
"Gosip-Gosip gengs. Nisa kesini buruan," Suster Dita menyuruh Anisa yang baru datang cepat merapat kearahnya.
"Ada apa sih?" tanya Bidan Indah.
"Iya. Si ratu gosip heboh banget," timpal Nisa.
"Memang heboh gaes. Tahu nggak? tadi pas waktu aku mau ke ruangan dokter, aku nggak sengaja mendengar pertengkaran dokter Geisha sama dokter Abian," ujar Suster Dita.
Deg
Deg
Deg
Jantung Anisa langsung berdegup dengan kencang saat mendengar hal itu.
"Terus-Terus?" tanya Bidan Indah.
"Kayaknya dokter Abian ngajakin dokter Geisha putus deh. Soalnya aku dengar pas dokter Geisha bilang nggak mau putus dari dokter Abian." Jawab suster Dita.
"Ya Tuhan...kok bisa sih? emang masalahnya apa? kok dokter Abian mutusin dokter Geisha? selama ini kan mereka selalu baik-baik aja?" tanya Bidan Indah.
"Kayaknya karena orang ketiga deh. Soalnya aku dengar dokter Geisha teriak selingkuh gitu. Dan yang buat aku ngilu, aku sempat dengar kalau dokter Geisha menampar dokter Abian. Keras banget lagi tamparannya, aku dari luar pintu sampai dengar dengan jelas gitu." Jawab Suster Dita.
"Ke-Kena tampar?" Anisa mendadak panik.
"Iya. Kasihan juga sih, tapi mau bagaimana lagi. Itu salah dia sendiri yang selingkuh. Kira-Kira selingkuhannya itu tahu nggak ya, kalau sebenarnya dokter Abian sudah punya tunangan? kalau dia sudah tahu, fiks kejam banget itu cewek. Dia bahagia diatas penderitaan wanita lain," ujar Suster Dita.
"Benar. Kayak nggak ada cowok lain aja. Kenapa harus mengambil tunangan orang lain? apa di dunia ini kekurangan laki-laki?" timpal Bidan Indah.
Dalam diam Anisa mengelus dadanya. Perkataan teman-temannya membuat hatinya gelisah, dan merasa tertohok.
"A-Apa kalian sudah memberikan laporan untuk dokter Abian pagi ini?" tanya Anisa yang mencoba mengalihkan pembicaraan teman-temannya.
"Nggak mau ah. Takut, apalagi suasana hati dokter Abian pasti sedang tidak enak ini. Kamu aja yang kesana Anisa. Kamu kan biasa ngantar makanan buat dia," ujar Suster Dita.
Tentu saja Anisa sangat senang, karena memang itu tujuannya. Dia ingin mengetahui keadaan Abian.
"Ya sudah. Mana laporannya?" tanya Anisa.
Suster Dita menyerahkan laporan itu. Anisa bergegas pergi ke ruang dokter, untuk menemui Abian.
Tok
Tok
Tok
Ceklek
Anisa membuka pintu ruangan dokter. Abian tersenyum senang saat melihat kedatangan Anisa. Pria itu bergegas menghampiri pintu dan menguncinya.
Grepppp
Abian memeluk erat Anisa, seakan dia enggan untuk melepasnya.
"Mas. Apa kamu baik-baik saja? suster Dita bilang kamu ditampar oleh Geisha. Apa itu benar mas?" tanya Anisa sembari memeriksa pipi mantan suaminya itu.
Abian menggenggam erat kedua tangan Anisa, dan kemudian mencium kedua telapak tangan pujaan hatinya itu.
"Aku bahkan bisa melewati kesakitan yang lebih sakit dari ini sayang. Asalkan kamu selalu berada disisiku, maka itu sudah cukup menjadi kekuatanku," ujar Abian.
"Tapi mas. Aku jadi merasa bersalah dengan Geisha. Aku seolah jadi pelakor disini. Kasihan dia mas," ujar Anisa.
"Sayang. Jangan pernah kamu menyuruhku untuk kembali padanya, karena itu tidak akan mungkin. Jangan pernah berpikir kamu ingin membuat sebuah pengorbanan seperti yang ada dikehidupan sinetron. Kamu pergi dariku, dan kemudian menyuruhku menikahi Geisha. Kamu ingatlah kata-kataku ini Anisa! meskipun kamu pergi keujung dunia sekalipun, aku tidak akan pernah kembali dengan Geisha. Karena aku tidak mungkin mau menikahi orang yang tidak aku cintai," ujar Abian.
"Tapi dulu kamu mau menikahiku, padahal kamu tidak mencintaiku?" tanya Anisa.
"Itulah yang namanya takdir. Tapi pada akhirnya aku sangat mencintamu bukan?" ujar Abian.
"Tapi mas aku...."
"Sayang. Perasaan bersalah itu pasti ada, tapi mau bagaimana lagi? ini masalah hati. Nanti malam rencananya aku akan berkunjung kerumahnya untuk menemui kedua orang tuanya. Aku akan membahas putusnya pertuananganku dengan Geisha. Kamu tenang saja, bersikaplah seolah-olah tidak tahu apa-apa," ujar Abian.
"Atau bila perlu kamu resign saja dari rumah sakit ini. Aku masih sanggup menghidupimu. Karena setelah kita menikah nanti, aku tidak mengizinkanmu bekerja lagi. Aku ingin kamu hanya fokus merawatku dan juga anak-anak kita," sambung Abian yang membuat Anisa jadi tersipu.
"Aku suka melihat rona merah dipipimu yang sedang malu-malu itu," bisik Abian.
Tanpa basa basi Abian kembali mencium Anisa. Untuk sejenak Anisa terbuai oleh bujuk rayu daging lembut milik Abian.
"Mas," Anisa mendorong dada Abian.
"Sayang. Katakan padaku bagaimana caranya menutupi bekas gigitan drakula," tanya Abian.
"Gigitan drakula?" tanya Anisa.
"Ini. Dia sangat pandai membuatnya, membuatkul ingin dibuatkan lagi tanda seperti ini." Jawab Abian.
Anisa melirik kearah leher Abian, mulutnya mengaga, saat melihat dua tanda merah dilehernya itu.
"Astaga mas. Geisha pasti melihatnya kan?" tanya Anisa.
"Ya. Dia langsung menebak, kalau aku selingkuh darinya." Jawab Abian.
__ADS_1
"Ckk...Anisa. Kenapa kamu punya sisi liar seperti ini. Tapi dibandingkan aku yang membuat dua tanda, dia lebih parah dariku. Seluruh tubuhku sudah seperti macan tutul dibuatnya," batin Anisa.
"Ya sudah. Aku kesini cuma mau kasih laporan ini, sekalian memastikan keadaan mas," ujar Anisa.
"Tapi aku masih kangen," rengek Abian.
"Mas. Ini rumah sakit, aku nggak mau ada yang melihat atau mendengar obrolan kita," ujar Anisa.
"Ya sudah baiklah. Nanti malam aku ke rumahmu ya?" tanya Abian.
"Mau ngapain mas? kan kata mas mau pergi menemui orang tua Geisha," tanya Anisa.
"Ya kan bisa pas pulang dari sana," ujar Abian.
"Nggak usah. Aku takut kita melakukan kesalahan seperti kemarin. Aku nggak mau itu terulang lagi mas," ujar Anisa.
"Kenapa pikiranmu sempit sekali? aku kesana nggak harus nuntasin hasrat aku," ujar Abian.
"Hah. Terserah mas saja," ujar Anisa yang kemudian membuka pintu.
Sesuai yang Abian katakan, pada malam harinya Abian pergi ke rumah Geisha. Dan kebetulan Geisha juga mendapat jatah libur hari ini.
"Jadi maksud kedatangan saya kesini, karena ingin membatalkan pertunangan antara saya dan Geisha pak," ujar Abian mulai bersuara. Sementara Geisha sudah terisak dipelukkan ibunya.
"Apa alasanmu ingin memutuskan pertunangan ini?" tanya Hantoro.
"Saya merasa tidak ada kecocokkan lagi pak. Terlebih saya sudah tidak memiliki perasaan lagi terhadap Geisha." Jawab Abian.
"Sepertinya tanda merah dilehermu itu cukup menjawab segalanya. Saya juga tidak mau punya menantu yang suka melakukan hubungan bebas diluar pernikahan," ujar Hantoro.
"Pa," Geisha tidak setuju dengan Hantoro.
"Tidak Geisha. Papa tidak setuju kamu menikah dengan orang yang tidak bermoral. Kamu masih muda dan cantik. Kamu masih bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari dia," ujar Hantoro.
"Papa jahat!" Geisha beranjak dari tempat duduk dan berlari ke kamarnya.
"Kamu masih boleh bekerja di rumah sakit internasional kalau kamu mau. Karena saya tidak akan mencampur adukkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan," ujar Hantoro.
"Terima kasih pak. Saya permisi dulu," ucap Abian.
Abian bisa bernafas lega, karena merasa urusan nya dengan Geisha sudah selesai. Diapun segera pergi ke rumah Anisa karena ingin memberi kabar bahagia itu.
"Bukankah itu Abian? mau ngapain dia malam-malam ke rumah Anisa? wah ini bakal jadi bahan gosip hot," Stevi yang baru selesai membeli nasi goreng di tikungan jalan, tidak sengaja melihat Abian yang baru saja memasuki rumah Anisa.
Stevi bergegas turun dari motornya, dan mengintip apa yang terjadi di dalam.
Greppp
"Mas," Anisa mendorong dada Abian.
"Sayang. Aku sudah ngomong dengan orang tuanya Geisha tentang putusnya pertunangan kami. Sekarang tidak ada halangan lagi buat kita bersatu. Aku senang banget tahu nggak," ujar Abian.
"Lalu bagaimana dengan Geisha mas?" tanya Anisa.
"Mungkin awalnya dia akan sulit menerima, tapi lama-lama dia juga akan mengerti." Jawab Abian.
"Aku merasa sangat bersalah sama Geisha mas," ucap Anisa.
"Ckk...kemarilah!" Abian menepuk pahanya, agar Anisa duduk di pangkuannya.
Melihat Anisa yang ragu, Abian menarik tangan Anisa hingga mantan instrinya itu terpaksa duduk dipangkuan Abian.
"Ini bukan salah kamu. Tidak ada yang salah dengan perasaan kita. Kita saling mencintai, dan sudah sepatutnya kita bersatu. Yang salah disini adalah aku, kalian berdua tidak bersalah karena sudah mencintai orang yang sama. Tapi ya mau bagaimana lagi, aku ini sudah terlanjur ganteng sih," ujar Abian sembari terkekeh, sementara Anisa mencubit dada pria itu.
"Sayang,"
"Hem?"
"Maukah kamu menikah denganku?" tanya Abian.
Anisa mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
"Aku akan mengurus pernikahan kita. Kita akan menikah akhir pekan nanti," ujar Abian.
"Pe-Pekan nanti?" tanya Anisa.
"Kenapa? kita tidak perlu melakukan penjajakkan lagi. Kita sudah melalui tahap itu. Aku nggak mau menunda-nundanya. Umurku sudah tua, aku pengen cepat punya anak." Jawab Abian.
"Ya sudah terserah mas saja," ujar Anisa.
"Nyicil yuk yank?" tanya Abian.
"Nyicil apa?" tanya Anisa.
"Buat anak," bisik Abian yang membuat mata Anisa jadi melotot.
"Mas. Akhir pekan nanti kan kita akan menikah. Sabarlah sedikit," ujar Anisa.
"Tapi si Joni sudah bangun dari tadi. Kasihan dia yank. Lagian akhir pekan tinggal 5 hari lagi. Sama saja mau sekarang ataupun nanti," bujuk Abian.
"Tapi Mas...."
Abian tidak memberi kesempatan bagi Anisa untuk mengeluh lagi. Pria itu langsung segera membungkam mulut Anisa dengan ciuman panas. Ciuman yang membuat lutut Stevi jadi lemas menyaksikannya
__ADS_1
"Nggak bisa! aku nggak kuat kalau meneruskan adegan dewasa ini. Lututku jadi gementar begini," Stevi mengakhiri rekaman video yang sempat dia abadikan.
"Mampus kamu Anisa. Aku ingin kariermu itu tamat, dan aku pastikan kamu tidak akan mendapatkan keduanya. Baik itu karier, maupun cinta," Stevi menyeringai.
Stevi segera pergi dari rumah Anisa. Sementara Itu Anisa yang sudah mulai terbuai, hanya bisa pasrah saat Abian membawanya ke kamar. Dan perbuatan dosa itu kembali terulang, hingga tidak terhitung berapa kali mereka mengulanginya.
"Sayang. Oh...." Abian melengguh, saat terakhir kalinya dia melepaskan semua hasratnya dengan mata terpejam.
Tidak hanya Abian, Anisa juga merasakan hal yang sama. Keringat keduanya sudah membanjiri tubuh mereka.
Cup
Abian mencium kening Anisa, sementara Anisa hanya bisa memejamkan matanya saat mendapatkan ciuman kasih sayang itu.
"Makasih sayang. Aku sangat bahagia malam ini," ucap Abian.
"Aku berjanji akan memberikan seluruh dunia untukmu. Aku ingin punya anak yang banyak dari kamu," sambung Abian.
"Berapa lusin?" canda Anisa.
"12 lusin boleh?" tanya Abian yang membuat Anisa jadi terkekeh.
"Kamu tidur gih! besok mas kerja pagi kan?" tanya Anisa.
"Masuk malam. Hari ini Geisha libur, itu artinya dia yang masuk pagi. Kamu sendiri masuk apa?" tanya Abian.
"Aku masuk malam juga." Jawab Anisa.
"Aha...berarti masih banyak waktu buat jatah si Joni. Aku ingin menghabiskan malam ini sepuasnya denganmu," ujar Abian yang membuat Anisa jadi takut sendiri.
"Nggak mau ah! capek mas. Mas nggak bosan gituan terus?" tanya Anisa.
"Nggak. Nanti setelah menikah, aku akan langsung mengambil cuti dan kita akan pergi bulan madu keluar negeri. Atau ada tempat yang ingin sekali kami kunjungi barangkali?" tanya Abian.
"Emm...kemana ya? aku pengen banget sih pergi ke Paris. Aku pengen tahu seperti apa disana itu." Jawab Anisa.
"Baiklah. Kita akan bulan madu kesana. Kita akan bulan madu ke Paris, syukur-syukur kamu hamil disana. Dan anak kita akan aku kasih nama Paris Putra Abian," ucapan Abian membuat Anisa tertawa.
"Terus kalau perempuan?" tanya Anisa.
"Kalau perempuan. Verisca putri Abian." Jawab Abian.
"Kamu tuh ya, paling bisa kalau disuruh ngarang," ujar Anisa sembari menarik hidung Abian.
"Aminkan dong yank," ujar Abian.
"Amiin." Jawab Anisa.
"Sayang,"
"Hem?'
"Lagi yuk?" tanya Abian.
"Emangnya mas mau dengar, kalau aku menolak?" tanya Anisa.
"Tentu saja tidak." Jawab Abian yang kemudian langsung mengungkung Anisa kembali.
Malam itu dua sejoli itu benar-benar menghabiskan malam yang panjang. Abian sama sekali tidak membiarkan Anisa istirahat, karena dia sangat ingin Anisa cepat mengandung buah hatinya.
*****
"Bangunlah dokter pemalas!" ujar Anisa sembari memencet hidung Abian.
Brukkkkk
Abian menarik tangan Anisa hingga wanita itu jatuh diatas tubuh kekar Abian. Pria itu dengan jahil membuka selimut yang menutupi kejantanannya, yang membuat Anisa jadi tersipu.
"Mas Bian mesum ih," ujar Anisa.
"Bantu aku mandi," rengek Abian.
"Mandi aja sendiri. Aku sudah masak, kita sarapan bersama," ujar Anisa.
Abian memeluk pinggang Anisa yang berdiri didekat tempat tidur.
"Aku nggak mau makan kalau tidak dimandikan," Abian merengek dengan manja.
"Aku sudah mandi mas. Nanti aku basah lagi," ujar Anisa.
"Aku tidak perduli," ucap Abian.
"Hah... ya sudahlah. Kemarilah bayi besarku, mama akan memandikanmu sampai glowing," ujar Anisa.
Abian mengekor dibelakang Anisa dengan tubuh telanjangnya. Tentu saja itu hanya siasat Abian. Karena pada akhirnya mereka jadi mandi berdua setelah melakukan kegiatan panas itu kembali.
"Bodohnya aku tidak menikmati kegiatan ini saat kita menikah waktu itu. Andai kita melakukannya dari awal, pasti perasaan cinta itu akan cepat muncul," ujar Abian sembari menyabuni punggung Anisa.
"Mungkin memang jalannya harus seperti itu mas," ujar Anisa.
"Yah kamu benar. Kalau nggak begitu, tidak akan jadi sejarah untuk kisah cinta kita berdua," ujar Abian.
Anisa dan Abian segera mengakhiri kegiatan mandi dan berbincang itu. Merekapun sarapan pagi bersama dan kembali berbincang setelahnya.
__ADS_1