
Akhir pekan.
Hari-hari berlalu, tak terasa sudah di akhir pekan. Walau setiap akhir pekan Jacob tidak sekolah, tapi bukan berarti Jacob hanya berdiam diri dirumah karena Tuan Jerome memberikan kegiatan les berkuda pada pagi hari dan les renang di sore harinya. Kalau untuk les yang ini tidak pernah ada kata malas untuk Jacob.
Sama seperti pagi-pagi sebelum-nya, Jethro lah yang mengantar Jacob pergi les berkuda apalagi hari ini Jethro tidak punya jadwal apapun, jadi hari ini ia akan full menemani Jacob.
"Daddy, nanti Daddy menginap bersama ku kan?" tanya Jacob.
Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju tempat les berkuda.
"Yes Boy." jawab Jethro sambil melirik Jacob dari kaca spion yang duduk di kursi belakang bersama Zizi.
"Yes!!" nampak sekali Jacob senang mendengar jawaban Jethro.
"Dad, karena ini malam Minggu, apa malam ini kita akan menghabiskan malam Minggu diluar?" tanya Jacob.
"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Jethro.
"Aku ingin kita bertiga jalan-jalan ke mall. Bagaimana Dad?" jawab Jacob.
"Bertiga?" tanya Jethro balik.
"Iya, dengan Aunty Zizi. Bagaimana Dad, mau kan Dad?" tanya Jacob lagi.
"Baiklah. Terserah padamu Boy, hari ini kamu lah bos-nya." jawab Jethro.
Karena sepanjang jalan mereka mengobrol sampai tak terasa kalau mereka sudah sampai di tempat les berkuda.
__ADS_1
Setelah memarkirkan mobil-nya, Jethro, Jacob dan Zizi pun berjalan bersama memasuki arena berkuda. Jika orang yang tidak mengenal mereka, pasti akan mengira kalau mereka bertiga adalah sebuah keluarga, Ayah, Ibu dan anak.
Sesampainya di dalam tempat berkuda, Jacob pun langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian berkuda beserta dengan alat-alat safety-nya setelah itu barulah masuk ke arena berkuda dan mulai berlatih berkuda dengan memakai kuda-nya sendiri dan di dampingi oleh pelatih-nya.
Saat Jacob sedang berlatih, Zizi dan Jethro menunggu di kafetaria yang ada di lantai dua. Dari kafetaria itu, mereka bisa melihat Jacob yang sedang berlatih.
"Apa kamu sudah menentukan universitas yang akan kamu tempati kuliah?" tanya Jethro.
"Sudah Tuan." jawab Zizi.
"Universitas mana?" tanya Jethro.
Zizi pun mengeluarkan ponsel-nya dan menunjuk salah satu universitas yang masuk kedalam sepeluh universitas terbaik di dunia.
"Apa otak mu mampu masuk ke universitas itu?" tanya Jethro. Bukan meragukan kemampuan Zizi hanya saja ia tidak mau nantinya Zizi yang malah kewalahan mengikuti sistem belajar di universitas itu.
"Apa Anda sekarang sedang mengejek saya, Tuan?" tanya Zizi dengan raut wajah tidak suka dengan pertanyaan Jethro.
Zizi tidak membalas dan hanya memanyunkan bibirnya. Melihat itu Jethro jadi gemas dengan Zizi, ia pun tersenyum licik dan menggoda Zizi.
"Kenapa manyun seperti itu? Apa kamu sedang memberi kode agar aku mencium mu, hah? Kalau begitu, sini biar aku cium." goda Jethro.
Sontak Zizi pun langsung melipat bibirnya. Dan Jethro hanya tersenyum tipis melihat tingkah Zizi.
"Jadi jurusan apa yang ingin kamu ambil?" tanya Jethro, ia melanjutkan pembahasan tentang kuliah Zizi.
"Apa saya boleh mengambil jurusan bisnis restoran, Tuan?" tanya Zizi.
__ADS_1
"Kenapa ingin mengambil jurusan bisnis restoran?" tanya Jethro balik.
"Mmm.. karena sebenarnya cita-cita saya, saya ingin menjadi pengusaha restoran." jawab Zizi.
"Oke. Ambil lah jurusan itu. Hari Senin aku akan menyuruh Alex untuk mengurus semuanya." balas Jethro.
"Terimakasih Tuan, Anda baik sekali." ucap Zizi dan tanpa sadar menggenggam tangan Jethro.
Jethro pun langsung melihat ke arah tangannya yang di genggam Zizi. Ia merasa ada desiran-desiran aneh dalam dada-nya saat tangan Zizi menggenggam tangannya.
Tak lama Zizi pun tersadar kalau ia telah memegang tangan Jethro, perlahan Zizi pun melepaskan genggaman tangannya.
"Maaf Tuan, saya tidak sengaja. Saya terlalu senang." ucap Zizi yang merasa canggung.
"Ekhem... Kenapa tangan mu kasar sekali!" ucap Jethro mencoba menetralkan suasana yang canggung dan berusaha menutupi desiran-desiran hangat yang cukup menggelitik dalam dada-nya.
"Maklum saja Tuan, dari dulu saya kan selalu mengerjakan pekerjaan rumah. Mulai dari mencuci piring, menyapu, mengepel, mengelap jendela, membetulkan toilet yang mampet, dan masih banyak lagi pekerjaan rumah yang saya lakukan." jawab Zizi.
"Apa Bibi mu dulu memperlakukan mu seperti pembantu?" tanya Jethro yang merasa kasihan setelah mendengar pengakuan Zizi.
"Ya kira-kira seperti itu Tuan. Tapi itu tidak masalah bagi saya, karena di dunia ini tidak ada yang gratisan. Mereka sudah menampung saya saja saya sudah sangat bersyukur." jawab Zizi sambil tersenyum.
Meski Zizi tersenyum, tapi mata Zizi berkata lain, mata Zizi seolah mengisyaratkan kalau selama tinggal bersama Paman dan Bibi-nya Zizi tertekan batin.
KRIIING...
Tiba-tiba saja ponsel Jethro berdering.
__ADS_1
***
Bersambung...