
Andrewis langsung pergi menemui Anggun.
" mami Andrewis datang mi." kata Andrewis mencium kening Anggun
" Mami sudah tahu itu," kata Anggun tersenyum
" mami ada apa dengan Laras mi, apa yang kalian bicarakan dengan begitu lama." kata Andrewis bertanya langsung pada intinya.
" nak Menikah lah dengan Laras." kata Anggun
Andrewis terdiam untuk sesaat, namun dia langsung menyadarkan dirinya sendiri agar Anggun tidak khawatir dengan perasaan nya.
" apa yang mami katakan" kata Andrewis tersenyum
" mami sangat ingin melihat mu Menikah nak." kata Anggun
" Andrewis juga sangat ingin menikah mi, tapi Menikah itu tidak gampang, terlebih lagi Andrewis harus menyelesaikan pendidikan Andrewis dulu."
" dan lagian Andrewis belum menemukan wanita yang tepat untuk Andrewis." kata Andrewis
" kenapa belum?? Laras sudah ada di depan mata kamu." kata Anggun
" mami.... Andrewis dan Laras tidak saling mengenal satu sama lain, kami bertemu baru dua hari yang lalu mi."
" butuh waktu yang banyak buat kami untuk saling mengerti satu sama lain, apa jadinya pernikahan jika tidak saling mencintai." kata Andrewis
" mami mengerti kekhawatiran kamu nak, tapi mami yakin kalian berdua pasti akan bahagia nanti selain itu Laras juga anak yang baik." kata Anggun
" bukan masalah baik atau tidak mi... dan sepertinya Laras juga tidak ingin menikah, soal perasaan Andrewis, mami tidak usah khwatir, lalu bagaimana dengan perasaan Laras mi kita harus ngertiin dia dong " kata Andrewis
" bukankah kamu tahu jelasnya bahwa Laras menyukai mu, mami merasa sangat bahagia saat kakaknya mengungkapkan itu, setidaknya mami sudah bertemu dengan wanita baik-baik yang menyukai putraku." Kata Anggun
" Andrewis merasa penyakit mami ini bukanlah alasannya mami memaksa Andrewis menikah, Andrewis merasa ada sesuatu yang mami pikirkan, Andrewis mengerti mami. katakan pada Andrewis mi ada apa sebenarnya?" kata Andrewis
" sebenarnya mami hanya ingin membayar utang budi mami pada keluarga Karsha, kamu tahu sendiri kan kakak kamu Al sudah menikah, jika tidak mungkin mami akan meminta kakak kamu yang menikah dengan Laras."
" melihat Bagaimana cara mereka membesarkan kakak kamu."
" tapi Tuhan tidak memberiku kesempatan untuk membalas utang budi tersebut."
" Hanya kamu yang bisa mami andalkan untuk sekarang ini nak, setidaknya bayar hutang mami pada mereka. Mami ingin hubungan ini tidak berhenti disini saja, keinginan terakhir mami ingin tetap mempertahankan nama keluarga Karsha didalam keluarga kita."
" apa kamu bersedia nak untuk menuruti permintaan mami nak" kata Anggun
" Andrewis menerima permintaan mami tapi bagaimana dengan Laras mi?" kata Andrewis
" mami sudah berbicara pada Laras, kita hanya menunggu jawaban nya saja "
" tapi bisakah kamu pegang rahasia ini nak?" kata Anggun
" iya mi.." kata Andrewis
Laras pergi menemui Martin, Laras mengambil handphone nya dan langsung menghubungi nomor Martin.
" Martin dimana kamu?" kata Laras sambil mengemudi.
__ADS_1
" di apartemen" kata Martin mengerutkan keningnya, dia tahu pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan Laras karena Laras tidak biasanya memanggil namanya dengan secara langsung.
Tanpa berkata apa-apa Laras Langsung mematikan ponselnya. setelah beberapa menit kini Laras sudah tiba di apartemen milik Martin, Laras langsung mengetik sandi pintu Martin karena dia dan Alvaro tahu sandi pintu Martin.
" ada apa??" kata Martin Setelah Laras masuk dia melihat Martin duduk disofa dengan santainya dan ditemani dengan minuman beralkohol.
" puas kamu hah...?" kata Laras dengan emosi
" puas atas apa." kata Martin dengan santainya.
" kamu tahu akibat sifat kamu yang kekanak-kanakan itu membuat aku dalam masalah besar?" kata Laras melemparkan bantal dengan keras kepada Martin.
" maksud kamu apa? aku tidak mengerti." kata Martin
" tante Anggun meminta aku menikah dengan Andrewis." kata Laras
" hahahaha.... apa?" kata Martin tertawa
" bukan nya kamu merasa bersalah, kamu malah tertawa." kata Laras semakin kesal
" iya bagus dong" kata Martin
" bagus apanya??"
" Martin kamu tahu kan bahwa aku tidak menyukai Andrewis, apa kamu mengerti itu?" kata Laras
" jika kamu tidak suka, kamu bisa menolak nya gampang kan??" kata Martin
" kamu pikir segampang itu, apa kamu tidak tahu bahwa keadaan tante Anggun sekarang sedang buruk. jika aku menolaknya dan jujur kepada tante Anggun soal yang sebenarnya apa yang akan terjadi kepada tante Anggun??"
" jika begitu maka Menikah saja dengan Andrewis apa susah nya sih." kata Martin
" aku rasa otak kamu sudah bermasalah yah, percuma saja aku jelasin A sampai Z padamu tapi kamu tetap tidak mengerti." kata Laras
" terus mau kamu aku harus berkata apa??" kata Martin sambil melanjutkan meminum minuman nya.
" iiiiiihhhh......." kata Laras semakin geram melihat sikap Martin.
" setidaknya dengan begitu kamu bisa melupakannya dan cobalah membuka hatimu pelan-pelan untuk Andrewis." kata Martin berbicara serius.
" apa maksudmu??" kata Laras
" aku tahu selama ini kamu diam-diam mencintai Alvaro." kata Martin.
mendengar perkataan Martin, wajah Laras langsung merah dan kaku.
" a... apa...yang kamu katakan, aku tidak mengerti." kata Laras terbata-bata.
" sudahlah kamu tidak usah menyembunyikan nya dariku, apa kamu lupa? kita ini kembar ikatan batin kita sangat kuat tentu saja aku tahu apa yang kamu rasakan " kata Martin dan Laras hanya membuang wajahnya agar Martin tidak bisa melihat wajahnya dengan sepenuh nya.
" Laras Alvaro bukan jodoh kamu, dan lagipula dia tidak pernah melihat mu sebagai seorang wanita. dia hanya menganggap mu adik perempuannya dan tidak lebih dari itu."
" dan menurutku adik ebih baik daripada pacar atau apalah itu. dan lagian Andrewis adalah orang yang baik, tidak ada salahnya kamu coba menerima nya dan buka hatimu dengan pelan-pelan karena sampai kapanpun kamu tidak akan bisa memiliki Alvaro karena Alvaro sudah menikah."
" ini saatnya untuk mu merubah hidup mu " kata Martin
__ADS_1
" sejak kapan kamu tahu?" kata Laras
" sejak pertama kali ayah membawa Alvaro kerumah kita, sejak itu aku sudah tahu bahwa kamu jatuh cinta pada Alvaro dan alasan kamu untuk berpacaran dengan para laki-laki itu untuk menarik perhatian Alvaro."
" kamu sengaja melakukan itu karena kamu tahu bahwa aku dan Alvaro tidak akan membiarkan kamu bergaul dengan sembarangan, itu sebabnya kamu sengaja melakukan nya dengan maksud agar Alvaro selalu memperhatikan kamu." kata Martin
" baiklah jika kamu sudah mengetahuinya maka aku tidak akan menyembunyikan nya lagi."
" lalu apa yang akan aku lakukan?." kata Laras
" keputusan ada di tangan mu, lakukan sesuai dengan kata hatimu dan aku rasa Tante Anggun mengerti dengan keputusan mu." kata Martin
" tapi aku takut mengecewakan tante Anggun kak jika aku menolaknya dan jika aku menerima nya lalu bagaimana dengan ayah" kata Laras mulai melunak
" jika kamu menerima pernikahan itu maka urusan ayah serahkan saja pada ku." kata Martin
" tapi aku hanya punya waktu hari ini saja kak, karena tante Anggun meminta jawaban ku besok" kata Laras dan tiba-tiba Handphone Laras berdering disana nomor tidak dikenal memanggil.
" tunggu sebentar," kata Laras pada Martin
" Hallo" kata Laras
" halo, bisakah kita bicara?" kata Penelepon
" siapa ini?" kata Laras
" aku Andrewis" kata Andrewis seketika Laras terdiam dia melihat kearah Martin.
Martin bertanya dengan gerakan matanya Kepada Laras.
" Andrewis" kata Laras tidak mengeluarkan suara nya dan hanya gerakan bibir saja.
"......." Martin mengangguk
" Laras... apa kamu masih disana?" kata Andrewis karena Laras diam.
" ah...i..i..ia, kenapa tadi?" kata Laras
" bisakah kita bicara? cuman sebentar kok" kata Andrewis
" iya baiklah tapi dimana?" kata Laras
" memangnya kamu dimana sekarang?" kata Andrewis
" a..a..aku dirumah" kata Laras sambil melihat kearah Martin
" aku kesana sekarang yah, bisakah kamu share koleksi mu?" kata Andrewis
" baiklah " kata Laras
setelah itu pembicaraan merekapun terputus.
" kak aku harus pulang sekarang, Andrewis mau kerumah." kata Martin
" pergilah selesaikan masalah mu" kata Martin
__ADS_1
Laras pun langsung pergi meninggalkan apartemen Martin.