
Keesokan harinya.
Pukul 11.00
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang, tapi Jethro dan Zizi belum juga bangun.
Bagaimana mau bangun kalau mereka baru menghabiskan malam panjang dengan berbagi peluh dan saling bersahut-sahutan mende.sah dan mereka baru bisa tidur nyenyak pukul lima pagi.
"Eugh..." lenguh Jethro sambil berusaha membalikkan tubuhnya kearah kanan, tapi tidak bisa karena ada tangan yang melingkar didada-nya.
Jethro pun mera.ba tangan itu mulai dari punggung tangan lalu naik sampai ke pundak Zizi. Begitu tangan Jethro menyentuh pundak Zizi, barulah Jethro membuka matanya lebar-lebar, bahkan bukan hanya Jethro yang membuka matanya, melainkan Zizi juga ikut-ikutan membuka matanya karena merasakan sentuhan tangan Jethro di pundaknya.
Untuk beberapa detik mata mereka hanya saling menatap sambil otak mereka bekerja mengumpulkan kepingan-kepingan puzzle kejadian semalam.
Setelah kepingan-kepingan puzzle tersusun sempurna di memori otak mereka, sontak Zizi dan Jethro sama-sama membuka sedikit selimut yang menutupi tubuh mereka. Keduanya kompak membulatkan mata mereka lebar-lebar begitu melihat tubuh mereka yang masih dalam keadaan polos di balik selimut.
Untuk beberapa menit keduanya hanya bisa mematung sambil menatap langit-langit kamar.
"A-a-apa yang kita la-lakukan se-semalam, Tuan?" tanya Zizi dengan suara bergetar. Rasanya ia ingin berteriak dan memaki Jethro karena sudah meng-unboxing dirinya. Tapi setelah diingat-ingat lagi, kejadian semalam sama sekali tidak ada paksaan dari Jethro dan diingatan Zizi, Zizi juga mengingat kalau dirinya juga menikmati sentuhan demi sentuhan, hentakan demi hentakan yang Jethro lakukan atas tubuh-nya.
"Sepertinya aku tidak perlu menjelaskannya. Aku yakin kamu juga tahu apa yang kita lakukan semalam." jawab Jethro.
Mendengar jawaban Jethro, Zizi pun terdiam, dia tidak tahu harus mengatakan apalagi, ingin meminta pertanggung jawaban Jethro tapi Zizi tidak berani, ia takut mendengar Jethro yang tidak mau bertanggung jawab karena apa yang mereka lakukan semalam atas dasar mau sama mau.
Yang Zizi ingin lakukan sekarang hanya ingin menangis. Tak tahan ingin mengeluarkan air matanya, Zizi pun menarik selimut dan mengempitnya dan hendak turun dari ranjang.
Tapi Jethro langsung menarik tangan Zizi dan memeluk Zizi dengan erat.
"Jangan pergi, aku akan tanggung jawab." ucap Jethro.
Tangis Zizi pun pecah seketika mendengar kata-kata Jethro.
"Huwaaaa... Aku pikir Anda tidak mau bertanggung jawab, aku tidak tahu harus bagaimana kalau Anda tidak mau bertanggung jawab, Tuan." ucap Zizi sambil menangis.
__ADS_1
"Sudah jangan menangis, aku bukan laki-laki seperti itu." balas Jethro sambil mengelus kepala Zizi.
"Apa kamu sudah siap kalau aku mengajak mu bertemu dengan orangtua ku?" tanya Jethro.
Zizi menjauhkan tubuh-nya dari pelukan Jethro.
"Apa hari ini kita akan langsung bertemu dengan orangtua Anda, Tuan?" tanya Zizi.
"Kenapa? Apa kamu belum siap bertemu dengan orangtua ku?" Jethro bertanya balik.
"Saya takut, orangtua Anda tidak mau menerima saya, Tuan." jawab Zizi sambil menundukkan wajah-nya.
"Tenang saja, orangtua ku tidak semenakutkan yang kamu bayangkan." jawab Jethro.
"Tapi kalau kamu memang belum siap, aku tidak akan memaksa, aku akan menunggu kamu siap baru aku akan membawa mu pada orangtua ku." kata Jethro lagi.
Zizi diam dan nampak berpikir. Jujur, ia sangat takut bertemu dengan orangtua Jethro, walau Zizi pernah bertemu dengan Mommy Radea satu kali dan Mommy Radea terlihat menyukai Zizi, tapi Zizi tidak berani berekspektasi tinggi kalau orangtua Jethro mau menerima-nya.
"Tidak usah berpikir yang macam-macam. Sekalipun orangtuaku tidak menyetujui aku dengan mu, kita punya Jacob sebagai senjata pamungkas agar kamu bisa diterima oleh orangtua ku." ucap Jethro.
"Tuan-"
"Hish... Kenapa memanggil ku Tuan, hah?! Kamu lupa harusnya memanggil ku apa?" protes Jethro.
"Bukannya waktu itu Anda pernah bilang kalau Anda tidak mau saya panggil dengan sebutan itu lagi?" balas Zizi.
"Itu kan waktu itu! Waktu itu aku sedang marah padamu karena kamu melanggar kesepakatan kita." ucap Jethro.
Zizi terdiam, ia mengingat kembali bagaimana marah-nya Jethro waktu itu. Mengingat itu Zizi jadi takut berada dalam lingkaran hidup Jethro, ia takut dirinya kembali hidup seperti dalam sangkar emas.
"Zi..."
Zizi mengalihkan pandangannya untuk menatap Jethro.
__ADS_1
"Aku minta maaf soal hari itu, aku sadar aku sudah sangat keterlaluan padamu. Aku janji tidak akan mengulangi kesalahan itu, aku akan belajar untuk mengontrol emosi ku mulai sekarang." ucap Jethro.
"Benarkah?" tanya Zizi dan di jawab dengan anggukkan kepala oleh Jethro.
"Apa Anda juga janji untuk tidak mengurung ku dan membebaskan ku melakukan apa yang aku mau?" tanya Zizi.
"Tergantung, kalau yang ingin kamu lakukan masih dibatas wajar, pasti akan aku izinkan tapi kalau itu di luar batas kewajaran, aku tidak akan mengizinkan mu." jawab Jethro.
"Kamu tahu Zi, aku takut kehilangan mu. Berpisah dengan mu beberapa hari saja, rasanya aku mau gila, aku tidak tahu bagaimana kalau aku kehilangan mu lagi, mungkin aku akan menjadi penghuni rumah sakit jiwa." kata Jethro lagi.
Zizi terkekeh kecil mendengar pengakuan Jethro.
"Kamu menertawakan ku, hah!" protes Jethro karena Zizi menertawakannya.
Jethro pun menggelitiki perut Zizi.
"Aaakh... geli... geli..." pekik Zizi kegelian.
"Hah... Masih mau menertawakan ku." ucap Jethro sambil terus menggelitiki Zizi.
"Aaakh... Ampun Tuan, geli... geli... Tuan."
"Panggil aku Hubby, baru aku akan berhenti."
"Berhenti Hubby, aku mohon berhenti, ini geli." balas Zizi.
Barulah Jethro berhenti menggelitiki Zizi yang saat ini posisi-nya ada di bawah Jethro.
Setelah Jethro berhenti menggelitiki Zizi, untuk beberapa detik mata mereka saling menatap. Tapi tak lama kemudian, Jethro mendekatkan wajah-nya ke wajah Ziz lalu mendaratkan bibir-nya ke bibir Zizi kemudian melu.mat lembut bibir Zizi. Zizi pun menutup matanya untuk menikmati ciuman Jethro dan berusaha mengimbangi ciuman Jethro yang sangat profesional.
***
Bersambung...
__ADS_1