
Kini tiga puluh menit berlalu belum ada kabar dari Vivet, Alvaro menunggu di tempat yang tidak jauh dari rumah Bondan. dia sudah merasa cemas sementara hari sudah semakin gelap.
Dia sangat takut, bagaimana jika Vivet menipu mereka. jika pun tidak, apa dia berhasil. itu yang dipikirkan oleh Alvaro.
Sementara Vivet pergi ke dapur umum.
" bos ada apa?" kata salah satu koki disana
" apa semuanya sudah makan?" kata Vivet
" belum bos, kami baru saja siap memasaknya apa bos sudah lapar?" kata Koki tersebut
" iya aku sudah sangat lapar, mungkin karena mereka tidak memberi ku makan" kata Vivet
" jika begitu, mari aku bantu untuk menyajikan makanan bos" kata koki tersebut
" tidak usah, aku bisa sendiri." kata Vivet
" bos itu apa??" kata Koki tersebut menyadari bahwa Vivet memegang sebuah botol cairan
" oh ini.....ini vitamin yang di campurkan kemakanan atau minuman. kamu tahu kan Adifa dari dulu menyukai ku dia selalu memperlakukan ku istimewa."
" katanya ini dapat menyegarkan tubuhku dan membuat ku akan semakin sehat."
" namun aku tidak menyukai caranya, apa bedanya aku dengan kalian. aku ingin kita sama-sama sehat." kata Alvaro memasukkan cairan itu kedalam makanan untuk para khusus pengawal.
" dari dulu bos memang yang terbaik" kata Koki tersebut
__ADS_1
" apa kamu tidak ingin mencoba bagaimana rasanya? kamu kan seorang koki dan masalah seperti ini kamu yang paling handal" kata Vivet
" iya bos benar, sini biar aku cicipi dulu." kata Koki tersebut dan mencicipi sedikit makanan itu
" bos tidak ada rasa yang unik, sepertinya vitamin itu rasanya tawar." kata koki itu
" iya mungkin makanya Adifa menyuruhku untuk mencampur kan nya dengan makanan agar aku bisa mengkonsumsi nya" kata Vivet
" huah....." koki itu kini sudah menguap dan sepertinya obat itu sudah mulai bereaksi.
" bos aku mengantuk, satu harian ini aku sangat lelah, aku ingin tidur" kata koki itu yang kini sudah tidak mampu lagi menahan tidurnya.
" pergilah tidur" kata Vivet menjawab dengan santai
Koki tersebut pergi kedalam kamarnya untuk tidur, Setelah itu Vivet kembali keruang perawatan.
setelah beberapa menit kemudian kini waktunya untuk mereka makan, Vivet mengajak Adifa terlebih dulu makan bersama nya.
Setelah sepuluh menit berlalu, semua para pengawal sudah merasa ngantuk sementara Adifa sudah tertidur.
Vivet mempergunakan kesempatan ini, dia pergi menemui Bondan.
"ada apa tuan menyuruh saya untuk menemui tuan" kata Vivet
" bagaimana keadaan mu sekarang" kata Bondan
"saya sudah membaik tuan" kata Vivet
__ADS_1
" mari kita makan bersama Vivet." kata Bondan
" saya sudah makan terlebih dulu tuan, bagaimana jika main golf. saya akan setia menemani anda tuan." kata Vivet
" dari dulu kamu yang terbaik yang mengerti bagaimana aku dan yang aku inginkan." kata Bondan
" terimakasih tuan." kata Vivet
" tapi untuk mengambil posisi ketua kamu tidak bisa lagi, aku sudah sempat mengganti mu aku pikir bahwa mereka sudah membunuh mu." kata Vivet
" lalu jika mereka membunuh ku apa tuan tidak ingin membalas perbuatan mereka?" kata Vivet.
" itu yang ingin aku lakukan, untuk menghancurkan Alvaro itu sebabnya nya aku menculik istrinya. "
" antara istri dan perusahaan pasti sangat berat baginya. jika saya mengancam dia menggunakan istri dan anaknya pasti mau tidak mau dia akan memberikan seluruh perusahaannya kepada ku."
"dan saat itu tiba aku akan membunuhnya beserta istri dan anaknya juga." kata Bondan
" benarkah?? saya pikir anda melakukan itu hanya dendam bisnis bukan dendam pribadi." kata Vivet
" saya melakukannya demi keduanya, jadi kamu jangan pernah mencoba untuk menghianati aku." kata Bondan, seketika Vivet menelan ludahnya.
" menghianati tuan??? maksud anda....?" kata Vivet berhenti berbicara karena Bondan memotong pembicaraannya.
" maksud saya kamu jangan pernah meragukan kepercayaan ku terhadap mu." kata Bondan
" itu tidak akan pernah terjadi tuan, saya akan selalu setia untuk tuan " kata Vivet dan langsung menusukkan jarum itu ke Bondan namun dengan cepat Bondan menyadari nya.
__ADS_1