
Waktu menunjukkan pukul 10 malam, saat Abian pulang dan masuk kedalam kamar. Pandangan mata keduanya bertemu, namun Abian dengan cepat membuang muka dan bergegas melepas pakaiannya
"Kalau aku bertanya dia darimana, kira-kira dia mau jawab nggak ya? kira-kira dia bakalan ngamuk nggak ya? aku belum memahami mas Bian, tapi bukan berarti aku tidak usah usaha buat mendekatinya," batin Anisa.
Seperti biasa Abian langsung berbaring dan membelakangi Anisa.
"Emm...mas. Nisa mau cerita, mau dengar ceritaku tidak?" tanya Anisa dengan gugup.
"Mau apalagi wanita bodoh ini. Aku sudah lelah seharian bekerja, dia malah mau aku mendengarkan ceritanya yang tidak penting itu," batin Abian.
Namun anehnya dia malah berbalik badan dan menatap Anisa.
"Aku mau kasih kabar gembira buat mas. Hari ini lamaranku di terima, dan mulai besok aku sudah bisa langsung bekerja. Aku sangat senang deh, itu artinya bulan depan kita sudah bisa membeli kipas angin baru yang lebih besar," ujar Anisa sembari merentangkan tangan, untuk menggambarkan kipas angin besar yang ingin dia beli.
"Dia sesenang ini hanya karena membeli kipas angin? bagaimana kalau aku menyuruhnya membeli Ac? apa dia akan langaung pingsan mendengarnya?" batin Abian.
"Pokoknya mas bian jangan khawatir, dan harus bersabar. Mulai bulan depan mas Bian nggak akan kepanasan lagi, nggak akan berkeringat lagi. Ya!" sambung Anisa.
"Emangnya aku perduli?" batin Abian.
"Oh ya. Tadi Nisa beli jeruk buat mas Bian. Itu ada diatas meja," Nisa menunjuk kearah meja yang berada dibelakangnya.
Abian melirik kearah meja, dan hanya meresponnya dengan mengurut dahi.
"Kenapa? mas Bian tidak suka jeruk ya? kalau begitu mas Bian suka buah apa? nanti Anisa belikan," tanya Anisa.
Diluar dugaan Anisa, Abian yang malas bicara malah maraih kepala Anisa dan memeluknya didada. Abian berharap Anisa segera diam dan tidur, namun tidak bagi Anisa. Jantung Anisa menjadi berdebar-debar atas perlakuan Abian itu.
"Aku bukan tidak suka jeruk. Tapi kamu yang bodoh tidak bisa membedakan mana jeruk madu, dan mana jeruk peras. Kamu pasti ingin membuatku sakit perut," batin Abian dengan mata yang terpejam.
Lama-Lama pelukkan Abian mengendur, dan terdengar suara dengkuran halus dari pria itu.
"Dasar jantung tidak tahu diri. Aku pikir dia memelukku karena dia menyukaiku, tapi ternyata karena dia ingin menyuruhku diam. Aku baru tahu, kalau dia tidak suka dengan orang yang terlalu banyak bicara. Mungkin lain kali aku bisa menanyakan padanya, kemana saja dia pergi malam ini," batin Anisa.
__ADS_1
Anisa menatap wajah tampan Abian, dan tersenyum.
"Aku tidak perduli meski orang lain mengatakan aku tidak waras, karena sudah menikahi kamu mas. Bagiku kamu adalah suami yang ditakdirkan Allah untukku. Mungkin lewat kamu, aku bisa mengumpulkan banyak pahala. Dan aku berharap, amalku juga kebagian untuk kedua orang tuaku. Aku akan belajar mencintaimu mas, meskipun kamu tidak membalas cintaku sekalipun," batin Anisa.
Anisapun memejamkan matanya. Tanpa keduanya sadari, sepanjang malam mereka tidur saling berpelukkan erat.
*****
Blammm
Mata Abian terbuka seketika, saat dia merasakan hembusan nafas menerpa wajahnya. Wajah mereka terlampau dekat saat ini, bahkan bibir mereka nyaris bersentuhan.
Deg
Deg
Deg
"Posisi macam apa ini?" batin Abian.
"Oh...astaga. Jangan sampai wanita bodoh ini bangun lebih dulu, dan menyadari posisi ini. Dia akan besar kepala nanti. Karena meski aku berpura-pura gila, ketampananku ini sangat paripurna. Aku tidak bisa membiarkan dia menyukaiku. Karena hatiku sepenuhnya milik dokter Geisha SPOG," batin Abian.
Abian perlahan menjauhkan Anisa dari dekapannya. Pria itu bisa bernafas lega, setelah usahanya itu berhasil.
"Sudah jam setengah 6. Katanya dia mulai bekerja hari ini. Apa dia tidak akan datang terlambat? pasti keenakkan dipeluk, makannya bangun kesiangan," batin Abian.
Plak
Plak
Plak
Abian manampar wajah Anisa dengan pelan. Anisa yang terkejut langsung bangun seketika, dan matanya terbelalak saat melihat jam dinding menunjukkan pukul setengah 6 pagi. Tanpa banyak bicara Anisa bergegas kekamar mandi dan menunaikan kewajibannya meskipun telat.
__ADS_1
"Apaan sih? pakai acara sholat lagi. Emang sholat bisa bikin dia kaya? kerja keras, baru bisa kaya." Abian membiarkan saja Anisa melakukan apapun yang dia sukai, sementara Abian tampak bermain ponsel.
Setelah selesai Anisa bergegas mandi dan kemudian kedapur untuk membuat sarapan. Namun saat sampai di dapur, ibu mertuanya sudah selesai membuatkan sarapan untuk mereka semua.
"Kenapa? keenakkan ya jadi pengantin baru? emang sehebat apa si orang gila itu saat diatas ranjang? emang dia ngerti begituan? takutnya salah lobang," tanya Neneng dengan sarkas.
Abian mendengarkan hinaan ibu tirinya itu dari balik pintu.
"Kalau mau enak-enakkan tinggal disini, mending kalian berdua ngontrak saja. Aku ini mertuamu, bukan pembantumu," sambung Neneng.
"Maaf bu. Lain kali nggak terulang lagi." Jawab Anisa.
"Heh. Bodoh! kalau Geisha, barang tentu sudah kena cakar itu ibu tiri," gerutu Abian.
Ceklek
Anisa masuk kedalam kamar, sementara Abian berpura-pura sibuk main ponsel.
"Mas. Kita sarapan dulu ya! hari ini aku mulai kerja, aku sangat buru-buru. Tapi aku harus mastiin mas sarapan dulu pagi ini. Nanti aku kasih uang lagi, buat mas makan siang ya!"
Abian beranjak dari tempat tidur dan pergi menuju meja makan. Anisa menuangkan nasi goreng dan sebutir telur dadar ke piring suaminya.
"Duh...enaknya yang tinggal makan. Enak ya jadiin mertua pembantu? malang bener nasibku. Dapat anak tiri gila, sedangkan menantu pemalas," sindir neneng.
Abian menghentikan gerakkan tangannya, saat akan menyuapkan makanan. Dan itu sangat membuat Anisa ketakutan.
"Emm...mas. Makan yang banyak ya! biar nanti main gamenya jago. Nanti kalau aku pulang dari kerja, akan aku belikan paket internet yang 10 GB," ujar Anisa asal.
Anisa mengusap-usap punggung suaminya. Dia memang tidak tahu seperti apa saat Abian mengamuk, tapi dia yakin itu akan berakhir buruk bagi orang yang sudah memprovokasinya.
Abian kembali melanjutkan makan, dan kembali ke kamar setelah selesai. Sedangkan Anisa bergegas berganti pakaian. Abian melirik Anisa yang tengah mengenakan seragam putih.
"Oh jadi dia mengenakan jilbab, saat bekerja. Aku sudah tidak sabar, ingin melihat Geisha mengenakan seragam dokter. Dia pasti tidak kalah cantik dari Anisa. Bahkan jauh lebih cantik," batin Abian.
__ADS_1
"Mas. Aku pamit dulu ya mas. Aku buru-buru, naik angkot soalnya," ujar Anisa yang kemudian mencium tangan suaminya.
Setelah melihat Anisa pergi, Abian juga bergegas mandi. Karena dia juga ingin berangkat ke kantor.