
Ceklek
Anisa bisa mendengar, saat seseorang membuka pintu kamar. Setelah hampir seharian Abian pergi dan tidak mengangkat telpon, akhirnya pria itu kembali pada pukul 10 malam. Anisa berpura-pura memejamkan mata, namun dengan tubuh membelakangi pintu.
Abian melepaskan sepatunya, dan juga melepas bajunya. Pria itu hanya meninggalkan celana boxer, dan kemudian berbaring disamping Anisa.
"Aih...biasa tidur pakai Ac, sekarang tidur pakai kipas sekecil ini, aku jadi sangat kegerahan. Kalau wanita ini jelas saja dia sudah biasa, dia kan orang susah," batin Abian.
Namun karena tubuhnya lelah dan mengantuk, Abian lambat laun tertidur juga. Setelah merasa tidak ada pergerakkan lagi, Anisa perlahan berbalik badan dan pipinya langsung merona saat melihat Abian tidak mengenakan baju.
"A-Apa orang cacat mental juga tahu arti olahraga? ke-kenapa tubuhnya bisa seindah ini? dia terlihat tampan saat terpejam," batin Anisa.
Berkali-Kali Anisa melihat antara wajah dan otot perut Abian yang berbalok-balok.
"Sepertinya dia sangat kepanasan. Dahinya berkeringat banyak. Nanti saat aku gajian, aku akan membeli kipas yang lebih besar lagi agar dia tidak kepanasan lagi," batin Anisa.
Anisa menyeka keringat di dahi suaminya, dan memudian ikut terpejam. Sesaat Anisa terpejam, Abian membuka matanya sejenak dan menatap Anisa yang sudah mendengkur halus. Abian kemudian berbalik badan, dan membelakangi istrinya itu.
*****
Anisa terbangun, saat adzan subuh berkumandang. Dia memang sudah berniat bangun lebih awal. Karena selain ingin menunaikan kewajibannya pada Tuhan , dia juga harus membuat sarapan dan kemudian pergi untuk memasukkan lamaran kerja yang sudah dia buat.
Wajah Anisa kembali merona, saat tidak sengaja dia melihat kearah celana boxer yang Abian kenakan. Tonjolan yang sudah barang tentu dia sangat paham apa itu isinya. Bukan hal tabu baginya melihat benda kebanggan para pria, sebagai seorang perawat dirinya bahkan sering memasangkan kateter pada pasien laki-laki. Namun tentu saja milik pasien dan milik suami yang belum pernah dia pegang sangat berbeda.
Karena tidak ingin berpikir yang aneh-aneh, Anisa yang sudah menunaikan kewajibannya segera pergi ke dapur untuk membuat sarapan untuk semua orang.
"Sudah bangun kamu ndok?" tanya Suban, yang ternyata sudah bangun dan duduk di ruang tamu, sembari meminum secangkir teh.
"Iya Yah. Nisa mau membuat sarapan. Biasanya suka makan sarapan apa Yah?" tanya Nisa.
__ADS_1
"Apa saja yang biasa kamu masak di rumahmu. Disini nggak ada yang pilih-pilih makanan. Tapi kalau Abian sangat suka dengan nasi goreng." Jawab Suban.
"Baiklah aku akan membuat nasi goreng kalau begitu," ujar Anisa yang kemudian bergegas pergi ke dapur.
Setelah membuat nasi goreng dan beberapa butir telur dadar, Anisa pergi ke kamar dan membangunkan suaminya.
"Mas. Bangun! kita sarapan sama-sama yuk?" Anisa membangunkan Abian dengan suara selembut mungkin.
Blaaammm
Abian membuka matanya tiba-tiba, dan itu membuat Anisa jadi terkejut.
"Emm...eh...ayo kita sarapan bersama mas," Anisa sedikit takut, saat Abian menatapnya dengan tajam.
Abian beranjak dari tempat tidur, dan kemudian mengenakan pakaian. Setelah itu dia mencuci wajahnya dan pergi menuju meja makan untuk sarapan bersama.
"Pagi ini sarapan dibuat oleh istrimu. Makan yang banyak ya!" ujar Suban yang hanya ditanggapi diam oleh Abian.
"Mas. Nisa izin pergi keluar ya! Nisa mau masukkin lamaran kerja ke rumah sakit internasional. Mas do'akan aku supaya aku bisa diterima. Dan gaji pertamaku nanti, akan aku belikan kipas angin besar agar mas tidak kepanasan lagi," ujar Anisa dengan senyum semringah dibibirnya.
Abian sedikit melirik ke arah Anisa, dan kemudian sibuk kembali bermain ponsel. Anisa meraih tangan Abian, dan mencium tangan suaminya itu.
"Nisa pergi dulu ya mas. Assalammualaikum," ucap Anisa. Namun hanya dijawab Abian dalam hati.
"Ibu. Ayah kemana? aku ingin berpamitan melamar kerja," tanya Anisa.
"Pagi-Pagi sudah mencari duit ke toko. Bukan seperti suamimu yang tidak berguna itu. Terus kamu meninggalkan suamimu sendiri disini, siapa yang mau mengurusnya dan memasak untuknya? aku nggak mau jadi pelayan suamimu yang tidak waras itu," ucapan Ibu mertuanya itu membuat dada Anisa sedikit meletup-letup, namun dia berusaha bersabar.
"Aku pergi tidak lama. Biar nanti saat aku pulang, yang akan memasak untuk mas Bian." Jawab Anisa.
__ADS_1
Anisa kemudian keluar rumah, namun hatinya yang gelisah berbalik badan dan kembali ke kamar. Abian yang tengah melepas pakaian, sedikit terkejut karena Anisa kembali dan tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu.
"Eh? emm...ma-maaf mas. Nisa nggak tahu kalau mas Bian sedang berganti pakaian," ucap Anisa.
Anisa kemudian mengeluarkan uang 15 ribu, dan menyodorkannya dihadapan Abian.
"Nisa nggak tahu pulang jam berapa. Takutnya ibu nggak masak, dan mas Bian jadi kelaparan. Jadi nanti mas Bian beli nasi saja di warteg ya! biar Nisa tenang ninggalin mas sendirian di rumah. Mas main game saja, nanti kalau kuota internet mas habis, mas chat saja. Nisa sudah simpan nomor Wa Anisa diponsel mas Bian," ujar Anisa panjang lebar.
Abian menatap uang 15 ribu yang Anisa berikan. Sesaat kemudian Abian meraih uang itu, dan membuat Anisa tersenyum.
"Ya udah. Nisa pergi dulu ya mas!" Lagi-Lagi Abian tidak menjawab ucapan Anisa.
Anisa kemudian pergi dengan perasaan sedikit lega. Dia pun bergegas naik angkot, dan pergi menuju rumah sakit internasional. Saat tiba disana, tentu saja Anisa disambut dengan baik oleh pihak HRD. Karena Anisa merupakan perawat lulusan cumlaude. Anisapun disuruh langsung bekerja keesokkan harinya.
"Yes. Kalau begitu aku harus beli pakaian kerja, sebelum dapat seragam resmi dari rumah sakit. Aku juga butuh sepatu," ucap Anisa lirih.
Anisa kemudian pergi ke toko pakaian, yang menjual aneka seragam. Setelah mendapatkanmya, diapun pergi mencari sepatu.
"Lapar. Ini sudah jam 2 siang. Kira-Kira mas Abian sudah makan belum ya?" batin Anisa.
Anisa kemudian mengisi perutnya terlebih dahulu. Dan bergegas pulang setelahnya. Senyum Anisa tidak lepas dari bibirnya, sembari menenteng setengah kilo jeruk ditangan kanannya.
Ceklek
"Mas. Aku pulang," ujar Anisa saat dirinya memasuki kamar. Namun kamar itu tampak kosong. Anisapun bertanya pada ibu mertuanya.
"Bu. Mas Bian kemana?" tanya Anisa.
"Makanya kalau nyari suami itu yang benar. Orang gila kok di kawini. Dia pergi tanpa mengatakan apapun. Nggak tahu dia ada dimana, atau jangan-jangan berkumpul sesama dengan orang gila."
__ADS_1
Anisa tidak menjawab ucapan ibu mertuanya itu, dan segera kembali ke kamar membuat panggilan untuk suaminya. Namun seperti biasa, Abian sama sekali tidak menjawab panggilan itu.