SUAMIKU CACAT MENTAL

SUAMIKU CACAT MENTAL
Bab.61. Klien Besar


__ADS_3

"Riko maaf. Aku baru tahu kalau papamu masuk rumah sakit," ucap Abian saat pria itu baru tiba di rumah sakit dan menemui teman barunya itu.


"Tidak apa-apa. Kalau tidak ada halangan, papa akan dibawa pulang besok. Aku juga minta maaf sama kamu Abian, karena belum bisa melanjutkan kembali penyelidikkan itu. Tapi kamu tenang saja, aku sudah menyisiri lebih dari 15 propinsi. Aku yakin lambat laun kita bisa menemukan Anisa. Pokoknya selama sim card miliknya aktif, dia masih bisa kita temukan," ujar Riko.


"Apa dia masih tidak membalas atau menerima telpon darimu?" tanya Riko.


"Ya. Dalam sehari aku bisa menghubunginya atau mengirim chat sebanyak 5 kali dengan nomor yang berbeda." Jawab Abian.


"Kalau menurutku sebaiknya kamu berhenti menghubungi dia," ujar Riko.


"Kenapa?" tanya Abian.


"Jangan memprovokasi dia. Coba kamu pikir, terkadang kita sering merasa terganggu karena terlalu sering dihubungi orang. Takutnya dia meras tidak nyaman, dan menyebabkan dirinya mengganti sim card. Kalau itu sampai terjadi, maka kita tidak bisa lagi melacak keberadaan Anisa." Jawab Riko.


"Benar juga. Benar yang dikatakan Riko Bian. Sebaiknya jangan mengganggu Anisa untuk sementara waktu," ujar Ryan.


"Baiklah aku akan menurutimu. Teriama kasih Rik, aku akan menunggu aksimu kembali," ujar Abian.


"Kamu tenang saja, besok papaku pulang. Jadi aku akan mulai beraksi lagi," ujar Riko.


"Oh ya. Apa kalian membayar rumah sakit secara umum? atau menggunakan kartu khusus?" tanya Abian.


"Umum. Kemarin kami baru saja menjual kebun papa yang berada di kampung." Jawab Riko.


"Sayang sekali. Seharusnya kamu datang saja padaku, aku pasti akan membantumu," ujar Abian.


"Aduh Bi. Biaya rumah sakit ini bukan satu atau dua juta saja. Selama 2 minggu berada disini, kami sudah menghabiskan hampir 35 juta," ujar Riko.


"Apa sudah dibayar?" tanya Abian.


"Belum. Besok sewaktu pulang kami akan membayarnya." Jawab Riko.


"Kalau begitu jangan kamu bayarkan dulu, aku yang akan membayarnya," ujar Abian.


"Eh? n-nggak perlu Bi. Aku nggak mau punya hutang," ujar Riko.


"Hutang apa. Aku memberikannya dengan cuma-cuma," ujar Abian.


"Ap-Apa?" Riko terkejut.


"Anggap saja aku menghargai bakatmu itu. Tapi ingat! kamu harus menemukan Anisaku. Anggap saja aku membayar atas jasamu," ujar Abian.


"Abian. Kamu tidak usah melakukan itu, aku jadi merasa tidak enak," ujar Riko.


"Tidak perlu ada perasaan seperti itu. Atau anggap saja aku sedekah. Mungkin dengan sedekah Anisa jadi cepat ketemu," ujar Abian.


"Terima kasih Abian. Aku berjanji akan kerja keras. Atau saat kamu libur bekerja, aku akan datang ke rumahmu. Kamu pilih sendiri kota apa yang akan kamu selidiki," ujar Riko.

__ADS_1


"Baiklah. Nanti lusa aku nggak ada job, kamu bisa datang kerumah. Atau kenapa kamu tidak bekerja di kantorku saja, aku akan meletakkanmu di bagian IT," ujar Abian.


"Akan aku pikirkan. Aku harus mencari karyawan dulu untuk menjalankan usaha foto kopian dan juga rentalbkomputer milikku," ujar Riko.


"Baiklah. Datang saja kekantor kalau kamu butuh pekerjaan," ujar Abian.


"Terima kasih Bi," ucap Riko.


"Oh ya Bi. Aku lupa memberitahumu, kalau akan ada klien besar yang akan datang besok pagi," ujar Ryan.


"Klien darimana?" tanya Abian.


"Palembang. Dia ingin kita mengadakan alkes di rumah sakit yang baru mereka bangun. Ya bukan benar-benar dibangun dari awal sih. Tapi rumah sakit itu membuat bangunan baru disamping rumah sakit lama. Jadi sangat membutuhkan alkes yang banyak." Jawab Ryan.


"Disana juga ada distributor alkes, tapi harganya agak mahal. Mereka ingin minta harga miring sama kita, karena mereka akan meminta jumlah yang sangat besar," sambung Ryan.


"Baiklah. Besok pagi aku akan menemui kliennya," ujar Abian.


"Rejeki orang rajin sedekah," ujar Riko sembari terkekeh.


Setelah menjenguk orang tua Riko, Abian dan Ryanpun berpamitan pulang. Namun saat tiba di rumah, Abian kembali mendapat tamu yang tak lain adalah stevi.


"Stevi? kamu ngapain kesini?" tanya Abian.


"Mau main aja kak. Kebetulan aku lagi off hari ini. Aku pengen ngajak kakak nonton bioskop mau nggak kak?" tanya Stevi.


"Kakak capek ya? aku pijit ya kak?" tanya Stevi sembari hendak mendekati Abian.


"Oh nggak usah. Aku nggak biasa dipijit, aku cuma butuh istirahat aja." Jawab Abian.


"Maaf ya Stev. Aku sangat lelah dan ingin istirahat," Abian mengusir Stevi secara halus.


"I-Iya." Jawab Stevi.


"Ya sudah aku pulang saja. Tapi lain kali kita nonton ya kak?" tanya Stevi.


"Iya." Abian mengiyakan saja ucapan Stevi, karena dia ingin gadis itu cepat pergi dari rumahnya.


Abian bisa bernafas lega, saat Stevi sudah pergi. Abian segera naik keatas, karena ingin membersihkan diri.


"Aku tidak mengerti dengan gadis zaman sekarang, kenapa semuanya terlalu ekspresif. Terlalu terang-terangan, seperti tidak punya harga diri," gumam Abian.


"Tapi Anisaku berbeda. Meski dia suka, tapi dia tidak menunjukkannya. Hah...aku sangat merindukan dia," gumam Abian.


"Kenapa dia tidak mau mengangkat telpon dan membalas chatku? padahal jelas-jelas dia membacanya. Sekarang Riko malah menghalangiku menghubunginya. Kira-Kira Anisa merasa kehilangan nggak ya? hari ini aku baru sekali menghubunginya,"


Sesuai yang Abian harapkan. Anisa yang tergolek lemas diatas tempat tidur, tengah menatap ponselnya.

__ADS_1


"Kenapa dia tidak mengirim chat lagi? biasanya dia suka mengirim chat dalam sehari bisa 5 kali. Apa dia sudah menyerah? seharusnya aku senang dia bisa melupakan aku, tapi kenapa hatiku sedih?" gumam Anisa.


"Kamu harus kuat Anisa. Kamu tidak boleh cengeng, karena ini semua sudah keputusan yang kamu ambil. Jangan lagi mengganggu kebahagiaan orang lain. Geisha dan anaknya juga berhak bahagia," ujar Anisa lirih.


Abisa meraba perutnya masih tampak datar.


Tring


Tring


Tring


"Hallo tante?" ujar Anisa diseberang telpon.


"Nisa. Kamu idak kursus yo hari ini?" tanya Nita.


"Idak tante aku lagi sakit. Maaf tante aku lupo ngasih tahu." Jawab Anisa.


"Yo dak apo-apo. Cepat sembuh yo?"


"Makasih tante," ucap Anisa.


Anisa memang mengikuti kursus membuat aneka makanan khas kota Palembang, selain dirinya bekerja di rumah sakit. Namun karena dirinya kurang sehat, Anisa memutuskan untuk off sementara waktu. Anisa juga kini mulai sedikit mengerti bahasa di tempat itu.


*****


"Selamat pagi pak Abian," seorang pria berjanggut tipis mengulurkan tangan kearah Abian.


"Dengan bapak...."


"Kemas Zarkasyi." Jawab pria itu sembari tersenyum.


"Mari silahkan duduk pak," ujar Abian.


Kemas Zarkasyi kembali menjatuhkan bokongnya diatas sofa.


"Apa yang bisa saya bantu pak?" tanya Abian.


"Kami dari rumah sakit umum Muhammad Hoesain, mau memesan alkes disini pak. Karena kami sedang menambah bangunan baru, otomatis kami ingin menambah peralatan medis. Tapi karena ini dalam jumlah banyak, kami ingin pengirimannya diawasi langsung pak. Dan kami minta pengembalian atau penukaran barang, jika saat barang tersebut sampai, ada yang mengalami kerusakkan. Saya harap anda mengerti," ujar Kemas.


"Saya paham pak. Kalau begitu nanti saya sendiri yang akan mengirim barangnya sampai tujuan. Sekalian saya ingin mengertahui seperti apa kota disana," ujar Abian.


"Wah...itu bagus. Kalau anda jadi kesana, anda harus mampir ke rumah saya pak. Saya akan menyiapkan makanan khas kota pakembang buat bapak," ujar Kemas.


"Terima kasih pak," ucap Abian.


Abian dan Kemas kemudian membahas barang-barang yang akan dipesan. Mereka juga membahas tentang pembayaran dan waktu pengiriman. Setelah selesai, Kemaspun kembali ke penginapan.

__ADS_1


__ADS_2