
Sebelum mengeksekusi Zizi, Jethro tak lupa mengunci pintu kamarnya terlebih dahulu. Setelah mengunci pintu, Jethro pun kembali masuk ke ruang tidur.
Begitu berada di samping tempat tidur, Jethro memperhatikan wajah Zizi beberapa detik wanita yang ia pikir adalah wanita panggilan yang mirip dengan Zizi padahal memang Zizi.
Jethro pun mematikan lampu ruang tidur dan menggantinya dengan mode lampu tidur. Kemudian membuka bathrobe yang menutupi tubuh kekar-nya lalu naik keatas ranjang dan mendekati Zizi.
Ia melihat wajah Zizi dari jarak lima centimeter, melihat bibir Zizi hasrat kelaki-lakiannya yang sudah meronta-ronta semakin meronta-ronta.
Perlahan tapi pasti, Jethro pun mendaratkan bibirnya di bibir Zizi. Zizi yang sudah tidak sadarkan diri lagi dan hanya hasrat yang menguasai tubuh dan pikirannya pun membalas ciuman Jethro.
Mereka pun berciuman panas. Perlahan tapi pasti, tangan Jethro pun berhasil melepaskan semua kain yang menempel di tubuh Zizi.
Dua-duanya sudah tidak bisa menunda lebih lama lagi untuk melakukan penyatuan tubuh. Jethro pun membuka lebar kaki Zizi kemudian mengarahkan senjata pusaka-nya menuju pintu goa kenikmatan yang masih bersegel itu.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Jethro yang tidak tahu kalau pintu itu masih bersegel langsung mendobrak pintu goa yang sudah kebanjiran.
"Aaargh..." erang Zizi kesakitan. Meski sekujur tubuh-nya sudah dikuasai gairah, tapi tetap saja Zizi masih bisa merasakan yang namanya sakit.
Jethro mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
Ia merasa aneh saat merasakan senjata pusaka-nya tidak bisa langsung masuk kedalam goa ditambah lagi dengan Zizi yang mengerang kesakitan. Kalau yang dibawah-nya seorang wanita panggilan, seharusnga senjata pusaka-nya bisa langsung masuk ke dalam goa karena pintu goa-nya sudah jebol dan si wanita juga harusnya mengerang keenakan bukan mengerang kesakitan.
Jethro yang merasa janggal pun mengambil remote untuk menyalakan lampu ruang tidur untuk melihat dengan jelas siapa wanita yang ada dibawah-nya sekarang.
Dengan pandangan yang berkabut, Jethro berusaha mengamati baik-baik wajah wanita yang ada dibawah-nya dan sedang meracau tidak jelas.
"Zizi..." ucap Jethro hanya sekedar memastikan kalau wanita yang ada dibawah-nya dan sudah dalam keadaan polos itu adalah Zizi.
Mendengar suara Jethro yang memanggil namanya, Zizi yang sejak tadi menutup matanya, seketika langsung membuka matanya.
Sama seperti Jethro melihat Zizi, pandangan Zizi saat melihat Jethro juga berkabut.
"Benarkah ini kamu Zi?" tanya Jethro.
Zizi tidak menjawab. Ia malah mengelus wajah Jethro mulai dari kening, mata, hidung, bibir, dagu, lalu turun ke leher kemudian dada Jethro. Melihat penampakan dada Jethro yang bidang, Zizi menelan salivanya susah payah, area goa keramat-nya berdenyut hebat minta segera senjata pamungkas Jethro mendobrak masuk kedalam goa.
Begitu pun dengan Jethro, merasakan elusan tangan Zizi, senjata pusaka-nya di bawah sana juga sudah berdenyut hebat.
Jethro pun mendaratkan bibir-nya ke bibir Zizi dan mencium bibir itu dengan penuh gairah. Zizi pun membalas ciuman Jethro tak kalah panas dari Jethro bahkan sekarang kedua lengan Zizi sudah melingkar di leher Jethro.
__ADS_1
Setelah beberapa menit berciuman panas, Jethro menurunkan ciumannya di leher Zizi lalu turun lagi di dua gundukan daging dan menyesap serta memilin ujung dua gundukan daging itu secara bergantian.
"Aku ingin lebih, aku ingin lebih, aku ingin lebih...!!" racau Zizi saat Jethro bermain di gundukan dagingnya.
Mendengar itu Jethro berhenti bermain di gundukan daging Zizi lalu menatap wajah Zizi dalam-dalam.
"Apa kamu yakin?" tanya Jethro.
"Hemh..." jawab Zizi.
"Baiklah kalau itu yang kamu mau, karena ini juga lah yang aku mau." balas Jethro.
Jethro pun mengarahkan senjata pusaka-nya menuju pintu goa. Dengan sangat perlahan Jethro membuka pintu goa kenikmatan Zizi. Walau ini bukan yang pertama kali bagi Jethro membuka segel pintu goa kenikmatan, tapi karena sudah lama Jethro tidak mengasah senjata pusaka-nya itu, jadi Jethro cukup kesulitan untuk membuka segel pintu goa.
Dan setelah bebetapa kali percobaan, akhirnya...
"Aaaaargh..." erangan panjang pun keluar dari mulut Zizi dan Jethro. Erangan kesakitan bercampur kenikmatan dari mulut Zizi dan erangan yang murni kenikmatan dari mulut Jethro karena dingin goa kramat Zizi begitu keras menghimpit senjata pusaka-nya.
***
__ADS_1
Bersambung...