
Jangan lupa klik 👍 ❤ ⭐ vote dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan komentar biar Author semakin semangat nulisnya dan Author tau kalau kalian sudah mampir😍💪
-----
''Pokoknya nanti semua harus hadir ya Bu..'' Pinta Yuni untuk acara wisudanya.
''Iya Insyaa Allah, do'akan Ibu sehat terus ya..'' Tutur Ibu.
''Aamiin.. Aku pasti sedih kalau satu aja ada yang nggak hadir..'' Ucap Yuni sambil mengerucutkan bibirnya sedih.
''Iya iya..'' Jawab Ibu.
Yuni memilih untuk pulang ke kampung terlebih dahulu, karena ia sangat merindukan keadaan kampung halamannya.
Tidak sampai 2 bulan lagi, ia akan menyelesaikan pendidikannya.
Selain merindukan keluarga dan kampung halaman, Yuni juga harus membahas secara langsung tentang seragam yang akan mereka kenakan saat hari itu tiba.
''Warna biru semua ya.. Aku sudah bilang sama Mas Yuda dan Kak Ita juga, mereka setuju..'' Ucap Yuni di hadapan Ibu dan Kakak-kakaknya di kampung.
''Yaahh kita mah ngikut Mas Yuda aja,haha..'' Sahut Rima tertawa kecil.
''Iya ya Mbak, emang gitu.. Semua takut sama Mas Yuda, termasuk aku siiihh,hihi..'' Jawab Yuni lalu menutup mulutnya.
''Husssttt kalian ini ghibahin Kakaknya sendiri..'' Protes Ibu.
Rima menahan gelak tawanya karena di protes sang mertua.
''Dikit nggak papa Bu..'' Jawab Yuni.
''Pokoknya soal tempat tinggal, aku yang carikan hotelnya disana..'' Ucap Yuni pede.
''Duit siapa?? Sok-sokan carikan hotel..'' Cibir Yudi yang masih suka jahil sama adiknya.
''Hisstt Mas Yudi sama aja kayak Mas Yuda.. Denger dulu doong adik cantiknya ini belum selesai bicara..'' Jawab Yuni.
''Namanya juga 1 pabrik..'' Jawab Yudi.
''Yeaaahhh terseraahhh.. Aku kan bilangnya cuma carikan Mas, yang bayar ya biasa Masku tersayang yang baik dan paling setia, Mas Yudaa..'' Jawab Yuni membanggakan.
Uhuk uhuk
Rima yang masih menenggak minumnya langsung terbatuk-batuk mendengar ucapan Yuni.
Rima, Yudi, dan Ibu langsung saling pandang.
''Kenapa sih? Ada yang salah yaa?'' Tanya Yuni heran.
''Enggak..'' Jawab mereka serempak.
''Kenapa Mbak Rima langsung batuk-batuk? Lagi sakit ya?'' Tanya Yuni.
''Iya mungkin lagi sakit..'' Jawab Rima.
Ibu hanya terdiam, ia kembali teringat akan kejadian beberapa waktu yang lalu.
Kejadian yang tidak pernah ia sangka, putra sulung yang selalu ia banggakan ternyata bisa membuatnya sangat kecewa.
Putri bungsunya tak perlu tahu tentang hal ini, karena ia tidak ingin Yuni menjadi seorang pembenci.
Ia cemas jika Yuni mengetahui kelakuan Kakaknya di masalalu dan Yuni akan sangat kecewa kepada Kakak yang selama ini selalu memberikan ketegasan pada dirinya.
--
__ADS_1
Yuni hanya 3 hari di rumah, setidaknya rasa rindunya kepada keluarga sudah lumayan terobati.
Demi mengantar sang adik, Yudi rela izin dari pekerjaannya karena harus mengantar Yuni ke Bandara bersama keluarganya juga.
''Hati-hati..'' Ucap semuanya setelah Yuni berpamitan dan akan segera check in.
''Iyaa, daaaaahhhh..'' Jawab Yuni sambil melambaikan tangan.
Semua membalas lambaian tangan Yuni sampai Yuni sudah tidak terlihat.
Mereka lalu kembali ke parkiran untuk menuju ke mobil.
''Yuni jangan sampai tau tentang kelakuan Yuda..'' Ucap Ibu saat mereka sudah di dalam mobil.
''Iya Bu kami ngerti, kemarin aku cuma kaget aja pas Yuni bilang kayak gitu..'' Jawab Rima.
''Ibu yang sabar ya, aku yakin Mas Yuda benar-benar sudah berubah..'' Ujar Yudi menenangkan.
''Ya semoga saja Masmu itu benar-benar sudah berubah, Ibu malu sama keluarga Ita..'' Jawab Ibu dengan nada sedikit kesal.
''Aamiin..'' Ucap Yudi dan Rima kompak.
Setelah mengantar Yuni ke Bandara, mereka mampir mengantar Rima sekalian untuk belanja stock jualan pakaiannya yang semakin menipis.
--
Ita, Yuda, dan ketiga anaknya pergi ke tempat penjahit yang sudah terkenal di kotanya dan juga penjahit yang merupakan langganan keluarganya.
Ia datang untuk membuat seragam yang akan mereka kenakan saat wisuda Yuni.
''Permisi Kak..'' Ucap Ita.
''Masuk Ta, ku kira kau lupa mau datang kesini..'' Jawab penjahit tersebut.
''Iya Kak maaf biasalah Emak-emak banyak yang di urus dulu..'' Jelas Ita.
''Ini kami mau buat seragam, ini contoh modelnya..'' Ujar Ita menunjukkan sebuah gambar di ponselnya.
''Oh iya iya..'' Jawab penjahit tersebut sambil mengangguk paham.
Ita menjelaskan detail yang ia inginkan harus seperti apa agar tidak terjadi kekeliruan.
''Oke siipp, sekarang ku ukur dulu ya..'' Izinnya.
''Silakan Kak..'' Ujar Ita.
Penjahit tersebut meraih alat pengukur yang selalu setia berada di leher.
Ia langsung beraksi mengukur satu per satu dengan sangat teliti, mulai dari Ita, anak-anak lalu Yuda.
''Oke sudah beres, di usahakan selesai tepat waktu sesuai dengan permintaan bu bos..'' Ujar penjahit tersebut dengan nada becanda.
''Haha bos apa Kak, Kak.. Aamiin aja deehhh..'' Ucap Ita merendah.
"Boss apa ajaaa Taaa, semua di embat,haha.." Canda penjahit itu.
"Aamiin Aamiin.. Oh ya Kak, nanti DP di transfer ya.." Ucap Ita menghindari candaan itu.
"Siaaapp.." Jawabnya.
"Buunn, ayok pulang.." Rengek Arisa.
Sedangkan Yuda setelah selesai mengukur, ia memilih untuk menunggu di mobil.
__ADS_1
"Iya Nak sebentar ya..'' Ucap Arisa.
''Ya sudah Kak, kami permisi dulu ya..'' Pamit Ita.
''Adek ini kok buru-buru banget siihhh, mau kemana loohh..'' Ucap penjahit tersebut sambil membungkukkan badan agar sejajar dengan Arisa.
''Mau pulang Tante..'' Jawab Arisa.
''Ya sudah, Arisa hati-hati ya.. Kapan-kapan main kesini lagi ke tempat Tante..'' Ucapnya.
''Iya Tante..'' Jawab Arisa.
''Pinternya..'' Ucapnya sambil mencubit pipi tembem Arisa.
''Permisi dulu ya Kak..'' Ucap Ita lagi.
''Oke, nanti ku kabari ya..'' Jawabnya.
''Oke..''
Ita menggandeng tangan Arisa untuk segera menyusul Ayah dan juga Kakak-kakaknya yang sudah berada di mobil.
''Sudah Bun?'' Tanya Yuda saat melihat Ita memasuki mobil.
''Sudah Yah..'' Jawab Ita.
''Kita mau kemana niih??'' Tanya Yuda kepada anak-anaknya.
''Mau mandi pantai Yah..'' Jawab Arisa semangat.
''Boleehh, tapi, kita pulang dulu ya.. Kan belum bawa ganti..'' Ujar Yuda.
''Adik senang, Kakak pun ikut senang..'' Ujar Yuki.
''Alhamdulillah anak Bunda..'' Ucap Ita mengusap rambut Yuki.
Mereka langsung menuju rumah dan mempersiapkan segala perlengkapan yang akan di bawa ke pantai.
Perjalanan tidak memakan waktu yang lama karena memang jaraknya tidak terlalu jauh.
Arisa sangat semangat melihat air pantai, walaupun terik matahari sangat menyengat, ia sangat antusias bermain bersama kedua Kakak yang menemaninya.
''Alhamdulillah ya Yah, Allah masih memberikan kita kesempatan untuk melihat kebersamaan mereka..'' Ucap Ita yang sedang mengawasi anak-anaknya di bibir pantai bersama dengan suaminya.
''Iya Bun, Alhamdulillah.. Ayah sangat bersyukur, terimakasih ya Bun..'' Jawab Yuda lalu menatap istrinya.
Ita mengangguk dan mereka saling tatap.
''BUNDAAAAAAAAAA..'' Teriak Arisa dari kejauhan dan tentu saja langsung membuyarkan adegan romantis kedua orang tuanya.
Yuda dan Ita langsung mengerjapkan kedua matanya dan mencari sumber suara.
Nampak Arisa tengah berlari kecil menuju ke tempat mereka sedang duduk.
''Ayok temani Arisa maiinn Buunn, sama Ayah juga..'' Ajak Arisa menarik-narik tangan Ayah dan Bundanya.
''Iya iya ayok..'' Jawab Ita lalu menatap sang suami.
Yuda hanya bisa menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
-----
Terimakasih banyak kepada Kakak-kakak semua yang sudah mampir dan memberi support untuk Author 🙏
__ADS_1
Author mohon maaf ya kalau masih banyak kesalahan dan kekurangan, jangan sungkan memberi saran dan kritik 🙏
Follow IG @tulisan_sitimay 🙏