
Pukul tujuh pagi bianca terbangun dari tidur nya, Otak bianca terfokus pada sesuatu yang sangat menciut kan nyali nya.
''Aku harus segera pergi, Bisa di bantai daddy aku nanti.'' Batin bianca ketakutan.
Meski bianca berada di ujung dunia, Gara pasti tau kondisi putri nya. Mungkin saat ini pun gara tau jika bianca tidur di mansion milik jasson.
''Tolong aku sekali ini saja tuhan.'' Doa bianca panik.
Langkah mencari jasson atau pun markus untuk berpamitan, Bianca merasa tidak sopan jika pergi tanpa pamit.
Sampai lah ia di kamar yang pintu nya tidak terkunci, Saat bianca melongok kedalam. Pemandangan yang sangat mengejut kan ia dapat kan.
''Jangan terlalu di tekan di kepala ku sayang.'' Protes jessica kepada jasson.
''Tidak sengaja aku.'' Jawab jasson sambil mencuri ciuman di pipi jessica.
Dua insan ini terlihat seperti pasangan pada umum nya, Sejenak bianca merasa bingung dengan keputusan yang akan di ambil.
''Dia sangat baik kepada jessi, Pantas saja jessi marah saat aku meminta nya pulang.'' Batin bianca masih mengintip.
Otak bianca terasa penuh dengan masalah yang di hadapi nya, Jika sudah bahagia dengan jessica. Lalu kenapa jasson masih mempersulit hidup nya.
''Aku akan pergi jessi, Semoga kau selalu bahagia. Di sini kau dapat kasih sayang yang tidak pernah kau dapat di rumah vander veken.'' Doa bianca tulus untuk adik nya.
Usai berbisik tulus, Bianca berkelebat pergi meninggal kan mansion. Langkah nya di iringi air mata. Entah air mata apa yang sedang mengalir, Bahkan bianca juga tidak tau ia menangis karena apa.
Indonesia.
Setelah menempuh perjalanan hampir enam belas jam, Kini bianca sampai kembali ketanah air. Ia memilih mengahiri liburan nya, Walau pun baru empat hari.
''Selamat malam nona.'' Sapa bodyguard.
''Malam, Daddy ku ada ?'' Tanya bianca.
''Tuan belum pulang nona.'' Jawab bodyguard sopan.
Bianca mengangguk dan masuk kedalam kamar nya, Karena ia berangkat dari london pagi tadi. Maka hampir tengah malam ia sampai.
''Lelah nya aku.'' Keluh bianca melempar kan tubuh keranjang dan memejam kan mata.
Namun bukan nya terlelap, Bayangan jasson yang sedang merengut masam malah melintas di pikiran nya. Bahkan aroma jasson seolah tercium di hidung nya.
''Kenapa sih malah ikut pulang bayangan nya!'' Kesal bianca.
Di tutup bantal kepala bianca untuk menghilang kan jasson yang sedang tersenyum, Tapi malah bianca semakin mengingat pelukan hangat jasson.
__ADS_1
''Jassooonn!!''
Teriakan bianca menggema di dalam kamar nya, Sungguh stres gadis cantik ini karena jasson de lamozada.
''Jangan jangan kau suka pada nya.'' Cetus setan di hati bianca.
''Tidaakkk!!''
Kembali bianca berteriak kencang, Ia tidak bisa menerima jika sampai jatuh cinta pada pria seperti jasson.
''Mandi saja lah aku, Bisa edan jika terus ingat dia.'' Rutuk bianca.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gara yang sedang sarapan bersama joana langsung menoleh kearah lift karena terdengar suara berdenting, Mata pria ini berbinar melihat putri kesayangan nya.
''Pagi daddy, Pagi mommy.'' Sapa bianca menciumi joana dan gara.
''Pagi sayang, Kok pulang tidak memberi kabar.'' Ujar joana balas mencium bianca.
''Bianca malam datang nya, Kata rizal kalian belum pulang.'' Jawab bianca.
''Iya sayang, Tadi malam kami ada acara.'' Ujar gara.
''Hmm.'' Angguk bianca.
''Langsung mau kerja bi ?'' Tanya joana karena melihat bianca sudah memakai baju dinas.
''Iya mom.'' Jawab bianca.
''Loh kok cepat sekali, Kata nya satu minggu.'' Ujar gara.
''Bosan juga dad kalau di rumah terus.'' Bianca memberi alasan.
''Anak daddy memang rajin sekali.'' Puji gara.
''Bisa gila aku jika tidak bekerja.'' Batin bianca pusing.
Rumah sakit xxx.
Langkah dokter cantik ini terdengar gemeletuk karena hils nya beradu dengan lantai, Mata para perawat langsung menatap nya kagum.
''Selamat pagi dokter bianca.'' Sapa perawat yang berpapasan.
''Pagi.'' Balas bianca.
__ADS_1
Baru saja bianca ingin masuk kedalam ruangan nya, Suster berlari menghampiri nya dengan nafas terengah engah.
''Ada pasien yang harus di operasi dok.'' Ujar suster panik.
''Tenang lah, Apa tidak ada dokter yang menangani nya ?'' Heran bianca.
''Suami pasien ingin anda yang menanangani nya dok.'' Ujar suster.
''Ayo.''
Dengan langkah lebar mereka mendatangi ruang operasi, Tampak di sana keluarga korban sedang menunggu.
''Dokter, Tolong lakukan operasi untuk istriku.'' Pinta pria itu sambil menangis.
''Tolong tenang pak, Saya akan berusaha semampu saya.'' Ujar bianca.
Bianca menerima hasil rontgen dari pasien, Ternyata pasien mengalami tumor di perut nya.
Setelah meneliti semua nya, Bianca bersiap melakukan tugas nya sebagai dokter bedah. Tampak wanita itu dengan perut yang mulai membuncit seperti tengah hamil, Ternyata selama ini operasi nya selalu di tunda karena biaya.
''Habis lah kalian nanti.'' Ancam bianca karena merasa kesal kepada dokter yang seharus nya menangani wanita ini.
Satu jam setengah lama nya bianca bergelut di meja operasi, Kini pasien sudah di pindah kan keruang rawat inap.
''Panggil dokter frisca keruangan ku.'' Suruh bianca pada suster yang tadi memanggil nya.
''Baik dok.'' Angguk suster.
Wajah garang nya terlihat jelas, Tidak ada yang berani menegur dokter bianca. Walau pun bianca adalah pemegang yang kedua, Namun semua hormat dan segan pada nya.
''Memang nya dia yang membayar, Hanya karena miskin dia malah menangani.'' Rutuk bianca menendang pintu ruangan nya.
Braak.
''Astaga.''
Perawat yang lewat sontak menutup mulut karena kaget nya, Bahkan untuk berjalan saja kaki nya langsung tremor.
''Kenapa kau marah begitu baby ?'' Tanya suara yang berasal dari kursi kebesaran nya.
''Kenapa kau bisa di sini jasson ?!'' Teriak bianca kaget.
''Di mana pun kau berada, Aku juga akan di situ baby.'' Jawab jasson melambai kan tangan nya.
''Tidak usah banyak tingkah! Aku sedang emosi.'' Sentak bianca.
__ADS_1
Jasson langsung menatap tajam karena baru datang sudah di bentak, Ia mendekati bianca dan menyentak tangan nya hingga jatuh kedalam pelukan jasson.