
Ita menarik nafas dalam dan menegakkan posisi duduknya, Ita tatap lekat mata perempuan yang ada di hadapannya.
Sarah yang mendapat tatapan lekat, langsung merasa canggung.
''Baik..''
Ucap Ita menjeda ucapannya dan kembali mengatur nafas.
"Sekali lagi perkenalkan nama saya MASITA TAMARA, istri dari laki-laki yang tadi anda katakan sebagai kekasih anda.." Kata Ita dengan tersenyum.
Sarah langsung nampak kaget, namun masih bisa mengontrol dirinya.
''TIDAK USAH NGAKU-NGAKU..''
Ucapnya, lalu hendak meninggalkan Ita, namun dengan segera di tahan oleh Ita.
''Maaf Nona, saya belum selesai berbicara, silakan kembali ke tempat duduk anda..'' Suruh Ita.
Dengan ekspresi wajah yang menyimpan kekesalan, Sarah menuruti perintah Ita.
''Mau bicara omong kosong apa lagi?''
Tanyanya tanpa menghadap ke arah Ita.
Ita tersenyum.
''Saya tidak pernah di didik untuk berbicara omong kosong, Nona. Saya dengan suami saya, Yuda Abadi, sudah menjalani pernikahan lebih dari 10 tahun.."
Sarah melengos belum percaya.
Ita tersenyum lagi.
''Jika dengan penjelasan anda tidak percaya, saya bisa tunjukkan dengan bukti pernikahan kami, Nona..''
Ita mengambil sesuatu yang ada di dalam map yang ia bawa dan menunjukkannya kepada Sarah.
''Anda bisa lihat ini, Nona.."
Pinta Ita.
Dengan ekspresi malas, Sarah melihat apa yang Ita tunjukkan di atas meja.
Ekspresi yang tak bisa di bohongi, ia nampak semakin terkejut.
Terkejut karena melihat istri dari kekasihnya ada di depan matanya saat ini.
Ya, Ita telah membawa buku nikahnya, kartu keluarga dan beberapa foto pernikahan mereka, serta beberapa foto saat bersama anak-anak.
''Apa anda masih tidak percaya, Nona?'' Tanya Ita tiba-tiba.
''Jadi, apa maumu sekarang?''
Tanya Sarah balik.
Ita tersenyum.
__ADS_1
''Alhamdulillah anda sudah percaya dengan saya, Nona..'' Ujar Ita.
''Tidak usah banyak basa basi..'' Ucap Sarah ketus.
"Baik.."
''Sebelumnya saya mohon maaf telah mengganggu waktu kesibukan anda, Nona..''
''Kita berbicara sebagai sesama wanita, saya mohon kepada anda, anda cantik, anda pintar, anda kaya, tentu banyak sekali pria single di luaran sana yang mendambakan anda untuk menjadi pendamping hidupnya..''
''Karena sampai kapan pun saya tidak akan pernah merelakan anak-anak kami memiliki Ayah yang mendua..''
''Saya tidak akan pernah membawa masalah ini kemana pun, saya tidak akan pernah mempermalukan anda di depan umum selagi anda bisa mengerti kami, anda bisa pegang omongan saya..''
''Hanya satu permintaan saya, menjauhlah dari kami demi kebaikan kami dan anda sendiri..''
Jelas Ita panjang lebar.
Sarah nampak hanya terdiam melihat arah lain.
''Silakan anda renungkan, Nona, terimakasih telah meluangkah waktu anda untuk bertemu dengan saya, saya mohon maaf harus membohongi anda untuk pertemuan ini..''
''Saya sangat bahagia bisa berjumpa dengan wanita cantik nan cerdas seperti anda..''
''SEMOGA KITA TIDAK AKAN PERNAH BERJUMPA LAGI.."
Ujar Ita lalu meraih tas dan pergi meninggalkan Sarah sendiri.
Sarah mengumpat kesal di dalam hati.
"Kamu telah merusak harga diriku Masita.." Ucapnya dalam hati, lalu pergi meninggalkan restoran tersebut.
Ia berusaha menutupi wajahnya dengan kedua tangannya saat air matanya terus mengalir, karena sedari tadi ia berusaha keras untuk menahan.
Ridwan yang berada di sampingnya tentu sangat kasian dan emosi bercampur jadi satu, namun, tentu ia tak ingin membuat keadaan semakin runyam.
"Kamu yang sabar, kamu pasti kuat menghadapi semua ini.."
"Ingat, ada Yuta, Yuki, Arisa, Mama.. Mereka selalu membuat hari-harimu terasa indah, bukan?"
Ita menangis semakin menjadi-jadi di samping Kakaknya.
"Menangislah, sekiranya bisa membuatmu sedikit lega.."
Ucap Ridwan lalu meraih pundak Ita dan ia peluk dengan erat.
"Papa.." Gumam Ita di dalam tangisnya.
"Tentu Papa bersedih jika tau kondisi hatimu sekarang, tapi, Papa akan bangga jika melihat putrinya terus berjalan dengan penuh semangat dan kekuatan.." Ucap Ridwan memberi semangat.
"Ada Kakak, Kakak akan terus ada untukmu.." Ucap Ridwan lagi sambil mengusap punggung adiknya.
Ridwan mendadak menganggap adiknya seperti anak kecil yang sangat butuh pertolongan.
"Sampai kapan pun aku nggak akan pernah mau pisah sama Mas Yuda, Kak.."
__ADS_1
Ucap Ita lirih.
Ridwan menoleh ke arah adiknya.. "Semua keputusan ada padamu, Kakak hanya bisa memberi dukungan yang terbaik.."
Ita mengangguk lalu melihat ke arah luar, melihat keramaian Ibu Kota.
"Tadi Yuda meneleponmu.." Kata Ridwan memecah keheningan perjalanan mereka.
"Lalu.."
Tanya Ita menatap Kakaknya.
"Kakak terima panggilannya dan Kakak katakan kamu sudah tidur di kamar, ponselmu sedang di cas di ruang tengah.." Jelas Ridwan.
"Apa Mas Yuda percaya?" Tanya Ita penasaran.
"Sepertinya sih percaya.."
Ita langsung bernafas lega.
Di tempat lain.
Sarah membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Saat tiba di kediamannya, ia langsung masuk tanpa memperhatikan sapaan dari assisten rumah tangganya.
Brukk
Ia hantam dengan keras pintu kamarnya.
"Menyebalkan!!! Bisa-bisanya aku di tipu sama wanita itu..
"Hah siapa namanya?? Ahh iya Masita.." Tanyanya pada diri sendiri di depan cermin riasnya.
"Apa tadi dia bilang? Semoga tidak pernah ketemu lagi?? Haha.. Sungguh kasihan sekali kamu.. Lihat saja, nanti Sarah yang menggesermu untuk menjadi NYONYA ABADI, dan KITA BENAR-BENAR TIDAK AKAN PERNAH BERTEMU LAGI.."
"Sungguh permainan yang indah.." Gumamnya menggila.
Ia merebahkan badan di kasurnya, ia tatap langit-langit kamarnya.
"Foto.. Ya, foto tadi ia dapat dari mana?" Tanyanya pada diri sendiri.
Ia mengingat foto yang di tunjukkan oleh Ita, foto dari Rio saat memergoki Yuda dan Sarah di Surabaya.
Mohon maaf jika selalu lama update episode terbaru, karena author masih harus banyak belajar tentang semua hal dalam menulis.
Mohon maaf jika masih banyak kesalahan dari segala sisi🙏
Monggo beri author saran dan kritik yang membangun, agar author bisa terus belajar untuk memperbaikinya..
Jangan lupa dukung author dengan memberikan like, komen, dan vote..
__ADS_1
Follow IG @tulisan_sitimay
Terimakasiiiihhh....