
Para medis sibuk memberi pertolongan pada bocah laki laki berumur tujuh tahun, Karena jika sampai usaha mereka gagal. Maka nyawa mereka juga ikut melayang.
Di luar jasson sedang memeluk erat istri nya yang berulang kali pingsan, Bianca tidak sanggup melihat tubuh anak nya yang penuh luka dan darah.
''Huaaa! Selamat kan anzel ku jasson!'' Tangis bianca tak berhenti sejak tadi.
''Aku juga takut kehilangan anzel sayang.'' Jawab jasson bergetar suara nya.
Suasana sangat tegang tengah melanda, Di satu sisi jasson dan bianca yang masih mengharap kan kehidupan putra nya. Di sisi lain, Gara sedang mengurus pemakaman lukas dengan di dampingi tetua lain nya.
''Ayaah!''
Jerit pilu keluar dari mulut angela saat jasad lukas di masukan kedalam tanah, Big mendekap erat tubuh keponakan malang nya.
''Sabar ya angel! Ada uncle big di sini.'' Bisik big menenang kan.
''Angel mau ayah uncle!'' Tangis bocah ini semakin kuat.
Kini di umur nya yang baru tujuh tahun angel harus menjadi yatim piatu, Entah bagai mana nanti keadaan mental angela menghadapi kesedihan ini.
Usai pemakaman lukas, Mereka semua menuju rumah sakit tempat anzel di rawat. Angela berhasil big bawa meski pun dengan susah payah.
Rumah sakit.
''Daddy!''
Bianca menubruk gara ketika melihat daddy nya datang, Gara merangkul putri nya untuk memberi kekuatan.
''Berdoa pada tuhan ya sayang.'' Nasihat gara susah payah menahan air mata.
''Bianca takut dad.'' Adu bianca.
''Jangan takut! Yakin lah bahwa putra mu anak yang kuat.'' Ucap gara.
Setelah hampir satu jam, Dokter bedah keluar. Anzel harus di operasi untuk mengambil peluru yang menembus pinggang nya.
''Bagai mana anak ku lusi?'' Sambar bianca pada rekan nya.
''Peluru nya sudah berhasil di keluar kan bi, Luka lain pun sudah di jahit. Namun kondisi anzel masih kritis.'' Jelas lusi juga merasa kasihan melihat sahabat nya.
''Ahaaaaaah, Hiks.''
__ADS_1
Tangis bianca kembali pecah, Meski anzel sudah berhasil dari operasi. Tapi mendengar putra nya yang kritis, Hati bianca belum menemukan kelegaan.
...****************...
Satu bulan berlalu.
Anzel masih betah pada tidur panjang nya, Sedang kan bianca setiap hari masih meratapi putra nya yang tak kunjung bangun.
''Hallo big.''
Jasson yang juga sedang menunggu bangun nya anzel mendapat telepon dari asisten nya, Tampak wajah jasson girang berbaur dendam.
''Tunggu aku di sana!" Ucap jasson menutup telepon.
"Ada apa?" Tanya bianca dengan suara serak.
"Aku mendapat kan orang yang membuat putra kita jadi begini." Jawab jasson.
"Benarkah?" Tanya bianca tidak percaya.
"Tunggu lah aku di sini ya, Aku akan segera pulang." Ujar jasson melangkah pergi.
"Ini mama sayang! Ayo bangun nak." Rayu bianca menciumi tangan putra nya.
"Mama sudah menyiap kan hadiah untuk anzel, Jadi anzel harus segera bangun." Ucap bianca.
Tidak ada reaksi dari anzel, Ia masih tetap terpejam dengan wajah pucat nya. Pada dasar nya kulit anzel memang putih, Sehingga saat sakit ia semakin pucat.
Markas jasson.
"Draka!"
Bibir jasson bergetar melihat orang yang sudah di dudukan pada kursi oleh big, Ternyata teman istri nya adalah pelaku utama.
"Kau tidak menyangka tuan jasson?!" Tanya draka dengan senyum mengejek.
Draka sempat pingsan saat tadi terlibat perkelahian dengan big, Saat bangun ia sudah berada di markas jasson.
"Aarrkkh!"
Draka menjerit keras saat ia bangun untuk berdiri, Betapa terkejut nya draka ketika melihat kaki nya yang berlumuran darah.
__ADS_1
"Sebaik nya kau duduk saja, Akan terasa sakit saat kau berdiri." Saran big santai sambil meminum wine.
"Kau apa kan kaki ku bangsaat?!" Teriak draka.
"Aku hanya memaku kaki mu dengan lantai saja kok." Sahut big tanpa dosa.
Jasson tersenyum senang melihat kesadisan big, Langkah nya mendekati draka yang sedang kesakitan.
"Apa sebenar nya masalah mu dengan ku?" Tanya jasson menepuk nepuk kepala draka.
"Bisa bisa nya kau masih bertanya bangsaat! Ayah ku mati kau yang membunuh nya." Geram draka.
"Aku tidak akan membunuh nya jika dia tidak mengirimi aku bom." Ujar jasson.
"Namun yang pasti aku sudah puas karena bisa menyiksa anak mu." Ucap draka.
Darah jasson meluap ketika draka mengingat kan tentang nasip anzel, Di tekan nya tombol merah. Kran yang berada di atas kepala anzel langsung mengucur.
"Shiit! Apa yang kau lakukan jasson?!" Teriak draka ketika mencium cairan itu.
Cairan yang keluar dari kran adalah bensin, Seolah draka sudah tahu apa yang akan menimpa nya sebentar lagi.
"Apa kau tau cara mati apa yang paling menyakit kan?" Tanya jasson mengambil mancis emas nya.
"Jangan! Jangan lakukan itu jasson!" Teriak draka.
"Apa anak ku juga memohon begitu pada mu saat itu?" Tanya jasson mendekat.
Draka menutup mulut karena ketakutan, Sudah bisa di pastikan kalau nyawa nya hanya tinggal beberapa detik lagi.
"Kau akan menderita sebelum kematian mu oleh api ini." Kecam jasson berjalan pergi.
Kling.
Bruuup.
Ketika mancis jatuh kelantai yang sudah terkena bensin, Api langsung menyambar kearah draka yang tidak bisa lari. Tubuh nya di bungkus oleh api.
"Aarrkhh! Tolong aku." Teriak draka kesakitan.
Senyum puas berkembang di bibir jasson, Ia memang bukan mafia seperti mertua nya. Tapi jasson tau cara mafia untuk balas dendam yang sangat keji.
__ADS_1