SUAMIKU PUBER KEDUA

SUAMIKU PUBER KEDUA
Bab 47


__ADS_3

VOTE LIKE COMMENT


--


''Kamu kaann??'' Kata orang tersebut tersenyum.


''Hehe iya kayak pernah ketemu ya..'' Ucap Yuni cengengesan.


''Iya kita pernah ketemu, sayangnya waktu itu kita belum sempat kenalan..'' Ucapnya.


''RIO..'' Ucapnya mengulurkan tangan untuk mengenalkan diri.


Yuni memandangi uluran tangan tersebut, dengan ragu Yuni membalas uluran tangan Rio.


''Yuni..'' Jawab Yuni malu-malu.


''Lagi belanja ya?'' Tanya Rio lalu melirik ke arah keranjang yang berada di genggaman tangan Yuni.


Yuni mengikuti arah lirikan Rio, dengan segera ia menyembunyikan di balik badannya, karena isi keranjang Yuni hanya pembalut dan aneka makanan ringan.


''Hehe iya Kak, ehh..'' Jawab Yuni.


Rio merasa gemas dengan sikap Yuni yang malu-malu, rasanya ingin tertawa melihat kepolosan gadis yang ada di hadapannya.


''Masih ada yang mau di cari lagi?'' Tanya Rio lagi.


''Emm nggak sih Kak, tinggal ambil tisu doang ini..'' Jawab Yuni lalu meraih tisu yang ada di sampingnya.


''Ya sudah Kak saya permisi duluan..'' Ucap Yuni lalu berjalan mendahului Rio.


Tanpa menjawab, Rio mengikuti langkah Yuni menuju meja kasir, karena dia sendiri juga sudah selesai.


''Tolong jadikan satu dengan keranjang ini Mbak..'' Ucap Rio tanpa memandang ke arah Yuni.


''Baik Mas..'' Jawab Mbak kasir ramah.


Sedangkan Yuni langsung melotot karena kaget.


''Ehh Mbak jangan jangan..'' Tolak Yuni kepada kasirnya.


Kasir tersebut pun langsung memandangi Yuni dan Rio secara bergantian.


''Ikuti kata saya saja Mbak..'' Ucap Rio tidak peduli dengan penolakan Yuni.


''Pacarnya lagi PMS Mas, biasa kalau cewek lagi PMS sensinya naik, hihi..'' Ucap kasir saat melihat pembalut yang ada di keranjang Yuni.


Yuni makin melotot.


''Ohh gitu ya Mbak? Pantesan..'' Ucap Rio senyum-senyum sendiri.


Yuni pun akhirnya cuma bisa mengalah dari pada harus debat disitu, malu pikirnya karena di belakang sudah ada yang ngantri juga.


''Totalnya XXX Mas..'' Kasir tersebut menunjukkan total belanja mereka.


Rio menyerahkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya.


''Terimakasih..'' Ucap Rio saat menerima belanjaannya.


''Yuk..'' Ajak Rio kepada Yuni.


Sebenarnya Rio sudah tidak tahan ingin tertawa melihat kekesalan Yuni.


Yuni tidak menjawab ajakan Rio, ia hanya berjalan mengikuti Rio keluar dari minimarket tersebut.


Setelah sampai di luar, Yuni langsung memberanikan diri menarik lengan Rio.


''Sini belanjaan saya?'' Pinta Yuni sambil menadahkan tangannya.

__ADS_1


Rio langsung membalikkan badannya menghadap Yuni.


''Ohh iya lupa, ini..'' Rio menyerahkan belanjaan milik Yuni.


''Berapa total belanjaan saya? Mana saya mau lihat?'' Tanya Yuni.


''Berapa ya tadi? Sudah saya sobek-sobek kertasnya..'' Jawab Rio santai.


''Kok di sobek? Gimana sih?? Isshhh..'' Ucap Yuni kesal.


Ia langsung mengambil dompet yang ada di tasnya, Yuni hanya menebak-nebak total belanjaannya.


Yuni menyerahkan uang Rp. 200.000 kepada Rio.


''Ini Kak, saya tidak mau hutang, kalau di perkirakan totalan belanja saya nggak sampai segitu, kalau ada sisanya Insyaa Allah saya ikhlas..'' Ucap Yuni.


Rio tersenyum melihat sikap gadis itu.


''Ternyata dia tidak mata duitan..'' Batinnya.


''Sudah sudah, ini kamu simpan saja, anggap saja ini rezeki buat kamu, saya juga ikhlas..'' Kata Rio.


''Serius ikhlas? Ehh nggak mau deng.. Waktu itu saya sudah di kasih banyak uang, masa sekarang di kasih gratisan lagi.. Nggak nggak, nggak mau..'' Tolak Yuni tidak enak dan memaksa menyerahkan uangnya.


''Apakah ini jawaban dari do'aku..'' Batin Rio lagi.


''Ya sudah kalau kamu memaksa, saya terima ya.. Tapi, tadi belanjanya tidak sampai segini kok, jadi saya terima setengahnya saja ya..'' Ucap Rio lalu mengembalikan satu lembar kepada Yuni.


''Beneran??'' Tanya Yuni.


''Iya..''


''Alhamdulillah..'' Ucap Yuni lalu reflek menempelkan uang tersebut di keningnya.


Rio menahan gelak tawanya karena ada-ada saja tingkah gadis ini.


--


"Sial banget siihh.." Umpat Yuni saat melihat ban motornya kempes.


Yuni langsung bergegas berjalan ke pinggir jalan, untuk melihat bengkel yang tidak jauh dari minimarket tersebut.


"Alhamdulillah buka..'' Ucap Yuni lega.


Dia hendak segera memaksa untuk membawa motornya agar sampai ke bengkel tersebut.


"Kenapa motornya?" Suara Rio tiba-tiba mengagetkan keseriusan Yuni.


"Eehhh Astaghfirullah bikin kaget aja.." Ucap Yuni kaget dengan kedatangan Rio.


Karena sedari tadi Rio memang belum mau pergi sebelum Yuni pergi.


"Ini motornya nggak tau kurang angin apa bocor, mau saya bawa ke bengkel sana.." Tunjuk Yuni.


"Ya sudah sini biar saya saja yang bawa.." Pinta Rio kasian.


"Ehh jangan Kak jangan, saya bisa sendiri kok, serius.." Tolaknya.


"Saya tidak mau di tolak lagi.." Ucap Rio tanpa mempedulikan Yuni.


"Hahh tolak lagi? Apasi maksudnya?" Batin Yuni bertanya-tanya.


"Ntahlah terserah dia.." Batinnya lagi sambil mengangkat bahunya tidak mengerti.


"Di mana bengkelnya?" Tanya Rio menoleh ke arah Yuni yang ada di belakangnya.


"Itu.." Tunjuk Yuni.

__ADS_1


Rio terus menuntun motor milik Yuni hingga sampai pada bengkel yang di maksud.


"Ganti ban yang baru Mas.." Ucap Rio pada pekerja di bengkel tersebut.


"Siaapp.. Tapi, tunggu dulu ya Mas, belum selesai yang ini.." Jawab pekerja tersebut menunjuk pada motor yang sedang ia kerjakan.


"Sipp.." Jawab Rio.


"Kenapa di ganti? Ini sudah tanggal menuju tanggal tua.." Bisik Yuni.


"Kamu nunggu disini, saya mau ambil mobil.." Kata Rio lalu pergi meninggalkan Yuni di bengkel dan tidak mempedulikan bisikan Yuni.


--


"Belum di kerjain ya?" Tanya Rio tiba-tiba duduk di samping Yuni.


"Ehhh ngagetin terus, satunya aja belum selesai.." Jawab Yuni reflek menegakkan posisi duduknya.


"Emm gitu.. Lapar nggak?" Tanya Rio lagi.


"Enggak, masih kenyang kok.." Jawab Yuni berbohong, padahal aslinya dia laper banget.


Kruukk kruukk


Ternyata mulut dan para cacing di perut Yuni tidak bekerja sama dengan baik.


"Hehe.." Yuni cengengesan saat perutnya bunyi dengan lantangnya.


Sedangkan Rio langsung menoleh ke arah Yuni.


"Hmmm katanya masih kenyang, kok bunyinya keras banget yaa.." Goda Rio.


"Itu biasa lagi pada konser, aslinya kenyang kok.." Jawab Yuni asal.


"Itu di seberang sana ada cafe, saya yang traktir.." Ajak Rio.


"Tidak tidak, terimakasih.." Tolak Yuni.


"Mas, masih lama ya?" Tanya Rio pada pekerja tersebut.


"Lumayan Mas, yang ini lumayan ruwet.." Jawabnya dengan wajah sudah kusam.


"Kami tinggal dulu nggak papa ya Mas? Nanti kami kesini lagi.." Ujar Rio.


"Oohhh iya Mas, monggo.." Jawabnya.


"Yuk.." Ajak Rio.


Yuni menoleh ke arah pekerja tersebut.


"Nggak papa Mbak Yun, nanti tak hubungi kalau sudah jadi, soalnya si Bagus masih istirahat.." Ujar pekerja tersebut yang sudah mengenali Yuni.


"Makasih ya Mas.." Ucap Yuni.


"Ciee Mbak Yuunn.." Goda pekerja tersebut.


"Ini sodaraku Mas.." Kata Yuni bohong.


Dia akhirnya mau di ajak dengan Rio, karena benar-benar merasa kelaparan.


-----


Terimakasih yang terus memberikan dukungan dengan memberikan like, vote, dsb.


Maaf jika masih banyak kesalahan dan kekurangan, author akan berusaha untuk terus berbenah🙏


Follow IG @tulisan_sitimay

__ADS_1


__ADS_2