
Rutinitas di setiap pagi yaitu saat mempersiapkan keperluan anak-anaknya untuk berangkat ke sekolah.
Drama selalu di mulai ketika membangunkan anak-anaknya agar tidak kesiangan.
Ita yang selalu di kenal wanita pendiam dan tak banyak tingkah, maka hal itu tidak terjadi jika menghadapi drama yang selalu di hadapinya.
Hal yang paling memancing emosinya adalah saat membangunkan anak-anaknya untuk bangun shalat subuh.
''Kakak, adekkk.. Bangun, ayok bangun semuanya, keburu waktunya habiiss..'' Teriak Ita yang akhirnya keluar juga.
Karena sejak tadi yang di bangunkan hanya miring kanan balik kiri lalu mejamkan mata lagi.
"Hoaaaammmm''
''Ngantuk Bun...''
''5 menit lagi..''
Ucap mereka bergantian dengan suara serak khas bangun tidur.
''Nggak ada nanti-nanti, ayok bangun..''
Tolak Ita.
Akhirnya mereka bangun dengan mata masih sangat lengket.
Kemudian mereka berjalan pelan-pelan untuk mengambil wudhu.
''Pelan-pelan awas nabrakkk...''
''Kaaann...''
Si bungsu Arisa nabrak dinding karena jalan sambil merem.
''Sakiittt hiks hiks..''
''Hati-hati ya Nak, lain kali kalau jalan nggak boleh merem ya, kan dindingnya diam terus di sini nggak pernah kemana-mana..''
''Udaaah, bentar lagi sembuh, anak Bunda nggak boleh nangis..'' Bujuknya.
Arisa mengangguk patuh dan berjalan ke tempat wudhu di temani oleh Bundanya.
Setelah selesai sholat, mereka nonton kartun sembari nunggu waktu untuk mandi.
Ita membantu Mbak Desi di dapur.
''Biar saya aja lo Bu..''
Ucap Desi tidak enak hati.
''Udaahh nggak papaa, cuma bikin sarapan buat anak-anak aja kok..'' Jawab Ita.
''Hehe jangan-jangan nanti gaji saya di potong nih..'' Canda Desi.
''Wahh ide bagus tuh, hahaha..'' Kata Ita mengikuti candaan Desi.
''Aduuuhhh salah ngomong..'' Ucapnya sambil menepuk keningnya sendiri.
''Jangan dong Buuu.. Ibu nggak kasian apa sama saya Bu, modal buat nikah Bu, ahhh Ibu..'' Ucap Desi memohon.
''Hahaha, canda Mbak..''
Jawab Ita sambil mengusap rambut Desi.
Hehe..
Desi cuma nyengir melihat sikap bosnya.
Bu Ita baik, bahkan sangat baik, sayang keluarga, cantik, pintar, mandiri masih mau kerja sendiri, walaupun keluarganya dari orang kaya semua tapi beliau tetap rendah hati.
Sebenarnya apa yang di cari sama Pak Yuda?? ~ batin Desi.
__ADS_1
Flashback
Hari itu mereka sedang nyore ke taman bermain.
Mama dan Mbak Desi juga ikut serta.
Hal yang pasti tidak pernah ketinggalan yaitu mengabadikan momen dengan berfoto-foto.
Di satu momen Mbak Desi memegang ponsel milik Ita untuk memotret mereka, karena sejak awal semua foto menggunakan ponsel Ita.
Setelah selesai memotret, Mbak Desi langsung meminta izin untuk memilih foto-foto yang akan di kirim ke nomornya.
"Bu, pinjam ya mau ngirim foto.." Izin Mbak Desi.
"Iya.." Jawab Ita singkat.
Karena ia, Yuda, dan Mama sedang asyik melihat anak-anak bermain.
Mbak Desi langsung gerak cepat membuka aplikasi penyimpanan foto.
Ntah apa yang ada di pikirannya sehingga ia malah salah klik penyimpanan bagian WA.
Dan kedua matanya langsung melotot ke sebuah foto, tanpa menunggu lama, ia langsung membuka dan membesarkan foto tersebut.
Pak Yuda..~ batinnya.
Desi langsung cepat-cepat kembali ke bagian camera dan memilih foto-fotonya , lalu dengar cepat ia menandai semua foto dan video yang akan ia kirim.
"Makasih ya Bu.."
Ucap Mbak Desi saat mengembalikan ponsel milik bosnya.
"Iyaa.." Jawab Ita singkat lagi saat menerima ponselnya.
Demi Allah aku menjadi tidak tenang..
Ya Allah tolong aku..
Setelah mengantar anak-anaknya ke sekolahan masing-masing, Yuda bersiap-siap untuk berangkat survey lokasi yang sedang di handle oleh Yoko.
"Kamu mau langsung ke kota X Mas?" Tanya Ita.
"Iya sayang.." Jawab Yuda lembut.
"Maaf ya nggak bisa ngantar dan nggak bisa jemput anak-anak nanti.." Kata Yuda.
"Iya Mas nggak papa, hati-hati ya.." Ucap Ita.
Yuda mengangguk lalu mencium kening istrinya dan berpamitan.
Ita tersenyum tipis melihat sikap Yuda yang seperti tidak menyimpan sesuatu.
Ita lalu bergegas ke ruangan tengah untuk berpamitan dengan Mama.
"Ita ke kantor dulu ya Ma.." Pamit Ita.
"Iya Nak, hati-hati ya, jangan ngebut.." Pesan Mama.
"Iya Ma.." Ucap Ita lalu mencium pipi Mama.
Ita tidak langsung ke kantor, karena hari ini ia akan mengunjungi tempat produksi yang lokasinya juga tidak jauh dari tempatnya bekerja.
"Selamat pagi Bu Ita.." Sambut security menunduk sopan.
"Pagi Pak Rahman.." Jawab Ita ramah.
Ita lalu memarkirkan mobilnya di samping mobil-mobil lainnya, dan segera ia masuk ke dalam bangunan yang sangat luas tersebut.
Karena produsen furniture ini sudah sangat terjamin kualitasnya, maka tak heran jika banyak dari kantor-kantor serta rumah-rumah mewah yang berlangganan di sini.
__ADS_1
Setelah menyapa orang-orang yang ia temui, Ita langsung menemui bagian desain.
Perusahaan ini menyediaan pembuat desain khusus, sehingga apa yang mereka produksi jelas tidak ada yang menyamai.
Tok tok..
Ita mengetuk pintu.
Masuk.. ~ Suara dari dalam ruangan.
Cekleekk.. "Ita membuka pintu"
"Ehh Bu Ita, silakan Bu.." Ucap Marchel ramah.
"Terimakasih Marchel.."
Mereka membahas perkembangan tentang desain dan juga desain mana yang paling banyak di minati, hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan untuk mejemput si bungsu.
"Maaf Marchel, diskusi kita bisa di lanjutkan lain waktu yaa, saya harus jemput anak saya terlebih dahulu dan mengantar makan siang buat kembar.." Ucapnya.
"Baik Bu, terimakasih banyak karena sudah sudi membagi ilmunya dan berkenan mengunjungi kami.." Kata Marchel sopan.
Ita tersenyum ''Tidak perlu sungkan Chel..''
Marchel mengangguk dan Ita langsung pergi meninggalkan bangunan tersebut.
Sekitar pukul 11.30 WITA, Ita kembali menuju rumah untuk mengambil makanan yang akan di kirim ke sekolahan kembar.
''Hallo Mbak Desi..''
''Iya Bu hallo.. Ini makanannya sudah siap..'' Ucap Mbak Desi melalui sambungan telepon.
''Tunggu di depan aja ya Mbak, biar nggak kelamaan..''
''Oke Bu..''
Jawab Mbak Desi lalu dengan segera melangkah keluar rumah setelah memberi tahu Mama.
Tin tiin..
Suara klakson tanda Ita sudah di depan.
Mbak Desi berlari kecil untuk menghampiri Ita.
''Ini Bu..''
Ucap Mbak Desi memberikan bekal untuk anak-anak majikannya.
''Makasih ya Mbak, duluan ya..'' Ucap Ita.
''Iya Bu hati-hati..'' Jawab Mbak Desi memberi pesan.
Ita memberi tanda jempol kepada ART nya tersebut, lalu pergi lagi.
Tidak perlu menunggu waktu lama, Ita sudah sampai di sekolah kembar.
Setelah melapor pada security, Ita langsung membawa makanan tersebut ke tempat yang memang sudah di sediakan oleh pihak sekolah untuk tiap kelas masing-masing.
Setelah berbincang-bincang sebentar dengan guru yang ia temui, Ita langsung bergegas menuju untuk menjemput Arisa agar tidak telat.
Jangan lupa klik tanda 👍 di bawah ya..
Silakan berikan kritik dan saran agar saya bisa lebih baik lagi..
Follow IG @tulisan_sitimay
Terimakasiiihh...
__ADS_1