SUAMIKU PUBER KEDUA

SUAMIKU PUBER KEDUA
Bab 48


__ADS_3

LIKE - COMMENT - VOTE - RATE - FAVORIT - FOLLOW


-----


Lanjutan bab sebelumnya


Dengan langkah yang masih sangat malu-malu, Yuni mengikuti ajakan Rio.


Yuni ingin bersikeras untuk menolak, tapi, ia juga sangat merasakan kelaparan.


"Soal gengsi pikir belakang, yang penting kenyang dulu,hihi.." Batinnya cekikikan sendiri lalu menutup mulutnya.


Yuni mengikuti langkah Rio dari belakang, karena mereka hanya ke cafe seberang jalan, jadi tidak perlu untuk menaiki kendaraan.


Yuni berjalan dengan wajah terus menunduk karena malu.


Dug


"Aduuh.." Rintih Yuni sambil terus mengusap keningnya karena menabrak punggung Rio yang tiba-tiba berhenti.


Rio juga langsung menoleh karena merasa ada yang menyentuh punggungnya.


"Maaf maaf tidak sengaja.." Rio langsung spontan ikut mengusap-usap kening Yuni.


Sedangkan Yuni langsung reflek mundur karena kaget.


"Nggak papa Kak, nggak papa aku cuma kaget.." Ucapnya.


Diam-diam Rio menahan senyum terhadap kejadian yang tidak sengaja ini.


"Jantung tolong yang tenang.." Batinnya.


"Ini kita sudah sampai.." Lanjutnya.


"Ehh iya sudah sampai.." Jawab Yuni kikuk.


Mereka sedang berada di cafe seberang jalan dari bengkel, cafe yang tidak begitu besar tapi setiap harinya selalu di penuhi pengunjung, terutama para kaum remaja.


"Wahh isinya anak muda semua ya.." Ucap Rio pelan, kedua bola matanya mengitari seluruh meja pengunjung.


Uhuk uhuk


Yuni langsung tersedak air minum karena mendengar kalimat "anak muda semua".


"Lalu artinya? Dia sudah tua? Jangan-jangan benar dia sudah punya istri, ngeri Ya Allah.." Batin Yuni bergidik ngeri.


Rio langsung khawatir melihat Yuni tersedak.


"Pelan-pelan Dek.." Ujarnya sambil memberikan tisu untuk Yuni.


"Hehe.." Yuni belum bisa mengeluarkan kalimat lagi.


"Emm emang umur Kakak berapa?" Tanya Yuni memberanikan diri daripada penasaran.

__ADS_1


"Aduh jadi malu di tanyain umur.." Jawab Rio pura-pura malu.


"Pokoknya sudah kepala tiga.." Imbuhnya.


"Sudah punya istri?" Tanya Yuni semakin berani.


"Hah? Istri?"


Jawaban Rio membuat Yuni semakin bertanya-tanya apa maksud dari jawaban laki-laki yang ada di depannya itu.


Rio memahami bahwa Yuni sedang penasaran, namun saat hendak menjawab, pesanannya datang dan akhirnya jawaban yang akan di ucapkan terpaksa di tahan dulu.


"Makan dulu ya, nanti lanjut lagi ngobrolnya.." Ucap Rio setelah meletakkan sendok dan garpu di piring Yuni.


"Hehe iya terimakasih.." Jawab Yuni kikuk.


"Aduuuhhh kenapa ini jantung.. Tenang dong tenaaaaang.." Batinnya"


Mereka berdua menikmati santapan tanpa berbicara satu kata pun yang terucap.


Namun, meskipun tak terucap, mereka sedang bertanya-tanya dalam hati masing-masing hingga makanan mereka pun habis.


"Emm masih penasaran nggak?" Tanya Rio yang membuat Yuni semakin kikuk.


"Yaa kalau ikhlas.." Jawab Yuni asal.


"Boleh ya saya cerita sedikit?" Izin Rio.


"Boleh boleh.." Jawab Yuni yakin.


"Kok bisa? Tapi, Kakak nggaaakk?" Pertanyaan Yuni terhenti dan menutup mulutnya karena dia takut Rio akan tersinggung.


"Alhamdulillah saya normal, saya juga sudah berusaha untuk dekat dengan beberapa perempuan, akan tetapi perasaan saya tidak bisa berbohong, perasaan saya masih berhenti pada wanita yang sudah menjadi istri orang lain.." Jawab Rio yang paham dengan maksud Yuni.


"Saya juga ingin punya keluarga, punya istri, punya anak.." Lanjutnya.


"Tapi, saya tidak mau menikah dengan perempuan yang tidak saya cintai, karena saya tidak mau menyakiti siapapun.." Lanjutnya lagi.


Yuni mendengarkan cerita Rio dengan seksama.


"Lalu kenapa Kakak bisa mencintai istri orang? Apa istimewanya dia?" Tanya Yuni penasaran.


Rio menyunggingkan sudut bibirnya, memandang ke sembarang arah.


"Dia sangat istimewa, saya mencintai dia sudah sejak lama, jaman kami sekolah dulu, hanya saja saya belum memiliki keberanian. Disaat kami sudah memiliki pekerjaan, saya merasa sudah memiliki cukup kesiapan, saya memberanikan diri, namun, kenyataan pedih harus saya terima, gadis itu sudah menjadi calon istri orang dan mereka sekarang sudah memiliki tiga orang anak yang cantik-cantik dan tampan.."


"Bahkan sampai sekarang ketika suaminya sudah sukses, sudah punya banyak uang, bahkan berani mengkhianati istrinya, sampai saat ini wanita tersebut tetap bersikukuh untuk menjaga keutuhan pernikahannya, saya hanya berharap suaminya benar-benar taubat.." Cerita Rio yang awalnya berkata sedikit ternyata melebar.


"Jahat sekali suaminya itu, kasian ya Kak istrinya, kalau aku jadi istrinya sudah tak cabik-cabik itu muka suami kayak gitu, nggak punya rasa bersyukur, benar-benar wanita tangguh, aku mengidolakannya saat ini juga.." Oceh Yuni karena kesal.


Mendengar ocehan Yuni, Rio terfokus pada sebuah kata yang di ucapkan Yuni.


"Emangnya sudah siap jadi istri?" Tanya Rio menggoda Yuni.

__ADS_1


Uhuk uhuk


Lagi-lagi Yuni tersedak, kali inii sedang tidak minum, ntah tersedak apa.


"Minum dulu.." Ucap Rio memberikan air mineral.


"Terimakasih.." Ucap Yuni menerima air tersebut dan segera meminumnya.


"Saya itu dulu punya keinginan menikah muda, tapiiii..." Cerita Yuni malu-malu.


"Tapi kenapa?" Tanya Rio penasaran.


"Tapi, dilarang sama Kakak saya, sampai saya di putusin sama pacar juga.." Lanjut Yuni yang jadi malu-maluin.


"Kok bisa?" Rio akhirnya kepo juga.


"Iya gitu deh Kak, katanya anak kecil harus rajin belajar, nggak boleh bahas cinta dulu, apalagi bahas nikah, hmmmm kalau ngomel nggak ada titik komanya. Karena dia pernah beberapa kali mau ngajak foto bareng, akunya nolak terus, eehhh lama-lama aku di putusin, yaudah daripada uang jajanku di stop ya harus patuh.." Cerita Yuni mengangkat bahunya pasrah.


Yuni tidak menyadari jika dia menggunakan kata aku dan saya karena saking groginya.


"Itu tandanya kan Kakak kamu sangat menyayangi kamu, kamu harus bersyukur pastinya.." Pesan Rio.


"Pasti Kak, aku bersyukur sekali memiliki mereka yang selalu menyayangiku.." Jawab Yuni.


Rio diam-diam merasa kagum terhadap gadis yang ada di depannya, dia


benar-benar anak yang patuh, sampai tidak sadar senyumnya terus terjaga dengan memandangi wajah Yuni.


"Kak, Kak, halloooo.." Yuni menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Rio.


"Ehh iya maaf ada nyamuk lewat.." Ujar Rio asal.


"Ceroboh sekali kamu Rio.." Batin Rio merutuki dirinya sendiri.


"Emm, ngomong-ngomong Adek disini kuliah ya? Di Universitas mana?" Tanya Rio.


"Di Universitas B Kak.." Jawab Yuni.


"Waahh luar biasa sekali bisa masuk disana, hebat.." Puji Rio.


"Hehe Alhamdulillah Kak.." Ucap Yuni penuh syukur.


Saat mereka sedang mengobrol, tiba-tiba ponsel Yuni berdering tanda panggilan video masuk di sebuah aplikasi.


Yuni langsung panik saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya hingga akhirnya Yuni memilih untuk mematikan volume dering ponsel miliknya setelah mengirim pesan kepada si penelepon.


"Kenapa tidak di angkat?" Tanya Rio yang sedari tadi memperhatikan Yuni.


"Emmmm hehe.."


-----


Terimakasih banyak yang sudah berkenan untuk mampir dan memberikan like, komentar, favorit, rate dsb.

__ADS_1


Sarah dan kritikannya saya sangat-sangat berterimakasih🙏 Jangan sampai bosan😍


@tulisan_sitimay


__ADS_2