SUAMIKU CACAT MENTAL

SUAMIKU CACAT MENTAL
Bab.27. Durian Runtuh


__ADS_3

Anisa mendekati Suban yang tengah duduk di ruang tamu sembari menyesap secangkir teh.


"Ayah baru pulang?" tanya Anisa.


"Sudah sekitar 10 menit yang lalu." Jawab Suban sembari meletakkan cangkir teh yang baru saja dia sesap.


Anisa melirik kearah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9 lewat sepuluh menit. Dan sudah selarut itu pula, Abian belum juga pulang.


"Abian belum pulang?" tanya Suban.


"Belum Yah. Itulah sebabnya Nisa jadi khawatir." Jawab Anisa.


"Tapi dia selalu pulang kan meskipun terlambat?" tanya Suban.


"Iya. Tapi tetap saja Nisa khawatir Yah." Jawab Anisa.


"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Abian selama hampir dua bulan ini? apa sudah ada kemajuan?" tanya Suban.


Anisa menggelengkan kepala dengan wajah yang murung.


"Sejak pertama kali masuk ke rumah ini, satu patah katapun aku tidak pernah mendegar suaranya, apalagi mengajakku berbicara. Dia diam membisu, meskipun aku bertanya hal penting sekalipun." Jawab Anisa.


"Sabar ya Nis! do'a kan terus suamimu agar dia cepat sembuh," ujar Suban.


"Kalau boleh tahu, sebenarnya apa yang terjadi dengan mas Abian Yah? kenapa dia bisa jadi seperti itu? mungkin dengan aku tahu masalahnya, aku bisa membantunya keluar dari pikirannya yang terkurung?" tanya Anisa.


Pertanyaan Anisa seolah mengorek luka lama, sehingga membuat Suban kembali bersedih. Namun dia berpikiran positif, apa yang di katakan Anisa ada benarnya juga. Suban kemudian menceritakan semuanya tanpa ada yang dia tutupi. Tentu saja saat mendengar cerita itu Anisa sangat syok. Air mata wanita itu bahkan tanpa sadar menetes. Kini dia mengerti duka yang dialami Abian, hingga suaminya itu begitu sukar keluar dari trauma yang dia rasakan.


Anisa melirik kearah Suban yang tertangkap basah sedang menyeka air matanya. Anisa bisa merasakan, kalau air mata itu tulus tanpa dibuat-buat.


"Kamu pasti ingin menghujat kalau Ayah orang tua yang jahat, dan tidak pantas dimaafkan. Iya kan?" tanya Suban dengan suara hampir tercekat ditenggorokkannya.

__ADS_1


"Tidak Yah. Mungkin cara Ayah memang salah, tapi Nisa tahu niat Ayah sebenarnya baik. Tapi...."


"Tapi tidak semua orang mengerti niat baik kita Yah. Kadang cara yang kita anggap baik, belum tentu baik pada kenyataannya. Satu hal Ayah harus ingat! kita tidak bisa memaksakan kehendak kita, meskipun itu pada anak kita sendiri." Jawab Anisa.


"Yah. Ayah sudah sadari itu meskipun sudah sangat terlambat. Sampai-sampai ayah tidak tahu lagi bagaimana cara menyampaikan maaf Ayah dari lubuk hati Ayah yang paling dalam," ujar Suban.


"Tapi sayangnya Ayah sudah melakukan kesalahan sekali lagi tanpa Ayah sadari," ujar Anisa.


"Apa maksudmu?" tanya Suban.


"Mungkin maksud Ayah baik, agar mas Bian ada orang yang menjaganya disaat Ayah tiada nanti. Tapi tanpa Ayah sadari, ayah kembali menekan trauma mas Bian dimasa lalu. Sekali lagi Ayah memaksakan kehendak Ayah, dengan menikahkan dia dengan gadis yang diapun tidak mengerti mau dia apakan istrinya ini." Jawab Anisa.


"Nisa memang merasa terbantu dengan tiba-tiba Ayah menawarkan pernikahan itu, tapi sayangnya tidak bagi mas Abian. Nisa bisa mencintai mas Bian apa adanya, lalu bagaimana dengan nasib Nisa selanjutnya? tapi Ayah tidak usah khawatir, Nisa sudah mengikhlaskan apapun yang akan terjadi kedepannya nanti," ujar Anisa.


"Ayah minta maaf kalau kamu merasa sudah Ayah jebak. Kamu benar, seharusnya Ayah memikirkan dari sisi kamu. Hanya karena kamu bukan putri kandungku, aku sudah berbuat tidak adil sama kamu Nisa. Ayah minta maaf," lagi-lagi Suban meneteskan air mata.


"Hah. Sudahlah Yah. Semuanya juga sudah terjadi. Tidak perlu disesali. Seperti yang tadi Nisa bilang, Nisa sudah mengikhlaskan. Sekarang yang jadi bahan pikiran Nisa, Nisa pengen tahu setiap hari mas Abian pergi kemana. Jadi kalau dia pulang telat, kita biar nggak terlalu khawatir," ujar Anisa.


"Apa Ayah masih nyimpan nomor kontak dokter Yasmar?" tanya Anisa.


"Nisa mau nanya. Barangkali mas Bian sudah nyaman disana selama ini. Jadi tiap hari dia mainnya kesana." Jawab Anisa.


"Benar juga. Ya sudah nanti ayah kirim kontaknya lewat chat ya!" ujar Suban.


"Makasih Yah," ucap Anisa.


"Ya udah Ayah istirahat ya! Nisa mau nungguin mas Bian di kamar aja," ujar Anisa.


"Iya." Jawab Suban.


Anisapun masuk ke kamarnya dan menunggu kepulangan Abian sembari bermain ponsel. Setelah menunggu hampir 30 menit, Abian akhirnya pulang.

__ADS_1


"Mas sudah pulang? sudah makan belum?" tanya Anisa.


"Sudah." Jawab Abian singkat dan kemudian mengganti pakaiannya, dengan baju santai.


Namun tanpa Abian sadari, jawaban singkatnya itu seperti durian runtuh bagi Anisa.


"Oh ya ampun...rasanya aku seperti dapat durian runtuh malam ini. Rasanya ingin sekali aku rekam suaranya yang terdengar sangat berwibawa itu," batin Anisa.


"Aku harus tandai dikalender nih. Sebagai pengingat kalau dihari ini, mas Bian jawab pertanyaan aku dengan kata SUDAH," batin Anisa.


Anisa menatap punggung Abian yang sedang berbaring membelakangi dirinya. Anisa sangat berharap, suatu saat nanti kondisi suaminya itu akan membaik, dan hubungannya dengan Abian bisa berjalan seperti rumah tangga pada umumnya.


"Ah...kebetulan besok jatahku off. Jadi aku bisa diam-diam membuntuti mas Bian. Aku harus bangun lebih pagi. Cucian baju sudah numpuk, kalau aku bangun kesiangan takutnya nggak sempat ngikutin mas Bian,"


Anisa memejamkan matanya yang lambat laun tertidur lelap. Abian yang sudah tidur lebih dulu berbalik badan, dan tanpa sadar memeluk Anisa. Begitu juga dengan Anisa, tanpa sadar membalas pelukkan Abian dengan erat


*****


"Ini sudah hampir jam 10 pagi, kok mas Bian nggak pergi? jadi sebenarnya dia perginya jam berapa dari rumah?" batin Anisa.


Anisa yang tengah off mencari kesibukkan dengan merapikan isi lemari dan membersihkan kamar tidurnya. Sementara itu Abian tampak sibuk bermain Game. Karena tempo hari dia menggantikan dokter jaga, jadi hari ini giliran dokter itu menggantikan jadwal kerjanya. Abian memutuskan agar tetap diam di rumah untuk beristirahat.


"Bosan pengen nyemil. Aku pergi ke mini market deh," batin Abian.


Abian kemudian bangkit dari tempat tidur, dan pergi keluar kamar tanpa mengatakan apapun.


"Eh? mas Bian keluar. Aku harus buntutin dia," gumam Anisa.


Anisa bergegas meraih tasnya, dan pergi keluar kamar. Dia tidak ingin kehilangan jejak suaminya itu. Namun baru saja dia akan keluar pintu rumah, ketiga saudara sepupunya tiba-tiba muncul dan mengejutkan dirinya.


"Hai mbak Nisa. Apa kabar?" tanya Stevi dengan senyum kepalsuan.

__ADS_1


"Hei...baik. Wah...mbak kaget loh, kalian tiba-tiba main ke rumah mbak." Jawab Anisa, tapi matanya menatap kesana kemari dan tidak menemukan keberadaan Abian.


Anisa menghela nafas. Dia hanya bisa pasrah, karena hari ini gagal membuntuti Abian.


__ADS_2