
"Aku ingat!" pekik Paman Derry.
"Siapa.. siapa.. siapa?" tanya Bibi Alicia penasaran.
"Masa kamu tidak familiar dengan nama belakangnya?" tanya Paman Derry balik.
Dengan polosnya Bibi Alicia menggelengkan kepala-nya.
"Memangnya dia siapa?" tanya Bibi Alicia.
"Makanya, kalau di rumah jangan hanya menonton acara gosip saja! Sesekali tonton berita dan baca majalah bisnis!" sindir Paman Derry.
"Cih! Seperti kau sering baca majalah bisnis saja! Lagi pula untuk apa ku membaca majalah bisnis!" balas Bibi Alicia.
"Untuk apalagi kalau bukan untuk melihat wajah si Jethro McLeon di majalah bisnis." jawab Paman Derry memberi kode.
"Apa maksud mu? Apa-"
"Iya! Si Jethro McLeon yang membeli Zizi dari mu itu adalah CEO McLeon Group, anak tunggal dari Tuan Jerome McLeon." potong Paman Derry.
Mata Bibi Alicia membulat.
"Yang duda itu?" tanya Bibi Alicia meyakinkan. Kalau soal pebisnis yang berprestasi, Bibi Alicia memang tidak tahu, tapi kalau soal selebriti atau petinggi yang kawin-cerai apalagi berita perceraiannya sampai booming di media, sudah pasti Bibi Alicia tahu.
__ADS_1
"Hemh.." jawab Paman Derry sambil menganggukkan kepala-nya.
"Woah... beruntungnya Zizi." lirih Bibi Alicia.
"Bukan hanya Zizi yang beruntung, tapi keluarga kita juga beruntung, Sayang. Kan kita bisa mendapat donor dana kalau uang ini habis. Ya kan, ya kan, ya kan?" bisik Paman Derry.
"Iya juga yah.." balas Bibi Alicia sambil tersenyum licik.
***
Kamar 222.
Meninggalkan Bibi Alicia dan Paman Derry yang sedang berada di atas angin karena dalam satu malam mereka kaya mendadak, apalagi kekayaan mereka bersumber dari pengusaha muda yang perusahaannya masuk ke dalam sepuluh besar perusahaan raksasa, di kamar VIP nomor 222 kini Jethro sudah berada di dalam kamar itu bersama gadis yang baru ia selamatkan dari Bibi-nya yang ingin menjual si gadis itu ke pria tua bangka beristri tiga.
"Jangan melihat ku seperti itu, Tuan." ucap gadis itu.
"Aku hanya heran saja, kenapa gadis seperti mu di beli dengan harga yang sangat mahal oleh pria tua bangka yang sudah beristri tiga! Apa kamu punya kekuatan super atau punya hoki yang bisa membuat usaha berkembang pesat?" jawab Jethro.
"Saya rasa, Anda sudah di tipu oleh Bibi saya, Tuan." jawab gadis itu.
"Sepertinya! Tapi biarlah, tidak jadi masalah bagiku kalau Bibi mu mau menipuku, anggap saja aku sedang berdonasi kepada orang yang tidak mampu." balas Jethro dengan sombongnya.
"Siapa nama-mu?" tanya Jethro.
__ADS_1
"Saya Zivanya, Tuan, tapi Tuan bisa memanggil saya dengan panggilan Zizi." jawab gadis itu.
"Oh.." Jethro hanya ber Oh ria sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa kemudian melipat kaki-nya.
"Lalu apa wanita tadi itu Bibi kandung mu?" tanya Jethro, ia masih penasaran kenapa wanita paruh baya tadi dengan tega-nya menjual keponakannya sendiri. Kalau wanita paruh baya tadi adalah Bibi kandung Zizi, maka terkutuklah bibi seperti itu. Tapi kalau bukan, Jethro bisa tahu alasan kenapa wanita paruh baya tadi melakukan itu.
Zizi menggelengkan kepala-nya.
"Ayah ku adalah anak angkat dari keluarga Paman Derry, suami Bibi ku tadi. Sejak Ayah ku SMA, Kakek Dilan mengangkat Ayah ku sebagai anaknya, Kakek Dilan menyekolahkan Ayah ku di SMA terbaik dan perguruan tinggi terbaik. Mungkin karena itu Paman Derry memiliki dendam dengan Ayahku. Sampai akhirnya orangtua ku meninggal, saat itu umurku masih lima tahun, tapi tidak ada satu pun keluarga Kakek Dilan yang mau mengadopsi ku dan malah ingin memasukkan ku ke panti asuhan karena mereka merasa kalau aku bukanlah keluarga kandung mereka, bahkan keluarga Ibuku juga tidak ada yang mau menerimaku karena saat Ibuku menikah dengan Ayahku, keluarga Ibuku tidak merestuinya." Zizi pun menceritakan cerita tentang keluarganya.
"Singkat cerita, entah itu memang sebuah kebaikan atau hanya sekedar memiliki tujuan tertentu, Paman Derry dan Bibi Alicia pun mengadopsi ku dan mulai saat itu aku tinggal bersama Paman Derry dan Bibi Alicia. Tapi selama tinggal bersama mereka, aku sama sekali tidak di perlakukan layaknya anak kecil berumur lima tahun, mereka memperbudak ku." lanjut Zizi.
"Aku bisa membayangkannya!" balas Jethro.
"Tuan, masalah uang tebusan yang Anda berikan pada Bibi ku tadi, apa bisa saya mencicil-nya?" tanya Zizi.
"Tidak bisa!" jawab Jethro.
Dan jawaban Jethro berhasil membuat Zizi ternganga.
Kalau tidak bisa dicicil, lalu bagaimana dia harus membayarnya. Pikiran kotor pun melintas di pikiran Zizi apalagi mereka sedang berada di dalam kamar hotel sekarang.
***
__ADS_1
Bersambung...