SUAMIKU CACAT MENTAL

SUAMIKU CACAT MENTAL
Bab.63. Ke Hotel Dulu


__ADS_3

"Kemana dulu ini kita?" tanya Ryan.


"Ke hotel dulu. Kita nggak mungkin ke rumah sakit dengan bawa koper. Lagian barangnya pasti datang sore. Meski sekarang sudah ada jalan tol, tapi cukup memakan waktu juga." Jawab Abian.


"Baiklah. Nanti akan aku suruh supirnya menghubungi kita saat dia sampai di Palembang," ujar Ryan.


"Sekarang kita cari taksi," ujar Abian.


Abian dan Ryan menyeret koper mereka. Dan pergi mencari jasa taksi. Setelah mendapatkannya, merekapun pergi menuju hotel.


"Arya Duta ya pak," ujar Ryan.


"Baik pak." Jawab supir taksi.


"Kenapa kamu memilih Arya Duta?" Ryan tahu itu hanya pertanyaan kosong dari Abian.


"Hotel itu berdampingan dengan salah satu pusat perbelanjaan yang lumayan besar di kota ini." Jawab Ryan.


"Cerdas juga. Jadi kita nggak kesulitan, kalau ingin mencari sesuatu," ujar Abian.


"Ya begitulah maksudku," ujar Ryan.


Setelah menempuh perjalanan hampir 25 menit, merekapun tiba di hotel Arya Duta. Karena Ryan sudah memesan kamar hotel secara online, jadi mereka bisa langsung mendapatkan kunci kamar.


"Ah...capeknya," ucap Abian sembari menjatuhkan diri diatas kasur empuk berukuran king size.


"Iya. Padahal perjalanan bisa dibilang nggak begitu jauh," timpal Ryan.


"Aku lupa bawa peralatan mandi," ujar Abian


"Kan sudah ada dari hotel," ujar Ryan.


"Nggak mau. Nanti temani aku mencarinya di mall itu," ujar Abian.


"Oke. Sekalian cari camilan buat nanti malam," ujar Ryan.


"Iya. Sekarang kita tidur aja dulu! capek banget soalnya ," ujar Abian.


Sementara itu di tempat berbeda. Anisa yang memaksakan diri untuk tetap bekerja, tampak lesu dan pucat.


"Kamu sakit Nis?" tanya Liza.


"Iya. Lesu banget ini." Jawab Anisa.


"Kenapa nggak izin saja?" tanya Liza.


"Nggak enak. Aku baru masuk kerja sudah banyak izin. Takut nanti nggak sanggup ganti shif yang lain." Jawab Anisa.


"Sudah hampir jam makan siang. Sebaiknya kamu cepat makan, setelah itu minum obat," ujar Liza.

__ADS_1


"Ya sudah aku ke kantin dulu ya? hari ini aku nggak bawa bekal. Nggak sanggup masak soalnya," ujar Anisa.


"Ya sudah." Jawab Anisa.


Anisa kemudian pergi ke kantin, dia tidak sengaja mendengar obrolan antara dua orang pria yang bekerja mengurus barang-barang masuk.


"Kemungkinan sore nanti ada alkes yang masuk dari jakarta. Kali ini barang lumayan banyak. Periksa dengan teliti, jumlah dan harga barang," ujar pria yang memiliki jenggot tipis didagunya.


"Oh ya? barang darimana?" tanya Andi.


"Jakarta. Itu loh perusahaan alkes AA Group yang viral di medsos itu. Selain barangnya bagus, harganya juga terjangkau.


Deg


Jantung Anisa terdegup dengan kencang. Saat kedua pria itu menyebut nama AA Group. Dia tahu betul siapa pemilik dari perusahaan itu.


"Oh gitu ya? aku jadi penasaran, seperti apa barangnya. Apa itu sesuai dengan keviralannya?" ujar Andi.


"Aku rasa memang kualitasnya bagus. Service pemiliknya juga bagus loh. Aku dengar-dengar dia ngantar barangnya langsung kesini. Sekalian survey barang apa saja yang kurang," ujar Tono.


Deg


Deg


Deg


"Pemiliknya kesini? apa mas Bian yang kesini? atau kak Ryan yang kesini? kenapa aku sangat ingin melihat mas Bian. Aku kangen sama dia," mata Anisa berkaca-kaca sembari mengelus perut ratanya.


4 jam kemudian....


Sebuah truck kontainer tiba di depan rumah sakit. Tidak berapa lama kemudian Abian dan Ryan datang dengan menggunakan taksi. Anisa yang hendak pulang, tidak sengaja melihat Abian dan Ryan yang tengah berjabat tangan dengan seorang pegawai rumah sakit, yang tak lain Kemas Zarkasyi yang menemui Abian di Jakarta tempo hari.


Ingin rasanya Anisa berlari ke arah Abian dan memeluk pria itu, tapi Anisa cukup menahan diri dan melepas rindu dari kejauhan.


"Kalian nginap dimana pak?" tanya Kemas.


"Arya Duta pak." Jawab Abian.


"Apa akan lama disini?" tanya Kemas.


"Cuma dua hari. Nggak bisa ninggalin kantor lama-lama." Jawab Abian.


"Sayang sekali. Kalau lama kan bisa menikmati kota palembang," ujar Kemas.


"Bisa lain kali kalau sudah punya waktu lebih senggang." Jawab Abian.


"Ya sudah. Mari kita cek langsung barangnya kedalam pak. Biar cepat kelar," ujar Kemas.


"Mari-Mari," ujar Abian.

__ADS_1


Abian akan melangkah maju. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti dan menoleh kebelakang.


"Ada apa?" tanya Ryan.


"Aku merasa ada seseorang yang memperhatikanku." Jawab Abian.


Ryan ikut menoleh kebelakang, namun tidak menemukan siapapun disana. Sementara Anisa yang merasa hampir ketahuan langung sembunyi dibelakang mobil dengan jantung yang berdebar.


"Sudahlah. Itu hanya perasaanmu saja. Kita harus cepat, nggak enak sama pak Kemas," ujar Ryan.


"Iya Ayo." Ujar Abian.


Merekapun masuk kedalam mengekor dibelakang Kemas Zarkasyi.


"Mas Bian akan pulang lusa. Kenapa aku sangat sedih? rasanya aku nggak rela dia pergi. Aku ingin dia disini, mengelus perutku. Menemani aku tidur, dan menyuapiku makan," Anisa berwajah murung.


Karena tidak ingin diketahui keberadaannya, Anisa segera pergi dari situ. Sementara itu, Abian dan Ryan mulai mengecek barang dan perhitungan harga. Setelah selesai merekapun pergi ke pusat perbelanjaan yang berada di dekat hotel tempat mereka tinggal saat ini.


*****


"Mas Bian. Aku kangen kamu mas," Anisa memeluk erat tubuh atletis milik Abian.


"Aku juga kangen sama kamu. Kamu kemana saja. Hem?" tanya Abian.


"Aku ada didekat mas. Mas cari aku ya? nggak seru kalau langsung aku kasih tahu." Jawab Anisa.


"Dimanapun kamu pergi, aku pasti akan menemukanmu. Lihat saja!" ujar Abian.


"Kalau begitu aku pergi ya! cari aku sampai ketemu," ujar Anisa yang perlahan jalan menjauh.


"Nis. Nisa...jangan tinggalin mas Nis...Nisa...." teriak Abian.


"Bi. Bangun Bi!" Ryan menepuk-nepuk pipi Abian, hingga sahabatnya itu membuka matanya.


"Anisa mana Yan?" tanya Abian.


Ryan menghela nafas saat mendengar pertanyaan sahabatnya itu.


"Dia ada di hatimu." Jawab Ryan yang kembali merebahkan kepalanya.


Abian mengusap wajahnya, karena ternyata pertemuannya dengan Anisa hanyalah sebuah mimpi. Abian mencoba berbarik kembali, dan memejamkan matanya. Dia berharap Anisa masuk kembali kedalam mimpinya, agar bisa mengobati rasa rindu dihatinya.


Sementara Itu Anisa jadi kesulitan tidur saat melihat Abian tad sore. Meski tidak bicara dengan Abian, tapi Anisa cukup lega, karena bisa bertemu dengan mantan suaminya itu.


"Maafkan mama ya nak. Bukannya mama tidak mau mempertemukan kamu dan papamu. Mungkin suatu saat kalian akan bertenu, tapi tidak untuk sekarang," gumam Anisa sembari mengusap lembut perutnya yang masih terlihat rata.


Dua hari kemudian....


Anisa menaikkan maskernya hingga menutupi hampir kebagian matanya. Pagi-Pagi sekali dia nekat memutuskan pergi ke hotel Arya Duta, hanya ingin melihat Abian untuk terakhir kalinya. Senyumnya mengembang, saat melihat Abian dan Ryan dari kejauhan. Kedua pria tampan itu tampak menyeret kedua kopernya, dan memasukkannya kedalam bagasi taksi.

__ADS_1


Air mata Anisa merebak saat melihat taksi itu perlahan menjauh meninggalkan hotel. Ingin rasanya Anisa mengejar taksi itu, dan memanggil nama Abian. Namun saat mengingat Geisha, niat itu dia urungkan.


__ADS_2