
Keesokkan harinya Anisa dan Abian pergi ke rumah Suban dengan menggunakan mobil mewah milik Abian. Suban yang baru hendak pergi ke toko, dikejutkan dengan kedatangan Abian dan Anisa yang datang secara bersamaan.
"Ayah," sapa Anisa dengan senyum semringah. Anisa juga mencium tangan Suban dan Neneng yang tengah berdiri di teras rumah itu.
Neneng melirik kearah mobil mewah berwarna hitam. Dia akui mobil itu sangatlah bagus, hingga dirinyapun ingin sekali memasukinya.
"Mas Bian. Ayo!" Anisa memberi kode pada Abian yang masih merasa canggung. Anisa tahu Abian masih berat memaafkan Suban, tapi Anisa ingin calon suaminya itu memiliki jiwa yang besar.
Abian perlahan mendekat kearah Suban. Tiap gerakkan putranya itu, Suban teliti dengan baik. Kini dia menyadari kalau Abian sudah seperti manusia normal menurut pandangannya. Abian perlahan meraih tangan suban, dan mencium tangan Ayahnya itu.
Mendapat perlakuan manis dari putranya, tentu saja Suban tidak tahan lagi untuk tidak memeluk putranya itu. Suban memeluk Abian, hingga tangisnyapun pecah.
"Kamu sudah mau memaafkan ayah?" tanya Suban disela isak tangusnya.
"Ya."Jawab Abian singkat.
"Terima kasih, terima kasih banyak," ucap Suban.
Suban kemudian mengajak Anisa dan Abian masuk kedalam rumah. Suban bahkan duduk berada satu sofa dengan Abian, karena tidak ingin jauh-jauh dari putranya itu.
"Kenapa kalian bisa bersama kesini?" tanya Suban.
"Kami memutuskan untuk rujuk kembali." Jawab Abian.
"Kalian sudah menikah lagi?" tanya Suban.
"Belum. Anisa meminta agar pernikahan kami diadakan di rumah ini. Apa boleh?" tanya Abian.
"Tentu saja boleh. Ayah sangat senang mendengarnya. Kapan rencana kalian akan menikah?" tanya Suban.
"Hari minggu nanti. Aku sudah mengurus semua surat-suratnya." Jawab Abian.
"Baiklah. Kamu tidak usah pikirkan bagaimana biaya pernikahannya. Pokoknya aku ingin menggelar pernikahan secara besar-besaran," ujar Suban.
"Mas suban mulai lagi. Waktu itu motor, sekarang biaya pernikahan. Nanti apalagi?" batin Neneng.
"Tidak usah Yah. Kami hanya numpang nikah aja disini. Biarkan biaya pernikahan saya yang nanggung," ujar Abian.
"Kamu yang nanggung dapat uang darimana? ngemis?" sindir Neneng.
"Tutup mulutmu kalau kamu tidak bisa bicara baik-baik!" ucap Suban yang membaut Neneng jadi terdiam.
"Ayah tenang saja. Uangnya sudah ada. Nanti setelah acara pernikahan digelar, aku ingin mengundang ayah sekeluarga untuk mengadakan syukuran kecil-kecilan di rumahku," ujar Abian.
Suban tersenyum. Meski dia tidak tahu Abian memperoleh uangnya darimana, tapi Suban sangat senang karena. Abian tidak lagi kaku memanggilnya Ayah.
"Ya sudah ayah menurut saja kalau begitu," ujar Suban.
"Kalau begitu kami pulang dulu Yah. Besok mungkin akan mulai ada orang yang ingin memasang tenda di depan rumah ini. Kalau ayah mau mengundang semua teman ayah ataupun tetangga, silahkan saja," ujar Abian.
"Baiklah." Jawab Suban.
Anisa dan Abian kemudian keluar dari rumah itu. Suban hanya bisa menatap Abian yang pergi dengan mobil mewah tanpa banyak bertanya.
"Lain kali kalau kamu bicara sembarangan lagi, awas kamu!" ujar Suban.
"Mas memang selalu begitu. Pilih kasih," ujar Neneng.
"Terserah aku mau pilih kasih atau tidak. Yang pasti hartaku juga milik Abian. Dia anakku, yang juga berhak menikmati harta kekayaanku. Lagipula apa kamu tidak melihat, dia sekarang sudah jadi orang berbeda," ujar Suban.
"Jangan senang dulu. Darimana sejarahnya orang gila bisa kaya raya. Kamu harus waspada, bisa jadi sekarang kerjaannya merampok setelah sembuh dari gilanya," ujar Neneng yang membuat Suban naik pitam.
Hampir saja ayunan tangan Suban bersarang di pipi lebar milik Neneng. Beruntung Suban bisa mengendalikan diri.
"Lebih baik aku berangkat ke toko, daripada meladeni wanita gila sepertimu," gumam Abian sembari melangkah pergi dari rumahnya.
Sementara itu Anisa dan Abian yang masih sedang dalam perjalanan pulang, tampak berbincang hangat.
"Sayang. Mahar apa yang kamu inginkan? aku sudah memebelikanmu set perhiasan, apa itu cukup?" tanya Abian.
"Ya ampun mas jangan berlebihan. Cukup seperangkat alat sholat aja." Jawab Anisa.
"Tidak apa-apa, sudah terlanjur dibeli juga," ujar Abian sembari tersenyum.
"Sekarang katakan padaku! kamu mau makan apa?" tanya Abian.
"Apa saja mas." Jawab Anisa.
Abianpun mengajak Anisa makan disebuah restauran mahal. Yang menyediakan aneka hidangan seafood. Anisa sangat senang dibawa kesana. Dia bahkan makan dengan lahap.
__ADS_1
Setelah menyatap makan siang, Abian membawa Anisa pulang untuk beristirahat. Sementara itu Abian pergi kesana kemari untuk mengurus acara pernikahannya akhir pekan nanti.
Tring
Tring
Tring
Ponsel Abian berdering, dan itu beradal dari Hantoro.
"Selamat sore pak," sapa Abian diseberang telpon.
"Abian tolong datanglah ke rumah! Geisha melakukan percobaan bunuh diri, karena kamu menolak dia," ujar Hantoro.
"Apa?" Abian terkejut.
"Tolonglah cepat datang kesini. Bapak mohon sama kamu Abian. Geisha putri bapak satu-satunya, bapak tidak bisa kehilangan dia," ujar Hantoro.
"Baiklah saya kesana sekarang pak," ujar Abian.
Abian bergegas memutar mobilnya, dan pergi ke rumah Geisha. Sesampai disana sudah sangat ramai para tetangga membujuk Geisha agar turun dari besi balkon di lantai 3 rumah Geisha.
"Abian. Cepat bujuk Geisha turun. Apapun harus kamu lakukan agar Geisha bisa selamat. Bila perlu aku akan menikahkan kamu dengan Geisha sekarang juga," ujar Hantoro.
"Maaf pak kedatangan saya kesini bukan buat menikah, tapi karena ingin menyelamatkan putri bapak. Geisha sudah kuanggap sahabat, tidak lebih dari itu. Saya tidak bisa mengkhianati istri saya pak," ujar Abian.
"Kamu sudah menikah?" tanya Hantori terkejut.
"Sudah pak. Bahkan istri saya sedang hamil saat ini." Jawab Abian.
Hantoro dan istrinya tampak menghela nafas. Mereka tahu mereka akan menemukan kesulitan untuk membujuk Geisha.
Abian kemudian pergi ke lantai 3 tempat dimana Geisha berada saat ini. Terlihat gadis itu sedang menangis terisak sembari menyebut namanya.
"Geisha turunlah! jangan melakukan hal konyol," ujar Abian.
"Aku tidak mau! sebelum kamu berjanji akan menceraikan Anisa, dan menikah denganku," ujar Geisah.
"Tidak bisa Ge. Anisa tengah mengandung buah cinta kami. Cinta tidak bisa dipaksakan. Kamu akan menderita sendiri kalau hidup dengan orang yang tidak mencintai kamu," ujar Abian.
"Kamu tidak mencintaiku lagi itu karena ada Anisa. Kalau Anisa tidak ada dalam kehidupan kamu, kamu pasti akan masih sangat mencintaiku Bi. Hiks...." Geisha terisak.
"Kamu salah Ge. Aku baru sadar kalau rasa cintaku itu sudah lama menghilang sejak kamu berada di luar negeri. Apa yang aku rasakan sama kamu bukanlah cinta, hanya sekedar obsesi. Aku mohon kamu jangan seperti ini, jangan merendahkan harga diri kamu sendiri. Jangan hanya karena seorang laki-laki, kamu malah akan mengakhiri nyawamu yang berharga. Pikirkan orang tuamu, dia cuma punya kamu satu-satunya di dunia ini," ujar Abian.
Aku akan mengalah demi Anisa. Please," mohon Geisha.
"Maaf tapi aku tidak bisa. Aku kesini bukan ingin bernegosiasi tentang hubungan kita, karena hal itu tidak perlu di negosiasi lagi. Sampai matipun aku tidak akan pernah menduakan Anisa. Aku kesini untuk membantu sahabatku yang sedang tersesat, yang sudah dibutakan oleh cinta yang salah. Kamu tidak pantas menderita karena cinta Ge. Kamu masih sangat muda, cantik dan berbakat. Aku yakin suatu saat nanti kamu pasti akan menemukan pria yang jauh lebih baik daripada aku," ujar Abian.
"Ge. Ayo turun nak! apa kamu tidak kasihan sama mama? setelah kamu turun kita nanti akan berdiskusi tentang kepindahan kita dari kota ini. Mungkin di tempat baru kamu akan menemukan pria yang lebih sempurna lagi. Ya Ge?" bujuk mama Geisha.
"Aku pulang dulu ya Ge. Aku tahu kamu seorang dokter yang cerdas. Karena kalau kamu samapai mati karena bunuh diri, maka tentu saja persepsiku itu jadi salah," ujar Abian.
Abian kemudian berpamitan dengan kedua orang tua Geisha. setelah Abian pergi, Geisha jadi semakin terisak. Diapun turun dari balkon dan menangis sejadi-jadinya dilantai sembari dipeluk oleh kedua orang tuanya.
Sementara Abian segera pulang ke rumah, karena dia terlalu lama meninggalkan Anisa sendirian di rumah. Selain takut Anisa bosan, disisi lain dia juga sangat merindukan calon istrinya itu.
"Sayang," Abian memanggil Anisa semabari membuka pintu kamar.
Anisa yang tengah beberes kamar jadi menoleh kearah pintu.
"Mas sudah pulang?" tanya Anisa.
"Iya. Aku membawakan ini untukmu," Abian menunjukkan dua cup rujak yang dia letakkan diatas piring.
"Makasih mas," ucap Anisa dengan mata berbinar terang.
"Ya." Jawab Abian.
"Sekarang mas harus pergi mandi. Pasti sudah bauk acem seharian pergi," ujar Anisa.
"Baiklah sayangku," ujar Abian sembari mencubit pipi Anisa yang mulai tembam.
Abian kemudian masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, diapun bergegas berpakaian dan duduk disebelah Anisa yang tengah menikmati rujak di sofa.
"Enak?" tanya Abian.
"Seger banget mas. Makasih ya," ucap Anisa.
"Sayang. Tadi aku pergi ke rumah Geisha," ujar Abian yang kemudian menjeda kalimatnya. Sementara Anisa tampak berhenti mengunyah dan menoleh kearah Abian.
__ADS_1
"Terus?" tanya Anisa.
"Aku kesana karena di telpon pak Hantoro. Itu karena Geisha sedang melakukan percobaan bunuh diri." Jawab Abian.
"Apa? kenapa Geisha melakukan hal segila itu?" tanya Anisa.
"Dia memaksa ingin aku menikahinya. Dia bahkan rela jadi istri keduaku." Jawab Abian.
"Aku tidak menyangka Geisha yang cerdas punya sisi bodoh seperti itu. Kenapa hanya karena laki-laki, dia sampai ingin mengakhiri hidupnya," ujar Anisa.
"Ya begitulah kalau sudah gelap mata. Kalau aku sampai kehilangan kamu, mungkin aku juga akan begitu," ujar Abian.
"Jangan ngomong sembarangan mas , aku nggak mau mendengarmu ngomong yang aneh-aneh lagi," ujar Anisa.
"Terus jadinya gimana si geisha? jadi bunuh dirinya?" tanya Anisa.
"Nggak tahu. Setelah aku berusaha membujuk, terus aku tinggal pulang. Ngapain aku nungguin orang kurang akal? kalau sudah nekad, lompat ya lompat aja." Jawab Abian dengan santai.
"Mas kok gitu ngomongnya? itu namanya nggak punya rasa empati mas," ujar Anisa.
"Ya mau bagaimana lagi. Salah sendiri bodoh. Lagian ya, kalau kita sibuk merayunya, dia bisa minta yang aneh-aneh. Geisha itu sudah biasa dimanjakan. Semua kemauannya selalu dituruti. Jadi sesekali dia harus merasakan kalau permintaannya di tolak," ujar Abian.
"Aukk...ah...urusan orang kaya mah ribet," ujar Anisa sembari kembali menikmati potongan mangga muda.
*****
Beberapa hari kemudian....
"SAH," jawab semua orang yang hadir di acara ijab qobul Anisa dan Abian.
Anisa sangat bahagian saat ini, karena dirinya sudah resmi menjadi seorang istri kembali. Pernikahan itu tampak meriah, karena hari itu juga langsung diadakan resepsi. Suban sengaja mengundang banyak orang untuk memeriahkan acara pernikahan putranya itu. Dan setelah acara resepsi selesai, mereka berkumpul di ruang keluarga setelah acara makan malam bersama.
"Kado kalian banyak sekali. Kalian bisa membawanya pulang ke rumah kalian nanti," ujar Suban.
"Nanti kita buka bersama ya bu. Tidak mungkin dibawa semua. Biar nanti buat keperluan di rumah ini juga," ujar Anisa yang berusaha mendekatkan diri kembali pada Neneng.
"Iya." Jawab Neneng singkat.
"Besok pagi kita semua harus pergi ke rumahku Yah. Biar kalian juga tahu rumahku," ujar Abian.
"Iya. Aku ingin tahu rumah hasil kerja kerja keras anakku," ujar Suban sembari menepuk bahu putranya.
"Ayah pasti akan bangga punya anak seperti mas Bian," ujar Anisa.
"Sejak kecil ayah memang sudah bangga padanya. Dia sangat istimewa," ujar Suban.
Setelah malam semakin larut, Anisa dan Abianpun pergi beristirahat. Mereka sanagt lelah hari ini.
"Kamu tidak sedihkan? karena keluargamu tidak ada yang datang?" tanya Abian.
"Tidak mas. Malah aku senang, kalau mereka tidak datang. Mereka datang juga buat apa, kalau mulutnya cuma bisa julid. Mending aku lupakan saja, kalau sudah pernah punya keluarga dzolim seperti mereka." Jawab Anisa.
"Baguslah kalau kamu merasa tidak terpengaruh sama sekali dengan hal itu. Aku hanya takut kamu merasa sedih dan kembali merasa di kucilkan oleh keluargamu," ujar Abian.
"Sama sekali nggak mas. Lagipula aku sudah terbiasa dengan hal ini. Sekarang kita bobok yok mas? aku sangat mengantuk dan capek," ujar Anisa.
"Iya. Kemarilah!" ujar Abian.
Anisa merapat kearah Abian, dan memeluk erat tubuh suaminya itu. Merekapun sepanjang malam tidur sembari berpelukkan.
*****
Keesokkan harinya....
Brakkkkk
Suara pintu mobil di tutup tampak terdengar oleh tetangga sekitar. Suban sekeluarga memang berencana pergi ke rumah Abian untuk bersilahturahmi.
"Jadi perkerjaanmu selama ini apa Bi?" tanya Suban.
"Aku menjalani dua profesi sekaligus. Aku minta maaf sama Ayah, karena selama ini aku sudah berpura-pura gila. Kebenarannya adalah, aku tidak pernah tinggal di rumah sakit jiwa selama ini. Setelah bersusah payah, aku mendapat beasiswa keluar negeri. Aku menganbil jurusn kedokteran, dan sudah berhasil jadi dokter kandungan."
"Selain itu aku juga menjadi seoarang pengusaha alat kesehatan. Salah seorang distributor terbesar di kota ini," sambung Abian.
Mendengar ucapan Abian, tentu saja Suban sangat terkejut, tak terkecuali Neneng sang ibu tiri. Setelah berbincang-bincang, merekapun akhirnya tiba dikediaman Abian, yang lagi-lagi membuat mulut Suban dan Neneng jadi menganga.
"Mas Bian hebat ya yah?" tanya Nisa.
"Sangat. Ayah bangga sama dia." Jawab Suban.
__ADS_1
"Jadi ternyata Abian dan Anisa sudah kaya raya sekarang? kalau begitu aku harus baik-baik sama mereka," batin Neneng.
Mata Suban dan Neneng benar-benar dimanjakan oleh kemewahan rumah Abian. Mereka juga disambut dengan hidangan lezat, untuk acara makan siang bersama.