SUAMIKU PUBER KEDUA

SUAMIKU PUBER KEDUA
Bab 76


__ADS_3

(Maaf ya Author baru update๐Ÿ™ Soalnya kemarin-kemarin lagi ada acara keluarga ๐Ÿ˜)


Jangan lupa klik ๐Ÿ‘ โค โญ vote dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan komentar biar Author semakin semangat nulisnya dan Author tau kalau kalian sudah mampir๐Ÿ˜๐Ÿ’ช


-----


Yuni hanya bisa memandangi tangannya yang masih di genggam oleh Rio dengan sangat erat.


Jantungnya terasa tidak berdetak dengan normal, bagaikan planet tidak berputar pada porosnya.


(Reader : Lebay lu Thoooorrrr๐Ÿ˜๐Ÿ˜)


''Kak..'' Panggil Yuni.


''Iyaa..'' Jawab Rio lalu menoleh.


''Boleh di lepas?'' Tanya Yuni hati-hati sambil menunjukkan tangannya yang masih di genggam.


''NGGAK BOLEH..'' Jawab Rio langsung.


''Isshhh..'' Yuni hanya bisa mengerucutkan bibirnya kesal.


''Nanti di kira Kakak lagi momong adeknya lagi kayak tadi..'' Ucap Rio.


''Iya Kak, iya..'' Jawab Yuni pasrah.


Sekarang mereka berjalan berdampingan, Rio tidak melepaskan genggamannya.


Begitupun dengan Yuni yang mulai cuek dengan orang-orang di sekitarnya.


''Ada untungnya juga ketemu orang tadi..'' Batin Rio tersenyum lebar.


''Ahh, yang ku pikirkan gimana kalau tiba-tiba Mas Yuda ada di depan kami..'' Batin Yuni.


''Tapi, tidak mungkin.. Ngapain juga Mas Yuda kesini, kayak orang kurang kerjaan aja sering-sering kesini..'' Lanjutnya terus membatin.


''Dek..'' Panggil Rio.


''HMM, eh iya Kak..'' Jawab Yuni kaget.


''Lagi mikirin apasih kok langsung kaget?'' Tanya Rio penasaran.


''Hehe nggak mikirin apa-apa kok Kak..''Jawab Yuni.


''Oh ya, kita mau kemana nih Kak?'' Tanya Yuni menghindari pembahasan tentang apa yang di pikirkannya.


''Kakak ngikut aja..'' Jawab Rio sambil memperlihatkan senyuman terbaiknya.


''Cari makan dulu ya Kak, laper..'' Ajak Yuni jujur sambil mengusap perutnya.


''Siap Tuan Putri..'' Ujar Rio semangat.


''Lebay deehh..'' Protes Yuni sambil senyum malu-malu.


Rio pun membalas dengan senyuman dan semakin mengeratkan genggamannya


Rio dan Yuni berjalan pelan-pelan untuk memilih-milih menu makanan dan minuman yang di kehendaki.


Setelah dapat, mereka memilih tempat duduk yang paling pinggir.


Mereka menikmati hidangan dengan sangat fokus, tidak ada yang di perbolehkan mengucapkan kata-kata apapun selama masih makan, kecuali mendesak atau sangat penting dan harus di katakan saat itu juga.


Walaupun di luar nampak hanya fokus dengan makanan, akan tetapi, di dalam hati mereka masing-masing sedang terjadi obrolan dengan dirinya sendiri.


''Alhamdulillah..'' Ucap Rio setelah menghabiskan makanannya.


Yuni langsung mendongak.


''Nggak papa santai aja, Kakak tunggu sampai selesai kok..'' Ucap Rio.

__ADS_1


Yuni hanya nyengir lalu melanjutkan kunyahannya.


--


Setelah selesai makan, mereka melanjutkan jalan-jalan berkeliling.


Rio mengajak Yuni untuk melihat-lihat pakaian.


''Kakak itu jarang ke tempat-tempat kayak gini..'' Ucap Rio menoleh ke arah Yuni.


''Oh iya? Kenapa?'' Tanya Yuni.


''Yaaa mau ngapain juga..'' Jawab Rio.


Setelah melewati eskalator, Rio terus menggandeng tangan Yuni agar tidak hilang.


(Dompet kali Thooor bisa ilang๐Ÿ˜’๐Ÿ˜’)


''Dari semua pakaian disini, yang menurut kamu bagus itu yang mana aja Dek?'' Tanya Rio kepada Yuni sambil menunjuk semua pakaian yang ia maksud.


Dengan polosnya, Yuni langsung berfikir dan menuruti pertanyaan Rio.


''Tapi, selera orang kan beda-beda Kak..'' Jawab Yuni.


''Ya udah, pokoknya yang bagus menurutmu dan itu kamu banget gitu..'' Jawab Rio.


''Emmm.. Itu, itu, itu..'' Jawab Ita sambil menunjuk pakaian yang ia maksud dengan polosnya.


''Bagus..'' Kata Rio sambil mengangguk.


Rio langsung berjalan menuju pakaian yang sudah di tunjuk oleh Yuni dan mengambil satu per satu.


''Loh loh.. Kakak mau beli baju cewek, buat apaa??" Tanya Yuni heran.


''Sudaah, ayok ikut aja..'' Ajak Rio.


''Kakak..'' Panggil Yuni lagi.


Tangan kanannya memegang pakaian-pakaian yang ia ambil tadi, sedangkan tangan kirinya masih setia menggandeng Yuni.


Merasa panggilannya di cuekin, Yuni hanya pasrah mengikuti langkah Rio dengan sedikit cemberut.


Rio tersenyum melihat ekspresi Yuni yang menggemaskan itu, apalagi dengan lesung pipi yang di milikinya, menambah kesan keimutan yang alami.


''Perhatian sekali Mas sama adiknya..'' Ucap seorang kasir setelah selesai menghitung.


''Mohon maaf ya Mbak, silakan bekerja dengan benar dan jangan asal berbicara, dengar baik-baik, SAYA CALON ISTRINYA!'' Cetus Yuni yang menjadi tidak enak dengan Rio.


Rio langsung menoleh ke arah Yuni dan melihat ekspresi menggemaskan tadi berubah menjadi ekspresi penuh kekesalan.


''Sudah selesai kan ini? Terimakasih!'' Ucap Yuni lalu meraih barang belanjaan Rio dengan kasar lalu menarik Rio untuk segera meninggalkan tempat itu.


''Dek, Dek.. Jangan ngebut..'' Ujar Rio.


Karena Yuni menarik tangan Rio untuk mengikuti langkah dia yang cepat.


Mungkin bisa di bayangkan posisi Rio seperti anak bandel yang sedang di paksa pulang oleh Ibunya.


Yuni langsung menyadari dan ia pun langsung menghentikan langkahnya.


''Maaf Kak, ini..'' Ucapnya sambil tertunduk dan memberikan barang-barang itu kepada Rio.


Rio menerimanya.


''Sabar ya..'' Ucap Rio.


Yuni mengangguk.


''Mau pulang..'' Pinta Yuni masih dengan kepala menunduk.

__ADS_1


''Ya sudah yuk pulang..'' Ajak Rio.


Rio dan Yuni pun akhirnya langsung keluar dari mall tersebut lebih cepat, mereka langsung masuk ke dalam mobil.


Yuni hanya terdiam.


''Dek, kamu kenapa?'' Tanya Rio.


Yuni menghembuskan nafasnya.


''Nggak papa Kak, aku tuh ya sedikit kesel, heran juga kenapa mesti di bilang adeknya, padahal Kakak nggak kayak umur 30 tahunan keatas..'' Tutur Yuni dengan pandangan lurus ke depan.


Rio tersenyum.


Yuni menoleh ke arah Rio dan bergidik ngeri melihatnya.


''Kakak kenapa senyum-senyum sendiri?'' Tanya Yuni sambil mengernyitkan dahinya.


''Nggak papa, Kakak seneng aja di bilang masih kelihatan belum 30 tahun sama calon istri..'' Jawabnya lalu menoleh ke Yuni sekilas lalu kembali fokus pada kemudinya.


Yuni langsung salah tingkah dan membuang pandangan ke arah luar.


Yuni terus menepuk-nepuk jidatnya karena kelepasan memuji.


''Terus kamu gimana tuh kalau denger orang-orang pada ngira Kakak ini Kakak kamu?'' Tanya Rio.


''Ya kesellah..'' Jawab Yuni langsung.


''Terimakasih calon istriku.." Ucap Rio lalu mengusap rambut Yuni.


''Hah? Apaan sih kok pake makasih..'' Ucap Yuni semakin gugup.


''Terimakasih sudah menerima Kakak dengan apa adanya..'' Jelas Rio lagi.


''Semoga kamu sabar ya ngadepin orang tua..'' Canda Rio lagi.


''Aamiin..'' Jawab Yuni yang masih gugup dan bingung.


Rio menepikan mobilnya di sisi jalan yang tidak ramai.


''Ka-kakak mau ngapain?'' Tanya Yuni panik.


''Mau ngapain ya? Kira-kira mau ngapain?'' Tanya Rio balik.


''Ya nggak tau, Kakak ngapain berhenti disini?!'' Tanya Yuni panik.


''Haha, calon istriku ini lucu banget, Kakak nggak mau aneh-aneh..


Kakak cuma pengen ngobrol sambil bertatap muka..'' Jelas Rio lagi.


''Ohh gitu,hehe..'' Ujar Yuni sambil nyengir.


''Dek, terimakasih ya sudah nerima Kakak, sebentar lagi kamu wisuda dan Kakak tidak akan menunda-nunda niat baik ini sebelum kita di bilang Kakek sama cucu lagi jalan bareng..'' Ucap Rio sambil menghadap Yuni.


''Yaa nggak gitu juga Kak, mereka aja tu yang lebay..'' Celetuk Yuni.


''Kamu aja Dek yang kelewat punya wajah cute..'' Kata Rio sambil tersenyum.


Yuni lalu menoleh.


''Lebay..'' Ucapnya sambil senyum malu-malu, padahal hatinya berbunga-bunga.


''Seriuss..'' Kata Rio sambil menunjukkan 2 jarinya membentuk huruf V.


Dan mereka tersenyum.


-----


Terimakasih banyak kepada Kakak-kakak semua yang sudah mampir dan memberi support untuk Author ๐Ÿ™

__ADS_1


Author mohon maaf ya kalau masih banyak kesalahan dan kekurangan, jangan sungkan memberi saran dan kritik ๐Ÿ™


Follow IG @tulisan_sitimay ๐Ÿ™


__ADS_2