SUAMIKU CACAT MENTAL

SUAMIKU CACAT MENTAL
Bab 64. Berat Hati


__ADS_3

Ryan dan Abian tampak sedang melakukan boarding pass, dan segera memasuki pesawat. Namun ada yang aneh kali ini. Abian tampak banyak diam dan lebih banyak melamun.


"Kamu kenapa?" tanya Ryan.


"Entah kenapa aku merasa berat hati pulang ke Jakarta. Seperti ada sesuatu yang menahanku disini." Jawab Abian.


"Apa kamu butuh liburan lagi? kalau kamu masih ingin liburan, nggak apa-apa. Biar aku pulang sendiri saja," tanya Ryan.


"Tidak apa-apa. Kita pulang bersama saja." Jawab Abian.


Abian meraih ponsel yang dia letakkan di dalam saku celana. Pria itu bermaksud ingin merubah mode ponselnya menjadi mode pesawat. Namun saat dia baru menyentuh layar ponselnya, tiba-tiba Riko membuat panggilan.


"Ada dimana Bi?" tanya Riko.


"Ada di luar kota. Ada apa? apa kamu sudah menemukan penunjuk baru?" tanya Abian.


"Ya. Aku baru sudah melacak normor ponsel Anisa, dia saat ini sedang berada di sumatera." Jawab Riko.


"Sumatera? sumatera mana?" tanya Abian.


"Sumatera selatan. Lebih tepatnya palembang kota." Jawaban Riko sangat mengejutkan bagi Abian. Bukan mengejutkan saja, ada rasa senang bercampur rasa bahagia.


"Apa kamu menemukan titik lokasinya?" tanya Abian.


"Tentu saja. Aku akan mengirimkan titik lokasinya padamu." Jawab Riko.


"Riko. Kalau perkataanmu benar, aku akan memberikanmu bonus nantinya," ujar Abian.


"Good luck ya!" ujar Riko.


"Thank you. Kalau begitu aku akan kesana sekarang. Kebetulan aku sedang berada di palembang saat ini," ujar Abian.


"Benarkah? wah...kebetulan sekali," ujar Riko.


"Aku tutup dulu telponnya," ujar Abian.


"Oke." Jawab Riko.


Abian bergegas menurunkan koper yang ada diatas kepalanya, yang membuat Ryan jadi kebingungan.


"Ada apa? kenapa kamu menurunkan kopernya? sebentar lagi pesawat akan lepas landas," tanya Ryan.


"Aku harus tetap tinggal Yan. Sekarang aku tahu, kenapa aku begitu berat meninggalkan kota ini. Itu karena Anisa berada di kota ini juga." Jawan Abian.


"Apa?" Ryan terkejut.


"Ya. Riko barusan menelponku untuk memberitahu lokasi terakhir Anisa. Aku mau mencarinya sampai dapat Yan. Kamu kembalilah ke Jakarta. Aku titip kantor," ujar Ryan.


"Kamu tidak usah khawatir. Pergilah! aku turut bahagian untukmu," ujar Ryan.

__ADS_1


Abian bergegas turun dari pesawat sembari menyeret kopernya. Ada rasa tak sabar yang meletup-letup di dadanya saat ini.


"Sayang. Sebentar lagi kita pasti akan bertemu," batin Abian.


Setelah turun dari pesawat Abian bergegas mencari taksi. Saat melihat titik lokasi yang Riko berikan, Abian jadi mengerutkan dahinya. Karena lokasi itu sangat dekat dengan rumah sakit umum.


"Ke jalan R ya pak! dekat rumah sakit umum," ujar Abian.


"Baik pak." Jawab supir taksi.


Ada perasaan yang meletup-letup di dada Abian. Pria itu bahkan sesekali tersenyum sendiri.


"Jantungku jadi berdebar-debar begini ya!" Abian mengusap-usap dadanya.


Setelah menempuh perjalanan hampir 25 menit, Abian tiba di sebuah lokasi tempat dimana titik lokasi yang Riko kirimkan.


"Seharusnya disini. Masuk akal sih, ini sepertinya kontrakkan. Jadi Anisa ngontrak disini?" gumam Abian setelah turun dari taksi.


Abian melihat ada 5 buah bedeng yang berjejer di tempat itu. Pria itu terlihat melihat ke kiri dan ke kanan.


"Cari siapa pak?" tanya seorang wanita parubaya.


"Mau cari kontrakkan bu. Yang punya kontrakkan itu siapa ya bu?" tanya Abian.


"Kebetulan saya yang punya pak." Jawab ibu Mira.


"Apa masih ada yang kosong bu? saya mau ngontrak," tanya Abian.


"Oh ya? siapa namanya?" tanya Abian.


"Anisa. Dia kerja di rumah sakit umum." Jawab ibu Mira.


Jawaban ibu Mira membuat jantung Abian jadi tambah berdebar. Dia tidak bisa melukiskan betapa bahagianya dia saat ini.


"Saya ambil bu. Kebetulan saya baru diterima bekerja di rumah sakit umum juga," ujar Abian.


"Ya sudah. Sebentar saya ambil kuncinya dulu. Apa kamu tidak keberatan dengan harganya? kontrakkannya 8 juta satu tahun. Tapi kalau belum ada uangnya, boleh ambil 6 bulan dulu," tanya ibu Mira.


"Oke. Saya ambil 6 bulan dulu bu," ujar Abian.


"Sebentar saya ambil kunci dulu ya. Kontrakkannya sudah di bersihkan. Cuma kamu harus beli tempat tidur dan tikar saja. Soalnya disana nggak ada fasilitas apapun," ujar ibu Mira.


"Oke." Jawab Abian.


Abian tidak ingin menanyakan keberadaan Anisa pada ibu Mira, karena dia tidak ingin menimbulkan kecurigaan. Dia juga tidak ingin Anisa kabur saat tahu dirinya berada di tempat itu.


Setelah Abian mendapatkan kunci rumah itu. Abian segera pergi mencari tempat tidur, kipas, dan juga tikar. Dia berencana akan memenangkan hati Anisa dari awal lagi. Dia tidak ingin membiarkan Anisa meragukan cintanya, dan kembali kabur dari sisinya.


Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Abian bergegas pulang dan beristirat. Sementara itu ditempat berbeda, Anisa yang tengah galau kini berada di BKB. Menikmati udara pagi, sembari menatap sungai Musi. Dia sangat sedih, karena tidak bisa melihat Abian lagi.

__ADS_1


"Kapan kita akan ketemu lagi mas. Aku masih kangen sama kamu mas," batin Anisa.


Matahari mulai meninggi, Anisa sudah mulai tidak tahan, karena sengatan matahari. Diapun memutuskan untuk pulang.


Berulang kali Abian melihat kearah jendela, dia berharap bisa melihat Anisa. Karena dia tidak tahu Anisa saat ini berada di rumah, atau bekerja di rumah sakit. Namun tidak lama kemudian, dia melihat Anisa berjalan dengan langkah gontai, dan dengan pakaian biasa.


"Kenapa wajahnya terlihat pucat? apa dia sedang sakit? ah...aku ingin sekali memeluknya," gumam Abian.


Abian bisa melihat, Anisa tengah menenteng dua kap rujak berukuran besar.


"Sepertinya dia memang sedang sakit, dan pengen makan rujak. Kasihan dia, disini pasti tidak ada yang ngurus," gumam Abian.


Dan pada sore harinya, Abian melihat Anisa mengenakan seragam putih. Kini Abian mengerti, kalau Anisa dinas malam hari ini. Dan keesokkan paginya Abian melihat Anisa pulang dengan wajah lesu. Tidak hanya itu, Anisa tampak sedang menahan sesuatu sembari menutup mulutnya.


Anisa membuka pintu dengan tergesa-gesa dan menguncinya setelah masuk kedalam rumah.


Hoekk


Hoeekk


Hoekkk


Anisa muntah di dalam kamar mandi. Tentu saja Abian mendengar hal itu. Dan Abian mendengar Anisa muntah-muntah dengan waktu yang lama. Ingin rasanya Abian mengetuk pintu rumah Anisa, tapi dia ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu.


"Hiks...Hiks..." Anisa yang merasa tersiksa langsung terisak. Tubuhnya terasa lemas setelah memuntahkan semua sarapannya.


"Anisa menangis? apa sakitnya separah itu?" batin Abian.


"Hiks...mas Bian...mas Bian...Hiks..."


"A-Apa aku tidak salah dengar? dia menyebut namaku kan?"


Tangisan Anisa terdengar pilu ditelinga Abian.


Tok


Tok


Tok


"Nisa...Nisa," seorang wanita mengetuk rumah Anisa.


Anisa bergegas keluar, dan mendapati tetangganya berdiri di depan pintu. Sementara Abian dengan setia menguping pembicaraan antara Anisa dan tetangganya itu.


"Nisa maaf. Ayuk sudah cari ikan salmon di pasar, tapi nggak dapat. Ikan itu sangat mahal, kata orang cuma ada si super market," ujar Narti sembari mengulurkan uang 200 ribu milik Anisa.


"Nggak apa-apa Yuk. Nanti biar Nisa beli sendiri di super market," ujar Anisa.


"Semoga anak kamu nggak ngiler ya Nis," ucap Narti sembari mengelus perut Anisa.

__ADS_1


Mendengar ucapan Narti, tubuh Abian jadi menegang. Namun tentu saja perasaan bahagia lebih dominan. Karena dia tidak ragu sama sekali, kalau bayi yang di kandung Anisa adalah anak kandungnya.


__ADS_2