SUAMIKU CACAT MENTAL

SUAMIKU CACAT MENTAL
Bab.60. Positif


__ADS_3

"Bagaimana hasil penyelidikkan Riko? ini sudah satu bulan, kenapa belum ada kabar juga?" tanya Abian.


"Riko minta maaf padamu, karena terpaksa menghentikan penyelidikan dulu. Dua minggu yang lalu orang tuanya terpaksa dilarikan ke rumah sakit, karena terkena serangan jantung." Jawab Ryan.


"Oh ya? kenapa kamu tidak bilang? kita bisa menjenguk orang tuanya bersama," tanya Abian.


"Aku pikir kamu nggak akan tertarik pergi kesana," ujar Ryan.


"Apa yang kamu katakan. Mana mungkin aku merasa begitu, dia orang yang akan berjasa dalam hidupku. Lagipula dia temanmu, yang berarti temanku juga kan," ujar Abian.


"Ya sudah kalau begitu habis makan siang kita kesana saja," ujar Ryan.


"Baiklah. Sekarang kita langsung cari makan siang saja, setelah itu kita langsung pergi kesana," ujar Abian.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!" ucap Abian.


Ceklek


"Maaf pak. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda," ujar Intan sang serketaris.


"Siapa?" tanya Regent.


"Nona Geisha." Jawab Intan.


"Katakan kalau aku sedang tidak berada di kantor," ujar Abian.


"Tapi pak saya sudah terlanjur bilang kalau bapak ada di ruangan," ujar Intan.


Abian menghela nafas panjang, dan terlihat sangat malas menemui Geisha.


"Maaf pak. Saya tidak tahu kalau bapak tidak ingin bertemu dengan nona Geisha," ucap Intan.


"Tidak apa-apa. Kamu antar dia kemari!" ujar Abian.


"Baik. Permisi," ucap Intan.


Intan kemudian keluar dari ruangan bosnya, dan memanggil Geisha.

__ADS_1


"Mau apalagi dia kesini?" tanya Ryan.


"Apalagi kalau bukan minta kembali. Sejak Anisa pergi, dia sering datang kerumah untuk merayuku. Tapi aku sama sekali tidak bergeming. Sekarang aku memiliki masalah baru," ujar Abian.


"Masalah baru? masalah apa?" tanya Ryan.


"Sepertinya tidak hanya Geisha yang berusaha mendekatiku, tapi Stevi sepupu Anisa juga." Jawab Abian.


"Apa? stevi? kamu jangan sampai tergoda sama dia. Kamu ingatkan perlakuan dia pada Anisa waktu di rumah sakit? dia dan dua sepupu Anisa yang lain sama jahatnya," ujar Ryan.


"Aku tahu. Meski wanita di dunia ini hanya tinggal Stevi dan Geisha saja, aku lebih baik jomblo sampai mati," ujar Abian.


"Berlebihan sekali kata-katamu itu," ujar Ryan.


"Mau bagaimana lagi. Aku...."


Tok


Tok


Tok


"Dia datang," gumam Abian.


Ceklek


"Aku ingin bicara empat mata denganmu," ujar Geisha.


Ryan melirik kearah Abian dan pria itu menganggukkan kepalanya tanda menyetujui permintaan Geisha. Ryan kemudian keluar dari ruangan itu dan menunggu Abian di lobby.


Setelah pintu tertutup Geisha kemudian menguncinya.


"Ada apa?" tanya Abian.


"Aku mau menanyakan keputusanmu tentang tawaranku seminggu yang lalu." Jawab Geisha yang kemudian duduk di sofa, sembari menyilangkan salah satu kakinya.


"Aku sudah bilang padamu sejak awal. Kamu tidak usah menunggu jawabanku, karena jawabanku masih sama," ujar Abian dengan santai.


"Kamu kenapa sih Bi? Anisa sudah pergi, dia tidak akan kembali lagi. Apa kamu tidak ingat tentang kebersamaan kita sebelum Anisa hadir diantara kita?" tanya Geisha.


"Kenangan manis memang harus di ingat. Tapi itu jika kita masih bersama, perasaan diantara kita masih sama. Tapi sekarang sudah berbeda Ge, hatiku sudah sepenuhnya milik Anisa. Meskipun dia tidak ada disini, tapi aku nggak ada niat untuk mencari penggantinya. Jadi aku mohon kamu lupain aku Ge."Jawab Abian.


"Tapi aku nggak bisa Bi. Aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu. Aku tidak bisa terima kamu giniin aku Bi. Apa kurang aku jika dibandingkan Anisa?" tanya Geisha.

__ADS_1


"Tergantung. Tergantung darimana kamu menilainya. Kalau kamu menilai kekurangan Anisa dari segi derajat, harta, pendidikkan dan kedudukkan, tentu dia tidak sebanding denganmu. Tapi ada sesuatu hal yang tidak kamu miliki seperti yang dimiliki oleh Anisa. Aku tidak bisa menjelaskan itu apa, yang pasti itulah yang membuat aku jatuh cinta padamu." Jawab Abian.


"Coba kamu pikirkan lagi Bi. Aku berencana membangun rumah sakit sendiri. Kalau kamu mau menikah denganku, aku bisa menjadikanmu direktur rumah sakit disana," ujar Geisha, yang membuat Abian jadi terkekeh.


"Apa kamu pikir aku tidak mampu membuat rumah sakit sendiri? sekarang bisnisku tidak hanya berada didalam kota saja, tapi sudah menjangkau luar kota. Aku memiliki misi, semua barang-barang yang aku jual harus menyentuh pasar nasional maupun internasional. Aku bahkan berencana membangun pabrik sendiri, agar aku tidak perlu mengimpor barang dari luar negeri lagi," ujar Abian.


"Aku tidak butuh wanita jadi penopangku, karena harus akulah yang menopang kehidupan wanitaku. Jadi Geisha, jangan pernah lagi membanggakan harta kekayaan di depanku, karena aku sama sekali tidak tertarik," sambung Abian.


"Sial. Seharusnya pria seluar biasa dia, harusnya menjadi milikku. Ini semua gara-gara Anisa. Seharusnya aku tidak hanya menyuruhnya pergi dari kota ini, tapi sekalian aku suntik mati saja," batin Geisha.


"Sekarang lebih baik kamu pergi. Soalnya aku harus menemui klien penting. Dan aku harap kamu bisa berlapang dada menerima perpisahan kita Geisha. Kamu sudah tidak ada lagi di hatiku meskipun secuil," ujar Abian.


"Tapi aku percaya. Batu yang keras akan berlubang jika sering terkena tetesan air. Begitu juga hatimu Abian. Aku akan berusaha membuatmu jatuh cinta lagi padaku seperti dulu," ujar Geisha.


Geisha kemudian meraih tasnya, dan pergi dari ruangan Abian.


"Dasar keras kepala," gumam Abian.


Abian kemudian beranjak dari tempat duduknya, dan keluar dari ruangannya.


"Sorry sudah membuatmu menunggu lama," ujar Abian.


"Tidak masalah. Apa dia merayumu lagi?" tanya Ryan.


"Tentu saja. Apalagi yang ingin dia lakukan kalau bukan hal itu." Jawab Abian.


"Keras kepala juga dia," ujar Abian.


"Sangat. Aku tidak tahu kenapa bisa menyukai dia dulu," timpal Abian.


"Sudahlah. Jangan disesali lagi! meskipun dia begitu, dia orang yang pernah kamu cintai juga. Dia pernah membuatmu bahagia selama 5 tahun. Karena dia juga kamu menceraikan Anisa," ujar Ryan.


"Iya. Nyesel aku kenapa aku bisa sebodoh itu. Seharus aku sadar, kenapa orang tua Anisa memilihku untuk menjaga anaknya. Itu karena dia yakin, kalau aku bisa membahagiakan Anisa," ujar Abian.


"Ya sudahlah. Itu jadikan pelajaran untukmu. Sekarang Ayo kita jenguk papanya si Riko," ujar Ryan.


Sementara itu di tempat berbeda, Anisa kini tengah memejamkan matanya. Bagaimana tidak? saat ini Anisa tengah mengecek alat test kehamilan pada air urine yang berada disebuah gelas plastik bekas. Dia merasa harap-harap cemas, karena akhir-akhir ini tubuhnya merasakan gejala yang berbeda. Anisa sering merasa pusing dan mual.


Anisa menutup mulutnya, saat melihat alat test kehamilan itu menunjukkan dua garis merah. Air mata wanita itu merebak di pipinya. Dia tidak tahu harus bahagia atau bersedih mendapat anugrah itu.


"Ya Tuhan...aku harus bagaimana ini? kenapa harus disituasi seperti ini?" gumam Anisa.


Anisa saat ini memang sudah diterima bekerja di rumah sakit umum. Dia baru akan memulai masa depannya di kota pempek itu. Tapi Anisa harus menerima kenyataan lain, saat dirinya dinyatakan positif hamil oleh sebuah alat test kehamilan. Anisa kini kebingungan harus melakukan apa, ingin rasanya dia menghubungi Abian untuk memberi kabar gembira itu.

__ADS_1


__ADS_2