SUAMIKU CACAT MENTAL

SUAMIKU CACAT MENTAL
Bab 62. Liburan


__ADS_3

"Apa semua barang sudah siap kirim?" tanya Abian.


"Sudah. Tapi apa aku harus benar-benar ikut? bagaimana dengan kantor kalau kita pergi semua?" tanya Ryan.


"Tidak masalah. Kita masih punya orang kepercayaan yang lain untuk menjaga perusahaan. Hanya saja tidak merasa enak kalau pergi sendirian. Anggap saja kita sedang liburan." Jawab Abian.


"Baiklah. Jam 2 nanti pesawat kita akan berangkat. Kita masih punya waktu 2 jam untuk besiap-siap. Apa pakaianmu sudah siapa semua?" tanya Ryan.


"Sudah. Apa kontainernya sudah berangkat? apa kamu sudah memberitahu dimana kita akan bertemu?" tanya Abian.


"Sudah. Aku sudah mengatakan kalau kita akan bertemu langsung di rumah sakit itu. Semalam aku juga sudah membooking hotel tempat kita menginap." Jawab Ryan.


"Baguslah. Sekarang mending kita langsung berangkat saja ke bandara," ujar Abian.


"Oke." Jawab Ryan.


Ryan dan Abian menyeret koper mereka menuju keluar pintu. Namun mereka sangat terkejut, saat melihat kehadiran Geisha yang mengenakan pakaian yang terbilang terlalu sexy.


"Loh. Kalian mau kemana? kok bawa koper segala?" tanya Geisha.


"Mau liburan. Kamu sendiri ngapain kesini? nggak capek ngejar Abian terus?" tanya Ryan


"Bukan urusan kamu! Abian, kamu mau kemana? kamu mau liburan kemana? aku ikut ya?" tanya Geisha.


"Aku mau pergi perjalanan bisnis. Kamu mau apa ikut denganku? kita ini sudah tidak punya hubungan apapun. Lagipula pekerjaanmu itu tidak bisa ambil cuti sembarangan." Jawab Abian.


"Papa kepala rumah sakit disana. Aku bisa liburan kapanpun yang aku mau. Aku ikut ya? please," Geisha memelas.


"Aku tidak menyaka ada dimana hari kamu akan mempergunakan jabatan papamu menjadi tameng. Sebelum menjadi dokter harusnya kamu sudah mengerti apa tugas menjadi seorang dokter. Harusnya dulu kamu jangan ngambil jurusan dokter, tapi jurusan pariwisata saja. Jadi kamu bisa berjalan-jalan sepuasnya," ujar Abian.


"Sudahlah Bi. Kamu kenapa meladeni dia, nanti kita akan terlambat," ujar Ryan.


Belum juga mereka melangkah pergi, Stevi kembali menghalangi langkah kaki mereka.

__ADS_1


"Kak Bian? kalian mau kemana?" tanya Stevi.


"Abian. Kenapa kamu selalu berurusan dengan wanita yang merepotkan? mengerikan sekali!" bisik Ryan.


"Aku juga tidak tahu. Sepertinya aku butuh di ruqiyah, biar tidak dapat sial terus," bisik Abian.


"Kok kalian bisik-bisik sih? kalian mau kemana?" tanya Stevi.


"Kita mau melakukan perjalanan bisnis keluar kota. Sudah dulu ya Stevi, kami mau berangkat. Takutnya kami ketinggalan pesawat." Jawab Abian.


"Tapi...."


"Kamu sendiri ngapain kesini? apa aku tidak salah dengar? kenapa kamu memanggil Abian dengan sebutan kakak?" tanya Geisha.


"Sebaiknya kita cepat menyingkir. Kita biarkan para rubah ini bertengkar. Kita cari aman saja," bisik Ryan.


"Ya sudah ayo!" bisik Abian.


Abian dan Ryan menyelinap pergi tanpa sepengetahuan dua gadis yang tengah berdebat itu.


"Maksud kamu apa sih?" tanya Geisha tidak senang.


"Oh iya. Aku belum pernah kasih tahu kamu ya? kalau sebenarnya aku sama mbak Nisa itu saudara sepupu. Jadi bapaknya itu saudara kandung sama ayahku. Jadi sejak awal aku sama Abian punya hubungan, saat Anisa menikah siri dengan Abian." Jawab Stevi.


"Aku nggak perduli apapun tentang hubungan mereka. Aku cuma ingin tahu apa tujuanmu dekat-dekat dengan Abian?" tanya Geisha.


"Aku tahu Abian nggak mau sama kamu lagi. Sementara Anisa sudah pergi entah kemana. Jadi aku pikir pria setampan, sekaya dan berbakat seperti Abian sangat sayang di sia-siakan. Aku harap kalau dokter Geisha mau bersaing, bersainglah dengan sehat," ujar Stevi.


Geisha tertawa keras, saat mendengar ucapan Stevi. Gadis itu perlahan maju, dan menatap tajam kearah Stevi.


"Kamu ingin bersaing denganku, apa yang kamu miliki selain jadi calon dokter?" tanya Geisha.


"Kamu jangan macam-macam denganku Stevi. Kamu itu sedang magang di rumah sakit tempat papaku berkuasa. Aku bisa memerintahkan semua kepala ruangan untuk memberikanmu nilai D dan akhirnya kamu tidak lulus magang."

__ADS_1


"Atau yang lebih ekstrim lagi aku bisa membuatmu tidak diterima bekerja di rumah sakit manapun, karena aku akan menyebarkan kalau kamu itu tidak punya skill apa-apa," sambung Geisha.


"Dan pada akhirnya jerih payahmu itu akan berakhir sia-sia. Niat hati ingin jadi dokter, kamu malah akan jadi ibu rumah tangga biasa," Geisha menyeringai.


Mendengar ancaman Geisha, tentu saja Stevi takut. Dia tahu betul betapa berpengaruhnya Geisha dan papanya di rumah sakit. Dia tidak mau kalau cita-citanya menjadi seorang dokter harus kandas karena urusan asamara.


"Aku harus bersabar sementara waktu. Kalau Aku sudah jadi dokter nanti, aku tidak bisa dia tindas lagi. Geisha, kamu tunggu saja pembalasanku. Suatu saat nanti, Abian pasti akan memilihku," batin Stevi.


Stevi kemudian pergi begitu saja dari rumah Abian.


"Angsa mau bersaing dengan peri. Mimpi saja kamu. Sekarang aku mengerti, kenapa Abian bisa tahu segalanya. Itu pasti karena ulah dia. Dia sengaja mengadu domba antara aku dan Anisa, agar dia sendiri bisa masuk merebut Abian dariku. Heh, dasar tidak tahu diri!" gumam Geisha.


Geishapun segera pergi dari rumah Abian. Sementara it, Abian dan Ryan baru saja tiba di bandara Halim Perdana Kusuma. Setelah melakukan boarding pass, merekapun langsung memasuki pesawat yang sebentar lagi akan lepas landas.


"Kira-Kira apa yang terjadi pada kedua gadis yang mengerikan itu?" tanya Ryan.


"Semoga saja nggak aneh-aneh. Walau bagaimanapun mereka itu dokter. Mereka harus tahu etika. Malu dilihat orang kalau sampai main jambak-jambakkan." Jawab Abian.


"Kasihan sekali Anisa. Punya saudara seperti Stevi. Terlihat jelas niat gadis itu ingin menyingkirkan Anisa, dan merebutmu dari tangan Anisa. Beruntung kamu bukan pria mata keranjang, kalau tidak ketiga wanita itu sudah kamu perawani semua," ujar Ryan sembari terkekeh.


"Tapi nggak tahu kenapa. Aku pernah melihat Geisha telanjang di depanku. Tapi anehnya Joni sama sekali nggak mau bangun. Ternyata kalau hilang rasa cinta, melihat hal begitu sama sekali tidak berpengaruh. Apa itu efek dari seringnya lihat punya pasien ya?" tanya Abian.


"Masak sih Bi? kalau aku disentuh tangan aja bisa langsung On loh," tanya Ryan sembari terkekeh.


"Kalau kamu mah kelewat mesum. Kalau aku anehnya cuma Anisa yang bisa buat aku begitu." Jawab Abian.


"Berarti Joni pawangnya Anisa. Aku jadi membayangkan raut sedih di wajah Anisa, saat tahu Geisha mengaku hamil. Sementara dia baru saja kamu perawani. Dia pasti sangat sedih Bi," ujar Ryan.


"Iya. Aku jadi merasa bersalah. Andai aku tidak melakukan itu padanya, dia pasti masih punya hal yang bisa dibanggakan meskipun sudah jadi janda," ujar Abian.


"Semoga saja Anisa segera ketemu, dan kalian bisa bersatu lagi," ucap Ryan.


"Amiin." Jawab Abian.

__ADS_1


Terlalu lama berbincang, tidak terasa mereka sudah melakukann perjalanan hampir 45 menit. Pilot dan Co Pilot mulai memberitahu berapa ketinggian mereka mengudara saat ini, dan juga memberitahu bahwa pesawat yang mereka tumpangi akan segera mendarat.


__ADS_2