
Kini mereka bertiga sudah selesai makan.
Jethro pun berdiri dari tempat duduknya dan hendak pindah ke ruang tengah. Melihat Jethro sudah berdiri, Zizi pun juga ikut berdiri dari duduknya dan hendak membereskan meja makan.
"Sini aku bantu." ucap Alex saat mengetahui Zizi ingin membereskan meja makan.
Mendengar itu, Jethro yang sudah memutar tubuhnya kembali memutar tubuhnya menghadap Zizi dan Alex yang sudah mulai membereskan piring-piring di meja makan.
"Zizi, ikut aku! Biarkan saja dia yang membereskan meja makan!" ucap Jethro dengan nada tegas.
Sontak mata Alex membulat lebar.
"Tapi Tuan-"
"Tidak ada tapi tapian! Ayo! Tinggalkan saja dia!" tegas Jethro sekali lagi.
Mau tak mau Zizi pun meletakkan lagi piring yang ada di tangannya.
"Lex, sekalian cuci piringnya! Tidak ada yang gratisan di dunia ini!" ucap Jethro pada Alex setelah itu Jethro pun pergi dari ruang makan dan disusul Zizi dari belakang.
"Haish! Menyesal aku ikut kesini!" gerutu Alex.
Ruang Tengah.
Kini Zizi dan Jethro sudah berada di ruang tengah.
__ADS_1
"Ada apa Tuan?" tanya Zizi.
"Apa kamu bisa menjaga anak kecil?" tanya Jethro.
"Anak kecil yang gimana dulu Tuan, kalau masih bayi, jujur saya tidak bisa Tuan." jawab Zizi.
"Anak umur tujuh tahun." jawab Jethro.
"Oh.. kalau itu saya bisa." jawab Zizi.
"Tapi ngomong-ngomong kenapa Tuan bertanya seperti itu? Apa Tuan ingin memasukkan saya ke penyaluran baby sitter?" tanya Zizi curiga.
"Sembarang kamu! Kamu itu..." Jethro melirik ke arah ruang makan terlebih dulu.
"Kamu itu sugar baby ku! Milik ku!" lanjut Jethro saat dirasa dirinya aman untuk melanjutkan kata-kata.
"Nanti sore aku akan membawa anak ku kesini. Jagalah dia untuk sementara waktu, orangtua ku harus pergi ke Negara J sore ini jadi tidak ada yang menjaga-nya." Jawab Jethro.
"Kenapa harus saya Tuan? Memangnya anak Tuan tidak memiliki pengasuh? Bukannya biasanya orang-orang kaya memberikan satu atau dua pengasuh untuk anak mereka?" tanya Zizi.
"Ada. Tapi masalahnya aku yang tidak bisa tinggal di mansion orangtuaku. Makanya aku ingin kamu yang menjaga anakku untuk sementara waktu." ucap Jethro.
Zizi terdiam, dalam kepala-nya sedang bertanya-tanya kenapa Jethro tidak bisa tinggal di mansion orangtuanya.
"Karena kamu diam, aku anggap kamu menyetujui permintaan ku! Nanti sore aku akan membawa anakku kesini." ucap Jethro.
__ADS_1
"Dan satu lagi, anakku itu sangat cerewet, jiwa ingin tahunya sangat besar, jadi kalau dia bertanya kamu ini siapa, bilang saja kalau kamu ini adalah asisten kedua ku setelah Alex dan jangan bicara tentang apapun pada anakku!" kata Jethro lagi.
"Kamu paham kan?" tanya Jethro.
"Iya Tuan, saya paham." balas Zizi.
"Lalu apa yang harus saya lakukan pada anak Anda, Tuan? Seperti membangunkannya jam berapa, memberi sarapan, makan siang dan makan malam apa, apa dia punya les atau kegiatan apapun?" tanya Zizi.
"Kalau itu nanti aku beritahu, karena aku sendiri tidak tahu jadwal anakku." jawab Jethro.
"Mmm.. baik Tuan." balas Zizi.
"Oh.. iya, bagaimana dengan kuliah mu? Apa kamu sudah menentukan kemana kamu akan meneruskan pendidikan mu?" tanya Jethro.
"Belum Tuan, saya bingung memilihnya, karena semua universitas yang sangat saya inginkan uang pendidikannya sangat mahal. Jadi nanti saya lihat-lihat yang murahnya dulu." jawab Zizi.
"Apa aku menyuruhmu melihat uang pendidikannya?" tanya Jethro dengan tatapan mengintimidasi.
Zizi menggeleng.
"Kalau begitu tunjuk saja dimana universitas yang kamu mau itu, biar langsung aku daftarkan! Dua bulan lagi sudah masuk tahu ajaran baru, jangan sampai gara-gara kamu lama berpikir, kamu harus menunggu tahun depan lagi untuk melanjutkan kuliah!" ucap Jethro.
"Benar itu Zi, cepat putuskan! Karena tahun depan belum tentu Jethro mengizinkan mu kuliah! Bisa-bisa tahun depan kamu akan di kurungnya di dalam kamar. Hahahaha.." sahut Alex yang baru datang dari ruang makan dan di akhiri dengan gelagak tawa.
***
__ADS_1
Bersambung...