
Pada saat tangan Pardy tertembak, anak buah Pardy yang mendengar suara tembakan tersebut langsung menemui Pardy keruangan dimana Martin dan Laras di sekap.
Dalam seketika keributan pun terjadi, anggota Pardy dan anggota Alvaro seketika beradu silat mereka masing-masing.
Salah satu dari anggota Alvaro langsung membebaskan ikatan Laras dan Martin.
Laras dan Martin tidak tinggal diam, mereka berdua pun ikut ambil bagian untuk membantu tim mereka.
kebetulan Laras pun sangat ahli di bidang tersebut.
kini sebagian anggota Pardy melarikan diri termasuk Pardy dan sebagainya lagi tidak sadarkan diri.
karena anggota Alvaro menyerang markas Pardy dengan secara tiba-tiba membuat tim Pardy tidak memiliki persiapan untuk hal itu dan akibatnya kebanyakan anggota Pardy tidak sadarkan diri dan ada beberapa diantara mereka yang meninggal.
sementara Anggota Alvaro hanya luka lecet saja.
" mari kita pergi, kita tinggalkan tempat ini." kata Martin kepada teman-temannya
" lalu bagaimana dengan mereka bos??" kata salah satu dari mereka
" biarkan saja, bos mereka yang mengurus nya" kata Martin
Martin dan yang lainnya pun pergi meninggalkan tempat itu.
"Kak Al selalu saja melibatkan ku dalam hal apapun, tidak bisakah dia melepaskan aku sekali saja." kata Laras sambil membuka topeng nya setelah itu dia melemparkan topeng tersebut ke dasbor mobil dengan sembarangan.
" apa kamu takut mati?" kata Martin sambil pokus menyetir mobilnya.
" tidak, aku tidak pernah takut untuk mati. hanya saja aku tidak terima jika aku mati tanpa menemukan jodoh ku terlebih dahulu." kata Laras
"memangnya siapa laki-laki yang tertarik padamu" kata Martin
" banyak lah, memangnya kamu. seumur-umur belum pernah merasakan pacaran." kata Laras
" memangnya kamu pernah merasakan nya?" kata Martin
" yah pernah lah,,," kata Laras
" itu bukan pacar namanya, laki-laki menjadikan kamu sebagai pacarnya hanya untuk memanfaatkan kamu saja." kata Martin
" itu terjadi karena kamu dan kak Al... kalian menjadikan aku sama pasangan ku bagaikan tahanan. akibatnya dia tidak tahan dan akhirnya dia selingkuh" kata Laras
" jika memang dia benar-benar sayang padamu pastinya itu tidak masalah bagi dia jika kami memperlakukan mu seperti itu."
" kita pada saat itu tinggal bertiga di luar negeri, hanya kami berdua Keluarga yang kamu miliki disana. kami hanya tidak ingin kamu terlalu bebas dalam melakukan pergaulan."
" pergaulan luar negeri dan pergaulan di negara kita ini berbeda, itu sebabnya kami memperlakukan mu seperti itu." kata Martin
" alasan saja,,, aku kenal kalian berdua, aku tahu kalian berdua tidak akan pernah berubah." kata Laras
" tapi jika dilihat-lihat tuan Andrewis lumayan juga, sepertinya itu cocok dengan mu." kata Martin
" eee.... sembarangan kalau ngomong, dia bukan tipeku dan aku tidak tertarik dengan pria lokal. dan lagian umur kami hanya beda satu tahun, aku mau umurnya harus jauh lebih tua dariku" kata Laras
" umur tidak penting, yang penting itu hatinya." kata Martin
__ADS_1
" oh ya.... jika begitu ibu Anggun pun sangat cantik sepertinya dia pun sangat cocok dengan mu" kata Laras
" memangnya kamu mau jika ibu Anggun jadi kakak ipar mu?" kata Martin
" jika sudah itu jodohmu kenapa tidak?" kata Laras
Martin membawa Laras kerumahnya Anggun untuk menemui Alvaro karena Alvaro menyuruh mereka untuk datang.
" kita mau kemana ini??" kata Laras
" kerumah ibu Anggun." kata Martin
" kita mau ngapain kesana?" kata Laras
" mau melamar ibu Anggun" kata Martin
" apa??? hahahaha..... seleramu bagus juga." kata Laras
" bukan aku, tapi kamu." kata Martin
" tapi jika di pikir-pikir, aku tidak nyangka bahwa kak Al bisa maafin ibu Anggun" kata Laras
" bagaimana pun dia ibunya" kata Martin
" memang benar, tapi setelah mengingat bagaimana ibu Anggun meninggalkan kak Al." kata Laras
" seharusnya kamu bersyukur lah hubungan mereka kini sudah membaik." kata Martin
kini mereka sudah tiba dirumah Anggun. Martin sudah menelpon Alvaro lebih dulu dan Alvaro menunggu mereka di depan pintu.
" ayo mari masuk." kata Alvaro
" baik tuan" kata Martin
" kak Al berutang banyak padaku" kata Laras sambil berjalan masuk kerumahnya Anggun
" iya.... nanti aku akan bayar" kata Alvaro
" enak saja mengatakan bayar, kakak pikir segampang itu." kata Laras
" terus maunya kamu gimana?" kata Alvaro
" aku tahu kakak memiliki segalanya, uang tidaklah masalah bagi kakak. aku tidak ingin dibayar dengan uang." kata Laras
" jadi pakai apa?" kata Alvaro
" pakai apa yah???" kata Laras berpikir sambil melihat Grace.
" aku tahu sekarang. begini saja, jika keponakan ku nanti laki-laki dan jika aku memiliki anak perempuan maka kita harus jodohkan mereka." kata Laras
" tidak.... tidak... kasihan anakku nanti." kata Alvaro
" kenapa kasihan??" kata Grace
" cukup bapaknya saja yang merasakan betapa galaknya bibinya, jangan sampai anakku ikutan juga." kata Alvaro
__ADS_1
" Eh.... ada tamu rupanya" kata Anggun yang tiba-tiba datang bersama dengan Andrewis dan bergabung dengan mereka.
" hai tante..." kata Laras dan Martin menyalam tangan Anggun
" silahkan duduk" kata Anggun
" ternyata Tante Anggun aslinya sangat cantik. pantasan kak Martin tergila-gila pada Tante." kata Laras mengagumi Anggun
" Laras....." kata Martin
" hahahaha.... Laras apa yang kamu katakan" kata Alvaro
" benarkah?? cantik darimana nya, tante sudah semakin tua dan kulit tante pun semua nya sudah keriput." kata Anggun
" Aku serius kak Al, kak Martin tadi bilang kita kesini mau...m.....m....m" kata Laras berusaha menyelesaikan perkataannya namun Martin sudah menutup mulut Laras terlebih dahulu.
sementara orang-orang yang disana penasaran namun mereka tersenyum melihat kedua anak kembar itu.
" Martin ada apa ini, kenapa kamu menutup mulutnya Laras" kata Grace
" tidak nyonya, Laras memang selalu seperti itu, suka mengada-ada." kata Martin
" eh... sembarangan, kamu saja yang tidak bertanggung jawab dengan perkataan mu." kata Laras kesal
" Martin ada apa ini sebenarnya?" kata Alvaro
" aku tidak ingin kamu yang menyampaikan hal ini, ini urusan ku biarkan aku yang menyelesaikan nya." kata Martin
" benarkah??? kakak serius??" kata Laras
" iya serius lah,,, makanya kamu diam jangan potong perkataan ku." kata Martin
" baiklah katakan lah" kata Laras
" sebelumnya saya minta maaf atas kelancangan saya." kata Martin mulai berbicara serius.
" tante Anggun, tuan muda Al, nyonya Grace dan juga tuan Andrewis." kata Martin dan sementara mereka semua sangat serius mendengarkan Martin berbicara termasuk Laras.
" maksud tujuan kedatangan saya dan Laras kesini adalah untuk menyampaikan atas apa yang dirasakan Laras kepada tuan Andrewis. Laras menyukai tuan Andrewis" kata Martin dengan muka tidak bersalah.
Andrewis langsung melihat ke arah Laras sementara Laras sangat syok mendengar perkataan Martin.
" Laras apakah itu benar?" kata Alvaro
" tidak masalah, Laras sangat cantik dan lagi pula dia anak yang baik" kata Anggun
" tidak.. tidak...tante" kata Laras merasa malu pada Andrewis sementara Martin tersenyum dan tidak perduli dengan perasaan Laras.
" bagaimana tuan Andrewis??" kata Martin
" jika mami setuju, maka aku juga setuju." kata Andrewis
Sementara Laras tidak tahu harus berkata apa-apa lagi. tidak mungkin dia mengatakan bahwa Martin bercanda melihat respon Anggun dan yang lainnya.
Jika Laras mengatakan perasaan itu tidak benar, maka mereka sama saja sedang mempermainkan keluarga Alvaro dan tidak memikirkan perasaan keluarga itu.
__ADS_1
Mau tidak mau akhirnya terpaksa Laras harus berpura-pura menjalani Kebohongan itu.