Sugar Baby Kesayangan Duda Dingin

Sugar Baby Kesayangan Duda Dingin
Kedatangan Daddy Jerome


__ADS_3

Mula-nya hanya ciuman lembut lama kelamaan ciuman itu pun sudah diselimuti api gairah. Tangan Jethro juga tidak mau diam saja, tangan itu mere.mas lembut dan sesekali memilik puncak gunung susu milik Zizi.


Des.ahan dan racauan tak henti-henti'nya keluar dari mulut Zizi saat Jethro mencumbu mesra sekujur tubuh-nya.


"Zi..." panggil Jethro ditengah-tengah cumbuannya.


"Hemh..."


"Mari kita lakukan lagi." ajak Jethro.


Mata Zizi membulat lebar.


"Apa yang semalam belum cukup?" tanya Zizi.


"Belum. Maklum saja, aku sudah lama tidak merasakan ini jadi sekalinya aku merasakannya lagi, rasanya aku tidak ingin berhenti melakukannya lagi dan lagi." jawab Jethro.


"Lakukan lah apa yang kamu mau, Hubby. Aku pasrah. Tapi tolong pelan-pelan." jawab Zizi.


Jethro pun kembali mencumbu seluruh tubuh Zizi sebelum memasukkan adik kecil-nya ke ruang privasi.


Saat adik kecil Jethro sudah siap untuk masuk kedalam ruang privasi milik Zizi, tiba-tiba saja bel apartemen berbunyi.


Ting... Tong... Ting... Tong...


Sontak Zizi dan Jethro pun membeku seketika sambil saling menatap.


"Ada yang datang. Cepat buka pintu-nya." ucap Zizi.


"Tidak usah, paling juga itu Alex." jawab Jethro.


Jethro pun kembali mengarahkan adik kecil-nya untuk masuk keruang privasi Zizi, tapi lagi dan lagi bel pintu membuat adik kecil Jethro gagal masuk kedalam ruang privasi.

__ADS_1


"Buka pintu-nya dulu Hubby." ucap Zizi.


"Ssst... biarkan saja Zi, nanti juga berhenti sendiri." jawab Jethro yang sudah tidak tahan lagi ingin melakukan penyatuan tubuh mereka.


Jethro pun kembali menggiring adik kecil-nya masuk kedalam ruang privasi, baru juga kepala si adik kecil Jethro mencium pintu ruang privasi, tiba-tiba ponsel Jethro berdering.


"Haish, apa sih mau-nya Alex!" gerutu Jethro.


"Jawab dulu, mungkin ada yang penting." ucap Zizi.


Jethro menghela nafasnya kasar, lalu menjauhkan tubuh-nya dari tubuh Zizi dan mengambil ponsel-nya yang ada diatas nakas.


"Daddy..." lirih Jethro pelan namun masih bisa di dengar oleh Zizi.


"Apa itu Tuan McLeon?" tanya Zizi sambil mengubah posisi-nya menjadi duduk.


Jethro menganggukkan kepala-nya lalu perlahan menoleh kearah Zizi.


"Jangan-jangan yang di depan pintu..." Jethro menggantung kata-katanya lalu beranjak dari atas ranjang.


"Cepat, pakai baju-mu. Bisa gawat kalau Daddy memergoki kita dalam keadaan seperti ini, kita bisa langsung di nikahi!" ucap Jethro sambil memberikan pakaian Zizi.


Zizi terdiam mendengar kata-kata Jethro entah kenapa mendengar kata-kata Jethro, hati Zizi sakit sekali. Baru beberapa menit yang lalu Jethro berjanji bertanggung jawab, tapi kenapa sekarang Jethro malah ketakutan langsung dinikahi? Apa yang Jethro katakan tentang tanggung jawab itu tidak tulus? Itulah yang ada di pikiran Zizi sekarang.


"Kenapa melamun? Ayo cepat pakai pakaian mu!" desak Jethro yang saat ini juga sedang memakai pakaiannya.


Zizi pun menggulung selimutnya untuk menutupi tubuh-nya lalu menurunkan kaki-nya ke lantai.


"Sssh... Auw..." ringis Zizi saat merasakan perih pada bagian privasi-nya. Tapi Zizi mencoba menahan rasa perih itu dan terus berjalan menuju kamar mandi.


Sedangkan Jethro, setelah selesai memakai pakaiannya, barulah Jethro menjawab telepon Daddy Jerome.

__ADS_1


"Halo Daddy." jawab Jethro.


"Apa kau tidak mendengar bunyi bel apartemen mu, hah? Cepat buka pintu-nya!" ucap Daddy Jerome.


Benarkan, Daddy yang ada di depan pintu. gumam Jethro dalam hati.


"Ba-baik Dad." jawab Jethro gugup.


Daddy Jerome pun menutup teleponnya.


Sebelum keluar dari kamar, Jethro pergi ke kamar mandi terlebih dahulu untuk memastikan Zizi sudah memakai pakaiannya.


"Zi, apa kamu sudah selesai berpakaian?" tanya Jethro.


Ceklek. Pintu kamar mandi terbuka.


"Sudah." jawab Zizi.


"Baguslah, ayo keluar dari kamar ini dan masuk ke kamar yang satu lagi. Dan pura-pura lah tidur, oke." ucap Jethro dan dijawab dengan anggukkan kepala oleh Zizi.


Mereka pun keluar dari kamar Jethro. Begitu keluar dari kamar, Jethro berjalan menuju pintu sedangkan Zizi pergi ke kamar yang ditunjuk Jethro tadi.


Ceklek. Jethro membuka pintu unit apartemennya.


"Hai Dad..." sapa Jethro sambil mengangkat tangannya.


"Kenapa lama sekali membuka pintu? Apa kau sedang menyembunyikan perempuan, hah?" tanya Daddy Jerome dengan tatapan menyelidik.


"Daddy bicara apa sih! Ya jelas tidak mungkin lah, Dad. Hanya ada Zizi di apartemen ini, tapi itupun kami tidak tidur bersama." jawab Jethro.


Niat hati ingin mengelak dari Daddy Jerome tapi justru jawaban Jethro itu malah terdengar seperti membongkar kebohongannya sendiri.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2