SUAMIKU PUBER KEDUA

SUAMIKU PUBER KEDUA
Bab 69


__ADS_3

LIKE - COMMENT - VOTE - RATE - FAVORIT - FOLLOW


-----


Ita langsung fokus menghadap Della dengan tatapan tegas.


Della menunduk karena takut.


''Katakan saja Dell, kamu tidak perlu takut kepada saya atau pun Pak Rio, apalagi suami saya. Kita semua bekerja sama, kami akan menyelesaikan ancaman yang selalu menjadi ketakutanmu sampai sekarang..'' Ucap Ita.


''Kamu tenang ya, suami saya sudah berusaha menghilangkan bukti itu di ponsel Sarah, semoga wanita itu tidak menyimpan di tempat lain..'' Lanjutnya.


''Betul kah Bu sudah di hapus?'' Tanya Della langsung mengangkat pandangannya.


Ita mengangguk.


''Terimakasih Bu, terimakasih banyak sudah membantu saya..'' Ucap Della sambil terisak.


''Della, suami saya menyadari permasalahan ini berawal dari kisahnya di masa lalu juga, dia akan bertanggung jawab untuk menebus kesalahannya, do'akan saja dan asal kamu benar-benar janji untuk tidak terbawa sama ancaman wanita itu..'' Ucap Ita.


''Saya janji Bu..'' Jawab Della sambil memberi anggukan semangat.


''Alhamdulillah, sekarang katakan apa tujuanmu pagi-pagi sudah ke ruangan saya?'' Tanya Ita.


''Emm, itu kemarin Nona Sarah kembali menghubungi saya..'' Jawab Della gugup.


''Apa yang dia katakan?'' Tanya Ita penasaran.


''Dia meminta saya untuk mendekati Pak Yuda dan mengambil bisnisnya, dia juga mengajarkan saya bagaimana cara untuk mendekati Pak Yuda. Kalau saya menolak, dia akan menyebarkan foto-foto itu..'' Della menceritakan perintah yang di berikan oleh Sarah kemarin.


''Tapi, saya nggak akan lakukan itu kok Bu, serius.. Saya tidak mungkin mengkhianati kalian lagi, sudah cukup saya melakukan kecerobohan waktu itu..'' Lanjut Della memberi penjelasan, karena takut Ita marah dengannya.


Ita tersenyum.


''Della, terimakasih ya atas kejujuranmu, saya sangat senang. Saya percaya kamu tidak akan melakukan itu, kamu tenang saja.


Nanti akan saya bahas dulu sama suami, kalau wanita itu menghubungi kamu lagi, yaa kamu cari alasan apa aja yang kiranya bisa masuk akal menurut dia..'' Ucap Ita.


''Tentang pengancaman itu ada undang-undangnya Dell, kamu jangan takut ya.. Kami akan membantu kamu..'' Imbuhnya.


''Hah? Undang-undang Bu? Sama polisi dong urusannya?'' Tanya Della terkejut.


''Ya polisilaahh, masa tukang tambal ban..'' Jawab Ita memberi candaan.


''Hehe, kok ngeri Bu kalau sampai bawa-bawa polisi..'' Ucap Della bergidik ngeri.


''Yaa kita kan belum tau jelas langkah ke depannya akan gimana, yang jelas kita sekarang kan fokus ke masalah kamu sama wanita itu, dan itu semua menjadi tanggung jawab suami saya.


Kamu tinggal ikuti aja arahan dari kami dan berdo'a, oke..'' Ujar Ita.


''Baik Bu, terimakasih sudah membantu saya..'' Jawab Della.


''Sama-sama, maafkan suami saya ya..'' Ucap Ita.


''Iya Bu..'' Jawab Della lalu permisi meninggalkan ruangan Ita.


--


Malam hari, Yuda kembali akan mengajak istrinya untuk mengobrol saat anak-anaknya sudah pada tidur.

__ADS_1


''Bun..'' Panggil Yuda.


''Iya Yah..'' Jawab Ita pelan, karena masih mengusap-usap punggung Arisa.


Setelah memastikan Arisa tidur nyenyak, Ita menghampiri sang suami.


''Semalam belum selesai, ehh Bunda malah sudah tidur..'' Gerutu Yuda.


''Yaa Ayah, orang sudah ngantuk malah di ajak ngobrol, hihi.. Ya maaf..'' Ucap Ita membela diri.


''Ayah sudah mengakhiri hubungan dengan Sarah..'' Ucap Yuda pelan, karena sebenarnya ia sudah nggak mau membahas ini lagi.


''Oh ya?? Ayah pakai alasan apa buat mutusin dia?'' Tanya Ita penasaran.


Ita langsung duduk menghadap sang suami.


''Pelan-pelan Bun, nanti Arisa bangun..'' Bisik Yuda.


Ita langsung menutup mulut dengan tangannya dan menoleh ke arah sang putri yang masih tidur nyenyak.


''Ayah bilang apa adanyalah Bun kalau kebahagiaan Ayah ada di keluarga.


Lagian ya Bun, pas Sabtu malam itu, Ayah nggak sengaja mergoki dia sama laki-laki lain di cafe, ya kan mempermudah jalan..'' Cerita Yuda.


''Ayah cemburu nih ceritanya..'' Tanya Ita menggoda suaminya.


''Bukan cemburu Bun, setidaknya kan Ayah nggak perlu cari-cari alasan buat menghindari dia..'' Jelas Yuda.


''Iya iya Yah, jangan panik gitu dong mukanya..'' Ucap Ita.


''Hah masak? Perasaan biasa aja, nggak panik..'' Ujar Yuda yang berdiri di depan cermin lalu menoleh ke istrinya yang masih duduk dan menahan gelak tawanya.


Ita masih menahan gelak tawanya karena berhasil membuat sang suami panik.


''SELAMAT ANDA BERHASIL KENA PRAANKK..'' Canda Ita lagi.


''Apasih Bunda..'' Ujar Yuda kesal.


''Cie panik cieee..'' Goda Ita lagi.


''Biasa aja..'' Jawab Yuda sambil menepuk-nepuk pipinya.


''Sudah-sudah bahas yang serius..'' Ucap Ita.


''Tadi Della bilang ke Bunda kalau si Sarah itu kemarin nelpon dia lagi..'' Lanjut Ita.


''Terus apa katanya Bun? Jangan bilang dia ngancam lagi..'' Tanya Yuda penasaran.


''Ya apalagi Yah kalau bukan ancam mengancam..'' Jawab Ita.


''Ancamannya apa Bun?'' Tanya Yuda semakin penasaran.


''Wanita itu nyuruh Della buat dekati Ayah dan jika sudah berhasil, Della di minta buat ngambil semua usaha Ayah, kalau Della sampai gagal, dia bakal ngancam buat nyebarin foto-fotonya itu..'' Jelas Ita.


''Masih berani-beraninya dia mengganggu kita, sudah jelas ketahuan kalau dia kencan sama orang lain, masih nekat juga..'' Gerutu Yuda.


''Ehhmm..'' Ita berdehem mendengar gerutuan sang suami.


''Maafin Ayah ya Bun, pokoknya Ayah tidak akan pernah mengecewakan Bunda lagi, hanya Bunda dan anak-anak di hati Ayah..'' Kata Yuda lalu memeluk sang istri.

__ADS_1


Yuda mencium kening Ita.


''Terus gimana Yah langkah selanjutnya buat bantu Della? Jangan sampai kita terlambat..'' Tanya Ita.


''Ayah sudah mendapatkan kuasa hukum buat membantu Della..'' Jawab Yuda.


''Siapa Yah?'' Tanya Ita lagi.


''Bapak X, kapan Della bisa ambil izin? Bunda juga, kita ke Jakarta untuk bertemu dengan beliau..'' Tanya Yuda balik.


''Kapan yaa.. Seingat Bunda, Della belum ambil cutinya juga, besok deh Bunda tanya lagi sama Della, dia bisanya kapan..


Kalau bisa sih ya secepatnya..'' Ujar Ita.


''Iya Bun harus secepatnya..'' Jawab Yuda.


Karena waktu semakin larut, akhirnya mereka memilih untuk tidur.


--


''Pagi Della, nanti kalau sudah selesai kamu bisa ke ruangan saya ya..'' Ujar Ita menyapa langsung menyuruh.


''Pagi Bu, baik nanti saya ke ruangan Ibu..'' Jawab Della.


Ita mengangguk lalu melangkah menuju ruangannya.


30 menit kemudian.


''Permisi Bu..'' Ucap Della.


''Masuk Dell, silakan duduk..'' Jawab Ita.


Della mengangguk lalu menduduki kursi yang di tunjuk oleh Ita.


''Langsung saja ya Dell, suami saya sudah mendapat pengacara buat membantu masalah kamu..'' Ucap Ita.


''Pengacara Bu? Terus saya harus ngapain Bu?'' Tanya Della panik.


''Kamu harus mengumpulkan suami bukti tentang ancaman itu, dari chat dia ke kamu, atau kalau pas di menghubungi kamu, kamu bisa merekamnya..'' Jawab Ita.


''Dan kita akan ke Jakarta lusa..'' Imbuhnya.


''Hah lusa??'' Della kaget lalu menutup mulutnya.


''Iya, kita harus gerak cepat Dell, kamu masih punya banyak waktu buat menyelesaikan kerjaanmu..'' Ujar Ita.


''Ba-baik Bu..'' Jawab Della gugup.


''Ya sudah kamu boleh lanjutkan pekerjaanmu, jangan lupa kumpulkan bukti-buktinya..'' Ucap Ita mengingatkan.


''Baik Bu, saya permisi..'' Ucap Della.


-----


Mohon maaf ya jika tulisan Author masih banyak kesalahan dari segi apapunšŸ™


Terimakasih banyak atas support yang Kakak-kakak berikan untuk Author agar lebih semangatšŸ™


Kita saling support juga kepada sesama Authorā¤

__ADS_1


Follow my IG @tulisan_sitimay


__ADS_2