
''Empat hari lagi saya akan izin pulang kampung, untuk itu kunjungan saya ke kota X akan saya majukan besok..'' Ucap Rio kepada Bayu, asistennya.
''Kenapa mendadak sekali Pak?'' Tanya Bayu heran, tidak seperti biasanya bosnya itu membuat tindakan secara dadakan.
(Emangnya tahu bulat di goreng dadakan, lima ratusan, enaakk loooohhhh😏😏 Apasii Thooorrr😏)
''Iya saya sempat lupa Bay, maaf ya..'' Jawab Rio jujur.
''Makanya Pak......'' Bayu menutup mulut dengan tangannya, tidak melanjutkan kalimatnya.
''Makanya kenapa? Nikah?'' Tanya Rio menebak.
''Maap Pak..'' Ucap Bayu menunduk takut Rio marah.
''Silakan kamu lanjutkan pekerjaanmu dan siapkan semua keperluan besok..'' Ucap Rio.
''Baik Pak, permisi..'' Jawab Bayu menunduk sopan.
Rio merespon dengan anggukan.
Rio merebahkan tubuhnya di sofa yang ada dalam kamarnya, memandangi sebuah bingkai foto yang ia pajang di sudut kamar.
Ia melangkah dan mengambil foto tersebut.
''Seandainya..'' Gumamnya.
Ia tersenyum sendiri sambil mengusap lembut foto tersebut.
''Semua sudah menjadi garis takdir, tak ada yang perlu di sesali.." Ujar Rio memberi semangat pada dirinya sendiri.
Sebuah foto kenangan di masa sekolah, Rio dan Ita sama-sama pendiam.
Rio yang memendam perasaan itu sejak dulu dan hanya bisa mengungkapkan dengan memberi perhatian kepada Ita, karena belum pernah punya nyali untuk mengungkapkan perasaannya secara langsung kepada Ita, sedangkan Ita tidak pernah menyadari apa arti dari perhatian itu.
Di saat ia yakin akan kesiapan hatinya, saat itu pula ia harus menerima rasa kecewa.
Rio terus tersenyum mengingat momen-momen dulu.
''Tidak ada habisnya..'' Rio menertawai dirinya sendiri.
Kediamannya yang berada di kota Surabaya memang terbilang cukup besar, karena rumah itu di bangun oleh orang tua Rio dengan tujuan agar memudahkan ia saat melakukan perjalanan ke Surabaya.
Namun, karena kondisi fisiknya saat ini yang sudah tak sebaik dulu, semua usahanya yang berada di daerah Jawa Timur ia percayakan kepada putranya tersebut.
Sedangkan Rio tinggal bersama dua orang pekerja di rumahnya, mereka merupakan sepasang suami istri yang berasal dari desa di salah satu kabupaten Ngawi.
__ADS_1
Di tengah lamunannya, pintu kamar Rio seperti ada yang mengetuk.
Tok tok tok
Rio langsung terperanjat kaget.
"Iya iya sebentar.."
Rio segera memasang kembali foto tersebut dan melangkah ke arah pintu.
Ceklek
"Nggeh Bu.." Ucap Rio ramah setelah membukakan pintu.
"Itu lo Mas, tadi sampean bilangnya mau ke kamar sebentar terus makan, itu sudah Ibu siapkan kok nggak turun-turun dari tadi, Ibu khawatir Mas'e kenapa-kenapa di kamar.." Jelas Ibu Tati yang sangat medhok logat Jawanya.
"Nggeh Bu sebentar ya, tak mandi dulu sebentaarr aja.." Tawar Rio.
"Tenane lo Mas (serius ya Mas?).." Tanya Ibu Tati memastikan.
"Janji Bu.." Jawab Rio mengangkat kelingkingnya.
"Ya wis Ibu tak turun lagi.." Ucap Ibu Tati.
"Nggeh Bu.." Jawab Rio lalu menutup kembali pintu kamarnya.
Dengan segera Rio membersihkan badan dan turun ke bawah, agar Ibu Tati tidak bersedih.
Begitu pun saat tidak ada kegiatan di luar, Rio selalu meminta untuk di buatkan makanan apa yang ia inginkan.
"Bu, besok pagi setelah sarapan, saya ada kerjaan ke kota X, mungkin kembalinya malam, kalau tidak menginap.." Ucap Rio di sela-sela mengunyah makanannya.
"Jadi, Ibu cuma masakin Mas Rio buat sarapan aja nih?" Tanya Ibu Tati memastikan.
"Nggeh Bu, yaa pokoknya besok saya kabari lagi pulangnya jam berapa.." Jelas Rio.
"Iya Mas.."
Jawab Bu Tati lalu kembali ke dapur, ntah apa yang akan di kerjakan lagi.
--
Saat Rio sedang menikmati sarapannya, Bayu sudah datang dan menunggu di teras rumah.
"Ada Mas Bayu, Bapak suruh masuk biar ngopi dulu, dia tidak mau, katanya sudah di rumah.." Ucap Pak Usman, suami Ibu Tati.
"Nggeh Pak nggak papa biarin, ini juga sudah selesai kok.." Ucap Rio mengelap tangannya dengan tissue.
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan Pak Usman dan Bu Tati, Rio bergegas keluar rumah untuk berangkat.
"Ayok berangkat.." Ucap Rio tanpa basa basi.
"Siaapp.." Jawab Bayu lalu bergegas melangkah ke arah mobil.
Beberapa saat di perjalanan.
"Awas Bay..." Ucap Rio panik karena hampir saja bertabrakan dengan kendaraan yang tengah menyeberang.
"Kamu ngantuk ya?" Tanya Rio.
"Sedikit Pak, akan saya fokuskan lagi, Maaf.." Ucap Bayu tidak enak.
"Minggir dulu sebentar, biar saya saja yang nyetir.." Ucap Rio lalu melepas sabuk pengaman.
"Tapi, Pak.." Kata Bayu terputus karena Rio sudah keluar dan akhirnya dia pasrah saja walaupun tidak enak.
Suasana hening di perjalanan.
"Kayaknya disini abis hujan ya Pak.." Ucap Rio memecahkan keheningan.
"Kayaknya.." Jawab Rio singkat.
"Pak awas di depan sana kalau belum di tambal, itu masih ada lubang, habis hujan pasti tidak kelihatan.." Ucap Bayu mengingatkan.
"Iya Bay, masih ingat.." Jawab Rio.
Bayu memandangi arah luar kaca.
"BAY BAY.."
BYUUURRR
"Paak, stoopp.." Ucap Bayu lalu menengok ke arah belakang mobil.
"Lupa saya sama kubangan itu.." Ucap Rio juga ikut menengok ke arah belakang.
Lalu, Rio dan Bayu saling pandang setelah melihat gadis berdiri di tepi jalan sambil menangis karena badannya basah terkena air.
"Turun!" Rio mengajak Bayu.
Terimakasih yang selalu memberi support kepada author dengan memberikan like dan komentarnya, mohon maaf jika masih banyak kekurangan..
Monggo berikan author kritik dan saran agar author bisa semakin lebih baik lagi🙏
__ADS_1
IG @tulisan_sitimay
Terimakasiihh..