
"Tutup mulut mu!" balas Jethro dan tawa Alex pun berhenti seketika.
"Apa kau sudah selesai cuci piring, hah?!" tanya Jethro.
"Sudah Tuan, ruang makan dan dapur sudah bersih semua, jadi Tuan Muda tidak perlu takut tangan Nona Muda akan kasar karena mencuci piring." jawab Alex menyindir.
Jethro hanya menaikkan sudut bibirnya mendengar sindiran Alex, kemudian ia melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Sepertinya sudah waktunya kamu balik ke kantor! Sana pergi!" usir Jethro.
"Apa hanya aku yang pergi? Kau tidak ikut balik ke kantor?" tanya Alex.
"Tidak! Aku akan langsung ke mansion!" jawab Jethro.
"Ya sudah kalau begitu, kita sama saja pergi-nya kan arah ke mansion dengan arah ke kantor satu arah." balas Alex.
"Aku tidak lewat jalan itu! Aku akan memutar lewat arah timur!" jawab Jethro.
Hish! Bilang saja kau mau berduaan dulu dengan gadis mu itu! Dasar tua-tua keladi!
Gerutu Alex dalam hati.
"Ya sudah aku pulang dulu." ucap Alex.
"Zizi, aku pulang yah. Bye." pamit Alex.
__ADS_1
"Aku antar sampai depan pintu." ucap Zizi sambil hendak berdiri dari duduknya.
"Tidak perlu diantar! Dia bisa tahu kok dimana pintu-nya!" Larang Jethro.
Alex hanya menggelembungkan pipinya menahan tawa.
"Iya Zi tidak perlu diantar, aku tahu kok pintu-nya dimana." timpal Alex.
"Hati-hati di jalan kalau begitu." balas Zizi.
"Sudah sana cepat keluar!" usir Jethro sekali lagi.
Alex hanya tersenyum lalu berjalan meninggalkan Jethro dan Zizi.
Namun baru beberapa langkah, Alex kembali memutar tubuhnya.
"Brengsek kau!" gerutu Jethro pelan karena ia tahu apa maksud perkataan Alex.
Setelah Alex keluar dari apartemen, untuk beberapa menit Jethro dan Zizi sama-sama terdiam, Jethro bingung apalagi yang harus di bicarakan dengan Zizi, begitupun dengan Zizi, ia tidak tahu apa yang harus di bicarakan dengan Jethro, Zizi pun hanya bisa menundukkan kepala-nya karena merasa canggung.
Setelah hampir sepuluh menit saling diam, tiba-tiba saja Jethro berdiri dari duduknya.
"Aku pulang dulu, nanti sore aku datang lagi mengantar anakku." pamit Jethro.
Zizi pun ikut berdiri dan hendak mengantar Jethro sampai di depan pintu.
__ADS_1
"Biar saya antar." ucap Zizi.
Jethro tak menjawab dan terus melangkah menuju pintu dan diikuti Zizi dari belakang.
Sesampainya Jethro di depan pintu, tiba-tiba saja Jethro memutar tubuh-nya, ia tidak menyadari kalau Zizi berada dekat di belakangnya dan itu sontak membuat Zizi kaget dan terhuyung kebelakang. Untung saja Jethro bergerak cepat menahan pinggang Zizi jadi Zizi tidak sampai terjatuh.
Saat Jethro menahan pinggang Zizi, mata mereka pun bertabrakan. Seketika jantung Jethro berdetak tak karuan saat menatap mata Zizi. Ia seperti melihat sosok Miliar dari sorot mata Zizi.
Mendapat tatapan dalam dari Jethro, tentu saja membuat Zizi tidak nyaman. Zizi langsung berpikiran kotor pada Jethro, Zizi pikir setelah ini Jethro akan mencium-nya lalu meminta-nya melakukan tugasnya sebagai sugar baby.
Tak ingin sampai itu terjadi, Zizi pun cepat-cepat menegakkan tubuh-nya dan gerakan Zizi itu berhasil membuat Jethro sadar dari lamunannya.
"Kamu ini seperti truk gandeng saja, jalan tidak pakai jarak dari yang di depan mu! Untung gerakan ku cepat menangkap mu, kalau tidak sudah jatuh kamu!" Omel Jethro, ia sedang berusaha menyembunyikan perasaannya yang sedang tak karuan gara-gara bola mata Zizi.
"Maaf Tuan, lain kali saya akan lebih berhati-hati." jawab Zizi.
Tadi aku mau ngomong apa yah sama gadis ini? Sial! Aku lupa lagi! Sudah lah nanti saja kalau aku ingat, aku akan menghubungi-nya. Gerutu Jethro dalam hati.
"Aku pulang dulu." pamit Jethro sekali lagi dan di balas dengan anggukkan kepala oleh Zizi.
Jethro pun keluar dari apartemennya. Setelah Jethro keluar, Zizi pun bernafas lega sambil berjongkok di belakang pintu.
"Huuhh... hampir saja! Tuan Jethro kenapa sih harus menatap ku seperti tadi, bikin aku sesak nafas saja!" lirih Zizi sambil memegang dada-nya.
***
__ADS_1
Bersambung...