
LIKE - COMMENT - VOTE - RATE - FAVORIT - FOLLOW
-----
''Kamu beli dimana Yud?'' Tanya Laras penasaran.
''Di XXX Kak, disana ada yang nunggu Kak namanya Ikhsan, silakan mampir..'' Jawab Yuda.
''Ohh, iya kapan-kapan mampir..'' Ucap Laras.
''Di minum dulu Yud..'' Lanjut Laras menawarkan.
''Terimakasih Kak..'' Jawab Yuda lalu mengambil gelas yang di meja dan menyeruput kopi buatan kakak iparnya itu.
''Kak, sebetulnya kedatanganku kesini ada hal yang perlu aku bicarakan sama kalian.." Ucap Yuda hati-hati.
Laras dan Ridwan langsung saling memandang.
"Apa yang mau kamu bicarakan?" Tanya Ridwan.
''Jika kalian berkenan, aku meminta bantuan sama kalian untuk mencarikan kuasa hukum untuk teman Ita yang sedang berada dalam ancaman Sarah.
Sebenarnya tadi aku sudah menghapus bukti-bukti yang untuk mengancam Della, hanya saja aku harus bertanggung jawab untuk dia jika terjadi hal yang tidak di inginkan, setidaknya dia sudah punya pengacara untuk membelanya.." Jelas Yuda.
"Bagaimana kami yakin jika kamu benar-benar sudah berubah?" Tanya Ridwan menyelidik.
"Aku nggak bisa memberi tahu bagaimana caranya Kak, karena aku sendiri juga nggak tau gimana. Tapi, silakan kalian melakukan pengawasan untuk pergerakanku jika kalian ingin tau aktivitasku selama jauh dari istri dan anak-anak.." Jawab Yuda.
''Maafkan aku merepotkan kalian lagi..'' Ucap Yuda.
''Baiklah, semoga kepercayaanku tidak kamu sia-siakan lagi. Aku akan mencarikan pengacara untuk si Della itu..'' Kata Ridwan.
''Alhamdulillah, terimakasih banyak Kak..'' Ucap Yuda.
Ridwan mengangguk.
"Jadi, kapan kamu akan mengakhiri dengan si Sarah itu?'' Tanya Ridwan.
''Secepatnya Kak..'' Jawab Yuda tanpa keraguan.
''Syukurlah, kami tunggu kabar baiknya, jangan sampai terulang kembali kesalahan kamu, saat ini aku masih menuruti apa kemauan Ita. Tapi, jika sampai kamu mengulangi hal bod*h lagi, saya tidak akan pernah mengizinkan adik saya untuk menerima kamu lagi..'' Ucap Ridwan.
''Baik Kak, terimakasih sekali lagi..'' Ucap Yuda.
Setelah merasa sudah cukup dengan apa yang akan di sampaikan, Yuda langsung pamit karena urusannya sudah selesai.
Yuda segera meninggalkan kediaman kakak iparnya itu dan kembali melewati keramaian Ibu Kota di akhir pekan.
SANGAT MACET
''Hadduuh ini macet dimana-mana, kapan sampainya kalau begini..'' Gerutu Yuda melihat di sekelilingnya.
Yuda keluar dari rumah kakak iparnya masih jam 21.00 WIB, waktu dimana banyak orang keluar.
Tiba-tiba ponsel milik Yuda terlihat menyala dan bergetar tanda ada panggilan masuk.
Yuda melihat nama yang tertera di layar ponselnya, nama dengan huruf kapital YUNI ADIKKU CANTIK.
Nama yang di simpan sendiri oleh sang pemilik nomor.
Yuda langsung segera memasang alat pendengar di telinganya karena ia masih menyetir.
''Assalamu'alaikum Dek..'' Ucap Yuda.
''Wa'alaikumussalam Mas, lagi dimana ini?'' Tanya Yuni langsung.
''Di jalan, Mas lagi di Jakarta..'' Jawab Yuda.
__ADS_1
''Iya tau Mas kalau di Jakarta, kan sudah rutin..'' Celetuk Yuni.
''Iya iya, ada apa? Uangnya masih kan?'' Tanya Yuda.
''Masih banyak Mas, ini eemmm aku mau bicara penting..'' Ucap Yuni ragu-ragu karena takut.
''Cepetan ngomong aja, nggak usah pake am
em am em..'' Protes Yuda.
''Sabar ngapa Mas..'' Ucap Yuni cemberut walaupun Kakaknya juga nggak melihatnya.
''Eeemmmm gini Mas, itu eeeee ADA YANG MAU LAMAR AKU SETELAH WISUDA..'' Ucap Yuni cepat sambil menutup telinganya.
''APA?!!!'' Yuda hampir saja kehilangan kendali karena kaget.
Beruntung ia masih berada di dalam kesadaran yang penuh, sehingga tidak membahayakan dirinya dan kendaraan lain.
''Jangan teriak-teriak Mas..'' Cegah Yuni.
Yuda tidak mempedulikan, ia masih menggunakan volume suara yang tinggi.
''Terus kamu terima aja gitu omongan laki-laki itu?'' Tanya Yuda.
''Yaa kan masih nanti Mas, makanya aku mau bicara dulu sama Mas, kalau Mas iya semuanya juga pasti iya..'' Jawab Yuni.
''Kamu suka sama laki-laki itu?'' Tanya Yuda lagi.
''Aku normal loh Mas..'' Jawab Yuni.
Yuda terdiam, ia mengingat ucapan istrinya yang mengatakan kalau adik iparnya bukan anak kecil lagi.
''Mas? Hallo....'' Panggil Yuni karena merasa di diamkan.
''Ehh iya, pokoknya jangan buru-buru dulu, nunggu Mas kenal sama dia dan cari tau latar belakangnya..'' Ucap Yuda.
Mendengar jawaban sang Kakak, Yuni sedikit tersenyum setidaknya jawabannya ada kemajuan.
''Aku mau kasih tau Ibu juga ya..'' Ucap Yuni lagi.
''JANGAN!! Nunggu Ibu benar-benar sehat..'' Cegah Yuda.
''Loh? Ibu sakit? Kok nggak ada yang ngasih kabar ke aku..'' Protes Yuni.
Yuda langsung menepuk keningnya sendiri karena lupa bahwa tidak akan mengabari adiknya itu kalau Ibunya sedang sakit.
''Siapa yang bilang Ibu lagi sakit?? Kan Mas cuma bilang bener-bener sehat, kamu tau sendiri sekarang Ibu kondisinya gimana, capek dikit langsung pasang koyo..'' Jelas Yuda memberi alasan.
''Hehe iya juga ya.. Ya udah deh yang panting Mas Yuda sudah kasih restu, Assalamu'alaikum..'' Ucap Yuni lalu menutup panggilannya.
''Wa'alaikumussalam.. Dasar bocah, belum juga di jawab sudah di matikan..'' Gerutu Yuda.
Sementara itu di dalam kamar kostan Yuni.
Yuni langsung melompat-lompat bahagia di atas kasurnya.
''Ada sinyal..wkwkwkwk Alhamdulillah..'' Ucapnya girang.
''Kuncinya ada di Mas Yuda, kalau Mas Yuda setuju semua pasti ikut setuju..'' Ucapnya berbicara sendiri di depan cermin.
''Nasiiib ya nasiiib, punya temen se kamar tapi dia lagi malam mingguan, hemm..'' Gumamnya.
Tok
Tok
Tok
__ADS_1
''Assalamu'alaikum..''
Yuni langsung menoleh ke sumber suara.
''Hemm baru juga di batin, panjang umur si Dinda..'' Gumamnya langsung menuju ke arah pintu.
''Ehhh wa'alaikumussalam Ibuuu, silakan masuk..'' Jawab Yuni sambil menutup pintu lagi.
''Lebay..'' Ujar Dinda.
''Lebay sih, tapi ngangeniinn..'' Ucap Yuni sambil kedip-kedip mata di depan Dinda.
''Ihhhhh..'' Jawab Dinda
''Tuh ada bakso kesukaanmu..'' Ucap Dinda.
''Waahhh baik sekali lah ini sahabatku..'' Kata Yuni memuji.
''Dari dulu baik siihh..'' Sekarang ganti Dinda yang kepedean.
''Preettt.. Kok cuma satu porsi baksonya?'' Protes Yuni.
''Di belikan bukannya terimakasih malah protes..'' Kata Dinda.
''Denger dulu, bukan gitu maksudnya, maksudku itu emang kamu nggak mau baksonya?'' Jelas Yuni.
''Ooooooooo... Nggak, kan aku sudah makan tadi..'' Ucap Dinda.
''Oke dehhh, aku makan yaa.. Makasiiih..'' Ucap Yuni lalu membawa bakso itu ke dapur untuk di pindah ke dalam mangkuk.
Setelah berganti pakaian, Dinda menghampiri Yuni yang masih makan bakso.
''Tunanganmu kapan kesini?'' Tanya Dinda yang mengagetkan Yuni.
''Yaa Allah kaget Din.. Minggu depan kesini, dia sudah di Surabaya sekarang..'' Jawab Yuni.
''Aku tadi sudah bilang sama Kakakku..'' Ucap Yuni.
''Ohya? Apa katanya? Kamu di omeli model apa lagi? hahaha..'' Dinda tertawa mengingat Yuni yang sering menggerutu karena sikap Kakaknya.
''Ihhh Dinda jahat, kali ini nggak di omeli, Kakakku cuma bilang jangan buru-buru dan mau kenal dulu, aku bilang nanti pas wisuda..'' Jelas Yuni.
''Cie cieeeee..'' Goda Dinda.
''Kali ini aku yakin Kakakmu langsung setuju..'' Ujar Dinda memberi semangat.
''Kamu yakin Din?'' Tanya Yuni.
Dinda mengangguk semangat.
#Kembali_Ke_Yuda#
Yuda mengingat perutnya belum terisi makanan, ia memilih untuk mampir ke sebuah cafe yang ia lewati.
Setelah lebih satu jam di perjalanan karena macet, cacing-cacing di dalam perutnya sudah meronta-ronta minta di isi.
Yuda memasuki cafe tersebut dengan langkah yang santai.
Tiba-tiba pandangannya tertuju pada seseorang yang berada di dalam cafe tersebut.
Siapa yaaaaaa....
-----
Terimakasih banyak kepada semua yang sudah mampir memberi LIKE dan VOTE 🙏
Maaf ya jika masih banyak kesalahan🙏
__ADS_1
Untuk sesama Author, yuk kita saling support dengan memberikan boom like dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar agar saya tau dan bisa mampir ke karya kalian juga❤💪
Jangan lupa follow IG @tulisan_sitimay