
Anisa menggeliat, saat matanya sudah merasakan puas tidur. Rasanya itu tidur yang paling nyenyak dia rasakan selama seumur hidupnya. Anisa juga sama sekali tidak merasakan kepanasan.
Mata Anisa perlahan membuka. Dia tampak kebingungan, saat menyadari dirinya sudah berada di sebuah kamar mewah.
"Eh? bukankah tadi kami berada di dalam mobil? apa sekarang aku sedang berada di rumah mas Abian? jika iya, kamarnya bagus dan besar sekali," gumam Anisa.
Anisa kemudian bangkit dari tempat tidur, dan membuka tirai jendela. Dan matanya di buat takjub saat melihat pemandangan disekitar rumah Abian. Dari jendela Anisa bisa melihat, sebuah taman yang dipenuhi oleh aneka bunga. Di sekitarnya juga di tanami oleh aneka pohon. Udara disana terasa sangat sejuk.
"Ini sudah jam berapa ya?" gumam Anisa sembari mencari keberadaan jam dinding. Karena tidak ada, Anisa meraih ponsel dalam tasnya.
"Jam 11siang. Mas Bian kemana? aku lapar," ujar Anisa.
Baru saja Anisa hendak membuka pintu, Abian membukanya dari luar.
"Sayang. Kamu sudah bangun?" tanya Abian.
"Emm. Mas,"
"Hem?"
"Aku lapar," ujar Anisa.
"Sebentar lagi makanan siap disantap. Kamu mandi saja dulu. Semua bajumu ada di lemari sebelah kiri," ujar Abian.
"Baiklah," ucap Anisa.
Anisa kemudian meraih handuk yang diberikan oleh Abian, dan kemudian masuk kedalam kamar mandi. Sementara Abian menunggu Anisa, dia sembari mengerjakan sesuatu di laptopnya.
Tiba-Tiba Abian mendengar ada suara keributan di luar kamarnya.
Ceklek
"Abian," Geisha tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu.
"Maaf tuan. Non Geisha memaksa masuk, meskipun sudah kami larang," ujar pelayan.
"Pergilah!" ujar Abian pada pelayan.
Ceklek
Ceklek
Geisha menutup pintu dan menguncinya. Tidak hanya itu, Geisha bahkan langsung menanggalkan semua pakaiannya dan langsung menghampiri Abian
"Apa yang kamu lakukan? pakai kembali bajumu, aku sama sekali tidak tertarik dan tidak akan pernah kembali sama kamu. Geisha, sikapmu yang seperti ini, semakin membuatku merasa jijik sama kamu!" hardik Geisha.
Geisha langsung mendorong Abian, hingga jatuh diatas tempat tidur. Geisha langsung menaiki tubuh pria yang dia cintai itu. Namun Abian dengan gesit menjatuhkan Geisha kesamping. Ketika Abian hendak beranjak, Geisha kembali menarik tangannya, hingga Abian jatuh diatas tubuh telanjang Geisha.
Ceklek
"Mas,"
Anisa yang hanya menggunakan handuk minim, sangat terkejut saat melihat Abian mengungkung Geisha yang tengah telanjang.
"Mas Bian!" teriak Anisa.
Spontan Abian bangkit dari atas tubuh Geisha. Pria itu sangat panik, karena takut Anisa salah paham.
"Sayang. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku berani bersumpah. Dia datang sendiri masuk ke kamar dan mengunci pintu. Dia mendorongku diatas tempat tidur. Dia...."
"Sudahlah Abian. Kita sudah sering melakukannya, kenapa kamu berpura-pura menolak sekarang? kamu sendiri yang bilang, meski sudah meniduri Anisa, tapi kamu masih tidak bisa melupakanku. Anisa, meski kamu kembali, tapi jangan harap kamu bisa memiliki hati Abian seutuhnya," ujar Geisha.
"Sayang. Jangan dengarkan dia. Aku tidak pernah bicara seperti itu. Aku...."
Mulut Abian ditutup oleh telapak tangan Anisa. Anisa kemudian mendekat kearah Geisha yang dengan tidak tahu malunya masih bertelanjang, dihadapan Abian dan Anisa.
"Mas Bian tutup mata, kalau nggak tutup ntar aku colok," ujar Anisa.
"Aku juga tidak ingin lihat. Bagusan juga punya kamu sayang." Jawab Abian yang membelakangi kedua wanita yang tengah berdekatan itu.
Cetuttttt
"Awww...apa kamu sudah gila? sakit!" teriak Geisha saat Anisa dengan gemas mencubit kedua dada Geisha.
"Lihatlah baik-baik dokter Geisha! biar anda tahu perbedaan diantara kita," ujar Anisa.
Anisa kemudian melepas handuknya dan memperlihatkan asetnya pada gadis itu.
"Menurutmu dengan aset sekecil itu, apa dia masih mau balik padamu dan meninggalkan semangka milikku?" pertanyaan Anisa membuat Abian menahan tawanya.
Abian akui, dia memang paling senang bermain dengan kedua aset Anisa yang memiliki bentuk yang indah.
__ADS_1
Merasa dipermalukan, Geisha kembali menyerang Anisa dengan kata-kata.
"Tidak perduli besar atau kecil, yang penting aku lebih bisa memuaskan Abian," ujar Geisha.
"Tidak juga. Dia jauh lebih puas denganku. Bahkan saking puasnya, ada dua janin sekaligus didalam rahimku," ucapan Anisa berhasil membungkam mulut Geisha.
Geisha bergegas berpakaian, sementara Anisa kembali memasang handuknya.
"Dasar perebut!" Geisha hendak menyerang Anisa, namun Abian bergegas menangkis pukulan Geisha.
"Kalau kamu berani menyakiti Anisa seujung kuku saja, aku tidak akan segan-segan membunuhmu. Asal kamu tahu, aku dan Anisa sudah SAH menikah. Aku nggak akan mau melirik wanita lain lagi. Sekarang pergilah dari rumahku! jangan sampai aku gelap mata," ucap Abian.
Geisha menghentakkan kakinya dan kemudian keluar dari kamar itu sembari menangis. Setelah Geisha pergi, suasana mendadak hening. Abian jadi menelan ludahnya, karena Anisa mendadak diam.
Anisa terlihat membuka lemari yang sudah berisi baju-baju baru yang dibelikan oleh Abian dengan bantuan Ryan. Anisa tidak banyak bertanya dan langsung mengenakan pakaian.
Grepppp
Abian memeluk Anisa dari belakang, dia jadi takut saat melihat Anisa diam.
"Kamu marah?" tanya Abian sembari meletakkan dagu di bahu Anisa.
"Aku tidak marah, cuma kesal saja." Jawab Ansia.
"Kesal? kesal kenapa? apa salahku?" tanya Abian.
"Tadi pasti matamu senang melihat asetnya Geisha. Atau jangan-jangan tadi mas Bian malah menyentuhnya." Jawab Anisa.
"Oh astaga...sayang. Kok mikirnya begitu? aku menyukai semangkamu, tidak menyukai jambu aer," ujar Abian.
"Kok tahu punya dia jambu Aer? saking memperhatikannya ya?" tanya Anisa.
Abian menepuk dahinya, karena lagi-lagi salah bicara.
"Ya sudah aku minta maaf ya sayang? sekarang ayo kita turun ke bawah, kita harus segera makan siang. Kasihan anak kita pasti sudah kelaparan," ujar Abian.
"Hah. Baiklah," ujar Anisa sembari tersenyum.
Abian menggenggam tangan Anisa, dan membuka pintu kamarnya. Mata Anisa terbelalak, saat melihat bentuk dan isi rumah Abian yang berjumlah dua lantai itu.
"Ini rumah apa istana?" gumam Anisa.
"Kenapa?" tanya Abian.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Abian.
"Tidak. Aku hanya teringat hal konyol. Bisa-Bisanya waktu di rumah ayah dulu, aku membelikanpun jeruk peras. Tentu saja bukan level Sultan dengan rumah seperti ini." Jawab Anisa sembari terkekeh.
"Ini rumahmu juga sayang. Bahkan nanti akan aku alihkan atas namamu," ujar Abian.
"Tidak perlu mas. Buat apa susah-susah begitu. Nambahin kerjaan aja," ujar Anisa.
"Tidak masalah. Itu akan jadi urusanku," ujar Abian.
Anisa menatap meja makan yang dipenuhi oleh makanan enak, hingga Anisa sendiri bingung harus memilih makanan yang mana.
"Mas. Buat apa menyuruh pelayan memasak makanan sebanyak ini? ini bisa mubazir mas," tanya Anisa.
"Ini karena aku sangat senang menyambutmu dan juga anak-anak kita. Sekarang makan yang banyak! anak-anak kita pasti sudah sangat kelaparan," ujar Abian.
"Baiklah," ucap Anisa.
Anisa dan Abian mulai menyantap makanan. Abian sangat senang, karena Anisa begitu menikmati makanan tersebut.
"Oh ya. Kapan kita akan menemui paklekmu?" tanya Abian.
Anisa terlihat berhenti mengunyah, dan kemudian menghela nafas.
"Sejujurnya aku malas berurusan dengan mereka lagi mas. Mereka tidak pernah tulus baik sama aku. Tapi mau bagaimana lagi, mau tak mau kita menikah harus menggunakan wali bukan?" tanya Abian.
"Iya. Basa-Basi aja dulu. Kalau mereka tidak mau, barulah kita pakai jasa penghulu," ujar Abian.
"Baiklah lebih cepat lebih baik. Nanti sore kita pergi ke rumah mereka satu persatu untuk mengundang hari bahagia kita," ujar Anisa.
"Oke. Sekarang habiskan makananmu! aku mau mengajakmu berkeliling rumah kita," ujar Abian yang kemudian dianggukki cepat oleh Anisa.
Sesuai janji Abian, pria itu kemudian mengajak Anisa berkeliling rumah dan juga taman di luar. Abian ingin memperkenalkan rumah itu pada Anisa, agar calon istrinya itu tidak kebingungan.
"Tahu ada kolam renang, mending tadi aku mandi di kolam renang mas. Sudah lama aku tidak berenang," ujar Anisa.
"Kita bisa berenang sepuasnya dilain hari. Sekarang kita duduk dulu. Kamu pasti lelah berkeliling tadi," ujar Abian.
__ADS_1
"Lumayan." Jawab Anisa yang kemudian lebih memilih duduk di tepi kolam renang, sembari mencelupkan kedua kakinya kedalam air.
Abian duduk disamping Anisa dengan mencelupkan kedua kakinya.
"Ah...rasanya ini seperti mimpi bagiku. Kamu tidak akan bisa melukiskan, betapa bahagianya aku saat ini,"ujar Abian sembari menggenggam erat tangan Anisa.
"Aku juga mas. Tapi mas setelah aku pikir-pikir mending kita pergi ke rumah paklek sekarang saja," ujar Anisa.
"Kenapa?" tanya Abian.
"Agar cepat kelar mas." Jawab Anisa.
"Baiklah. Mari kita bersiap," ujar Abian.
Anisa dan Abianpun bersiap pergi ke rumah paman Anisa. Saat tiba di rumah Stevi, rumah itu tampak sepi dari luar, karena memang kebiasaan mereka jarang bersosialisasi dengan tetangga yang kurang mampu.
Sreeetttt
Stevi menyibak tirai, dan melihat mobil Abian terparkir di depan rumahnya. Tentu saja senyumnya jadi semringah. Dia segera berlari ke kamarnya untuk berdandan maksimal, setelah menyuruh pembantunya membuka pintu.
Ting tong
Ting tong
Ceklek
"Apa Paklek Surani ada?" tanya Anisa.
"Ada mbak. Ayo silahkan masuk!" ujar pelayan.
Anisa dan Abian masuk kedalam rumah. Anisa tersenyum miris saat melihat isi rumah Surani yang terkesan sangat mewah dan glamor. Berbanding terbalik dengan kehidupannya yang sangat miris dan memprihatinkan selama ini.
Abian tiba-tiba mengusap punggung Anisa, seolah mengerti apa yang sedang difikirkan oleh calon istrinya itu.
"Kamu lebih kaya dari mereka sekarang," bisik Abian, yang membuat Anisa jadi tersenyum dan kembali ceria.
Anisa menjatuhkan bokong di salah satu sofa empuk milik pamannya itu. Tidak berapa lama kemudian Surani keluar bersama sang istri.
"Nisa? nak Bian? kenapa kalian datang bersamaan?" tanya Surani heran.
"Maksud kedatangan kami kesini ingin mengundang paklek sekeluarga untuk menghadiri pernikahan kami hari minggu ini jam 7 pagi di kediaman ayah saya." Jawaban Abian tentu saja mengejutkan semua orang, termasuk Stevi yang baru keluar dari kamarnya.
"Kalian mau nikah kembali?" tanya Stevi dengan geram.
"Iya Stev. Kami mau rujuk. Datang ya!" ujar Anisa.
"Wah...mbak Nisa hebat ya? upik abu langsung bisa jadi cinderela. Hoki banget sih? pakai paranormal darimana? hingga bisa memikat kak Bian seorang dokter dan pengusaha kaya raya?" ejek Stevi.
Senyum Anisa yang semula terbit bak matahari, langsung lenyap seketika.
"Inilah yang namanya jodoh tidak akan lari kemana Stev. Dari dulu sewaktu mas Bian dikira gila, aku sudah mencintainya. Hingga kebenaran terungkap, cintaku semakin besar. Tidak seperti seseorang yang berusaha menikam saudaranya dari belakang, demi bisa merebut mantan kakak iparnya," ujar Anisa tak kalah sengit.
"Karena yang cocok bersanding dengan kak Bian itu cuma aku. Lagian kenapa kak Bian tidak bisa melihat kearahku kak? apa cuma karena mbak Nisa cantik? tapi dia tidak punya apa-apa jika dibandingkan aku. Dia cuma perawat biasa, sedangkan aku calon dokter. Dia miskin, aku kaya. Apa sih kurangku? kenapa harus kembali sama dia?" Stevi terlihat sekali sangat berapi-api.
"Sekarang aku baru percaya kalau didikkan orang tua sangat berpengaruh pada anak-anaknya. Kalau anak salah didik, seperti inilah hasilnya," ujar Abian.
"Apa maksudmu?" tanya Surani.
"Sekalian aku kesini ingin menanyakan amanah yang almarhum bapak titipkan sama paklek. Aku rasa Anisa bisa mengelolah hartanya sendiri, agar tidak dikira miskin terus menerus. Padahal pada kenyataannya, keluarganya sendirilah yang membuat keponakkannya hidup sengsara." Jawab Abian.
"Apa maksudmu mas?" tanya Anisa.
"Kenapa dia bisa tahu? apa mas Sumarno memberitahu segalanya pada Abian sebelum dia meninggal?" batin Surani.
"Tepat seperti yang ada dalam pikiran paklek. Bapak memang memberitahu saya segalanya tentang warisan yang beliau titipkan itu. Warisan yang dia amanahkan tanpa seorangpun tahu. Beliau berpesan agar menanyakannya pada paklek, setelah kami menikah. Tapi aku benar-benar lupa waktu itu. Jadi aku harap paklek segera mengembalikan hak Anisa," ujar Abian
Wajah Surani jadi pucat pasi. Tidak terkecuali Anisa.
"Waw...Paklek. Apa itu benar? aku masih ingat waktu itu aku pontang panting cari duit buat bayar biaya rumah sakit tapi Paklek bilang nggak punya duit. Sementara Paklek hidup dengan bergelimang harta begini. Ternyata paklek menikmati hasil dari warisan Bapak? kenapa Paklek tega?" tanya Anisa.
"Sayang. Jangan naif, bahkan rumah dan kebun kamu aku beli dari dia dengan harga 300 juta," ujar Abian.
"300 juta? aku menjualnya waktu itu hanya dengan harga 100 juta. Ternyata aku ditipu mentah-mentah ya!" ujar Anisa.
"Kalian jangan ngomong sembarangan. Mana ada warisan bapak kamu ada sama Paklek. Kalau memang ada, harusnya ada saksi yang menguatkan pernyataan Abian," ujar Surani berkelit.
"Ambil saja paklek aku nggak butuh. Biar nanti kuburan Paklek saja yang sempit. Ayo mas kita pulang. Kita tidak perlu mendatangi saudara bapak yang lain, mereka itu sama jahatnya. Kalau mau jadi wali cukup beritahu lewat telpon saja. Nggak mau jadi wali juga ada wali hakim,"
Anisa langsung bangkit dari tempat duduknya dan keluar dari rumah mewah pakleknya itu. Selama diperjalanan pulang, Anisa hanya diam dengan sesekali menyeka air matanya.
"Sayang sudahlah. Tidak dapat warisan tidak apa-apa. Kamu masih lebih kaya dari mereka," ujar Abian.
__ADS_1
"Aku tidak menangis karena warisan itu mas. Tapi aku sedih karena nasib bapak sungguh tidak beruntung. Sejak dulu dia paling dikucilkan oleh saudara-saudaranya karena miskin. Bahkan saat meninggalpun, saudaranya masih mau membuatnya miskin sampai ke kuburan. Sungguh kelewatan manusia-manusia itu," ujar Anisa.
Abian menghela nafas saat melihat Anisa yang sangat terbakar amarah.