
Boulevard Residence.
Sebelum Alex mengirim pesan pada Jethro.
Kini Alex dan Zizi sudah berada di apartemen Jethro di gedung Boulevard Residence.
Zizi tercengang melihat apartemen mewah milik Jethro.
"Woah.. besar sekali apartemennya." lirih Zizi pelan namun masih bisa di dengar Alex.
"Apa ini apartemen Tuan Jethro?" tanya Zizi dan di jawab dengan anggukkan kepala oleh Alex.
"Apartemen pribadinya?" tanya Zizi lagi masih sangsi dan kembali Alex menganggukkan kepala-nya.
"Memangnya apa pekerjaan Tuan Jethro sampai memiliki apartemen sebesar ini?" tanya Zizi dengan polosnya.
"Memangnya kamu tidak mengenal Jethro?" Alex malah bertanya balik.
Dengan polosnya Zizi menggelengkan kepala-nya.
"Ketik saja di pencarian internet nama Jethro McLeon. Pasti kamu akan tahu siapa itu Jethro." ucap Alex.
"Maaf, aku tidak punya ponsel." jawab Zizi dengan polosnya.
"Apa? Hari gini kamu tidak punya ponsel! Apa kamu pindahan dari luar angkasa, hah?"
"Sebelum Bibi ku membawa aku ke hotel itu, aku punya. Tapi ponsel-ku dibanting Bibi ku saat aku hendak pergi ke hotel karena aku dan Bibi ku sempat bertengkar. Jadi sekarang aku tidak punya ponsel lagi." jawab Zizi.
__ADS_1
Alex hanya bisa menghela nafasnya kasar lalu duduk di salah satu sofa panjang di ruang tengah, tempat mereka berada sekarang. Melihat Alex duduk, Zizi pun ikut duduk di sofa panjang yang berhadapan dengan tempat Alex duduk.
"Apa kamu masih sekolah?" tanya Alex.
Zizi menggelengkan kepala-nya.
"Aku sudah tamat sekolah menengah atas, Tuan." jawab Zizi.
"Tidak melanjut kuliah?"
Zizi kembali menggelengkan kepala-nya.
"Lalu apa kegiatan mu setelah tamat sekolah?" tanya Alex.
"Bekerja di toserba yang ada di dekat rumah Bibi ku sebagai kasir." jawab Zizi.
"Kenapa kamu mau di jodohkan oleh Bibi mu dengan pria yang sudah beristri tiga?" tanya Alex penasaran.
"Entah, aku juga tidak tahu. Tapi sepertinya karena Paman dan Bibi ku tergiur dengan uang yang di tawarkan oleh Tuan Norman, apalagi Paman dan Bibiku sedang membutuhkan uang untuk membayar uang kuliah Deasy." jawab Zizi.
"Deasy? Siapa itu?" tanya Alex.
"Anak bungsu Paman dan Bibi ku." jawab Zizi.
"Oh... Dia seumuran dengan mu?" tanya Alex dan di balas dengan anggukkan kepala oleh Zizi.
"Lalu apa Jethro tidak bicara apa-apa setelah menolong mu?" sengaja Alex bertanya berputar-putar dulu untuk mengecoh Zizi, berharap saat Alex bertanya tentang hubungan Zizi dan Jethro, Zizi bisa keceplosan. Ternyata Alex salah perhitungan, Zizi sama sekali tidak keceplosan.
__ADS_1
"Sudah saya bilang tidak, Tuan. Tuan ini kenapa sih bertanya terus! Seperti wartawan saja!" jawab Zizi.
Lagi dan lagi Alex hanya bisa menghela nafasnya kasar.
"Ya sudah kalau memang tidak ada apa-apa antara kamu dan Jethro, padahal aku berharap kalian punya hubungan spesial." balas Alex.
"Aku pulang dulu kalau begitu. Kamu tunggu saja Jethro datang." Pamit Alex sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Lalu kapan Tuan Jethro datang?" tanya Zizi.
"Entah, aku juga tidak tahu. Mungkin setelah mengajak anaknya jalan-jalan atau mungkin besok pagi sebelum dia berangkat kerja." Jawab Alex.
"Kalau Tuan Jethro besok pagi datang, lalu aku makan apa nanti malam?" lirih Zizi.
"Memangnya kamu tidak punya uang?" tanya Alex dan di jawab dengan gelengan kepala oleh Zizi.
Alex menghela nafasnya kasar. Kemudian Alex pun mengeluarkan dompetnya dari dalam saku celana-nya dan memberikan selembar uang seratus dollar.
"Ini ambil lah, pakai uang ini kalau Jethro tidak datang malam ini. Dan jangan lupa membawa kartu itu kalau kamu ingin keluar membeli makanan, nanti kamu tidak bisa masuk ke dalam sini kalau kamu keluar tanpa membawa kartu kunci itu, karena satu kartu lagi ada pada Jethro." ucap Alex sambil menyodorkan selembar uang seratus dollar pada Zizi.
Tanpa basa basi, Zizi pun langsung mengambil uang yang Alex sodorkan.
"Terimakasih Tuan." ucap Zizi.
"Ya sudah aku pulang yah." pamit Alex sekali lagi.
Alex pun berjalan meninggalkan ruang tengah dan Zizi pun mengantar Alex sampai di pintu.
__ADS_1
***
Bersambung...