dia masih bisa menemuimu dirumah ini. Aku kenal betul siapa Abian. Dia tidak akan melepaskanmu sampai dia benar-benar merasa puas. Contohnya aku, dia meninggalkan aku setelah puas menikmati tubuhku," ujar Geisha.
"Apa dia tahu dokter sedang hamil?" tanya Anisa.
"Tidak. Dia sedang tergila-gila padamu, aku takut dia menyuruhku menggugurkan anak ini." Jawab Geisha.
"Mana mungkin. Dia sangat menginginkan banyak anak," ujar Anisa.
"Nisa. Bukan salahmu kalau kamu masih sangat polos. Dia memang mengatakan itu saat pertama kali dia merenggut keperawananku. Tapi saat kami sama-sama berada diluar negeri, dia menyuruhku memakai alat kontrasepsi dengan alasan agar kuliah kami tidak terganggu. Tapi saat dia kembali ketanah air, tentu saja aku melepas alat kontrasepsi itu. Tapi karena dia tidak bisa mengendalikan nafsu, dia menyewa sebuah hotel dan kami menghabiskan waktu semalaman untuk bercinta. Itu terjadi saat aku datang ketanah air.
"Tidak cukup disitu saja, bahkan kami pernah melakukannya di ruang dokter. Disetiap ada kesempatan dia selalu menjamahku. Tentu saja aku tidak menolak, karena aku merasa kami saling mencintai. Sampai kamu hadir dalam kehidupanku, semuanya jadi berubah. Perlahan dia menolak tiap kali aku ingin menciumnya. Dihari dia memutuskan pertunangan kami, sebenarnya aku ingin memberitahunya kalau aku sedang hamil. Tapi aku mengurungkan niatku, karena aku takut dia akan marah dan menyuruhku aborsi,"
"Tapi hari ini aku mengerti kenapa dia ngin putus dariku. Itu karena kamu Anisa, dan itu membuatku benar-benar merasa sangat sedih. Bukan saja sedih karena putus dari Abian, tapi aku juga sedih karena anakku terancam tidak punya ayah. Hiks...." Geisha kembali terisak.
"Rasanya sulit dipercaya Abian melakukan hal ini pada dokter Geisha. Tapi mana mungkin dokter Geisha berbohong? apa yang dikatakannya semua masuk akal. Abian, apa kamu sungguh orang yang seperti itu?" batin Anisa.
"Anisa. Aku tahu kamu sulit percaya padaku begitu saja. Tapi agar kamu yakin, ayo kita lakukan USG. Kamu akan melihat hasilnya nanti," ujar Geisha.
"Tidak dok. Aku tidak meragukanmu sama sekali. Sekarang katakan padaku, apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Anisa.
"Pergilah yang jauh Anisa. Pergi yang jauh sampai Abian tidak bisa mengejarmu lagi. Karena kalau kamu masih berada di kota ini, dia pasti bisa menemukanmu." Jawab Geisha.
"Tapi...."
"Tolong Anisa. Ini kita lakukan demi anak yang ada dalam kandunganku. Kamu jangan khawatir, aku akan membantumu memberikan uang untuk kamu membeli rumah di luar kota," ujar Geisha.
"Itu tidak perlu dokter Geisha. Kalau kamu melakukan itu, itu sama saja kalau aku meminta imbalan. Kita mungkin mencintai pria yang sama, aku tidak menyesal pernah jatuh cinta padanya. Tapi aku tidak akan pernah menjual cintaku demi uang," ujar Anisa.
"Tidak Anisa. Aku mohon kamu jangan menolaknya. Aku masih menyimpan nomor rekeningmu waktu itu. Dengan kamu menerimanya, aku akan merasa lega. Dan aku tidak merasa bersalah karena sudah memisahkanmu dengan Abian," ujar Geisha.
"Jangan dok! aku bisa menjual rumahku ini dan mencari rumah yang murah di luar kota. Jadi aku mohon jangan lakukan itu. Aku tidak bisa menerimanya," ujar Anisa.
"Tentu saja aku tidak akan mendengarkanmu Anisa. Karena aku punya rencana sendiri tentang uang itu," batin Geisha.
"Dasar kalian wanita-wanita bodoh. Pertengkaran dan adegan ini, akulah yang akan diuntungkan disini. Sebaiknya kalian ucapkan selamat tinggal untuk dokter Abian, karena dia pasti akan menjadi milikku seorang," Stevi menyeringai dibalik celah pintu.
Setelah mendapatkan video yang dia inginkan, Stevi kembali kedalam mobil dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
__ADS_1