SUAMIKU PUBER KEDUA

SUAMIKU PUBER KEDUA
Bab 53


__ADS_3

LIKE - COMMENT - VOTE - RATE - FAVORIT - FOLLOW


IG @tulisan_sitimay


-----


"KAMU!!"


Ibu memandang tajam ke arah Ita, semua bertanya-tanya Ibu ada apa.


Ibu mengangkat tangannya dan menunjuk-nunjuk menantunya tersebut.


''PERGI KAMU PENGKHIANAT!" Bentak Ibu dengan memaksakan suaranya, tangan satunya terus memegangi dadanya.


"Ibuu.." Panggil Ita lirih, ia menitikkan air matanya karena tentu saja sangat sakit hati atas ucapan mertuanya.


Yuda langsung memanggilkan seorang perawat yang tengah berjaga.


''Permisi, atas nama Ibu Musrina sudah sadar..'' Ucapnya.


''Baik Pak..'' Suara dari seorang perawat lalu bergegas mengambil peralatannya.


Sementara itu, di ruangan Ibu masih terus mengusir Ita.


Rima akhirnya mengajak Ita untuk keluar dari ruangan mertua mereka.


"Tenang dulu ya Bu, istighfar Bu..'' Titah Yudi.


Tak lama kemudia perawat datang dan langsung memeriksa kondisi Ibu.


Yuda dan Yudi memperhatikan gerakan perawat tersebut.


Selesai memeriksa, perawat mengajak Yuda dan Yudi untuk agak menjauh dari Ibu.


''Begini Pak, kondisi jantung pasien itu sudah semakin lemah, pasien sudah tidak bisa mendengar atau melihat yang mengagetkan atau sesuatu hal yang mengejutkan, jadi tolong ya Pak perhatikan sungguh-sungguh keseharian pasien..'' Pesan perawat tersebut.


''Tapi, tadi pas baru saja Ibu kami sadar dan saat melihat istri saya, beliau langsung marah Bu, padahal seingat saya, kami sedang tidak ada masalah apapun.." Jelas Yuda.


''Mungkin ada sesuatu hal yang Bapak tidak tau, dan lebih baik jangan temukan pasien dengan istri anda terlebih dahulu, demi kebaikan Ibu kalian.." Perawat itu memberi pesan.


''Besok pagi dokternya akan datang lagi..'' Lanjutnya.


''Baik terimakasih..'' Ucap Yuda.


Perawat tersebut mengangguk.


''Permisi..'' Ucapnya.


--


''Yoko sudah tau, tapi Mas melarang dia untuk ikut pulang..'' Ucap Yuda.


''Yuni gimana Mas?'' Tanya Yudi yang memang belum mengabari siapa-siapa selain Yuda.


''Yuni nggak usah di kasih tau, kalau tiba-tiba merengek minta pulang apa nggak malah ribet, biarin dia fokus bentar lagi selesai..'' Jawab Yuda.


''Siap Mas..''


--


Sementara itu, di depan kamar Ita masih menangis sesenggukan.


''Kakak salah apa Rim? Kenapa Ibu bisa tiba-tiba semarah itu sama Kakak?''


Rima terus mencoba menenangkan.


''Sabar ya Kak, aku juga nggak tau Ibu nerima paketan apa..''


''Kamu tau siapa pengirimnya?'' Tanya Ita langsung menegakkan posisi duduknya.

__ADS_1


Rima menggeleng.


''Terus siapa sekarang yang jaga rumah?'' Tanya Ita lagi.


''Kosong Kak, anakku sama Neneknya..'' Jawab Rima.


Huhhh


Ita menghela nafas.


Mereka sedang berada di rumah sakit yang memiliki penilaian bagus di provinsi tersebut, fasilitasnya juga sudah lumayan lengkap, dokter-dokter spesialis disini juga sudah banyak.


Tak terasa waktu sudah masuk waktu dini hari, mereka sampai melupakan waktu makan siang mereka.


Ibu sudah lumayan tenang setelah melalui drama banyak rayuan dari kedua putranya hingga akhirnya Ibu bisa tidur lagi dengan nyenyak.


''Kamu bawa mobil kan Yud?'' Tanya Yuda.


''Iya Mas, kamu mau kemana?'' Tanya Yudi.


''Aku pinjam dulu buat pulang ke rumah, tolong jaga Ibu ya..''


''Oh iya Mas, ini kuncinya, tapi ini masih dini hari lo Mas, kalian aja belum istirahat sama sekali..'' Ucap Yudi.


Yuda melihat jam di tangannya, benar-benar waktu paling enak buat tidur.


Karena sedang di rumah sakit, rasa kantuk pun jadi hilang.


''Aku nggak ngantuk Yud, bawa dulu ya..'' Ucapnya.


''Iya Mas hati-hati..'' Pesan Yudi.


Sedangkan di depan.


Ita dan Rima menyandarkan kepalanya di dinding, antara pusing, ngantuk, dan juga lapar mereka rasakan.


''Bun..'' Yuda menepuk pundak Ita pelan.


''Kita langsung ke rumah ya..'' Ajak Yuda.


''Sekarang??'' Tanya Ita memijat-mijat pelipisnya.


''Iya.. Ini sudah pinjam mobilnya Yudi, kita cari tau ada apa..'' Ucapnya lagi.


Ita menoleh ke arah Rima yang juga memperhatikan mereka.


''Rim, Kakak pulang dulu nggak papa kan..''


''Nggak papa Kak, tapi inikan masih jam segini, jauh loh Kak..'' Pesan Rima.


''Aku nggak ngantuk Rim, nanti kalau ada apa-apa kabari aja ya, dan kalau mau di bawakan apa juga langsung kabari, nanti kalau kita sudah menemukan jawaban, kita langsung kembali kesini..'' Ucap Yuda.


''Iya sudahlah Kak, yang penting kalian hati-hati..'' Ujar Rima.


''Iya..'' Jawab Yuda dan Ita.


Setelah keluar dari rumah sakit, Yuda terlebih dahulu mengajak Ita untuk mencari makan yang tidak jauh dari rumah sakit.


Mereka meninggalkan waktu makan siang dan juga makan malam, wajar saja jika mereka merasakan pusing.


Beruntung sekali, tidak jauh dari rumah sakit masih ada rumah makan yang buka.


--


Mereka melanjutkan perjalanan hanya berdua.


''Kenapa Ibu semarah itu sama Bunda, Yah..'' Ita berbicara lirih.


Yuda yang masih fokus mengemudi hanya menghembuskan nafasnya.

__ADS_1


''Apa yang Bunda sembunyikan dari Ayah?'' Tanya Yuda.


''Menyembunyikan??'' Tanya Ita tidak mengerti.


''Perawat tadi bilang jantung Ibu sudah lemah, Ibu sudah tidak bisa melihat atau mendengar segala hal yang bikin kaget. Dan Ibu melihat Bunda langsung marah, ada apa sebenarnya kalian?'' Tanya Yuda terus memandang arah depan.


Ekspresinya sudah sangat serius.


''Ya Allah.. Yah, Bunda aja kaget begitu lihat Ibu marah pas lihat Bunda, kemarin-kemarin pas Bunda nelfon, kami ngobrol biasa aja kok..''


''Paketan, yaa paketan itu pasti isinya paket fitnah..'' Gumam Ita, namun Yuda masih bisa mendengar.


''Paketan fitnah??'' Tanya Yuda.


Ita menghadap ke arah suaminya.


''Yah, Bunda kemarin sudah berbicara dengan pelaku yang memoto Bunda dan Rio, bahkan kami sudah tau jelas kok siapa yang nyuruh dia untuk memfitnah Bunda sama Rio..'' Jelas Ita.


''Siapa yang menyuruhnya?'' Tanya Yuda.


''Yakin Ayah peduli dengan hal ini?'' Tanya Ita balik.


''Bukan masalah peduli atau nggaknya, kalau nggak mau jawab ya sudah..'' Yuda kepancing emosi.


''Katanya yang nyuruh dia itu namanya SARAH, bahkan dia juga sudah mengancam orang yang memotret kami..'' Ita membisikkan kata Sarah di telinga Yuda.


Ciiiiiitttt


Yuda tiba-tiba menginjam rem karena kaget.


''Astaghfirullah, AYAH mau ajak Bunda bunuh diri?!!'' Ita langsung berbicara dengan nada tinggi karena syock.


''Maaf Bun maaf, Ayah kaget..'' Yuda pelan-pelan melajukan mobil kembali.


''Kenapa Ayah kaget? Ayah kenal sama yang namanya Sarah?'' Ita terus memancing suaminya.


''Eng Enggak, nggak kenal..'' Yuda terus menggeleng.


''Oooo gitu, jangan-jangan pelakunya ini sama..'' Lanjut Ita.


''Gimana menurut Ayah?'' Ita terus memancing suaminya.


''Gimana apanya Bun?''


''Yaa kalau ternyata yang namanya Sarah itu menjadi dalang di balik semua ini..'' Jelas Ita.


''Kita lihat nanti saja Bun, jangan suudzon..''


''Sebaiknya Bunda tidur, perjalanan masih jauh..'' Yuda mengalihkan pembicaraan.


Ita tidak menjawab, ia terus memikirkan cara yang tepat agar suaminya kembali seperti dulu dan Sarah mendapatkan hukuman.


BERSAMBUNG DULUUU..


-----


Terimakasih yang selalu setia untuk mampir dan memberi support kepada author🙏


Jangan lupa


LIKE


COMMENT


VOTE


FAVORIT


FOLLOW

__ADS_1


IG @tulisan_sitimay


__ADS_2