
Zizi melipat bibirnya rapat-rapat lalu menarik nafasnya dalam-dalam. Ada satu pertanyaan yang sangat ingin Zizi tanyakan pada Jethro tapi ia takut mengeluarkan pertanyaan itu dari mulutnya.
"Apa tidak ada lagi yang ingin kamu tanyakan? Kalau tidak ada biar aku pulang." tanya Jethro.
"Mmm Tuan, dengan segala kebaikan yang Anda berikan pada saya ini, apakah Anda akan..." Zizi menggantung kata-katanya. Bibirnya terasa berat meneruskan pertanyaannya.
Untungnya Jethro paham dengan apa yang ingin Zizi tanyakan.
"Jujur, aku ini laki-laki normal dan berstatus duda, aku sudah dua kali menikah. Sebagai seorang laki-laki normal dengan status duda, sudah pasti aku membutuhkan seseorang untuk melampiaskan hasratku. Dengan segala yang aku berikan padamu, tentu saja aku memberikan itu bukan secara cuma-cuma, sudah pasti kamu harus bekerja sebagaimana sugar baby. Tapi tenang saja, walau begitu, aku tidak akan memaksa mu sekarang untuk melakukan tugas mu sebagai sugar baby ku. Yang harus kamu lakukan sekarang fokus saja dengan pendidikan mu!" ucap Jethro.
Zizi menghela nafasnya lega, setidaknya untuk beberapa saat ini dirinya aman.
"Dan satu lagi, mulai besok kamu harus masak makan malam untuk ku! Aku ingin menu yang berbeda setiap harinya. Kamu paham kan?!" kata Jethro lagi dan di balas dengan anggukkan kepala Zizi.
"Baguslah kalau kamu paham. Apa ada lagi yang ingin kamu tanyakan?" tanya Jethro.
Zizi menggelengkan kepala-nya.
"Ya sudah, kalau begitu aku pulang dulu. Kamu beranikan tidur di apartemen ini sendiri?"
"Iya Tuan, saya berani." jawab Zizi.
__ADS_1
Jethro pun berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan menuju pintu dan diikuti Zizi dari belakangnya.
Jethro pun keluar dari apartemen itu, setelah Jethro keluar, Zizi pun menghela nafas lega sambil bersandar di pintu.
"Syukurlah Tuan Jethro tidak ingin melakukan itu sekarang." lirih Zizi.
"Meski begitu, aku juga tidak boleh terbuai dengan barang-barang pemberian Tuan Jethro. Aku harus tetap mencari pekerjaan dan mengumpulkan uang agar bisa mengembalikan semua uang Tuan Jethro sebelum Tuan Jethro menginginkan itu padaku." lanjut Zizi lagi.
***
Keesokan harinya.
McLeon Group.
Sekarang Jethro sudah berada di ruang kerja-nya.
Tok.. Tok.. Tok. Ceklek.
Pintu ruang kerja Jethro terketuk dan tanpa menunggu jawaban dari Jethro, pintu itu pun terbuka. Siapa lagi yang membuka pintu kalau bukan Alex, sang asisten.
"Apa kamu sudah menemui gadis itu semalam?" tanya Alex setelah menutup pintu ruang kerja Jethro.
__ADS_1
"Mmm.." jawab Jethro malas sambil memijat pangkal hidungnya.
"Kau kenapa? Kenapa kelihatan banyak pikiran?" tanya Alex.
"Aku sedang pusing memikirkan Jacob." jawab Jethro.
"Memangnya kenapa Jacob? Apa dia minta Mama baru lagi?" tanya Alex.
"Bukan itu, tapi aku pusing siapa yang akan mengurus Jacob selama Kakek dan Neneknya pergi ke Negara J." jawab Jethro.
"Kenapa kau pusing, kan Jacob punya Bibi El yang mengurusnya!" jawab Alex.
"Masalahnya bukan disitu! Kalau Jacob aku bawa ke apartemen ku, siapa yang akan mengurusnya! Tidak mungkin kan pengasuhnya juga ikut ke apartemen ku!" balas Jethro.
"Kau ini hal yang tidak perlu di pusingkan malah di pusingkan! Kalau tidak mungkin membawa Jacob ke apartemen mu, yah berarti kau saja yang tinggal sementara di mansion orangtua mu, gampang kan!" balas Alex.
"Kau kan tahu tidak semudah itu aku kembali kesana." jawab Jethro dengan suara pelan dan tatapannya seketika kosong.
Alex pun menyadari kalau dia telah salah bicara pada Jethro. Karena Alex tahu saat ini Jethro kembali teringat akan Milea. Di mansion orangtua Jethro terlalu banyak kenangan bersama Milea, mulai dari mereka berpacaran bahkan sampai Milea menghembuskan nafasnya. Terutama di lantai dua, dimana di lantai dua adalah lantai khusus untuk Jethro. Makanya setiap Jethro pulang ke Mansion orangtuanya, Jethro tidak pernah lagi menginjakkan kaki-nya di lantai dua itu. Kalaupun Jethro menginap di mansion itu, Jethro pasti tidur di kamar tamu, itupun ia merasa tidurnya sangat tidak nyenyak.
***
__ADS_1
Bersambung...