
Setelah Jethro selesai makan, Zizi dan Jethro pun keluar dari kamar. Jethro menghampiri Alex yang ada di ruang tengah sedangkan Zizi pergi ke dapur untuk mencuci piring dan membersihkan dapur.
"Kenapa cepat sekali? Apa sekarang kamu cepat keluar?" ejek Alex begitu melihat Jethro.
"Diam kau! Jaga bicaramu! Zizi itu masih anak-anak, tidak baik kalau dia mendengar ucapan mu!" balas Jethro sembari duduk di single sofa.
"Dia sudah delapan belas tahun, bukan anak-anak lagi, tapi sudah masuk kategori wanita dewasa, ya.. walaupun belum matang. Dan yang paling penting, dia sudah bisa diajak bikin anak." jawab Alex.
"Kau!" geram Jethro sambil menghela nafasnya kasar.
"Apa sudah ada laporan?" tanya Jethro.
"Mmm.." jawab Alex sambil menganggukkan kepala-nya.
"Jacob baik-baik saja, seharian ini Becca membawa Jacob pergi ke playground dan ke mall, di mall Becca mengajak Jacob makan, belanja pakaian dan mainan serta buku-buku. Dan sekarang mereka sudah di hotel." jawab Alex meneruskan laporan yang di berikan orang suruhan Jethro.
"Apa mereka hanya berdua?" tanya Jethro.
"Iya, mereka hanya berdua. Memangnya kenapa kalau mereka bertiga? Apa kamu cemburu kalau Becca memperkenalkan calon ayah tiri-nya Jacob pada Jacob?" tanya Alex.
"Cih! Untuk apa aku cemburu! Bukan urusanku lagi! Aku hanya takut wanita itu menelantarkan Jacob karena asyik berduaan dengan kekasih-nya, atau bahkan kekasih wanita itu mengasari Jacob. Aku patahkan tangan laki-laki itu kalau sampai itu terjadi!" jawab Jethro.
Tak lama Zizi pun masuk ke ruang tengah sambil membawa buah pencuci mulut.
Zizi pun meletakkan piring berisi buah-buahan yang sudah di potong ke atas meja.
"Silahkan dimakan hidangan pencuci mulutnya Tuan Jethro, Tuan Alex." ucap Zizi.
"Bisa tidak jangan memanggil aku dengan panggilan Tuan, panggil saja aku Alex." balas Alex.
"Memangnya boleh?" tanya Zizi.
__ADS_1
"Boleh lah. Coba panggil." pinta Alex.
"Bagaimana kalau aku memanggilnya dengan panggilan Kak Alex saja." tawar Zizi.
"Boleh. Cepat panggil, aku ingin dengar." jawab Alex.
"Kak Alex.." ucap Zizi sembari tersenyum malu-malu.
Saat Zizi memanggil Alex dengan panggilan Kak Alex, Alex pun melirik Jethro, sengaja ia meminta Zizi untuk tidak memanggilnya dengan embel-embel Tuan, karena ia ingin melihat bagaimana reaksi Jethro.
Dan apa yang di harapkan Alex pun benar terjadi, karena begitu Zizi memanggil Alex dengan panggilan Kak Alex ditambah lagi Zizi sambil tersenyum malu-malu, wajah Jethro langsung berubah menjadi kecut. Alex pun tersenyum tipis melihat wajah kecut Jethro, kapan lagi bisa membuat sahabat sekaligus bos-nya itu terbakar api cemburu.
"Ah.. kenapa kamu menggemaskan sekali. Sini duduk di samping ku." ucap Alex sambil menarik tangan Zizi dan duduk di sebelahnya. Melihat itu mata Jethro langsung melotot tajam pada Alex. Alex yang menyadari tatapan Jethro sama sekali tidak memperdulikan tatapan tajam Jethro dan malah makin memanas-manasi Jethro.
"Mau tidak jadi adikku?" tanya Alex sambil memberi tatapan aneh pada Zizi.
"Hah.. adik?" Wajah Zizi nampak kebingungan. Entah adik yang bagaimana yang Alex maksud.
"Zizi.." panggil Jethro.
"Aku ingin makan buah." balas Jethro.
Zizi pun berdiri dari duduknya lalu meletakkan buah itu kepiring kecil lalu memberikannya pada Jethro.
"Suap!" pinta Jethro.
Mata Zizi membulat.
"Apa kamu tidak dengar? Cepat siap!" desak Jethro.
Zizi menghela nafasnya kasar lalu menusuk buah dengan garpu kecil lalu menyodorkan buah itu ke mulut Jethro.
__ADS_1
Namun, tanpa Zizi sangka saat ia menyodorkan buah kemulut Jethro, Jethro malah menarik tangannya hingga Zizi duduk di pangkuan Jethro.
"Tu-Tuan.." pekik Zizi dan hendak kembali berdiri namun dengan cepat Jethro menahan pinggang Zizi.
"Jarak mu terlalu jauh kalau kamu menyuapi aku dari situ, kalau begini kan lebih enak." ucap Jethro.
"Ta-ta-tapi.." Zizi menggantung kata-katanya sambil melirik kearah Alex.
"Tidak usah hiraukan dia, anggap saja di pajangan rusak." jawab Jethro yang mengerti kode yang di berikan Zizi.
Mendengar itu Alex yang dianggap sebagai pajangan rusak, bukannya marah, malah terkekeh kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala-nya.
"Baiklah daripada aku di anggap sebagai pajangan rusak, lebih baik aku pergi dari sini. Lagipula si bayi bangkotan ini sudah terlihat baik-baik saja." ucap Alex sambil berdiri dari duduknya.
"Zi, jangan lupa susui bayi bangkotan mu itu sekalian." ucap Alex menyindir.
"Cih.." decih Jethro sambil menaikkan sudut bibirnya. Sedangkan Zizi wajahnya sudah memerah karena malu.
Alex pun berjalan keluar dari ruang tengah.
"Zi, apa kamu tidak mau mengantar Kakak mu ini sampai di pintu?" teriak Alex karena ia sudah keluar dari ruang tengah.
"Tuan, saya antar Kak Alex dulu." Izin Zizi.
"Tidak perlu!" tolak Jethro.
"Keluar sendiri! Jangan manja! Biasanya juga kau keluar sendiri!" jawab Jethro berteriak.
Alex malah tertawa terbahak-bahak.
"Dasar bayi bangkotan posesif!" ejek Alex sambil berjalan menuju pintu.
__ADS_1
***
Bersambung...