SUAMIKU CACAT MENTAL

SUAMIKU CACAT MENTAL
Bab.34. Pisah


__ADS_3

"Mas sudah sehat? hari ini jatahku libur. Aku sangat senang, karena aku bisa merawat mas dengan lebih baik lagi," tanya Anisa saat melihat Abian bangkit dari tempat tidur.


Abian sama sekali tidak menggubris pertanyaan Anisa. Bahkan wajahnya cenderung sangat dingin. Namun saat Abian mengatakan hal yang mengejutkan, Anisa mendadak berwajah muram.


"Mungkin aku akan jarang pulang kerumah mulai dari sekarang. Aku agak kurang betah disini. Aku akan kembali ke rumah sakit jiwa, disana aku akan menemukan ketenangan," ujar Abian setelah pria itu selesai berpakaian.


"Kenapa mas? apa aku mengganggumu? mengusik ketenanganmu? kalau itu masalahnya, aku janji nggak akan berisik lagi, tidak akan banyak bertanya lagi. Tapi aku mohon jangan tinggalkan aku sendirian disini mas," tanya Anisa.


"A-Aku sudah terbiasa ada mas. Entah kamu mengerti atau tidak dengan apa yang aku katakan ini. Tapi jujur saja, aku sudah jatuh cinta sama kamu mas," sambung Anisa penuh keberanian.


Ungkapan perasaan Anisa sungguh mencengangkan bagi Abian.


"Di-Dia mencintaiku? konyol sekali. Mana mungkin dia mencintai orang gila. Aku sudah menunjukkan perangai buruk, tapi kenapa dia bisa mencintaiku? itu artinya keputusanku untuk pergi sudah benar bukan?" batin Abian.


"Aku memang tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan. Tapi keputusanku sudah bulat. Ini terakhir kalinya aku bicara panjang lebar denganmu. Jangan ganggu aku lagi, aku mau hidup tenang. Jangan pernah mengunjungiku ke rumah sakit jiwa, karena aku tidak mau ditemui sama siapapun. Kalau aku ingin pulang kesini, maka biarkan aku yang pulang sendiri," ujar Abian panjang lebar.


Abian kemudian ingin melangkah keluar pintu kamar, namun tiba-tiba saja Anisa memeluk Abian dengan erat dari arah belakang.


"Mas. Aku mohon jangan tinggalkan aku sendirian mas. Aku nggak punya siapa-siapa lagi didunia ini. Cuma mas penyemangat hidupku. Aku janji nggak akan rewel lagi, nggak akan ngajak mas ngomong lagi, tapi aku mohon mas jangan ninggalin aku. Hiks...." Anisa terisak.


Abian memejamkan mata saat mendengar tangis pilu dari Anisa. Namun keputusannya yang ingin menjauhi Anisa sudah bulat, dia tidak ingin Anisa tambah ketergantungan padanya. Abian dengan kasar melepas pelukkan Anisa dipinggangnya, dan kemudian pergi begitu saja.


"Mas. Jangan pergi mas! jangan tinggalin aku! hiks...." Anisa semakin terisak, saat pintu kamarnya sudah tertutup

__ADS_1


Abian masih bisa mendengar suara isak tangis Anisa dari arah luar pintu. Abian meraba daun pintu itu dan sangat ingin kembali masuk kedalam sana untuk menenangkan Anisa. Namun tekadnya yang membaja, menahannya sekuat mungkin dan pergi dari situ.


"Kenapa? kenapa semua orang ingin meninggalkan aku, tidak perduli denganku, apa salahku Tuhan?" gumam Anisa.


Brakkkk


"Mas. Kamu.nggak jadi pergi?" Anisa sangat berharap yang masuk itu adalah suaminya. Namun saat dia berbalik badan, yang datang adalah ibu mertuanya.


"Kenapa? ditinggal suamimu yang gila itu ya? baguslah, paling tidak berkurang sudah parasit di rumah ini," ujar Neneng yang tidak diladeni sama sekali oleh Anisa.


"Maaf bu. Nisa lagi pengen sendiri. Jadi Nisa mohon ibu keluar dulu ya!" ujar Anisa yang membuat Neneng menjadi tidak senang.


"Pantas ditinggal suami. Orang gila saja mengerti, kalau kamu itu terlalu angkuh jadi perempuan. Sebaiknya kamu cepat juga meninggalkan rumah ini," ujar Neneng yang kemudian beranjak pergi dari kamar Anisa.


Anisa menceritakan semua apa yang Abian katakan, hingga membuat Suban juga ikut bersedih.


"Nisa. Ayah benar-benar minta maaf sama kamu. Meski Ayah juga sedih, tapi ada perasaan lega di dalamnya," ujar Suban.


"Kenapa Ayah bicara seperti itu?" tanya Anisa.


"Nisa. Berdasar hukum di agama kita, saat ini statusmu sudah menjanda. Karena sudah 6 bulan lebih Abian tidak memberikanmu nafkah lahir dan batin. Jangankan hal itu, bahkan dia sama sekali tidak menemuimu." Jawaban Suban seperti sambaran petir bagi Anisa. Dia benar-benar lupa dengan fakta itu.


Tanpa Suban tahu, Anisa meremas jarinya yang terdapat cincin kawin dijari manisnya.

__ADS_1


"Maafkan Ayah Nis. Karena ayah, kamu jadi berada di situasi seperti ini. Sekarang kamu sudah bebas. Anggap saja pernikahan itu tidak pernah ada. Kamu beruntung karena waktu itu hanya melakukan pernikahan siri," perkataan Suban membuat air mata Anisa kembali meleleh.


Ada rasa sesak didada Anisa. Wanita itu seolah merasa hidupnya terbuang. Dan hari itu juga Anisa memutuskan meninggalkan rumah itu. Karena tidak ada gunanya dia menunggu hal yang tidak pasti.


"Jadi cinta pertamaku berakhir tragis ya! karena dia cuma sekedar singgah, maka ini tidak ada gunanya lagi bukan?" Anisa melepas cincin kawin yang dia kenakan dan hendak membuangnya.


Namun Anisa mengurungkan niat itu, dan memasukkan cincin itu ke dalam laci. Kini Anisa sudah berada dalam rumah kontrakkan yang tidak jauh dari rumah sakit. Suban juga menyuruh Anisa membawa motor hadiahnya waktu itu, yang tidak bisa Anisa tolak.


"Karena sudah berakhir, aku akan mengganti kartu ponselku. Agar aku tidak lagi berhubungan dengan masa laluku,"


Anisa mencabut sim card pada ponselnya dan kemudian membuangnya. Anisa menatap baju kaos Abian yang pria itu pakai terakhir kali, namun tidak pernah Anisa cuci. Hanya itu peninggalan Abian yang terakhir, yang Anisa milikki untuk mengusir rasa rindunya selama ini.


Sementara itu tanpa Anisa tahu, setiap 2 hari sekali Abian selalu pulang ke rumah Suban meskipun tanpa wanita itu tahu. Sama seperti Anisa, sebenarnya Abian juga merindukan wanita yang masih dianggap istrinya itu. Namun Abian sangat kehilangan, saat 3 hari mengunjungi Anisa namun tidak menemukan keberadaan wanita itu. Abian yang penasaran, diapun menemui Suban di tokonya.


"Mana Anisa?" Suban sangat terkejut, saat mendengar suara Abian yang menurutnya sangat mahal itu.


"Dia sudah pergi. Statusnya saat ini sudah janda, karena kamu tidak pernah memberinya nafkah lahir batin selama 6 bulan lebih." Jawaban Suban membuat tubuh Abian menegang, dan kemudian melemas.


Tanpa banyak bicara Abian kemudian pergi dengan langkah gontai.


"Anisa pergi? ah ...ini memang salahku. Meski diam-diam aku ingin menjaganya, tapi tentu saja itu tidak cukup. Anisa pasti butuh lebih dari sekedar itu. Mungkin ini memang sudah jalannya seperti ini," gumam Abian.


Abian melirik kearah jam tangannya, dan kemudian segera pergi ke bandara untuk menjemput Geisha.

__ADS_1


__ADS_2