
Jangan lupa klik π β€ β vote dan tinggalkan komentar biar author semakin semangat nulisnyaπͺ
-----
Setelah beberapa minggu kepulangannya dari kampung halaman, Yuda semakin merasakan hatinya jauh lebih tenang.
Sekarang keluarga Della sudah pindah ke rumah yang baru.
Bukan tanpa alasan, karena Yuda mengetahui ada yang sering mengintai kediaman Della yang lama.
Hal itu membuatnya semakin merasa bersalah, ia tidak ingin memiliki rasa penyesalan yang jauh lebih besar.
''Bun, Bunda resign aja ya..'' Ucap Yuda di perjalanan mengantar sang istri.
''Kenapa Yah? Ayah masih cemburu?'' Tanya Ita balik.
''Bukan gitu Bun, cumburu sih ya wajar,hehe..
Tapi, bukan itu masalahnya, cuma Ayah tu pengen Bunda jangan bekerja di tempat orang lain..'' Jawab Yuda.
''Biar Bunda juga bisa fokus sama bisnis Bunda sama Mama..'' Imbuhnya.
Ita nampak berpikir, ia memang terlalu sibuk.
''Iya juga ya Yah, nanti Bunda pikirkan lagi sama cari waktu yang pas..'' Jawab Ita.
''Ayah tunggu secepatnya..'' Ucap Yuda.
''Hmm..''
Ita turun dari mobil dan Yuda langsung melanjutkan perjalanannya.
''Selamat pagi Della..'' Sapa Ita.
''Pagi Bu..'' Jawab Della sumringah.
''Bu, ada pesan dari Pak Rio di tunggu di ruangannya..'' Ucap Della.
''Cepet banget datangnya.. Ok makasih ya Dell..'' Jawab Ita.
''Iya Bu..'' Jawab Della.
Ita langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan Rio.
Tok tok tok
''Permisi..'' Ucap Ita.
''Iya masuk..'' Jawab suara dari dalam.
''Masuk Ta..''
Ita langsung masuk setelah mendapat perintah.
''Kata Della tadi Kakak manggil saya ya?'' Tanya Ita.
''Oh iya, nggak ada apa-apa sih.. Aku ikut bersyukur ya dengar masalah kalian sudah kelar..'' Ucap Rio.
''Iya Kak Alhamdulillah..'' Jawab Ita.
''Semoga nggak terjadi lagi ya..'' Ucap Rio lagi.
''Aamiin.. Aamiin..'' Jawab Ita menangkupkan kedua tangan di wajahnya.
''Emm, Kak, ini sekalian mumpung disini.. Seperti saya benar-benar akan mengundurkan diri..'' Ucap Ita.
''Loh kenapa Ta? Suamimu cemburu lagi?'' Tanya Rio curiga.
''Bukan Kak, saya merasa harus fokus ke keluarga, selama ini waktunya tersita buat mondar-mandir, sekarang pengen fokus ke keluarga..'' Jawab Ita.
''Haduuh, gimana ya Ta.. Harus dapat pengganti kamu dulu baru kamu boleh keluar..'' Jawab Rio.
''Apa kita buat pengumuman buka lowongan?'' Tanya Rio meminta pendapat.
__ADS_1
''Emm.. Sepertinya daripada harus cari orang baru dan harus mengajari dari awal, mending angkat yang sudah lama kerja disini Kak, setidaknya kan mereka yang sudah kerja disini sudah tau dasar-dasarnya..'' Jawab Ita memberi ide.
Rio sedang mencerna ide yang di berikan oleh Ita.
''Menurut kamu siapa yang mampu gantikan kamu?'' Tanya Rio langsung.
''Marshel, dia pasti sangat mampu..'' Jawab Ita semangat.
''Marshel??'' Tanya Rio.
''Iya, bisa di lihat pekerjaan dia selama ini, dia anak muda yang punya semangat juang tinggi..'' Jelas Ita.
Rio mengangguk.
''Ok, nanti aku kesana nemui dia..'' Ucap Rio.
''Serius ini??'' Tanya Ita sumringah.
''Iyaaa... Bahagia banget kayaknya kamu mentang-mentang mau bebas dari sini..'' Sahut Rio sedikit kesal melihat ekspresi kebahagiaan Ita.
Ita langsung menutup mulutnya.
''Hehe maaf, ya sudah saya permisi dulu Kak..'' Ucap Ita.
''Hmmm..''
Ita keluar dari ruang Rio sambil terus senyum-senyum sendiri.
Ia semakin semangat melanjutkan pekerjaannya agar cepat selesai.
--
Sesuai ucapannya kepada Ita, siang harinya Rio menemui Marshel di ruang kerjanya.
''Gimana kabarnya Shel?'' Tanya Rio.
''Kabar baik Pak..'' Jawab Marshel.
''Sejauh ini masih lancar Pak..'' Jawab Rio.
''Emm, gini Shel.. Ita kan mau resign tuh, nah.. Dia merekomendasikan kamu buat gantikan posisi dia, gimana Shel? Kamu bisa kan?'' Pinta Rio.
Marshel nampak terkejut mendengar ucapan bosnya, artinya dia bakal naik jabatan.
''Tapi, Pak? Eee sa-saya masih jauh kalau di bandingkan sama Bu Ita..'' Jawab Marshel gugup.
''Ya kalau kamu menerima tawaran ini, Ita akan mengajari kamu terlebih dahulu sebelum dia benar-benar keluar.
Karena dari ucapan Ita, sepertinya dia sangat yakin sama kamu..'' Ujar Rio.
''Serius Bu Ita bilang begitu Pak?'' Tanya Marshel.
''Iya serius.. Jadi gimana?'' Tanya Rio balik.
''Saya sangat senang Pak..'' Jawab Marshel mengangguk.
''Ok, mulai besok kamu ngantor di pusat ya..'' Suruh Rio.
''Baik Pak, baik.. Terimakasih..'' Ucap Marshel.
''Yaa..''
''Ya sudah kamu lanjutkan pekerjaanmu..'' Ucap Rio lalu beranjak.
''Baik Pak..'' Jawab Marshel ikut berdiri dari tempat duduknya.
--
Beberapa minggu kemudian.
Hari ini hari terakhir Ita memasuki gedung yang sudah bertahun-tahun menemani perjalanan hidupnya.
Banyak kenangan di tempat ini, berawal dari ia mencoba mandiri untuk bekerja di tempat orang lain.
__ADS_1
Ia menjalani setiap prosesnya, menjalani perjalanan yang tidak instan.
Tentu saja kenangan yang paling tak terlupakan saat ia bertemu dengan suaminya di tempat ini.
Dengan di temani sang suami, Ita berpamitan dengan teman-temannya.
''Alhamdulillah terimakasih untuk Bapak, Kak Rio..
Orang-orang hebat disini yang sudah sabar membimbing saya selama ini.
Untuk teman-teman yang senantiasa memberi dukungan dan semangatnya dalam bekerja sama..''
''Tidak terasa saya sudah sangat lama disini, sekarang sudah waktunya posisi saya di perbarui sama yang lebih fresh, karena saya merasa sudah beranjak tua, betul kan Shel?? haha..'' Canda Ita sambil menatap Marshel.
Semua pun yang tadinya sedih jadi ikut tertawa.
''Kalian tetap semangat, tetap menjadi team yang luar biasa kompaknya..''
''Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kalau selama bergabung disini banyak kesalahan yang saya lakukan secara sengaja maupun tidak sengaja..'' Ucap Ita mengakhiri.
Suasana kembali hari haru saat Ita berpamitan dengan bersalaman kepada semuanya.
''Shel, Della jomblo loh..'' Bisik Ita saat di depan Marshel sambil menaik turunkan alisnya.
''Hah? Hehe..'' Marshel hanya nyengir kikuk.
Terakhir, Ita berjabatan tangan dengan Rio.
''Terimakasih ya Kak.. Ohya, jangan lupa kalau nikah di tunggu undangan VVIP nya..'' Ucap Ita semangat.
''Haha siaapp..'' Jawab Rio tersenyum lebar.
--
Setelah tidak bekerja dengan orang lain lagi, Ita fokus untuk urusan rumah tangga.
Soal bisnis keluarganya, ia tidak perlu setiap hari mengontrol karena sudah memiliki orang kepercayaan yang di percaya untuk menghandle semuanya.
Seperti biasa, pagi hari selalu di rutinkan untuk mengurus persiapan anaknya sebelum berangkat sekolah.
Karena Yuki dan Yuta sudah bisa mandiri, sekarang hanya membantu persiapan Arisa.
''Kok Bunda nggak kerja?'' Tanya Arisa penasaran melihat Bundanya masih santai.
''Katanya Bunda nggak boleh kerja..'' Jawab Ita gemas.
''Oh iya ya..'' Jawab Arisa sambil menggaruk-garuk kepalanya.
''Berarti adeknya sudah ada dong Bun??'' Tanya Arisa sumringah.
''Hah? Adik??'' Tanya Ita balik.
Arisa mengangguk semangat.
''Arisaa, sabar yaa nunggu adiknya..'' Ucap Yuda yang baru saja keluar dari kamar.
''Ayok berangkat..'' Ajak Yuda.
''Yeyeye.. Punya adik..'' Ucap Arisa gembira.
''Adiknya Arisa, bukan adiknya Kakak!'' Protes Arisa melirik jutek kepada kedua Kakaknya.
Sedangkan Kakak-kakaknya hanya melengos, mereka sudah paham dengan adiknya.
Yang penting adiknya senang, begitu pikir mereka.
-----
Terimakasih banyak kepada Kakak-kakak semua yang sudah mampir dan memberi support untuk Author π
Author mohon maaf ya kalau masih banyak kesalahan dan kekurangan, jangan sungkan memberi saran dan kritik π
Follow IG @tulisan_sitimay π
__ADS_1