
"Eh? tumben dia pulang jam segini? atau dia memang tidak pergi kemanapun?" batin Anisa saat melihat Abian sedang bermain ponsel diatas tempat tidur.
"Sebaiknya aku tidak usah bertanya apa dia pergi atau tidak hari ini. Nanti takutnya dia tidak senang, dan mengiraku rewel karena terlalu banyak bertanya," batin Anisa.
"Mas Bian lagi main game apa? sudah makan belum?" tanya Anisa.
Tak ada jawaban yang Anisa peroleh. Abian sama sekali tidak menggubris ucapan Anisa. Karena tidak direspon, Anisa bergegas berganti pakaian dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai mandi, Anisa membantu ibu mertuanya masak untuk makan malam.
"Masak apa bu?" tanya Anisa yang berbasa-basi, saat melihat Neneng tengah memetik dua ikat kangkung.
"Apa ajalah. Yang penting bisa makan." Jawab Neneng dengan sinis.
"Apa yang bisa Nisa bantu Bu?" tanya Anisa.
"Sana goreng tahu sama buat telur dadar. Nggak perlu makan mewah, yang penting kenyang." Jawab Neneng.
Sudah sebulan lebih Anisa memperhatikan perlakuan ibu mertuannya pada dirinya dan juga Abian. Terlebih soal apa yang dia dan suaminya makan. Padahal jelas-jelas dia sering menemukan makanan enak didalam kulkas. Tapi saat ada Anisa dan Abian di rumah, makananpun langsung berubah menjadi yang paling sederhana.
"Kasihan mas Bian kalau diberi tahu tempe telur dadar terus. Kalau aku ngajak mas Bian ngontrak rumah, dia bakalan mau nggak ya? tapi bukan masalah itu aja sih? apa gajiku akan cukup buat ngontrak sama buat makan sebulan?" batin Anisa.
"Aku nggak bisa gini terus. Kasihan mas Bian. Dia memang nggak mengerti, kalau ada orang yang membencinya. Itu karena mentalnya terbelakang. Tapi aku mengerti, kalau ibu mertuaku membenci kami,"
"Kalau seandainya aku mencari kerja paruh waktu, bagaimana caraku mengatur jadwal kerjanya? haduh...aku jadi pusing sendiri kalau begini. Tapi yang jelas aku harus bicarakan dulu dengan ayah mertuaku," batin Anisa.
Anisa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Saat waktu menunjukkan pukul 7 malam, Suban pulang untuk makan malam bersama.
"Jarang-Jarang kita bisa makan malam dengan formasi lengkap seperti ini. Tapi kenapa makanannya cuma seperti ini?" tanya Suban.
"Nisa bilang kita harus berhemat Yah. Menantu kita ini pola hidupnya sederhana." Jawab Neneng.
Abian menghentikan gerakkan tangannya saat akan menyuapkan makanan kedalam mulutnya. Anisa melirik kearah Abian yang tampak tidak senang mendengar ucapan ibu mertuanya itu.
__ADS_1
"Mas mau nambah lagi sayur kangkungnya? ini Nisa yang masak," Anisa sengaja mengalihkan perhatian Abian, dan itu sangat berhasil.
"Kamu tidak perlu menahan diri Nis. Apapun yang pengen kamu makan, kamu masak saja apa yang tersedia di kulkas. Karena setiap seminggu sekali Ayah selalu memesan ikan dan daging segar buat stok kulkas," ujar Suban.
"Nggak masalah Yah. Bosan juga kalau makan seperti itu terus. Makan gini aja enak kok, buktinya mas Bian juga suka," ujar Anisa.
"Gimana dengan pekerjaanmu?" tanya Suban.
"Baik Yah. Semua berjalan lancar. Nisa juga sudah punya teman baru." Jawab Anisa dengan antusias.
Merekapun makan sembari berbincang banyak hal. Setelah makan bersama, Anisa dan Abian masuk kamar dan sibuk main ponsel masing-masing. Karena lelah, tanpa sadar Anisa tertidur dengan ponsel diatas dadanya.
"Ponselnya sudah retak seribu begini masih dipakai. Kenapa nggak dibuang saja?" gumam Abian.
Abian meraih ponsel Anisa dan tidak sengaja menyenggol layar ponsel itu. Mata Abian terpaku, saat melihat ada foto wajahnya yang tengah terlelap dan dijadikan Anisa sebagai wallpaper.
Abian menoleh kearah Anisa. Wajah polos yang tampak lelah. Tangan pria itu ingin meraihnya, namun urung saat terimgat dengan Geisha sang kekasih hati.
"Aku tidak boleh lemah apalagi punya rasa iba sama Anisa. Seharusnya aku berbuat yang lebih kejam lagi, karena dia gadis pilihan Suban. Dengan membuat Anisa tersiksa, maka rasa bersalah Suban semakin bertambah berkali-kali lipat," batin Abian.
Abian dengan lancang membuka isi galeri Anisa. Dan dia sangat terkejut, karena Anisa memiliki koleksi foto dirinya yang sedang tidur.
"Ini perempuan kurang kerjaan ya? ngapain dia fofo-foto aku lagi tidur begini? dia nggak mungkin menyukaiku kan? kalau dia menyukaiku, artinya dia emang nggak waras dong. Sudah tahu orang gila, tapi malah disukai," batin Abian.
Abian melihat foto-foto Anisa saat acara wisudah dan juga foto-foto lama, saat wanita itu masih berseragam putih abu-abu. Namun ada satu foto yang menarik perhatiannya , sebuah foto saat hari kelulusan Anisa yang masih mengenakan seragam putih abu-abu dengan penuh coretan pilok.
Disitu Anita berfoto tampak mesra dengan seorang pria dengan menggunakan seragam yang sama.
"Siapa laki-laki ini? apa ini cintanya semasa remaja?" batin Abian.
Abian langsung menutup ponsel itu dan melekkannya diatas meja. Diapun bergegas tidur karena dirinya harus bekerja keesokkan harinya.
__ADS_1
*****
"Mas. Aku berangkat kerja dulu ya! ini uang buat mas beli makan. Baik-Baik di rumah ya!" ujar Anisa.
Anisa meraih tangan suaminya dan kemudian menciumnya. Setelah itu dia melenggang pergi. Saat melihat Anisa sudah keluar rumah, Abian segera mandi dan kemudian pergi ke rumah sakit.
Brakkkk
Abian menutup pintu mobil dengan cukup keras.Setiap pagi Ryan memang selalu menjemputnya untuk pergi bekerja.
"Tadi aku lihat si Nisa pergi kerja. Emang dia kerja di rumah sakit mana?" tanya Ryan.
"Mana aku tahu, dan aku juga nggak mau tahu." Jawab Abian.
"Ya ampun Bi. Kamu masih cuekin dia? kasihan loh dia. Menurutku kamu salah sasaran kalau mau balas dendam sama dia. Aku merasa dia orang baik dan lemah lembut. Kalian kan sudah tinggal serumah hampir 2 bulan, apa nggak ada getar-getar asmara yang menggetarkan jiwa?" tanya Ryan sembari terkekeh.
"Apaan sih? nggak ada yang begituan. mau sebaik apapun dia, mau secantik apapun dia, sama sekali nggak ngaruh. Hatiku cuma buat Geisha, dia sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan Geisha yang sempurna." Jawab Abian.
"Berarti suatu saat nanti kamu pasti akan menceraikan dia kan? saranku jangan sentuh dia kalau kamu memang tidak menyukai dia. Jadi saat bercerai denganmu, dia masih bisa melanjutkan hidup dan masih ada yang dia banggakan untuk suaminya nanti," ujar Ryan.
Deg
Abian merasa tidak suka mendengar perkataan Ryan.
"Lagipula tidak sulit bagi Anisa mencari penggantimu. Dia masih sangat muda, cantik, lemah lembut, pekerja keras. Kalau kamu yakin tidak menyentuhnya, aku juga mau ngantri buat dapatin dia," sambung Ryan.
Abian terdiam. Dia tidak menjawab ucapan Ryan. Sebagai gantinya dia malah memalingkan wajahnya kearah luar jendela.
"Sepertinya sedikit banyak Anisa sudah perlahan masuk kedalam hatimu Abian. Kalau boleh jujur, aku lebih suka kamu bersama Anisa daripada dengan Geisha. Entah mengapa, aku merasa aura Geisha tidak positif seperti aura yang Anisa pancarkan," batin Ryan.
Selang 20 menit kemudian mereka tiba di rumah sakit internasional. Pagi ini Abian harus mengoperasi 2 pasien. Sementara Ryan bergegas pergi ke kantor, setelah mengantar Abian.
__ADS_1