
"Apa bisa dimulai?" tanya Penghulu.
"Silahkan pak. Saya wakilkan walinya pada pak penghulu." Jawab Sumarno.
Penghulu kemudian menjabat tangan Abian dengan jempol mereka saling bertemu.
"Abian Syahputra. Aku nikahkan dan kawinkan engkau dengan Anisa Khumairah binti Sumarno. Dengan mas kawin 10 gram emas di bayar tunai," ucap penghulu.
Jantung Suban dan Anisa berdegup dengan kencang, karena mereka sangat khawatir Abian tidak bisa menjawab ijab qobulnya. Namun di luar dugaan mereka, Abian berbicara dengan lancar hingga membuat Suban meneteskan air mata. Bukan karena jawaban ijab qobul itu yang membuat Suban terharu, tapi itu karena untuk pertama kalinya selama 12 tahun dia mendengar suara putranya kembali.
"Saya terima nikah dan kawinnya Anisa Khumairah binti Sumarno dengan mas kawin yang tersebut." Jawab Abian.
"Bagaimana saksi? Sah?" tanya penghulu
"Sah." Jawab saksi.
"Alhamdulillah," semua orang mengucap syukur.
"Dia sama sekali tidak terlihat seperti orang cacat mental. Jadi sebenarnya apa yang membuatnya terjebak?" batin Anisa.
"Silahkan kalian bertukar cincin kawin," ujar penghulu.
Anisa memulai lebih dulu, memasangkan cincin kawin yang ada ukiran namanya di cincin Abian. Begitu juga sebaliknya, Abian memasangkan cincin kawin yang ada ukiran namanya.
"Selamat ya mbak. Selamat sudah mendapatkan orang cacat mental," ucap Stevi setengah berbisik, namun masih bisa di dengar oleh Abian.
"Makasih sudah datang stevi," ucap Anisa.
"Sepertinya wanita ini memang bodoh. Apa dia tidak tahu? dirinya saat ini sedang di olok-olok oleh saudaranya?" batin Abian.
"Jadi bagaimana bisa dia layak jika dibandingkan dengan Geisha yang pintar. Bisa-Bisanya aku lemah, hanya karena terpengaruh oleh ucapan Sumarno. Aku jadi menikahi gadis bodoh ini. Sial,"
"Wah...selamat ya mbak Nisa. Semoga kalian langgeng selamanya," ucap Dea.
"Makasih De," ucap Anisa.
"Kami bertiga sudah membeli kado untuk mbak Nisa, kami mohon diterima ya mbak! ujar Mita sembari menyodorkan sebuah kotak hadiah dihadapan Anisa.
__ADS_1
"Makasih. Maaf sudah merepotkan," ucap Anisa dengan senyum tersungging di bibirnya.
Tanpa semua orang sadari, Sumarno sudah memejamkan mata untuk selamanya. Pria parubaya itu membawa senyum dalam kematiannya. Namun ketika monitor berbunyi nyaring dan membentuk garik lurus, barulah semua orang menoleh kearah Sumarno.
"Ba-Bapak. Bapak? pak bangun pak! dokter...." Anisa berteriak sekencang mungkin.
Dokter dan dua orang perawat bergegas masuk untuk memeriksa Sumarno.
"Maaf. Apa kalian bisa keluar? kami harus melakukan tindakkan," ujar dokter.
Semua orang bergegas keluar dan menunggu di depan ruangan. Anisa mondar mandir di depan ruangan itu, dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya. Sesekali dia berhenti dan melihat Sumarno dari kaca.
Ceklek
Dokter keluar dari ruangan itu dengan wajah lesu.
"Maaf Nisa. Kami sudah berusaha sebisa mungkin, tapi pak Sumarno tidak bisa diselamatkan. Dia pergi dengan tersenyum, karena mungkin dia bahagia sudah melihatmu menikah," ujar dokter.
"Ba-Bapak," bibir Anisa bergetar.
"Jangan lemah Abian. Abian yang dulu, berbeda dengan Abian yang sekarang. Sekarang kamu sudah memiliki segalanya, sekarang kamu sudah berkuasa dan mempunyai banyak uang. Apapun yang kamu inginkan, kamu bisa mewujudkannya. Kamu tidak bisa memiliki kelemahan. Karena kelemahanmu sudah tiada, sekarang hanya ada kekuatan," batin Abian sembari menyeka air matanya dengan kasar.
"Ya ampun kasihan banget sih Anisa. Sudah jadi anak yatim piyatu, punya suami gila lagi. Lengkap banget penderitaannya," ujar Stevi setengah berbisik, namun masih bisa di dengar oleh Abian.
"Iya. Kalau aku jadi dia, lebih baik aku gantung diri saja, timpal Mita.
Anisa yang melihat alat-alat penunjang kehidupan Sumarno dilepaskan, merasakan hatinya hancur.
"Bapak. Kenapa bapak ninggalin Nisa juga? bapak kan sudah janji akan sembuh. Bapak ingin melihatku menikah, aku juga sudah menuruti permintaan bapak. Tapi kenapa bapak mau pergi juga? sekarang Nisa benar-benar sendiri pak. Hiks...." Anisa terisak.
Anisa begitu terpukul dengan kepergian Sumarno. Sementara saudara-saudara bapaknya itu tidak satupun yang meneteskan air mata. Seolah mereka sudah tahu, kalau saudara tertuanya itu akan pergi untuk selamanya.
"Ada ya saudara seperti ini? aku sangat beruntung, karena kak Ardan sangat menyayangiku. Bukan saudara seperti ini, manis didepan tapi menusuk dibelakang. Dan malangnya wanita yang kunikahi adalah wanita yang tingkat kebodohannya sudah akut," batin Abian.
"Nisa. Sebaiknya kita cepat mengurus pemakaman bapak kamu! takutnya cuaca buruk dan hujan. Nanti akan kesulitan untuk para penggali kuburan," ujar Surani.
"Iya Paklek. Nisa minta tolong bantuan kalian semua ya! Nisa cuma punya kalian, jadi mohon bantuannya." Jawab Anisa.
__ADS_1
"Baiklah. Kamu urus saja administrasinya kalau begitu," ujar Surani.
Anisa bergegas mengurus administrasi, dan ternyata uang deposit masih bersisa 5 juta. Karena sibuk, dia jadi mengabaikan Abian dan mertuanya. Dan saat kembali, dia baru tersadar saat melihat Abian dan Suban.
"Ya ampun pak. Nisa minta maaf ya! Nisa...."
"Tidak apa-apa, bapak mengerti. Maaf bapak dan Abian tidak bisa membantu apa-apa. Bapak..."
"Tidak masalah pak. Nisa mengerti, tapi sebaiknya bapak dan mas Bian pulang saja dulu. Nisa mau ngurus pemakaman bapak," ujar Anisa.
Suban mendekati Anisa, dan mengusap kepala menantunya itu.
"Bapak turut berduka ya Nis. Kamu harus sabar dan kuat. Meski bapakmu sudah meninggal, tapi sekarang kamu sudah punya bapak yang akan menggantikan peran bapak kamu," ujar Suban.
"Heh. Kamu sama sekali tidak bisa menjdi seorang ayah yang baik Suban. Hanya menyiksa saja yang kamu tahu," batin Abian.
Anisa kembali menyeka air matanya yang meleleh. Sesaat kemudian dia menatap kearah Abian yang juga menatap kearahnya. Anisa mendekat kearah Abian, dan mengajak pria yang sudah menjadi suaminya itu berbicara.
"Nisa nggak tahu mas Bian bisa mengerti apa tidak dengan apa yang Nisa katakan. Tapi Nisa mau minta maaf sama kamu mas, karena untuk sementara Nisa belum bisa melakukan peran sebagai istri. Mas sama bapak dulu ya! nanti Nisa nyusul setelah tahlilan bapak," ujar Nisa dengan lembut.
Namun di luar dugaan Anisa, Abian menganggukkan kepalanya. Dan Abianpun tidak mengerti, kenapa dia melakukan itu.
"Kita akan menjemput Abian bersama-sama setelah urusanmu selesai," ujar Suban.
"Iya pak." Jawab Anisa.
"Kalau begitu kami pulang dulu ya nak," ujar Suban.
"Emm." Anisa mengangguk.
"Mas. Jaga diri baik-baik ya!" Anisa meraih tangan Abian dan menciumnya. Perlakuan Anisa itu membuat hati Abian menghangat dan berdebar.
"Pasti dia berpura-pura baik. Wanita di dunia ini tidak bisa dipercaya selain Geisha. Geishaku lebih lembut darinya," batin Abian.
"Oh ya ampun...rasanya aku ingin tertawa melihat ekspresi Abian yang tegang," batin Ryan yang mencoba menahan tawanya.
Suban, Ryan, Abian, dan dokter Yasmar kemudian meninggalkan rumah sakit. Sementara Anisa kemudian membawa jenazah Sumarno pulang dengan mobil ambulance.
__ADS_1