
Setelah tiga kali bunyi nada sambung, Alex pun menjawab telepon Jethro.
"Ya Je, ada apa?" tanya Alex diseberang telepon.
"Lex, aku butuh bantuan mu." jawab Jethro.
"Memangnya kapan kau tidak butuh bantuan ku, hah?" sindir Alex.
"Cih! Tolong bantu aku menyingkirkan barang-barang Milea yang ada di kamar rahasia." ucap Jethro.
Untuk beberapa detik Alex terdiam.
"Apa kau serius, Je?" tanya Alex memastikan.
"Sangat serius." jawab Je.
"Tapi kenapa tiba-tiba-"
"Tidak usah bertanya kenapa, lakukan saja apa yang aku minta." potong Jethro.
"Mmm... baik kalau begitu." jawab Alex.
Jethro pun menutup teleponnya.
"Kenapa Anda ingin menyingkirkan barang-barang mantan istri Anda, Tuan?" tanya Zizi.
"Kenapa memanggil ku Tuan, hah? Apa kamu mau aku cium?" Jethro malah menggoda Zizi.
"Cih! Jangan harap Anda bisa mencium ku!" jawab Zizi.
"Yakin?" tanya Jethro sambil mendekatkan wajah-nya pada Zizi.
"Iiikh... Sana!" Zizi langsung mendorong tubuh Jethro lalu berdiri dari duduknya, tapi dengan cepat Jethro langsung menarik tangan Zizi dan mendekap tubuh Zizi.
__ADS_1
"Jangan pergi, jangan pernah meninggalkan ku." ucap Jethro sambil membenamkan wajah-nya di bahu Zizi.
Hati Zizi sempat berbunga-bunga mendengar kata-kata Jethro, tapi tak lama Zizi teringat kalau Jethro ragu untuk menjalankan sebuah pernikahan.
"Atas dasar apa saya harus berada terus di samping Anda? Saya tidak ingin berada disamping laki-laki yang tidak mencintai saya." balas Zizi. Yang Zizi butuh sekarang adalah pengakuan Jethro.
Perlahan Jethro menjauhkan tubuh-nya dari tubuh Zizi.
"Aku mencintai mu, Zi." akhirnya Jethro pun mengaku, ia tidak mau lagi memendam perasaannya pada Zizi. Ia ingin melepas semua kenangannya bersama Milea dan mempersilahkan Zizi masuk kedalam hatinya dan bertahta selama-nya disana.
Mata Zizi membulat mendengar pengakuan Jethro.
"Maaf aku baru mengatakan ini pada mu. Mungkin aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertemuan kita pertama dan itulah alasan aku menolong mu dari Bibi mu. Tapi aku tidak berani mengakui-nya karena aku takut, aku takut gagal, aku takut di tinggalkan. Aku pikir ditinggalkan oleh wanita itu adalah hal yang paling menyakitkan, ternyata memendam perasaan pada orang yang kita cintai jauh lebih menyakitkan." kata Jethro lagi.
"Tidak mungkin!" lirih Zizi pelan. Ia masih tidak percaya dengan pengakuan Jethro.
"Apanya yang tidak mungkin? Aku serius Zi, aku sungguh-sungguh mencintai mu. Makanya aku menyuruh Alex untuk membuang semua barang-barang Milea karena aku ingin membuka lembaran baru bersamamu." Jawab Jethro.
Tiba-tiba saja Jethro berlutut di hadapan Zizi lalu menggenggam kedua tangan Zizi dengan erat.
Zizi terkekeh kecil mendengar kata-kata terakhir Jethro.
"Kalau aku tidak mau?" tanya Zizi, ia hanya menggoda.
"Kalau kamu tidak mau, akan aku buat kamu mengatakan mau!" jawab Jethro.
"Caranya?" tanya Zizi, ia tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Jethro saat ini.
Jethro menatap Zizi dalam-dalam dan di balas oleh Zizi dengan tatapan polosnya. Melihat itu tersenyum tipis.
"Jangan memancing ku, Zi!" ucap Jethro. Tatapan polos Zizi berhasil membuat Jethro ingin mengukung Zizi di bawah-nya dan membuat Zizi mengerang sambil meracau menerima lamaran Jethro.
"Memancing apa? Saya kan hanya bertanya, Tuan." balas Zizi.
__ADS_1
Jethro menelan salivanya susah payah kemudian menghela nafasnya panjang.
"Jadi kamu benar ingin tau bagaimana cara ku membuat mu menerima lamaranku, hah?" tanya Jethro dan di jawab dengan anggukkan kepala oleh Zizi.
"Baiklah kalau kamu ingin tahu. Jangan salahkan aku karena ini kamu yang meminta." balas Jethro.
Zizi mengernyitkan keningnya, ia sedang berpikir apa maksud kata-kata Jethro. Tapi belum juga Zizi menemukan jawabannya, tiba-tiba Jethro langsung berdiri dan menyerang bibir Zizi dengan bibir-nya dengan penuh gairah.
"Hemph... Hemph..." ronta Zizi berusaha melepaskan ciuman Jethro.
Jethro pun melepas sebentar ciumannya.
"Inilah caraku agar kamu mau menerima lamaran ku. Jadi sekarang apa kamu mau menikah dengan ku, Zi?" tanya Jethro dengan nafas yang memburu.
"Ini pemaksaan namanya Tuan." jawab Zizi.
Jethro tersenyum tipis.
"Pemaksaan yang pastinya kamu akan sukai." jawab Jethro lalu kembali mencium leher Zizi.
"Aaakh... Tuan, geli!" pekik Zizi.
Jethro tidak menggubris kata-kata Zizi dan terus menciumi leher Zizi penuh gairah. Bahkan tangan Jethro juga sudah ikut bermain mere.mas lembut dada Zizi.
Zizi yang awal-nya geli, risih dan terus meronta, lama kelamaan malah menikmati apa yang Jethro lakukan pada tubuh-nya.
"Kamu mau menikah denganku kan Zi?" tanya Jethro disela-sela aktifitasnya.
"Ah... jangan seperti ini... ah... Tuan." jawab Zizi sambil mende.sah.
Jethro tidak memperdulikan kata-kata Zizi karena Jethro bisa merasakan tubuh Zizi menginginkan hal yang lain. Tangan dan bibir Jethro terus saja memberi cumbuan-cumbuan ketubuh Zizi.
***
__ADS_1
Bersambung...