
"Aku pikir mas sudah pergi ninggalin aku," rengek Anisa.
"Mana mungkin aku ninggalin bumil yang cantik ini. Sana mandi dulu! habis itu kita sarapan sama-sama. Aku sudah membuat omelet untuk kita sarapan," ujar Abian.
"Makasih ya mas," ucap Anisa.
"Iya." Jawab Abian sembari mengusap puncak kepala Anisa.
Anisa kemudian pergi membersihkan diri, dan berganti pakaian setelahnya.
"Biar aku bantu menyisir rambutmu ya?" tanya Abian.
"Emm" Anisa mengangguk.
Abian menyisir rambut Anisa dengan lembut.
"Aku sudah membuatkanmu surat resign. Setelah sarapan, kita pergi ke rumah sakit untuk menyerahkan surat itu," ujar Abian.
"Iya mas." Jawab Anisa.
"Kenapa dulu aku tidak menyadari, kalau mempunyai istri seperti Anisa sangatlah menyenangkan. Dia wanita yang lembut dan penurut. Akan berbeda kalau yang menjadi istriku itu si Geisha. Pasti aku akan sering dibuat sakit kepala oleh gadis itu," batin Abian.
"Selesai. Ayo kita sarapan!" ujar Abian.
"Emm." Anisa mengangguk.
Anisa dan Abian kemudian sarapan bersama. Setelah selesai merekapun pergi ke rumah sakit untuk menyerahkan surat resign.
"Sekarang kita mau kemana lagi?" tanya Anisa.
"Emang kamu pengennya kemana?" tanya Abian.
"Pengen jalan-jalan mas. Selama disini aku belum pernah pergi ngemall." Jawab Anisa.
"Ya sudah kita pergi ke mall aja kalau gitu," ujar Abian.
"Mall mana mas?" tanya Anisa.
"Yang dekat saja. Mall deket hotel tempat mas nginap waktu itu saja." Jawab Abian.
"Mas. Malam ini kita nginap di hotel yuk mas?" ujar Anisa.
"Loh kenapa nginap di hotel?" tanya Abian.
"Soalnya aku seumur hidup belum pernah yang namanya tidur di hotel." Jawab Anisa.
Mendengar ucapan Anisa, tentu saja Abian jadi tertawa keras. Sementara Anisa jadi tersipu malu.
"Baiklah sayangku. Kalau begitu sekarang kita booking dulu hotelnya. Setelah pulang dari mall, baru kita istirahat disana," ujar Abian.
"Iya mas." Jawab Anisa dengan senyum semringah.
Sesuai perkataan Abian. Merekapun memesan hotel di Arya Duta tempat Abian pernah menginap waktu itu. Setelah itu barulah Abian dan Anisa pergi jalan-jalan ke mall.
"Kita harus beli pakaian ganti. Minimal saat pulang ke kontrakkan kita nggak bau kecut," ujar Abian.
"Iya mas." Jawab Anisa.
Merekapun mencari pakaian, dan pakaian dalam untuk mereka gunakan saat pulang.
"Mau makan apa? ini sudah waktunya makan siang," tanya Abian setelah mereka selesai mencari pakaian.
"Yang enak mas. Yang pasti hari ini aku akan menghabiskan duit calon suamiku." Jawab Anisa.
"Uangku, uangmu juga," ujar Abian sembari mengusap puncak kepala Anisa.
"Salah mas. Uangmu uangku, uangku ya uangku," ujar Anisa yang membuat Abian jadi terkekeh.
"Sebelum cari makan, cari apel hijau dulu mas. Pengen yang kecut-kecut," sambung Anisa.
__ADS_1
"Mau yang kecut? aku ada yang lebih kecut dari apel hijau," tanya Abian.
"Mana?" tanya Anisa.
"Ini." Abian menunjuk kearah ketiaknya.
"Ihhh...mas...Bian," Abian terkekeh.
"Ayo cari yang kecut-kecut!" ujar Abian sembari merangkul Anisa.
Merekapun pergi ke super market tempat menjual sayur dan buah. Setelah membeli apa yang Anisa inginkan, merekapun pergi ke restaurant yang ada di mall itu.
"Oh astaga...mas, apa yang kita minum ini isinya air zam-zam?" bisik Anisa.
"Bukan. Ini air mineral biasa." Jawab Abian.
"Air mineral 25rb? tahu gitu kita beli air meneral di super market tadi mas. Apa botolnya ini bisa kita bawa pulang? ini kan botol sirop mas?" tanya Anisa.
"Kangkung seucrit 25rb. Ini palingan yang di masak nggak nyampe satu ikat. Mahal amat mas," sambung Anisa.
Abian jadi mengurut dahinya mendengar ucapan Anisa.
"Yuk kita pulang ke hotel," ujar Abian mengalihkan pembicaraan.
"Aha...aku jadi senang, saat bayangin tidur di hotel mas," ujar Anisa.
"Baguslah kalau kamu senang. Kalau kamu senang, anak kita pasti sehat," ujar Abian.
"Tapi mas...."
"Kenapa?" tanya Abian.
"Aku sakit hati liat bill makanannya. 300 ribu loh mas, itu uang bisa buat aku makan di kontrakkan hampir satu bulan." Jawab Anisa.
"Iya lain kali kita nggak usah datang kesini lagi," ujar Abian sembari membujuk Anisa pergi dari situ.
Anisa dan Abianpun pergi ke hotel. Kamar president suite yang Abian pesan cukup memanjakan mata Anisa saat wanita itu masuk kedalamnya.
"Wah...mas. Jadi seperti ini kamar hotel itu? pantesan orang betah nginap disini. Apa setiap kamar hotel sebesar ini?" tanya Anisa.
"Tidak. Yang paling besar President suite saja. Salah satunya yang kita tempati ini." Jawab Abian.
"Oh ya? berapa harganya permalam mas?" tanya Anisa.
"Gawat. Kalau aku terus terang, bisa-bisa dia pingsan," batin Abian.
"Mas. Kok ngelamun sih?" tanya Anisa.
"Se-Sejuta." Jawab Abian.
"Oh...wajar sih kalau sejuta dengan fasilitas seperti ini. Tapi kalau lebih dari itu, aku rasa kemahalan," ujar Anisa.
"Hufffftt untung aku jawab sejuta," batin Abian.
"Ah...empuknya," gumam Anisa, sembari merentangkan tangan dan kakinya diatas tempat tidur berukuran tidak biasa itu.
Abian menatap wajah senang Anisa, dan ikut berbaring disamping wanitanya itu. Anisa kemudian berbaring miring menatap Abian, sembari memegang wajah pria yang dicintainya itu.
"Aku janji kedepannya nanti tidak ada kesedihan lagi. Hanya akan ada kebahagiaan yang menghampirimu. Kamu juga tidak akan pernah hidup kekurangan," ujar Abian.
Anisa tersenyum saat mendengar ucapan Abian.
"Bagiku. Mau hidup kita susah, senang. Ada uang, atau tidak ada uang. Asal aku bisa sama-sama terus sama kamu, aku nggak masalah mas," ujar Anisa.
"Oh...so sweet. Aku terhura...eh...terharu..." ucap Abian sembari terkekeh.
"Mas. Nanti saat menikah, aku pengen kita nikahnya di rumah ayah ya?" tanya Anisa.
Pertanyaan Anisa membuat senyum Abian jadi lenyap seketika.
__ADS_1
"Tidak perlu. Tanpa orang itu, kita bisa melaksanakan pernikahan kita sendiri." Jawab Abian.
"Kalau begitu sampai kapanpun aku nggak mau nikah sama kamu mas," ujar Anisa.
"Ckk...ayolah sayang. Kamu tidak tahu apa yang sudah dia perbuat untuk hidupku dan hidup kakakku," ujar Abian.
"Aku tahu mas. Aku tahu segalanya. Ayah sudah menceritakan semuanya. Ayah sudah tua mas, kamu masih beruntung karena masih punya dia. Sementara aku?" mata Anisa berkaca-kaca.
"Aku nggak mau anak-anakku punya papa seorang pendendam. Karena didikkan hati yang kotor, tidak bagus untuk mental anak-anaku," sambung Anisa.
Anisa kemudian beranjak dari tempat tidur dan meraih tasnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Abian.
"Mau minggat yang jauh. Biar kamu nggak bisa nemuin aku lagi." Jawab Anisa.
Greppppp
Abian memeluk Anisa dari belakang. Pelukkan takut kehilangan.
"Jangan pergi lagi. Kalau kamu pergi, aku nggak mau hidup lagi," ujar Abian.
"Ya makanya. Mas harus mau maafin ayah. Umurmu itu sudah 28 loh mas. Udah tuwir, paling umur ayah tinggal berapa lama sih mas? ntar nyesal loh," ujar Anisa.
"Iya-Iya. Aku bakal maafin ayah," ujar Abian.
Anisa kemudian memutar tubuhnya, Dan meraih kedua sisi wajah pria yang dicintainya itu.
"Sebentar lagi kamu juga akan menjadi orang tua. Jangan beri pengaruh buruk untuk anak kita. Tidak ada ruginya memaafkan orang yang sudah menyakiti hati kita. Percayalah mas, setelah mas memaafkan Ayah. Hati mas pasti nggak akan sakit lagi, hati mas pasti akan lega. Dan yang pastinya, kak Ardan pasti akan senang," ujar Anisa.
"Hiks...."
Abian tiba-tiba memeluk Anisa dan terisak. Anisa mengeratkan pelukkannya, sembari mengusap punggung pria yang dicintainya itu. Dia membiarkan Abian menumpahkan semua beban yang pria itu rasakan selama ini. Setelah tangis itu reda, Anisa mencium kedua kelopak mata Abian.
"Terima kasih sudah membuatku menangis. Aku sudah lama tidak menangis. Sejak kak Ardan meninggal," ujar Abian.
"Itulah sebabnya hatimu membeku. Karena kamu menyimpan semuanya disini," ujar Anisa sembari mengusap dada Abian.
"Sekarang apa lagi yang mau kamu minta dariku?" tanya Abian.
"Sudahlah. Mas nggak akan mau menuruti ucapanku," ujar Anisa.
"Aku pasti akan mengabulkannya," ujar Abian bersikukuh.
"Janji?" tanya Anisa.
"Janji." Jawab Abian.
"Aku mau mas potong rambut gondrong mas itu," ujar Anisa.
"Ap-Apa? memangnya ada apa dengan rambut gondrongku? ini stailess yank," tanya Abian
"Stailess apaan. Rambut kayak permain orkes dangdutan gitu," ujar Anisa yang membuat Abian jadi melongo.
"Ingat. Tadi mas Bian sudah janji loh. Kalau janji nggak boleh ingkar. Abis magrib kita kesalon aja. Tadi di mall aku lihat ada salon khusus pria," ujar Anisa.
"Iya." Jawab Abian dengan bibir mengerucut.
"Yang ikhlas loh mas," ujar Anisa semabari melepas tasnya.
"Iya ikhalas dunia akhirat." Jawab Abian.
"Ih...ganteng deh calon suami aku," ujar Anisa sembari mencubit kedua pipi Abian.
"Tentu saja semuanya harus ada harganya. Aku nggak mau rambutku hilang gitu aja, tanpa menerima bayaran," ujar Abian.
"Maksudnya?" tanya Anisa.
Tanpa banyak basa basi Abian langsung menanggalkan pakaiannya yang membuat Anisa jadi menepuk dahinya.
__ADS_1